
Aku menghembuskan nafas kasar. Menyadari kenyataan yang begitu tak mungkin untuk aku percaya awalnya. Jarvis adalah tangan kanan Parveen. Dia sungguh pintar bersandiwara, aku bahkan tak bisa mengatakan apapun lagi.
“ ikat dia” memerintakan penjaga lain menyiapkan tali. Tak jauh darisana ada tiang yang sama, aku bisa memulai pemeriksaan lebih dalam.
“ yang mulia, anda salah. Saya bukan tangan kanannya” teriak Jarvis melakukan pembelaan diri.
“ kau fikir aku bodoh?” begitu selesai diikat aku mencengkram kedua pipinya.
“ selama dua pekan kau tidak menemukan apa-apa. Aku tidak bisa kau tipu dengan sandiwaramu lagi “
“ yang mulia kenapa anda berfikir aku tangan kanan Parveen?, aku bahkan telah menyelamatkan anda” suara Jarvis memelas.
“ kau ingin tau bagaimana aku mengetahuinya? Sekarang bisa kau jelaskan luka yang di dapat Parveen? Jelas bukan karena cambuk” desisku garang.
“ a,,apa yang anda maksud?”
“ hahaha, aku sudah sering melihat luka cambuk, tidak ada yang seperti itu. Kau hanya bermain-main dengannya Jarvis” aku mengambil cambuk yang berada tak jauh dari sana.
Cash..cash,,cash
“ akkk”
__ADS_1
Aku menyambukknya beberapa kali. Lumayan untuk pemanasan.
“ ampun yang mulia, cukup”
“ sekarang kau lihat bagaimana rupa luka cambuk itu” Jarvis mulai melemah. Sepertinya aku perlu menenangkan diri. Aku biarkan Jarvis beristirahat sejenak, aku akui cambukanku cukup keras. Aku tak ingin dia cepat mati, jadi lebih baik aku segera meninggalkan tempat itu.
“ jangan pindahkan dia” sebelum akhirnya melangkah pergi.
Sesampainya di istana aku segera membersihkan diri, merebahkan diri sebentar. Rasa pening kini selalu hadir menemaniku. Entah sampai kapan masalah ini akan selesai. Apalagi dengan hilangnya Zenia bahkan kebenaran tentang Morgan masih abu-abu. Rasanya tak ada yang bisa aku percayai di kerajaan ini.
Terlihat seseorang sedang terbaring lemah di atas ranjang. Sudah 2 hari sejak masuk kerajaan Lucien tak membuka matanya. Aku merutinkan pemberian darah setiap paginya, namun belum terlihat kemajuan apapun.
Jika mengingat kembali, Lucien adalah soosok yang paling mengerti diriku. Usianya lebih tua sedikit. Dulu aku menganggapnya sebagai kakakku. Awalnya teman bermain lalu ayah tiba-tiba mengangkatnya menjadi pengawal pribadi. Saat itu aku baru berusia 13 tahun, Lucien sudah memiliki pengetahuan racun bahkan seni beladiri juga bisa dikatakan baik. Lebih dari setengaah hidupku berdampingan dengan Lucien. Tidak ada rahasia diantara kami selain masalah hati.
Aku mengusap rambutnya pelan. Dia satu-satunya orang yang tahan dengan segala macam kemarahan dan kekejamanku.
__ADS_1
“ emm,,” aku mengerutkan kening sepertinya Lucien mengeluarkan suara.
“ Lucien, kau bisa mendengarkanku?” aku menggoyang bahunya.
“ em, yang mulia” suaranya begitu lemah. Perlahan matanya bergerak membuka. Aku mengamatinya dengan serius.
“ yang mulia, laporan. Laporan” Lucien terus berguman. Aku tak mengerti maksud ucapannya.
“ laporan apa? Kau jangan banyak berbicara kondisimu masih sangat lemah” aku menenangkan Lucien, dia tiba-tiba panik sambil terus berguman laporan.
“ laporan Dekrit itu, mereka membawanya” aku mulai paham, bukti dari ayah.
“ mereka siapa?” malah membuatku penasaran.
“ kerajaan” kata terakhir dari Lucien kemudian dia kembali tidak sadar.
Lucien mengetahui jika pihak kerajaan yang mengambil dekrit itu. Apa mungkin ada kaitannya dengan Jarvis. Lebih baik aku mulai mencari di istana permaisuri dan Jarvis. Aku keluar dengan santai, kemungkinan masih banyak mata-mata mereka di kerajaan.
Memasuki istana permaisuri dengan sembunyi-sembunyi. Ini aadalah tempat yang paling jarang aku kunjungi sebelumnya. Dari awal penjagaan lumayan ketat. Sekarang sedikit lenggang. Di ruang kamar tidak ada hal yang mencurigakan, berlaih ke ruang perpustakaan. Aku tidak meyangkaa koleksi buku Parveen lumayan banyak, tak heran jika dia cukup lihai berhadapan denganku. Mengambil beberapa buku yang cukup menarik. Fajar mulai terlihat tapi aku tak kunjung menemukan apapun. Bahkan semua laporan tidak ada yang mencurigakan.
__ADS_1