
Sungguh kasihan tabib ini, dia meminta maaf atas sesuatu yang bukan menjadi kesalahannya. Dia begitu ketakutan, padahal kita disini malah merasa lega. Semua rencana berjalan dengan lancar.
“ apa yang kau ucapakan!, selir Zen kehilangn bayinya? Bagaimana bisa?” tuan En tetap pada mode marahnya. Sungguh sandiwaranya benar-benar bagus, tidak ada celah.
“ maafkan saya yang mulia, pendarahan itu adalah alasannya” masih tetap bersimpuh.
“ pergi dari hadapanku” sentak tuan En. Tabib itu dengan tergesa-gesa meninggalkan kamar. Aku tersenyum melihat tuan En. Bahkan pelayan penjaga semakin menundukkan kepalanya. Tak ingin menjadi sasaran amukan tuan En.
“ tuan En seperti pemain opera” sindirku. Setelah mengusir semua pelayan.
“ tidak, aku bahkan lebih baik dari mereka” duduk di tepi ranjang.
“ maaf, hal ini bahkan bisa mengancam nyawamu” aku sungguh tak percaya. Ini adalah pertama kalinya tuan En meminta maaf padaku. Dia benar-benar sudah berubah. Raut wajahnya penuh dengan penyesalan.
“ ini adalah bantuan dari tuan, mana mungkin saya menyalahkannya. Sekarang masalah kehamilan sudah bisa teratasi. Terimakasih tuan” meskipun aku sedikit menyesalkan tidak bisa meninggalkan kerajaan, tapi bukan hal yang buruk juga. Aku akan mencari waktu yang tepat untuk melanjutkan rencanaku.
“ aku akan menyuapimu makan” tuan En beranjak mendekati meja di samping ranjang. Memilih bubur untukku. Dengan teliti tuan En menyuapiku, penuh kelembutan dan ketulusan. Semakin membuatku jatuh cinta padanya. Berharap akan selalu seperti ini. Merasakan perhatian serta kasih sayang tuan En.
“ setelah ini istirahatlah, aku akan menemanimu sampai tertidur” membantuku berbaring, tuan En masih duduk di samping ranjang. Mengusap rambutku.
****
Hari sudah sore ketika aku membuka mata, suasana cukup sepi. Mungkin mereka sengaja tak ingin mengusikku. Sedikit kesusahan untuk turun dari ranjang, aku memilih untuk duduk bersandar. Meski mengalami pendarahan tapi sejatinya aku hanya sedang masuk agenda berdarah. Ramuan kak Lu berkhasiat untuk membersihkan rahim lebih dalam, belum lagi aku memakannya dalam jumlah banyak. Kini rasa sakitnya sudah tak terasa, hanya saja tubuh masih lemas. Kemungkinan karena satu hari tidak sadar.
“ nyonya, anda sudah bangun?” Cila muncul dari pintu masuk. Mengangguk dan tersenyum padanya.
“ apa nyonya memerlukan sesuatu?”
“ tidak ada. Aku hanya ingin keluar menikmati angin sore. Bisakah kau membantuku?”
Akhirnya Cila memapahku ke balkon samping istana. Setelah duduk dia kembali ke dalam untuk mengambil teh serta kudapan. Memang benar senja sore hari sangat memukau. Aku selalu berlama-lama menikmatinya.
“ nyonya, terlihat lebih baik”
“ kau benar, hanya saja tubuhku masih terasa lemas”
“ tabib sudah mengumumkan jika nyonya mengalami keguguran” Cila menuangkan teh di gelasku. Dia terlihat sedikit takut mengatakannya.
__ADS_1
“ aku sudah tau” menyesap sedikit teh racikannya.
“ saat pendarahan itu, putra mahkota langsung berlari menghampiri nyonya, wajahnya benar-benar cemas” kami duduk berdampingan disana.
“ lalu bagaimana dengan kaisar serta permaisuri saat tahu aku mengalami pendarahan?” aku penasaran dengan detail kejadiannya. Bagaimanpun saat itu suasanya cukup tegang.
“ setelah putra mahkota meninggalkan perayaan dengan menggedong nyonya, kaisar langung mengumumkan bahwa pernikahan di tunda.”Cila tampak antusias menceritaknnya padaku.
“ putra mahkota tidak pernah menginginkan pernikahan itu, jadi merencanakan semua ini” meski tahu bahwa aku tidak benar-benar hamil, tapi Cila kaget dengan ucapanku. Dia tak menyangka jika semua ini didalangi oleh putra mahkota sendiri.
“ pantas saja, putra mahkota tidak membahas alasan pendarahan itu, apa nyonya tahu semua pelayan mempercayai jika putri mahkota yang sengaja melakukan itu. Pelayan yang mengantarkan kudapan itu, menurut kabar adalah pelayan putri mahkota” berbisik saat menjelaskan semua padaku. Sempat tidak mempercayainya, semua isu yang berkembang jauh dari perkiraanku.
“ mereka benar-benar berfikir begitu?”
“ iya, nyonya. Bahkan beberapa penjabat juga percaya dengan berita itu”
“ kasihan sekali nona itu, belum juga menjadi putri mahkota sudah banyak yang berfikir jelek tentangnya”
“ tapi nyonya, jika kejadian itu adalah rencana putra mahkota. Bisa jadi memang ini yang diinginkan oleh yang mulia. Membuat putri mahkota terlihat jahat”
“ jangan berkata seperti itu lagi, “ aku memperingantakn Cila dengan sedikit melotot padanya. Bisa dihukum jika anggota kerajaan mendengar perkataanya. Anak ini memang polos.
“ oia, ada hal yang ingin aku tanyakan padamu”
“ apa kau memiliki hubungan dengan kak Lu?” Cila tampak gugup. Bahkan mulai memperbaiki tatanan rambutnya.
“s,saya hanya,, mengagumi pengawal Lu” wajahnya memerah. Jadi benar perkataan tuan En. Aku jadi merasa tidak enak, bukan urusanku jika mereka memiliki hubungan. Tapi aku juga tidak bisa langsung merestuinya.
“ apa kamu memiliki harapan padanya?”
“ s,,saya tidak tahu maksud pertanyaan nyonya?” Cila menggaruk kepalanya. Terlihat kesulitan menjawab pertanyaanku.
“ emmm,,aku sederhankan, apa kau menyukai kak Lu?” Cila diam tak kunjung menjawab pertanyaan. Tingkah lakunya semakin aneh.
“,s,,saya....”
“ aku tidak akan memarahimu, katakan yang sebenarnya”
“ s,,ssaya tidak tahu.” Aku mendesah pelan. Cila tidak bisa mengenali arti kata suka.
“ apa dadamu bergetar ketika di dekatnya, atau kau merasa senang jika dia memperhatikanmu?”
“emmm,, sepertinya iya”
“ jadi benar, “ Cila tampak malu-malu setelah mendengar perkataanku. Bahkan tersenyum sendiri sambil menundukkan kepalanya. Pelayan kecilku sedang kasmaran.
__ADS_1
“ kenapa kau berada di luar?” tuan En datang dari arah kamar. Sepertinya mencariku karena tidak ada disana.
“ yang mulia” berdiri dari duduknya dan memberikan salam
“ tuan En, saya hanya bosan jadi menyuruh Cila untuk membawa saya keluar” tuan En menduduki tempat yang ditinggalkan Cila.
“ kau masih butuh banyak istirahat”
“ tubuhku sudah lebih baik. Ini hanya agenda berdarah tuan” tuan En tersenyum seakan menyadari jika aku hanya mengalami tamu bulanan. Tak lama kemudian Cila membawakan kudapan tambahan beserta minuman baru untuk tuan En.
“ sejak sadar, aku tidak melihat kak Lu?” sengaja ingin menggoda Cila.
“ ehem,, dia sedang menyelesaikan tugas” mata tuan En sedikit melirik ke arah Cila.
“ tuan En benar, mereka sepertinya saling menyukai” bisikku ketika Cila sudah pergi. Aku tak ingin membuatnya malu, jika tahu bahwa kami berdua membicarakannya.
“ kalau kamu, apa menyukaiku?”
Uhuk..uhuk..
Aku tersedak mendengar pertanyaan tuan En. Kenapa malah bertanya tentang perasaan. Tak biasanya tuan En akan sesantai ini. Membuat suasana menjadi sedikit canggung.
“ oia tuan En saya mendengar jika para pelayan membicarakan berita yang sedikit menyudutkan putri mahkota?” mencoba mengalihkan pertanyaannya.
“ berita mengenai apa?” berhasil.
“ tentang alasan keguguran saya yang menyangkut nama baiknya”
“ aku tidak tahu berita itu, kamu tahu darimana?” tuan En menyesap tehnya.
“ Cila mengatakan jika beberapa pejabat juga mempercayai berita itu” menunggu reaksi tuan En. Apa dia akan menolak atau menerimanya.
“ biarkan saja, itu hanya berita burung” jawabnya singkat. Selalu saja cuek dengan sesuatu yang tidak memiliki hubungan dengannya.
“ tapi, bagaimanapun kelak dia menjadi orang terdekat anda tuan” semakin memacing bagaimana tuan En memandang masalah ini.
“ selagi tidak merugikanku, masih bisa di tolerir” tidak puas dengan jawabannya. Tuan En tidak mudah di pancing. Jadi aku sudahi permbicaraan ini.
Menikmati sore yang indah bersama tuan En sangat jarang bisa didapatkan. Akhir-akhir ini memang tuan En terlihat sangat berbeda. Membuat semua fikiran buruk semakin terkikis. Berharap jika memang ini bukanlah kamuflase yang selama ini aku yakini.
__ADS_1