
“ latih dirimu, jika kau sudah lebih siap dan tangguh aku akan mengatakan semuanya padamu.”
“ apa maksudmu?” bagaimanapun aku memikirkannya tetap tak bisa memahami perkataannya. Kedua matanya terlihat aneh. Caranya menatapku tak pernah aku lihat sebelumnya. Kenapa aku merasa lebih berdebar, gugup. Ya kenapa aku begini.
“ kau perlu latihan fisik dan mental untuk menghadapi siapa pembunuh itu” ucapnya penuh keyakinan. Aku bisa melihat itu dari nada serta pancaran matanya. Apa mungkin dia sudah tau siapa pembunuhnya, sehingga menyuruhku berlatih. Sepertinya aku bukan tandingan si pembunuh itu. Cekalan tangannya semakin erat, menandakan bahwa dia mencoba meyakinkanku.
“emm” kurasa cekalannya sudah tidak diperlukan lagi. Aku mencoba melepaskannya. Sepertinya dia mengerti dan akhirnya melepaskannya dan menarik diri. Ya, jarak kami memang terlalu dekat. Aku bahkan baru menyadarinya sekarang.
“ baiklah, tapi ya..yang mulia En harus berjanji untuk mengatakan semuanya jika aku mampu melatih tubuhku” kenapa aku menjadi gugup setelah mengatakannya.
“ jadi,,, Zen ku sudah kembali. Panggilan itu begitu aku rindukan” aku tak tauu dia akan sebahagia ini saat aku kembali memanggilnya ‘yang mulia En’. Dulu tampak biasa saja, kini begitu berpengaruh. Aku sudah memilih untuk mempercayai ucapannya, ku harap dia tak akan memanipulasiku lagi.
“mari tidur, malam sudah mulai larut” mendengar dia mengajakku tidur membuatku tidak nyaman. Apa arti tidur baginya.
“Ku harap kau tidak berfikir yang tidak -tidak. “ dan aku sudah memikirkannya. Dia mulai beranjak menaiki ranjang. Aku masih menimbang-nimbang haruskah aku ikut tidur.
“Zen... Mau aku gendong?”
“tidak.. Tidak. Aku kesana”
********
Pagi ini aku sudah siap dengan program latihan ku. Baju latihan serta beberapa perlengkapan perlindungan diri sudah aku kenakan. Semangatku membara, demi mengungkap pembunuh ibuku.
“ Zen... Kau akan pergi perang?” hampir saja membuatku terkejut.
“ kau tak bisa mengetuk pintu dulu kak lu” dengan wajah marah.
__ADS_1
“kau akan kemana dengan pakaian itu?” matanya tidak lepas memperhatikan semua yang menempel di tubuhku.
“ yang mulia En menyuruhku berlatih, jadi ini persiapan ku” jawabku mantap.
“Kau ini, pakaian ini lebih cocok digunakan di medan perang. Stt” dia menertawaiku. Apa yang salah dengan pakaian ini. Sudah sangat cocok dengan latihan.
“Hari ini aku yang akan melatihmu, jadi lepaskan pengaman kaki, dada, dan lengan itu. Aku tunggu di kandang kuda” tanpa mendengar persetujuanku dia sudah berlalu pergi.
“Dasar seenaknya sendiri” teriakku penuh kekesalan. Aku menarik semua pengaman ini dengan kasar. Bisa-bisanya dia meninggalkanku tanpa membantuku, bahkan Suki sudah pergi tak ada yang bisa membantu ku. Akhirnya setelah penuh perjuangan aku baru bisa melepaskan pengaman-pengaman ini.
“kenapa lama sekali” amuknya saat aku baru saja sampai di kandang kuda.
“aku harus memutar tanganku untuk membuka ikatan-ikatan pengaman itu, kakak langsung saja pergi tanpa memberiku bantuan” kesal dengan berjala pelan aku mendekati kak lu sembari mengomel.
“sudah jangan merengek, hari ini kita akan latihan menaiki kuda”
“aku sudah bisa menaiki kuda kak lu” jawabku malas, yang benar saja. Menaiki kuda perkara yang mudah untukku.
“Ya, dan kau terakhir melakukannya 2 tahun yang lalu itupun mengikuti rombongan istana.” Kenapa aku merasa dia sedang mengejekku. Memangnya apa yang salah dengan itu.
“Itu adalah kudamu. Naikilah dan ikuti aku”
“caa..caa” aku bergegas menaiki kuda dan mengejar kak lu.
Sepanjang hari ini aku berlatih berkuda. Aku fikir tak ada yang sulit, namun ternyata aku salah, teknik yang diajarkan kak lu benar-benar sulit. Mulai dari menaiki gunung, turun lembah, berjalan di jalan yang curam, serta berkuda di atas air. Dari semua itu aku hanya bisa turun lembah, yang lainnya perlu belajar lagi. Kak lu benar-benar keren di mata ku. Selain tegas dia juga begitu serius. Padahal biasanya dia hanya bisa membuatku jengkel tak ku kira dibalik semua itu dia pengawal yang cukup kompeten, pantas saja dia menjadi pengawal pribadi putra mahkota.
Selepas berlatih badanku teras remuk redam. Berjalan saja kini terasa berat, dengan lunglai aku memasuki kamar. Kali ini kau sudah kembali ke kamarku semula. Aku benar-benar merindukan suasana kamar ini. Namun sekarang bukan saatnya melepas rindu, aku benar-benar ingin beristirahat dengan tenang.
“nona Zen.. “ teriak Suki. Dan nyelonong masuk ke kamarku.
“Suki.. Kenapa kau ada disini??” dia adalah pelayan harian tuan Enrik, tak mungkin dia kesini jika bukan karena perintahnya.
“Nona, ada berita besar. Nona dengarkan baik-baik” menarik ku duduk.
__ADS_1
“suki, aku benar-benar lelah. Tolong bilang ke yang mulia aku tertidur dan tidak bisa melakukan apa yang dia mau suruh” kembali berbaring. Mataku terasa berat. Aku yakin tuan Enrik tidak akan marah, dia sudah tau jika hari ini aku latihan.
“nona,, dengarkan dulu,, nona” aku sudah tidak bisa menahan lelah ini. Meski Suki terus menggoyang tubuhku namun itu hanya semakin membuatku terlelap. Aku tak bisa mendengar apa-apa lagi.
*****
“nona.. Bangun.. Nona” suara ini mulai menggangguku dan membuatku sedikit terjaga.
“Suki kenapa kau masih disini? Aku sudah bilang aku lelah” tanpa membuka mata dan penuh nada kemalasan.
“nona sudah tidur semalaman, nona ayo bangun. Kalau tidak yang mulia permasuri akan memarahi kita semua” aku menangkap ada nada kepanikan. Sebanarnya apa yang membuatnya begitu menjengkelkan hari ini. Dan tunggu apakah ini sudah pagi. Rasanya aku baru menutup mataku.
“nona, kita hampir tak punya waktu” langsung saja dia menarik ku duduk dan mengusapkan kain basah ke wajahku.
“ Suki.... Kenapa kau ini?” mencoba menekan amarahku, namun aku tetap menatapnya tajam.
“ nona..bla..bla bla.. “ aku kembali ke dalam mimpi saat Suki masih menarik tanganku agar terduduk.
“nona.. Saya akan di penggal!”
“apa?? Kenapa kau akan di penggal Suki” kali ini perkataannya benar benar mengejutkanku. Semua rasan ngantuk ku hilang.
“apa kesalahamu?”lanjut ku. Kini gantian aku yang menarik tangannya agar duduk disampingku.
“saya akan dipenggal jika nona tidak mendengarkan ucapan saya”
“maksud kamu?”
“nona, kemarin yang mulia Enrik mengumumkan jika nona di angkat menjadi selir kerajaan. Dan hari ini yang mulia permaisuri akan mengumumkan hal ini di istana harem. Jadi nona sekarang harus bersiap sebelum yang mulia permaisuri memasuki istana harem”
Aku masih mencerna semua ucapannya. Selir, harem, permaisuri? Tunggu sebenarnya ada apa ini. Kenapa semua terdengar seperti lelucon. Kulihat lagi wajah Suki. Dia ketakuatan, ada kepanikan juga. Dan aku baru menyadari jika ternyata dikamarku juga sudah ada beberapa pelayan yang sedang sibuk menyiapkan baju, perhiasan dan pemandian.
“hahaha, kau pasti bercanda.” Aku tertawa sumbang sembari masih memperhatikan semua pelayan itu.
“Nona,.. Kita sudah kehabisan waktu.” Dia terus saja menarik tanganku sampai ke pemandian.
__ADS_1