
“ ah,,,, yang penting kau harus percaya jika putra mahkota begitu ingin melindungimu. Jika sampai terdengar kabar keguguran bisa jadi putra mahkota akan dipaksa menikahi putri mahkota pilihan permaisuri.” Apa benar perkataan kak Lu. Kenapa tuan En menutupi semua ini dariku. Bahkan mengajukan untuk melakukan rencana ini.
“ bukankah tuan En yang memberikan usulan ini?”
“ tidak ada pilihan, mana mungkin memaksamu melakukannya. “ ceplos kak Lu
“ maaf selir Zen. Maksud saya, putra mahkota tidak mungkin memaksakan kehendaknya.”
“ kenapa tuan En tidak mengatakan soal putri mahkota?”
“ saya juga tidak tau, mungkin dia tidak ingin selir salah paham”
Kurasa tidak mungkin tuan En berfikir seperti itu, melindungi dan menghindari salah paham. Meski hubungan kami suami istri tapi aku masih menganggap tuan En adalah atasanku, meski aku juga tidak yakin dengan perasaan ini. Tapi jika benar apakah mungkin tuan En memiliki perasaan padaku.
“ selir,,” panggilan kak Lu membuyarkan lamunanku.
“ apa tuan En memiliki perasaan padaku?” lebih baik aku menanyakannya pada kak Lu. Dia selalu bersama tuan En, mungkin saja bisa menjawabnya.
“ saya melihatnya sepertinya ada, hubungan kalian cukup rumit. Bukankah selir juga memiliki perasaan pada putra mahkota?” aku perlu memikirkan ini. Namun kenapa hatiku menolak untuk menjawabnya tidak.
“ emm,,, aku juga tidak yakin. “
“ mungkin jika selir sendiri yang menawarkan usulan soal kehamilan itu, putra mahkota pasti memikirkannya”
“,,aaa,,aku belum bisa memutuskan. “ lirihku. Perasaan ini masih ragu. Tak ingin terikat terlalu lama di istana, mana mungkin aku memiliki penerus kerajaan. Tidak, aku tidak bisa mengambil resiko ini. Bisa-bisa aku malah akan terpenjara di istana. Tapi aku juga merasa berat dengan pernikahan paksa tuan En.
“ coba selir fikirkan baik-baik. Bagaimana jadinya jika permaisuri memaksa putra mahkota untuk menikah. Bisa-bisa kedudukannya akan terancam.”
“ terancam? Bagaimana bisa?”
“ selir masih belum mengerti, sudah sejak lama perang dingin terjadi antara permaisuri dan putra mahkota.” Kak Lu berbisik. Aku melotot mendengar penuturan kak Lu. Selama ini hubungan mereka terlihat baik-baik saja. Tidak pernah terlihat saling bersitegang ataupun berrselisih. Tunggu, malam itu aku bisa melihat kilat kebencian pada manik tuan En. Bisa jadi yang dikatakan kak Lu memang benar.
__ADS_1
“ maksud kak Lu, permaisuri memiliki niat buruk pada tuan En?” dia mengangguk yakin. Selama ini memang hanya kak Lu orang kepercayaan tuan En. Semua perkataanya tidak mungkin mengada-ngada.
“ maka dari itu sebaiknya selir memahami situasi kerajaan mulai dari sekarang, musuh putra mahkota juga ada dalam anggota kerajaan.” Aku mengira selama ini tuan En di perlakukan dengan penuh kelembutan dan kebahagiaan. Siapa mengira jika permaisuri bukanlah ibunda tuan En dan berniat buruk padanya. Memang kerajaan ini terlihat megah di luar tapi didalamnya penuh dengan konflik dan kebencian. Ya, aku harus berhati-hati. Jangan sampai aku merugikan tuan En.
Perbincangan itu selesai saat tengah malam, beberapa prajurit yang berjaga sedang melakukan patroli harian. Kebersamaan kami mungkin malah menimbulkan masalah jadi kak Lu dan aku menyudahi diskusi malam itu.
Meski begitu fikiranku masih berngiang dengan perkataan kak Lu tentang hubungan tuan En dengan permaisuri. Jika sedari kecil tuan En tidak mengetahui keberadaan ibundanya, maka dapat di simpulkan tuan En tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu.
Kemegahan yang selama ini aku lihat hanyalah simpul dari kesepian dan kesedihan yang dilalui tuan En. Tidak dapat disalahkan jika sikap tuan En begitu keras dan penuh pertimbangan. Bahkan di dalam keluarga saja memiliki musuh. Jika tidak hati-hati maka jurang penderitaan pasti menanti.
Perbincangan dengan kak Lu telah membuat pandanganku kepada tuan En sedikit berubah. Tidak lagi melihatnya sombong dan ingin menang sendiri, tapi melihat kewibaan serta perhatian tuan En kepada kerajaan.
Jika diingat kembali, sebenarnya hamil atau tidaknya, tuan En pasti menyetujuinya. Bukankah dia mengatakan hanya memberikan waktu 1 bulan untukku agar menganggapnya suami. Bisa dikatakan keinginan ini tuan En sudah sedari awal menginginkannya.
Masalahnya ada padaku, aku yang masih ragu untuk percaya sepenuhnya padanya. Semenjak mengetahui jika tuan En memiliki hubungan dengan pembantain itu, angan-angan menemami sepanjang hidup tuan En sudah sirna. Hanya ada balas dendam dan balas dendam. Apakah pemikiranku salah?.
****
“Cila , menurutmu aku dan putra mahkota memiliki hubungan seperti apa?” saat ini kami sedang bersantai menikmati senja. Karena hampir semalam aku tak bisa tidur, jadi sarapan kali ini berada di jam makan siang. Setidaknya alasanku cukup masuk akal, bagaimanapun aku adalah ibu hamil. Dimata orang lain.
__ADS_1
“ ya hubungan selir dan putra mahkota. Seperti suami dan istri” jawabnya singkat. Begitu polos dan sederhana.
“ bagaimana kamu melihat perlakuan putra mahkota padaku?” aku masih terus menanyai Cila agar bisa mendapatkan jawaban yang aku cari.
“emm ,, putra mahkota memperlakukan nyonya dengan baik, perhatian dan seperti suami kebanyakan” lagi jawabannya belum bisa memuaskanku.
“ kalau aku, bagaiman kau melihat ku memperlakukan putra mahkota?” cila terlihat sedikit kebingungan dengan rentetan pertanyaan yang kuberikan.
“ emm,, bagaimana ya?” sambil melirik kearahku.
“ katakan dengan jujur, aku takkan memarahimu” aku mencoba meyakinkan dia agar bisa mendapat jawaban yang ku cari.
“ nyonya terlihat begitu menghormati putra mahkota, bahkan seperti takut dan menjaga jarak. Tapi tatapan mata nyonya terlihat berbeda kepada putra mahkota”
“ berbeda bagimana?” aku cukup antusias setelah mendengar jawaban Cila.
“ hem, ya berbeda, seperti tatapan penuh kerinduan”
“ memangnya kamu tau bagaimana tatapan kerinduan itu?”
“ ya, saat kak Suki menemuiku beberapa tahun lalu” jawabannya menyentuh hatiku. Aku jadi merasa bersalah membuatnya sedih dengan mengingat mendiang kakanya. Jadi ku berikan pelukan hangat pada Cila.
“ kau pasti merasa sedih, “
“ sekarang saya sudah tidak sedih lagi. Mengetahui jika kakak selama ini bersana nyonya pasti dia bahagia sepertiku. Nyonya adalah orang paling baik” aku tak bisa membalas ucapannya. Kami berdua sama-sama sudah tidak memiliki keluarga sebagai sandaran, membuat ikatan ini semakin kuat.
Beberapa hari setelahnya aku masih bersandiwara dengan mengeluhkan makanan yang terlalu hambar. Meminta menu-menu yang sulit dan cukup mahal. Beberapa kali juga aku sempat memuntahkan makanan, alhasil pelayan dapur menjadi sedikit kalang kabut membuat makanan yang cocok.
Tak sampai disitu, sekarang jam tidurku berganti. Malam hari ku gunakan untuk membaca buku atau berlatih ringan di kamar. Membuatku ngantuk di pagi harinya. Bahkan aku lebih sering bangun di siang hari. Semua sesuai dengan arahan yang diberikan oleh tuan En. Aku menjadi lebih santai dan dimanjakan. Setidaknya dibalik sandiwara yang melelahkan ini masih ada keuntungan yang aku dapatkan.
Sudah beberapa hari berlalu, tuan En masih belum mengunjungiku sejak terakhir kali saat merencanakan masalah ini. Sepertinya dia cukup sibuk, tugas kerajaan tiada henti datang padanya. Kasihan juga tak ada waktu luang untuk bermanja sepertiku.
__ADS_1
Selama itu juga aku masih dilema, antara melakukan saran dari kak Lu atau mencoba acuh dengan masa depan tuan En. Ini sama saja memilih antara egois atau berkorban. Aku tahu diri jika masih berhutang nyawa pada tuan En, tapi tuan En juga masih berhutang penjelasan padaku. Sepertinya aku sedikit goyah, tidak!, tuan En dan aku memiliki urusan yang berbeda. Tidak mungkin bisa permaisuri memaksanya menikahi putri makota pilihannya. Tuan En bukan orang yang bisa di kalahkan. Aku harus tetap pada pendirianku.