
Beberapa hari setelah peristiwa itu putri mahkota tidak pernah berkunjung lagi. Tapi tuan En semakin sering berkunjung, seperti mencoba menghalangiku agar tidak datang ke istana putra mahkota. Antara tuan En dan putri mahkota terlihat tidak bisa akur. Tunggu sampai rencana pergi dari kerajaan berhasil, mereka pasti akan saling mengerti.
Hari berlatih semakin hari semakin berat, waktu terus bergulir. Mempersimpit waktu kebersamaanku di istana ini. Cila mengatakan jika kak Lu beberapa kali memang diberikan tugas untuk keluar kerajaan, tapi belum bisa mendapatkan informasi tugas apa yang di berikan tuan En kepada kak Lu. Mulut kak Lu terbilang rapat, harus memberikan strategi kepada Cila tentang bagaimana merayu laki-laki.
“ kau harus menunjukkan jika semua pertanyaanmu adalah karena khawatir dengan keselamatan kak Lu, kau harus meyakinkan bahwa bukan informasi yang kau inginkan tapi kabar dimanapun kak Lu berada, ya?”
“ kau juga bisa menampakkan wajah imutmu agar kak Lu semakin tidak bisa menolak. Gunakan semua kemampuan bermanja dan merajuk yang kau bisa”
Kami sedang beristirahat di tempat latihan. Disana ada sebuah pondok yang lumayan bagus, bagaimanapun disinilah tempat latihan putra mahkota dulu. Jadi sedikit banyak memiliki fasilitas yang cukup lengkap.
Waktu sudah mendekati tengah hari, waktunya istirahat sebentar. Setelah matahari mulai redup baru memulainya kembali. Badanku sekarang berubah sedikit berwarna hitam dan sedikit berotot. Latihan ini sedikit berdampak pada penampilanku. Untung saja tuan En tidak berkomentar apapun terkait penampilan, hanya menanyakan kenapa begitu keras berlatih. Karena hal ini 3 hari harus menghentikan sementara. Jangan sampai membuat tuan En curiga, karena bisa saja rencana ini dengan mudah akan terbongkar.
Hari sudah malam, Cila belum kembali setelah pamit menemui kak Lu. Setelah pergi selama 2 hari, sore tadi kak Lu sudah kembali. Berharap kali ini bisa mendapatkan informasi tentang keberadaan pemberontak. Sambil menunggu aku duduk di taman samping dengan beberapa kudapan dan teh hangat. Menikmati sisa-sisa waktu di istana, mungkin saja rencana ini membuatku tidak bisa kembali lagi, masalah Cila juga sedikit membingungkanku. Tidak tega memisahkan dengan kak Lu. Rencana ini bisa dibilang begitu berbahaya, jaminannya adalah nyawa. Mungkin sebelum pergi harus menanyakan kembali niat hati Cila.
“ nyonya..” Cila memanggil dari arah kamar.
“ kemarilah.. “ menjahut panggilannya.
“ nyonya, saya berhasil merayu pengawal Lu” berbisik senang bahkan wajahnya ikut berbinar. Membuatku ikut tersenyum senang.
“ jadi apa yang kau dapatkan?”
“ beberapa hari ini pengawal Lu melakukan pengamatan, dan mendapatkan jejak pemberontak, tapi kali ini lebih sulit. Karena mereka berbaur seperti penduduk desa, perlu waktu khusus bagi mereka untuk berkumpul. “
“ apa kak Lu juga menyebutkan desa atau tempat pemberontak itu terlihat terakhir kali?”
“ pengawal Lu hanya mengatakan di daerah selatan, tidak mengatakan nama kota ataupun tempatnya.” Sayang sekali, harus mencari tahu sendiri dimana tempatnya.
“ baiklah, sekarang giliranku merayu seseorang” hanya dengan cara ini. Mungkin bisa mendapatkan informasi tambahan.
__ADS_1
“ maksud nyonya?” Cila tampak bingung.
“ ayo, “
Malam mulai larut ketika sampai di istana putra mahkota. Kali ini harus berusaha lebih keras.
“ Zen,, tumben malam-malam begini kemari?”
“ saya hanya merindukan tuan, jadi lebih baik kemari” tuan En sedang di ruang kerjanya. Saat masuk istananya kak Lu baru saja keluar, kemungkinan baru melapornya tugasnya. Andai bisa datang lebih awal, mungkin bisa menguping laporan itu.
“ kemarilah, aku juga merindukanmu” menarikku duduk di pangkuannya. Terdapat beberapa lembar laporan diatas mejanya.
“ bagaimana kabarmu beberapa hari ini?” tuan En merapikan anak rambutku yang tergerai.
“ beberapa kali masih mengulang latihan, selebihnya bosan “ tanganku merangkul leher tuan En, mencoba sedikit genit.
“ oia, beberapa hari Cila tampak muram, apa tuan memberikan tugas berat kepada kak Lu?” lanjutkua
“ jadi kau kemari hanya ingin menyampaikan keluhan pelayanmu?”
“ tugasnya tidak seberat tugasku, jadi kamu harus lebih mengkhawatirkan aku” malah merajuk, bagaimana caranya mendapatkan informasinya.
“tuan tidak pernah mau berbagi beban denganku, jadi saya berfikir tuan tidak membutuhkan kekhawatiran saya”
“ Zen, bukan seperti itu” mengelus punggunku pelan, membalasnya dengan senyuman.
“ oia, tuan En masih menangani para pemberontak? Apa ada perkembangan setelah kita membawa buku-buku besar mereka?”
“ baru saja Lucien melaporkannya, strategi mereka sekarang lebih rumit lagi. Entah apa yang sedang mereka rencanakan. “
“ apa mungkin sudah menuju ibukota untuk melakukan kerusuhan?”
“ tidak mereka pindah ke selatan, tidak mungkin membuat kerusuhan dengan mudah. Ibukota memiliki keamanan yang ketat”
“ selatan? Kota Vonpala?” mulai memainkan taktik.
“ tidak masih jauh, hampir mendekati perbatasan” bagus, informasi bertambah.
“ daerah perbatasan, kota mana tuan?”
__ADS_1
“ emm,, kau terlihat antusias sekali. Sudah jangan bertanya lagi. Lebih baik kita pindah ke kamar” selalu berakhir seperti ini.
Pagi-pagi sekali tuan En sudah meninggalkan istana, tidak mengatakan apapun. Aku terbangun lebih siang, dengan alasan yang sama jika bermalam dengan tuan En. Setelah membersihkan diri dan sarapan aku mencuri kesempatan pergi ke ruang kerja tuan En, mungkin ada laporan mengenai infromasi yang sedang ku cari.
Setelah memastikan para pelayan yang bersih-bersih sudah pergi, aku langsung menyelinap masuk. Berjalan mendekat pada meja utama disana. Membuka setiap laporan disana. Kebanyakan hanya laporan tentang keadaan politik, dan pajak daerah. Sampai ada laporan berisi tulisan tangan, berinisial M. ‘ kemungkinan penyihir itu masih hidup, itulah alasan kutukannya masih berlangsung ‘ hanya itu yang tertulis disana. Apa penyihir yang dimaksud adalah Zoya, lalu bagaiamana dengan kutukan. Siapa yang mendapatkan kutukan?, apakah tuan En, atau orang lain.
Masih terus mencari informasi dari tumpukan laporan itu. Kini beralih pada laci meja. Tidak, lacinya terkunci. Pasti isinya adalah hal penting. Berusaha mencari keberadaan kunci di sekitar ruangan. Tapi nihil. Kemudian sudut mataku beralih pada tungku pembakaran. Ada kertas disana, yang sebagian telah terbakar. ‘ menunggu di Dendira.’ Kalimat awalnya serta akhirnya sudah hangus. Dendira, aku akan mencari nama apa itu.
Kini berganti ke ruang perpustakaan, mencari peta serta buku catatan bangsawan kerajaan. Perlu berkeliling dan waktu yang cukup lama untuk menemukan kedua buku itu. Bahkan Cila sudah mengeluh beberapakali kali karena tidak kunjung menemukan.
“ nyonya, semua nama bangsawan yang ber awalan M, kebanyakan adalah pembisnis. Ada beberapa yang merupakan cendikiawan. Tidak ada yang mengarah pada dunia sihir” mendesah pelan, tidak menemukan hasil.
Sedang Dendira, masih belum ditemukan. Tidak ada nama kota seperti itu.
“ nyonya mungkin harus lebih fokus di bagian selatan”
“ ya,, kau benar” aku baru menyadarinya
“ dendira,, dendira,,,,”Cila mengulang-ulang kata itu.
“ ketemu, Dendira bukan nama kota, tapi jembatan kecil dan kota di dekatnya jika di baca bersamaan menjadi Dendira.”
“ akhirnya ,,, jadi itu tempat apa nyonya?”
“ mungkin ini ada kaitannya dengan keberadaan pemberontak. Kita akan keluar besok. Apa kau siap?”
“ siap nyonya”
“ ada kemungkinan kita tak bisa kembil ke kerajaan, apa kau berani?”
Raut wajah Cila tampak sedikit kebingungan, ternyata dia belum mengerti bahayanya aksi ini.
“ aku memberikan waktu sampai besok, aksi ini sangat berbahaya. Nyawa adalah taruhannya.”
__ADS_1