
Dengan hati-hati aku memanjat jendela dan masuk ke kamar. Mendekati anakku, dia tertidur begitu nyenyak. Manis sekali. Au tak tahan untuk menggendongnya, bayiku tampak sehat dengan berat badan yang mantap. Dia menggeliat mencari kenyamanan. Aku mengusap pipinya lembut.
Tiba-tiba dia membuka matanya, tak menangis malah tersenyum. Kedua tanganya naik seakan ingin menggapai wajahku. Aku mendekatkan wajahku dan benar saja tangan mungilnya langsung menyentuh pipi dan hidungku. Aku tersenyum dan dia tertawa seperti bercanda.
“ anakku” lirihku. Aku segera pergi melewati cendela. Aku sudah terlanjur sakit hati, bisa-bisanya Zenia membawa anakku dan pergi dengan lelaki lain. Meski rasanya begitu sakit setidaknya anak ini harus berada dalam pengawasanku.
Beberapa kelompokku mendekat saat melihatku membawa seorang bayi lelaki kecil. Mereka sudah pasti mengerti siapa bayi yang gendong.
“ hey, kau mengambil bayi siapa?” teriak lelaki tadi, dia melihatku dari dalam rumah lewat jendela itu.
“ bayi ini anakku” aku segera berpaling dan pergi dari rumah itu. Beberapa orang tampak memperhatikan tingkahku, apalagi dengan kehadiran Ares dan yang lain seperti sedang melindungiku dengan posisi mereka.
“ yanga mulia” teriak seorang lelaki yang aku kenal. Dia berada tepat di depanku. Siapa lagi kalau bukan Morgan.
“ pergi dari hadapanku” tegasku. Semua warga tampak memperhatikan kami, Morgan sengaja memanggilku seperti itu agar menarik kerumunan. Licik sekali.
“ jangan bawa bayi itu” ucapnya tanpa merasa bersalah. Aku tersenyum meremehkan. Dia benar-benar berani.
__ADS_1
“ bayi ini adalah anakku, kenapa tidak boleh?”
“ anda tidak bisa membawanya seperti ini”
“ apa kau masih menyimpan dendam padaku ? karena Darahku mengalir darah lelaki yang kau benci bukan, lelaki yang merampas wanita yang kau cintai. Morgan, aku tidak menyangka jika selama ini kau adalah lelaki yang membuat kaisar memberikan hukuman pada ibu. Kaulah penyebab wanita yang kau cintai itu harus menerima segala penderitaan “ Morgan tampak tercengang dengan kebenaran yang aku ketahui. Tempat rahasian Parveen membuatku tau banyak tentang masa lalu.
“ bagaimanapun kau berusaha menyembunyikan perasaanmu, aku sudah tau semuanya. Bayi ini tidak ada urusan apapun denganmu, aku akan memaafkanmu atas kejahatan menghasut kaisar agar mau mati secara perlahan, dan membuat kesalapaham antara aku dan kaisar” Morgan tampak lemas, dia hanya terdiam sepertinya mulai tersadar. Aku kembali melangkahkan kaki. Morgan diam saja, aku bisa melihat raut menyesalnya itu.
“ aku tidak mau lagi melihatmu berkunjung di makam ibuku” ucapku begitu melewatinya. Morgan termenung dengan pemikirannya sendiri.
“ tuan, saya mohon jangan bawa anakku” Zenia sudah berada tepat di hadapanku, salah seorang kelompoku menahannya mendekat. Aku berputar membalikkan badan. Menatapnya begitu lama, rasa rindu itu terbayar hanya dengan melihatnya seperti ini.
“ kau tampak bahagia Zen” ucapku, Zenia terdiam dengan air mata yang terus mengalir.
“ tiap hari aku begitu menantikan kehadiranmu, menghabiskan puluhan botol anggur agar aku tidak merasa tersiksa. Kini yang ku lihat kau begitu bahagia dengan lelaki itu. Menyedihkan bukan” aku tertawa dalam tangisan. Menceritakan semuanya tampak begitu mengenaskan hidupku selama ini.
“ kau sudah bahagia bukan dengan pasangan barumu, biarkan aku membawa anakku untuk menemaniku disana” tak ingin berlama-lama melanjutkan langkah.
__ADS_1
“ tuan, saya mohon hentikan” suara Zenia tampak begitu sedih, dia masih begitu keras kepala. Sama sekali tidak mengerti akan kesedihanku selama ini. Beberapa orang tampak ingin menghadang kami.
“ kau ingin melawan kaisar?” teriak Ares yang membuat orang-orang itu tidak berani dan kembali memberikan jalan.
“aku hanya mengambil anakku, tenanglah” aku berucap pelan agar kesalapahaman ini teratasi. Meski teriakan Zenia masih terdengar, sama sekali tidak membuatku berpaling. Setelah menerima sebuah selendang dan menggendong anakku di depan akupun segera menaiki kuda. Dari atas sini aku bisa melihat lelaki itu memeluk Zeniaku seakan memberikan kekuatan atas aksiku yang jahat. Padahal merekalah yang sudah menyakiti hatiku. Merekalah yang begitu jahat dengan hidupku.
“ tuan!!” Zen berlari kearahku.
“ berbahagialah dengan kekasih barumu, kalau perlu buatlah bayimu sendiri” aku memukul pelan kuda dan memacunya cepat meninggalkan desa itu. Air mataku keluar mengiringi perpisahanku dengan Zenia. Sungguh tak menyangka, berbulan-bulan menanti dan seperti inilah akhirnya. Begitu menyesakkan, menyedihkan. Nyatanya Zenia tak pernah benar-benar bisa menerima semua kenyataan pahit dari cerita masa lalu. Aku yakin dia juga pasti sudah mendengar jika ibunya mati di tanganku. Ikatan yang kuat ini ternyata begitu rapuh, ternyata hanya aku sendiri yang mencinta. Sadarlah Enrick, dia bukan untukku. Sepanjang perjalanan bayiku tampak tenang dalam tidurnya,seakan memberikan kekuatan agar aku tegar.
Aidyn, nama anaku. Aku tidak peduli dia memiliki nama apa sebelumnya. Dia seorang putra mahkota sekarang. Meski beberapa menteri sempat menanyakan, aku dengan jelas menerangkan semuanya. Tidak ada pelanggaran etika ataupun budaya. Aidyn jelas hadir dari selir resmi sekalipun keberadaanya entah dimana. Semuanya bisa menerima Aidyn sebagai putra mahkota kerajaan Mosgarath.
Karena usianya yang masih begitu kecil aku sengaja mencari seorang wanita bangsawan yang bisa menyusui anakku. Aidyn membutuhkan perlakuan istimewa.
“ bagaimana kesehatannya sekarang?” tanyaku pada Hameera, wanita bangsawan yang sudah 5 bulan ini menyusui Aidyn. Hameera adalah wanita yang kehilangan anaknnya saat melahirkan, sepertinya dia korban siasat dari istri kedua suaminya. Berdasarkan pemeriksaan tabid kondisi Hameera tampak sedikit lemah akibat kandungannya yang rusak. Wanita ini begitu lembut dan tulus pada Aidyn jadi aku memilihnya.
__ADS_1