The Empero'S Prisoner

The Empero'S Prisoner
06


__ADS_3

Aku berjalan menuju ke kamarku, sampai aku melihat beberapa pelayan sedang berdiri di depan pintu dengan membawa makanan. Ya aku tau untuk siapa makanan itu. Aku seperti melihat beberapa ada yang tidak beres. Kenapa raut mereka begitu cemas.


“ kenapa kalian masih berada di luar?”


“ yang mulia,”  saut mereka bersamaan dengan memberiku jalan.


“ ada masalah apa?” lanjutku


“em. Itu nona Zen tidak mau makan sejak pagi,”


Aku menghela nafas, tidak semestinya aku mengurungnya selama ini. Bagaimanapun dia pasti sedih mengetahui kebenaran masa lalunya. Ditambah dengan hukuman dariku malah membuatnya semakin membenciku.


“kalian pergi saja dan bawakan makanan yang baru”


 


 Sejak membuka pintu kamar, aku tak melihat siapapun diatas ranjang. Aku mengalihkan pandanganku kearah balkon. Kurasa dia tertidur disana. Kenapa dia senang sekali tidur dibalkon?. Aku menghampirinya dan menggendongnya. Setelah meletakkannya di ranjang aku memasuki pemandian. Berendam dan memikirkan bagaimana mengatasi sikap Zen. Aku masih bimbang antara aku harus melepasnya atau menjelaskannya. Pesakitan ini bersamaku hampir 7 tahun. Aku bahkan tidak lagi merasakan sakit saat terluka, rasanya tubuhku hanya mengenali sakit saat kutukan itu datang.


 


Setelah menyelesaikan urusan pemandian, Ku hanya mengenakan celana dan tunik hitam satin. Beberapa pelaya masuk dengan membawa makan malam. Kulihat Zenia masih tenang dalam tidurnya. Mata tertutup dengan bulu mata yang hitam dan lemtik itu. Bibirnya mengatup indah. Ya, aku. Begitu mengagumi kecantikannya.


“ zen.. Bangunlah” sambil menaiki ranjang dan mengguncang tubuhnya pelan.


“ mau apa kamu?” hanya sekejab saja mata yang awalnya tertutup kini sudah terbuka lebar melotot kerahku. Dia sedikit terduduk dan memegang erat selimut.


“ makanlah dulu kemudian kau bisa melanjutkan tidurmu” menjauh darinya dan duduk di kursi.


“aku tak lapar” sesingkat itu dan kembali membaringkan tubuhnya.


“Bukan kah kau ingin membalas dendam, makanlah kau perlu tenaga” namun dia tak bergerak.


“aku membencimu” lirihnya.


“Aku tahu”


 


Kemudian kami hanya diam, ruangan itu begitu sepi. Hanya suara piring dan sendok yang beradu. Aku memilih untuk menghabiskan makan malam. Meski aku masih mengkhawatirkannya. Sepertinya aku harus menemukan cara bagaimana membuatnya makan. Sejak. Beberapa hari kulihat dia sangat jarang makan, dan aku tak heran dengan itu. Berita itu cukup memukul mentalnya.


“ jika ada yang ingin kau tanyakan silahkan saja” aku tau dia sejak dari tadi mencuri pandang kearahku.


 Sepertinya memang benar, dia melipat selimut dan menarik tubunya menjadi duduk.

__ADS_1


“kenapa,, kenapa kau membunuh ibuku dan warga desa?”


 


Zenia POV


Dia menarik sudut bibirnya. Kulihat dia menghentikan aktivitas makannya.


“ kenapa? Aku bahkan tidak membunuh mereka”


Pernyataanya sungguh membuatku kaget. Apa dia sedang bercanda. Aku membaca dengan jelas isi surat, bagaimana dia masih mengelak. Apakah kematian mereka hanya lelucon baginya. Apakah kehidupanku sebuah permainan. Apa dia mempermainkan aku.


“ jangan mencoba membohongiku” tegasku


 Setelah itu dia menatap tajam kearahku.


“ kau fikir aku tidak bisa membaca, jelas-jelas kau menyuruh untuk membunuh mereka semua” aku mulai terpancing emosi. Aku bahkan mengucapkannya tanpa jeda nafas.


“ apa yang tertulis disana? Apakah aku menuliskan untuk membunuh penduduk desa?”


Seakan menghatamku, memang benar tak tertulis penduduk desa. Aku tidak boleh terpengaruh dengan kalimatnya. Bisa saja dia mencoba mengalihkan kebenaran.


“ tapi kenapa semua orang mati !?” teriakku.


“jika kau ingin mengetahuinya, kau bisa mulai dengan duduk di sini dan makan”


Dia terlihat tidak terintimidasi dengan kemarahanku. Dia malah kembali melanjutkan makannya.


 


Nafasku sudah tak beraturan ingin sekali aku menampar wajah santainya itu. Tak ada pilihan, aku menuruni ranjang dan duduk di depannya. Mengambil beberapa makanan dengan kasar. Tak peduli dengan pria itu yang menatap kelakuan ku dengan senyum bangganya. Dia berhasil membuat makan,tak ada pilihan.


“Makan pelan-pelan, aku tahu kau lapar” cih, dia masih mengejekku. Kali ini, hanya kali ini aku akan mengikuti apa maumu.


 


“ jadi apa penjelasanmu?” setelah menyelesaikan makan, meja telah bersih tinggal kami berdua duduk berhadapan. Hanya ada dua cangkir teh yang menemani kami berdua. Kulihat dia begitu tenang. Tidak ada sedikitpun kegusaran yang terlihat di raut wajahnya. Apakah memang benar bukan dia pembunuhnya. Kalau begitu siapa yang bertanggungjawab atas kejadian itu.


 


“aku sudah mengatakannya tadi, bukan aku yang membunuh penduduk desa” tanganya dengan santai mengambil cangkir teh dan menyesapnya pelan. Dia begitu tenang, tidak ada keraguan. Rasanya dia tidak berbohong saat mengatakan itu.


 

__ADS_1


“kalau begitu siapa pembunuhnya?” berusaha meredam emosiku. Kenapa mengajaknya berbicara begitu menguras emosiku.


“aku tak tau” aku menatapnya tajam. Mencoba mencerna sebernanya apa yang ingi dia katakan padaku. Kenapa bertele-tele seperti ini.


“ kenapa kau berada disana?”


“pertanyaan bagus” dia menyandarkan punggungnya. Menatap kearahku dan tersenyum tipis.


“ aku memang berencana menangkap para pemberontak, markas mereka berada di desamu. Namun ketika aku sampai disana keadaanya begitu mengenaskan. Dan aku hanya menemukanmu. Jadi ini akan menjadi misteri untuk kita” lanjutnya penuh penegasan. Raut mukanya begitu serius. Aku tau benar jika sudah begini, dia tidak sedang berbohong. Aku masih ingat aku melihat suasana ini saat dia berdiskusi dengan panglima perang saat di perbatasan beberapa waktu lalu.


 


“ apa aku bisa mempercayai ucapanmu?” suaraku mulai tenang. Keadaanku terasa lebih stabil khususnya mentalku. Ya, emosi marahku mulai meredup.


“Terserah padamu, aku sudah mengatakan yang sebenarnya”


“apakah kau memiliki kecurigaan siapa sebenarnya yang menghancurkan desaku?” memang benar ini akan menjadi misteri untukku dan dia. Mungkin saja dia memiliki petunjuk. Sedikit petunjuk sangat berati. Sudah waktunya aku membalas perbuatan mereka. Selama ini aku berfikir bahwa masalah ini hanya akan membuatku trauma dan sedih.namun sejak membaca surat itu aku bertekat untuk menguak dibalik peristiwa itu, siapa pelakunya dan aku harus membalas semuanya. Tujuan hidupku kini adalah balas dendam.


 


“masalah ini tidak hanya sekedar tentang pembunuhan, ini jauh lebih dalam. Kau tak perlu tau. Yang jelas bukan aku pembunuhnya. Kau bisa kembali seperti sebelumnya”


 


“ aku tidak akan pernah melupakannya!!. Sekarang aku benar-benar ingin menguak semuanya. Jika kau tak mau mengatakan semuanya padaku, aku bisa mencarinya sendiri.” Aku beranjak. Mulai sekarang aku tidak akan tinggal diam. Sebenarnya aku putus asa. Bagaimana caraku mencari petunjuk. Aku tidak bisa Memikirkan apapun. Ternyata aku masih selemah dulu, aku benar-benar sedih tidak adakah seseorang yang bisa membantuku setidaknya berdiri disampingku.


 


“zen, dengarkan aku. “ dia menarik yang aku. Menahanku agar tidak meninggalkan kamar ini. Apakah dia mencoba menghentikan ku dan membuatku menuruti ucapannya. Tidak semua itu.


 


“lepaskan aku.. “


“zen, jika kau masih ingin membalas dendam dengarkan aku.” Akhirnya aku berhenti dan menoleh kearahnya. Padanganku berbayang. Sepertinya air mataku sudah memenuhi pelupuk mata. Aku memalingkan wajahku dan dengan kasar mengusap air mata. Aku tak mau dia melihat kondisi ku yang lemah dan putus asa.


 


“ latih dirimu, jika kau sudah lebih siap dan tangguh aku akan mengatakan semuanya padamu.”


 


 

__ADS_1


__ADS_2