The Empero'S Prisoner

The Empero'S Prisoner
28


__ADS_3

“ Cila, apa yang terjadi padamu?” disana dia hanya menangis dengan menggelengankan kepala seolah melarangku mendekat. Tetap saja aku berjalan mendekat dan mendong pelayan yang memegangi tubuhnya. Aku memeluknya, kulihat punggung serta kakinya berdarah.


“ kenapa ini bisa terjadi?”


“ yang mulia, ,,” hanya dua kata itu yang dia ucapkan. Tubuhnya melemah nyaris telungkup di atas pangkuanku.


“ berani sekali kalian melakukan semua ini” aku berteriak memarahi mereka. Semuanya diam tak menjawab.


“ siapa yang menyuruh kalian melakukan hal kejam ini?”  lanjutku. Tetap tak ada jawaban. Mereka menunduk tak berani menatapku.


“ jawab!” sentakku. Kurasakan tubuh Cila semakin lemah. Bahkan matanya sudah menutup.


 


“ aku !“ jawaban itu terdengar dari arah pintu masuk kamar. Pengawal serta pelayan berjalan mundur menjauhi aku dan Cila. Amarahku semakin meluap, kejam sekali.


“ kenapa tuan melakukan ini, kesalahan apa yang dia lakukan sampai menghukumnya sekejam ini?” tak menjawab, malah berjalan mendekat padaku. Kemudian tangan terulur bukan padaku tapi kepada pengawal di belakang kami, tuan En mengambil cambuknya. Jika di lihat cambuknya tidak terlalu panjang, memiliki beberapa tali diujungnya yang berasal dari kulit hewan. Jika dipukulkan tidak langsung membuat luka berdarah tapi jika sudah dipukulkan berkali-kali baru akan merobek kulit penerimanya.


 


“ kau yang paling tahu kesalahan apa yang dia lakukan” jawab lirih. Pengawal dan pelayan meninggalkan kamar. Tak lama kemudian kak Lu masuk.


“ a,a,apa maksud tuan En?” ini pasti karena aku meninggalkan istana tanpa sepengatahuanya. Kejam sekali, hanya karena itu dia menghukum Cila sekejam ini.


“ tak mau mengaku?, baiklah” tuan En sudah siap akan memukulkan cambuk itu. Aku lihat sasarannya adalah punggung Cila.


“ hentikan! Dia tak bersalah, cila hanya melakukan apa yang saya perintahkan” aku mulai terisak, tak tega melihatnya akan di cambuk.


“ jika ingin menghukum, hukumlah saya. Saya yang melakukan kesalahan, hiks ,,hiks” lanjutku. Aku memeluk Cila erat, melindungi tubuhnya dengan tubuhku.


“ kalau begitu katakan apa kesalahanmu?” melangkah mundur menjauhiku dan tetap membawa cambuk itu. Aku mengambil nafas panjang.


“s,saya keluar istana tanpa meminta izin pada tuan” jawabku. Kurasa memang hanya itu kesalahanku. Aku tidak melakukan larangan apapun.


“ apa kau fikir hanya itu?” dia tersenyum meremehkan membuatku semakin berfikir, memangnya aku melakukan kesalahan apa lagi?.


“ menurut tuan memangnya kesalahan apa yang saya perbuat?” aku menatap tajam ke arahnya. Aku yakin, aku tidak melakukan kesalahan apapun lagi. Dia terlihat menghembuskan nafas kasar. Aku benar-benar membuatnya marah. Sedikit menggetarkan keberanianku.


“ bawa pelayan itu” perintahnya pada kak Lu.

__ADS_1


“ tidak, akan di bawa kemana ?“ aku panik, takut jika Cila akan menjalani hukuman lagi. Kak Lu menyingkirkan tanganku. Raut wajahnya mengisaratkan ‘ tidak apa-apa’. Tapi aku tak tenang, aku juga menyingkirkan tangan kak Lu dari tubuh Cila.


“ selir,mohon lepaskan tangan anda” kak Lu sedikit berbisik padaku.


“ tidak, dia harus diobati” cegahku. Aku harus segera mengobati lukanya.


 


Saat akan menarik tubuh cila dari kak Lu, tiba-tiba lenganku sudah di tarik menjauh. Tubuhku tidak seimbang dan menubruk tubuh besar tuan En.


“ tenanglah, urusan kita belum selesai”  kulihat kak Lu sudah menggedong cila keluar dari kamar. Tuan En menyeret tubuhku dan menghempaskannya di ranjang.


“ kenapa kau kejam sekali” teriakku. Dia sudah melemparkan cambuknya, tangan kosongnya kini berada dipinggangya.


“ apa kau ingin semua penghuni kerajaan tahu jika kau selama ini tidak sedang hamil? Pergi tanpa kabar!, kau fikir hukuman apa yang akan kau dapatkan jika semua ini terungkap?. Katakan, apa kau sudah tak ingin membalas dendam dan ingin bunuh diri?.” Cerca tuan En. Wajahnya memerah menahan amarahnya.


“ kau fikir semua usahaku hanya lelucon?” dia masih melanjutkan amarahnya. Aku tersadar, ternyata bukan hanya karena aku keluar istana, tapi tuan En sangat mencemaskan keselamatanku.


“s,,saya hanya ingin menghilangkan kepenatan, “ jawabku lemah.


“ terimakasih tuan En sudah mencemaskan saya, lagipula semua ini juga karena tuan En” bantahku. Bukan hanya aku yang bersalah disini.


“ karenaku? Alasan macam apa ini?” amarahnya semakin memancar. Aku beranjak duduk di tepi ranjang. Menatap wajahnya.


 


“ kebohongan yang selama ini tuan sembunyikan, saya sudah tahu” lanjutku. Dia terlihat kaget, sedikit mundur. Tanganya meremas rambutnya. Tak menyangka jika aku sudah mengetahui hal ini. Terdiam. Tuan En tidak mengatakan sepatah kata pun. Lelehan hangat mengalir kembali darisudut mataku. Sakit hati ini akhirnya keluar.


“ itu hanya pernikahan politik, kaisar mengaturnya untukku” suaranya agak melemah. Semua emosinya lenyap, digantikan dengan rasa bersalah. Memang harus seperti itu.


“ pernikahan politik?” aku tertawa sumbang,


“ bukankah tuan En sendiri yang memerintahkan untuk mempercepat pernikahannya?, lima hari sedari sekarang” dia kembali terdiam. Menatapku sendu, tapi aku tidak tergugah.


“ aku memiliki alasan sendiri”


“ iya, tuan memang berhak melakukannya. Apalah arti saya yang hanya seorang pelayan bagi anda”


“ Zen, bukankah aku menyuruh untuk mulai merubah pandanganmu padaku?” dia mendekat, nada suaranya menjadi lembut.

__ADS_1


“ bagaimana saya bisa mengubahnya, jika semua yang tuan lakukan hanya mengantarkan saya pada keraguan?” lelehan ini semakin deras. Kini tuan En bersimpuh menaruh tangannya di pahaku.


“ aku hanya tak ingin merusak hubungan ini” lirihnya, menghapus air mata pada pipiku dengan lembut.  


“ saya hanya ingin penjelasan dari tuan En, sesuatu yang sudah anda janjikan. Hanya itu yang bisa membuat saya sedikit mempercayai hubungan ini” aku melepaskan pegangan tangannya. Menolehkan wajahku dan mengusap kasar air mata ini. Aku berbohong jika aku tak bisa memandangnya sebagai seorang suami. Aku berbohong jika aku tidak menginginkan perhatiannya. Aku berbohong bahwa aku tidak mempercayai hubungan ini.


“ baiklah, tapi berikan aku waktu. Hemm” aku menatap maniknya. Disana tak ada keraguan hanya permohonan dari dalam hatinya.


“ paling lama, setelah pernikahan itu berlangsung” aku sudah menetapkan. Tak ada lagi negosiasi, aku tak ingin menundanya. Dia mengangguk pelan, bersamaan dengan senyuman ringan yang dia berikan. Wajahnya terlihat sangat senang sekali. Apa begitu berat dia mengungkapkannya. Apa yang dia takutkan. Hanya bisa menunggu.


“ kepalamu berdarah?” aku menyentuh lukaku dan warna merah terlihat di telapak tanganku. Aku mengangguk pelan.


“ panggilkan tabib” teriak tuan En pada pelayan yang berjaga di luar.


 


Sekarang aku sudah membersihakn diri, mengganti baju serta lukaku sudah ditangani. Semua dibantu oleh tuan En sendiri. Mungkin dia merasa bersalah karena sudah menghukum Cila, jadi semua tugasnya dia yang gantikan. Lucu sekali. Seorang putra mahkota menjadi pelayan pribadi selirnya. Beberapa kali menanyakan keadaanku atau perasaanku. Dia terlihat cemas ketika mengetahui jika luka di kepalaku cukup dalam. Untungnya dia lihai menangani luka, jadi tidak perlu merepotkan tabib yang hanya memberikan racikan dan ramuan untukku.


 


“ kau pasti lapar, makanlah” kami sedang makan malam di ruang tengah istanaku. Tuan En menyuruh pelayan untuk menyiapkan makanan selepas mengobatiku.


“ terimakasih” aku memakan sayuran yang tuan En taruh di mangkukku. Dia terlihat bersemangat. Aura kejamnya sudah menghilang beberapa saat yang lalu.


“ oia tuan, kak lu membawa Cila kemana?” aku lupa menanyakannya.


“ pasti ke ruang pengobatan, dia terlihat berbeda saat memperlakukan Cila” jawab tuan En sambil tetap mengambil beberapa lauk untukku.


“ berbeda bagaimana?”


“ sepertinya dia tertarik pada pelayanmu”


Uhuk,,uhuk..


Aku kaget mendengarnya. Bagaimana mungkin..


“ tapi Cila masih terlalu muda untuk kak Lu” jawabku kemudian menyerumput minuman yang berikan tuan En.


“ aku hanya menebak, kalaupun iya, itu urusan mereka.” Seakan tak perduli dengan keterkejutanku dia masih saja mengunyah makanannya.

__ADS_1


“ kalian para lelaki selalu saja seenaknya sendiri dalam memutuskan” kesal saja mendengar kabar ini, tidak boleh, aku harus menjaga Cila dari kak Lu. Mereka pantasnya menjadi kakak beradik. Usianya bahkan terpaut 10 tahun lebih.


“ tentu tidak, hanya saja kami memiliki daya fikir yang lebih cepat dari kalian” alasan. Mana mau dia disalahkan. Aku menjadi sebal sendiri, membuat selera makanku semakin naik. Mengambil lauk sepuasnya dan memakannya lahap. Tak memperdulikan tuan En yang melihat ke arahku.


__ADS_2