The Empero'S Prisoner

The Empero'S Prisoner
XVII


__ADS_3

“ aku tahu, dia memang bersalah. Tapi kamu tak berhak menghakiminya!” aku beranjak, tak ingin melanjutkan pembicaraan yang tidak mengenakkan untukku.


“ kita belum selesai” dia berteriak melihatku berjalan menjauh.


“ aku akan memberitahumu bagaimana menghentikan kutukan itu” lanjutnya. Dan berhasil membuatku berhenti. Hal ini di luar dari dugaanku. Akhirnya aku berbalik badan, menatap kesungguhan di wajahnya.


“ aku akan mengatakan padamu, tapi berjanjilah kau akan melindungi Zenia seumur hidupmu” suarany semakin lirih diakhir kalimat. Sorot matanya begitu sedih. Jelas aku tahu alasannya. Aapa mungkin dia bersedia melakukan hal itu.


“ aku sudah tahu” jawabku tegas. Mata kami saling berpandang. Saling menyelami fakta bahwa cara ini harus menyisakan salah satu dari kami.


“ kalau begitu aku akan atur waktunya” suaranya sedikit bergetar. Dia pasti harus melawan ketakuatannya untuk meninggalkan Zenia selamanya.


“ aku tidak akan melakukannya” sambungku. Maniknya semakin membola, tidak percaya dengan ucapanku.


“ semua karena Zenia, dia masih membutuhkanmu” dia mengalihkan padangan. Menatap pepohonan karena tak ingin terlihat menangis di depanku. Tapi aku bisa menangkap lelehan hangat di pipinya. Aku berjalan mendekat, tak ingin masalah ini didengar oleh orang lain.


“ jangan sampai orang lain mengetahuinya. “


“ tidak, kita tidak akan selamat. Hanya boleh satu orang yang hidup dalam ikatan ini, atau keduanya tak selamat” tidak, hal ini begitu mengagetkan. Bagaimana bisa, pilihan ini benar-benar tak bisa ku kira.


“ kau bercanda?” aku tersenyum meremehkan. Menyeringai atas kebenaran yang menyakitkan ini.


“ kenapa kau melakukan hal bodoh seperti ini?” mengeluarkan segala kemarahan dalam diriku.


“ tak ada jalan kembali. Kita sudahi saja. Aku akan atur waktunya” Zoya berniat meninggalkan ku.


“ tidak, aku tak ingin membuat Zenia bersedih. “


“ pikirkan anakmu” hanya ucapan singkat yang menjadi penutup perbincangan pagi ini. Hah, kenapa banyak sekali dilema, belum juga antara ayah dan Zenia, sekarang aku harus memilih Zenia atau anakku. Entahlah, aku sudah tak bisa memikirkan apapun lagi. Pagi ini ku habiskan dengan duduk di taman belakang. Pikiranku kosong, hanya menikmati sepoi angin yang membawa sebagian kegelisahanku, meresapi suasana tenang sebelum harus menjalani waktu datang yang kemungkinan semakin pelik.


 


Sudah satu hari sejak perbincangan itu, kondisi tubuhku sudah membaik. Setelah memikirkan semuanya, aku memutuskan untuk kembali ke istana. Aku harus melakukan sesuatu, menemui ayah kemudian meluruskan kesalaphaman yang beredar di kerajaan. Kemungkinan kondisi kerajaan pasti sangat kacau, permaisuri tidak akan berhenti sebelum tahta kerajaan berhasil dia dapatkan.


 


Setelah meyakinkan Zenia bahwa aku akan baik-baik saja, baru menemui Lucien. Ingin mendiskusikan hal ini dengannya. Entah beberapa hari ini aku tidak melihatnya. Kesibukan apa yang membuatnya melupakanku.


 


“ morgan, kau tahu dimana Lucien? Beberapa hari tak melihatnya membuatku sedikit merindukannya.” Aku berada di ruang kerja Morgan.


“ dia sedang melakukan pengawasan.” Jawabnya singkat, kemudian mengambil secangkir teh diatas meja.

__ADS_1


“ pengawasan? Dimana?”


“ kerajaan. Kemungkinan hari ini dia akan kembali” aku mengerutkan kening. Kenapa aku baru tahu hal ini.


“ baguslah, hari ini aku berencana mengunjungi ayah, sekalian melurukan semua masalah yang terjadi. Entah kapan akan kembali. “


“ kau sudah punya rencana?”


“ sebelum tertangkap, ayah memberiku dokumen yang mengatakan bahwa aku adalah anak Kahla. Serta menjelaskan semua kejahatan yang dilakukan permaisuri”


“ sepertinya tekatmu sudah matang. Lalu bagaimana dengan Zenia?”


“ aku sudah membujuknya, dia tak tahu resiko akan tindakanku. Kau jagalah dia, jika mendengar kabar buruk padaku, segera bawa dia pergi. Aku titipkan dia padamu.” Morgan menatapku lama, seperti sedang memeriksa sesutau.


“ kenapa?” tanyaku.


“ kau, berjanjilah untuk kembali” tumben sekali dia mengatakan hal romantis.


“ iya, sudahlah jangan menagis” niatku hanya ingin bercanda, mengalihkan pembicaraan yang semakin mebawa perasaan ini. Tapi dia malah memeluku erat.


“ ada apa denganmu hari ini? Biasanya juga tegas dan keras.”


“ kali ini akan jauh berbeda. Kau harus selamat” benar juga, kali ini aku kembali sendirian. Musuh sudah sangat dekat, kali ini berada di akhir cerita. Mengakhiri segala pertikaian, kesalapahaman serta keserakahan yang selama ini menjadi akar permusuhan. Resikonya adalah nyawa, kalaupun aku mati setidaknya Zenia masih memiliki keluarga lain. Jika kali ini tidak aku selesaikan, aku hanya memberikan ketakutan di masa datang pada Zenia. Dan aku tak mau itu terjadi. Tahta ini yang mereka inginkan, maka dengan tetes darah akan aku perjuangkan.


 


“ apa yang kau ributkan?” Morgan langsung menimpali Lucien dengan pertanyaan ketus.


“ yang mulia,..” matanya mulai berair. Kini aku menjadi sedikit curiga.


“ katakan dengan jelas” Lucien berjalan mendekat. Baik aku maupun Morgan kini serius menanggapi Lucien.


“ kaisar, kaisar yang mulia,,”


 


tak ingin mendengar kelanjutan kalimat Lucien, yang sebenarnya aku sudah menduganya. Segera keluar dan mengambil kuda. Saat ini juga tujuanku adalah kerajaan. Tak ada hal lain dalam pikiranku selain segera sampai dan menemui ayah. Aku bisa mendengar suara kuda di belakang, kemungkinan Lucien mengikutiku. Kuharap Morgan masih mengingat pesanku sebelumnya.


 


Cah,, cah,,


Semakin lama semakin aku pacu kuda ini, secepatnya aku harus bisa sampai di kerajaan.

__ADS_1


“ yang mulia,,!!” Lucien memanggilku sedari tadi, aku tidak menghiraukannnya. Dia pasti ingin mencegahku memasuki kerajaan.


“ yang mulia, dengarkan aku. “


“ jangan mencoba menghalangiku”


“ yang mulia, saat ini di kerajaan semua atas pengaturan permaisuri. Sangat  berbahaya jika kembali ke kerajaan.”


“ hentikan ocehanmu, jika kau takut kembalilah”


 


Setelahnya Lucien tak lagi berkata apapun, dia pasti sudah memahami sistuasinya. Jika menunggu sampai aman, maka hari itu tak akan ada. Permaisuri memang sudah lebih awal merencanakan semuanya. Jika bukan hari ini, esok akan semakin sulit untuk mengakhiri semuanya.


 


“ yang mulai saya tahu arah mana yang aman” begitu sampai di gerbang kerajaan, Lucien langsung memimpin arah. Mungkin tugas pengawasannya memberinya sesuatu.


 


Cah,,cah..


Lucien masuk melalui samping, sedikit jauh dari gerbang samping. Entahlah aku tak bisa memprediksi ke arah mana, yang jelas jalan ini bisa membuatku masuk ke istana sudah sangat membantu.


 


Menuruni kuda dan segera mengikuti langkah Lucien. Menaiki atap sebuah bangunan dan segera masuk.


“ yang mulia, kita harus berganti pakaian” disana sudah ada pakaian pelayan. Persiapan Lucien cukup matang. Tak sia-sia gelar pengawal yang di milikinya.


 


Setelah melewati segala pemeriksaan, aku dan Lucein berhasil masuk ke istana kekaisaran. Penjagaan semakin ketat, aku dan Lucien melewati jalan tembus yang biasanya kami lewati. Akhirnya sampai di ruang tidur ayah.


“ yang mulia,,” lirih Lucien ketika melihatku mematung menatap keadaan di depan.


 


Aku segera mendekati ranjang, saat itu kamar begtu sepi. Tapi diluar begitu banyak penjaga.


“ ayah..” aku mengusap wajahnya pelan. Wajah ini begitu pucat, kurus dan menyedihkan. Bagaimana dia melewwati hari-harinya selama ini. Aku begitu durhaka meninggalkannya sendirian.


 

__ADS_1


“ ayah,,” panggilku terus. Selagi aku masih bisa melihatnya aku ingin terus mengucapkan kata itu.


“ yang mulia,,” Lucien mengusap bahuku pelan, seolah sedang menguatkan dirku menghadapi kenyataan ini.


__ADS_2