The Empero'S Prisoner

The Empero'S Prisoner
50


__ADS_3

Hari ini berbeda dengan hari sebelumnya, kami bertiga sarapan bersama di meja makan besar. Letaknya ada di lantai bawah tepat di samping dapur. Ketua, aku dan ibu. Kami makan dengan tenang. Sembari makan mataku selalu mengawasi gerak-gerik ketua. Ingin mencari celah keburukannya, agar ibu bisa berpaling darinya. Aku yakin pengaruh buruk yang ibu dapat adalah dari dia.


 


“ Zen, tambah makananmu” ibu memulai pembicaraan meja makan.


“ iya bu” mematuhinya, harus bisa mengambil hati ibu.


“ ketua juga, silahkan menambah “ lanjutku. Sejak awal pertemuan ketua memang tidak banyak berbicang denganku. Apalagi karena sudah mengurungku di awal pertemuan, seakan ada sekat diantara kami berdua.


Ketua hanya menatapku sesaat dengan tersenyum.


“ oia, Zen ingin tahu, bagaimana awal kalian bertemu?”


 


Uhuk,,uhuk,,


Ibu tersedak makanan. Apa terlalu kaget dengan pertanyaan yang aku ajukan.


Ketua juga terlihat salah tingkah. Posisi duduknya sering berganti. Situasi menjadi sedikit canggung, tidak ada diantara ibu maupun ketua yang menjawab pertanyaaku. Ada apa sebenarnya dengan pertemuan mereka.


 


“ saat itu karena melihat ibumu tidak memiliki apapun serta penampilannya juga tidak terurus membuatku iba, seiring berjalannya waktu malah timbul perasaan untuk ibumu” jawab ketua


 


“ benar itu ibu?” sambil menatap ibu, suaraku terdengar begitu riang dan antusias. Memang sengaja membuatnya seperti itu.


“ iya, benar seperti itu”


“ wah, jadi begitu. Kau begitu tulus ya” merujuk kepada ketua.


 


Perbicangan itu terus bergulir sampai sarapan berakhir. Setelah itu ibu dan ketua pergi berdua. Entah bagaimana waktunya pas sekali dengan kedatangan Ares. Sejak kemarin tak terlihat batang hidungnya, kini tiba-tiba saja datang dan menghampiriku.


 


“ kalian berbincanglah, kami pergi dulu” mereka pergi keluar.


“ Zen, bagaimana kabarmu?” masih saja cengengesan ketika berbicara dengan ku.


“ seperti yang kau lihat” ketusku.


 


Aku juga pergi, melangkah mengarah ke taman di belakang markas. Itu hanya alasan sebenarnya ingin mengatahui kemana arah ibu dan ketua sebenarnya pergi. Sudut mataku menangkap jika mereka menghilang pada belokan yang samping, mungkin ke gudang belakang. Tunggu nanti jika ada kesempatan akan menyusul kesana.


 


“ Zen, mau ku temani?” orang ini benar-benar merusak rencana.


“ tidak usah”

__ADS_1


“ disana banyak ular”


“ aku tidak takut”


“ nanti kamu di gigit, aku tak mau di marahi nyonya.”


“ aku bisa menjaga diriku sendiri”


Dalam perjalanan kami terus bersautan. Pendiriannya kuat juga. Tak bisa di tolak dengan alasan apapun. Padahal aku sudah menunjukkan rasa tidak suka bahkan menolaknya secara terang-terangan naitnya itu. Tapi sungguh Ares termasuk orang yang bebal.


 


Terpaksa saat ini duduk dengannya di taman. Aku diam saja sejak sampai disini, kedua tangnku terlipat di dada, tanda bahwa aku tidak tertarik akan kehadirannnya. Bahkan merasa terganggu.


 


“ Zen, apa kau tidak ingin jalan-jalan?”


“ tidak”


“ sudah setengah jam kau hanya diam memandangi bunga itu”


“ kau bosan? Pergilah sendiri”


“ bukan, aku tidak bosan saat menemanimu”


“ tapi aku bosan kau disini” menatapnya tajam.


“ aku punya tempat yang bagus untuk menghilangkan kebosananmu” apa dia tuli, sulit sekali membuatnya paham.


 


Ares memimpin jalan. Entah kemana dia akan pergi. Terus berjalan melintasi kediaman utama, menuju ke bagian depan markas. Apa mungkin tujuannya adalah  pergi ke luar pagar. Menarik, mungkin bisa mengamati kondisi disekitar markas. Ares ini meski menyebalkan, tapi ada gunanya juga.


 


Setelah berbincang ringa dengan penjaga, tak berselang lama pagar itu terbuka. Aku mengikutinya dalam diam. Meski berulang kali melemparkan pertanyaaan, tetap saja aku tak bergeming. Bahkan kami berjalan tidak beriringan, Ares di depan dan aku di belakangnya. Itu semua memang kemauanku.


 


Terus berjalan sampai gemerici air samar-samar terdengar. Beberapa langkah kemudian air terjun terlihat di depan mata. Indah sekali, menenggelamkan telapak kaki di celah bebatuan. Dingin, mungkin segar jika aku bisa mandi disini. Namun saat ini buklanlah waktu yang tepat. Ares memandangku lama, hal ini membuatku sedikit risih.


 


“ kenapa kau memandangku seperti itu?”


“ kau terihat sangat cantik” mulai lagi, dia memang pintar merusak suasana hatiku.


“ baiklah kita kembali” saat membalikan tubuhku, tiba-tiba Ares menyentuh tanganku. Menggenggemnya erat.


“ apa yang kau lakukan?” menariknya tapi tidak berhasil.


“ Zenia, aku ingin mengatkan sesuatu” perasaanku mulai merasa tidak enak.


“ tidak jangan katakan” menyentak tanganku agar genggamnya terlepas.

__ADS_1


“ Zen,,” Ares terus memanggilku ketika berhasil melepaskan tangnnya. Aku berjalan cepat meninggalkanya di belakang.


 


“ Zen,, tunggu”menghalangi jalan.


“ apa? Aku lelah ingin segera kembali” mendorong pundaknya pelan, agar bisa melangkah.


 


Ares diam dan ikut berjalan kembali ke markas. Mungkin dia paham dengan suasana hatiku yang buruk. Sama seperti saat masuk pertama kali, Ares memberikan semacam kode dengan tangan dan suaranya baru kemudian pagar itu terbuka.


 


“ lain kali bisa ajari aku kode itu?” Ares tersenyum dan mengangguk pelan menjawab pertanyaanku.


Setelah selesai melapor pada penjaga, kami berdua masuk.


“ kau tak perlu mengantarku” langsung saja melangkah meninggalkannya.


Tumben sekali kali ini Ares cukup penurut. Apa mungkin aku terlalu kasar padanya. Tapi sungguh menjengkelkan sekali tingkahnya. Tapi mengingat kebaikannya dimasa lalu, aku menjadi merasa bersalah. Mungkin lain kali bisa sedikit lembut padanya.


 


Ketika melewati ruang penjaga, sudut mataku menangkap ibu dan ketua keluar dari gudang. Ternyata benar dugaanku, mereka tadi menuju gudang. Kesempatan yang bagus untuk mengikuti mereka. Sepertiya mereka menuju ke aula utama.


 


Gawat disana terlihat beberapa penjaga berada di sisi pintu masuk. Bagiaman aku mengelabui mereka. Ibu dan ketua baru saja masuk, aku harus cepat. Berjalan mondar-mandir di sisi samping aula. Tidak ada ide apapun.


 


‘ hadapi saja dulu’


Melangkah masuk ke aula. Dengan langkah santai semakin mendekati penjaga. Mereka melihatku, memasang wajah angkuh. Aku adalah anak dari nyonya disini, apa mereka berani menghalangi jalanku.


“ maaf nona” dugaanku salah, hubungan keluaraga sepertinya tidak berlaku disini.


“ ibu menyuruhku mengikutinya, karena terlambat jadi ibu masuk lebih dulu” kilahku.


“ tetap tidak bisa” salah satu penjaga menolak alasanku.


“ baiklah, kalian bole bertanya kepada ibuku di dalam, paling juga kalian di hukum” ocehku yang sengaja mengecoh mereka. Mereka berdua salig pandang, mendiskusikan sesuatu.


 


“ baiklah nona” nyali mereka kacang juga.


Melangkah angkuh meninggalkan mereka. Berani sekali menghalangi jalan seorang Zenia.


 


Naik kelantai 2, melangkah dengan hati-hati jangan sampai menimbulkan suara. Disini banyak sekali ruangan. Ibu dan ketua entah masuk ke ruang yang mana. Mendekati setiap pintu dan menempelkan telinga. Hanya itu yang bisa dilakukan, mengecek keberadaan mereka satu persatu.


“ tidak bisa. Bagaimana jika terjadi hal buruk padanya” itu suara ibu, ruangan paling pojok ternyata menjadi tempat berbincang mereka.

__ADS_1


“ anggota kita banyak Zoya, dia akan baik-baik saja”


__ADS_2