The Empero'S Prisoner

The Empero'S Prisoner
34


__ADS_3

Tidur siang kali ini berlangsung sangat lama dan nyenyak sekali, aku terbangun saat senja hampir menghilang. Setelah itu langsung menyuruh Cila menyiapkan makan siang sedang aku membersihkan diri.


 


“ apa nyonya begitu kelaparan,?” Cila manatap dengan heran.


“ entah kenapa makanan ini terasa sangat nikmat, aku jadi sangat berselera” makanan bahkan masih didalam mulut, mengunyah sambil berbicara.


“ kau makanlah, sini duduk bersamaku” Cila sampai menelan ludahnya sendiri. Mengambil peralatan makan dan ikut makan bersamaku.


 


Khusus kali ini semua makanan tidak bersisa, ludes termakan. Belum pernah aku merasa selapar itu sebelumnya, padahal menu yang diberikan sedikit banyak adalah menu sehari-hari. Tapi lidah terasa di manjakan dengan kenikmatannya. Nafsu makan jadi melonjak sangat drastis.


 


“ Cila, setelah ini lebih baik kita kembali ke istana. Mungkin sebentar lagi tuan En dan putri mahkota akan tiba di istananya.” Memang benar istana putri mahkota dengan istana putra mahkota berbeda bangunan, tapi keduanya memiliki halaman depan yang saling bersatu. Mereka juga akan menghabiskan waktu bersama. Tak ingin melukai hati sendiri, jadi lebih baik pergi.


 


“ tapi nyonya, putra mahkota tidak memberikan izin meninggalkan istana”


“ kapan tuan En mengatakannya?”


“ tadi pagi, sebelum pergi ke upacaya pernikahan”


“ emm,, baiklah ikuti kemauannya ”


 


Hari mulai gelap, setelah menghabiskan waktu sebentar di ruang perpustakaan, memutuskan untuk mengawali tidur malamku. Setelah menimbang semuanya, aku memilih untuk tidak kembali dulu, hubungan kami sekarang mulai berjalan sangat baik. Jadi tak ingin membuatnya rusak. Bagaimanapun posisiku adalah istri, harus lebih mengerti kemauan tuan En.


 


“ nyonya tidak menunggu putra mahkota kembali?” Cila terus membujukku agar tidak memulai tidur. Dia sangat bawel hari ini.


“ tuan En pasti sibuk dengan istri barunya, lagipula aku sudah sangat mengantuk.” menarik selimut pertanda tak ingin di ganggu.


“jadi begitu, kau ingin aku menemani putri mahkota?” Tiba-tiba sudah ada di pintu kamar. Langsung beranjak dan duduk di ranjang sambil tersenyum malu.


“ tuan En sudah kembali?”


“ seperti yang kau lihat” berjalan ke arahku, Cila langsung undur diri.


“ tuan En kenapa tidak memakai baju pernikahan?” setelannya sangat sederhana tidak seperti habis menikah.


“ aku dari urusan lain, bahkan meninggalkan perayaan saat siang hari”


“ urusan penting? Kasihan sekali putri mahkota harus sendirian di perayaan pernikahannya. Tuan juga tidak membangunkan saya. Jadi tidak bisa menemani putri mahkota” sudah duduk di depanku

__ADS_1


“ setahuku kamu begitu marah ketika tahu aku akan menikah, sekarang kenapa terdengar kamu sangat perhatian dengan putri mahkota?” mencuri kecupan singkat di bibirku.


“ emm,, tidak tahu”  mendorong dadanya pelan.


“ pasti karena semalam” tatapannya terlihat mesum sekali. Belum lagi sudut bibirnya yang tertarik sebelah.


“ memangnya semalam kenapa?” malu, jadi berpura-pura tidak paham dengan maksud tuan En.


“ perlu aku ingatkan?” tubuhnya semakin dekat, sedang tubuhku aku tarik menjauh.


“ tuan En!” tangannya sudah memerangkap tubuhku. Mengurungku agar tidak bisa bergerak.


“ aku menginginkannya “ maniknya menyorot bagian bawah tubuhku. Jadi Langsung menyilangkan tangan di area itu. Tuan En tersenyum singkat. Sebelum menempelkan bibirnya seraya mendorong tubuh menindihku. Tak bisa mengatakan apapun, tuan En masih menikmati bibir kecilku.


 


Sentuhan tuan En membuatku lupa diri, sangat memabukkan. Sampai kami sama-sama polosan baru menyadari jika sudah sangat jauh tindakan tuan En.


“ seharian ini aku sangat merindukanmu” di sela-sela menghisap leherku.


“ tuan En,,” tangannya meremas pelan dadaku.


“ aku ingin kamu akan selalu disini, diranjangku” sebelum akhirnya menusuk di bawah.


 


Kegiatan kemarin malam kini terulang kembali, tuan En semakin liar. Tapi aku juga tidak menolaknya. Rasa nikmat itu menjadi candu. Hasrat masing-masing saling menggebu dan berlomba dalam kepuasan. Beberapa kali menyerit dan mendesah. Kini sudah benar-benar menyerahkan semuanya pada tuan En. Tubuh serta hati sudah menjadi miliknya seutuhnya.


 


“ satu kali lagi,”


“ tuan En sudah mengatakan itu berkali-kali.”  Mendorong tubuhnya yang ingin menindih lagi.


“ yang ini benar satu kali”


“ tidak, aku ingin makan “ berusaha beranjak dari ranjang, untuk menyuruh para pelayan.


“ Zen,, “ melingkarkan tanganya di perutku dan menariknya.


“ tuan,,!!” aku menepis dan memukul tubuh tuan En pelan.


“ biar aku saja,,”


 


Mengambil celana dan pergi menyuruh pelayan menyiapkan makan. Meskipun sedikit kasihan, tengah malam masih harus membuat makanan, tapi sungguh perutku lapar sekali. Jika di ingat-ingat memang tadi meninggalkan makan malam karena mengantuk. Jadi tak heran jika tengah malam perut keroncongan.


“ Zen,,, sembari menunggu makanan datang, satu lagi ya,,” merayu dengan membelai perut rataku. Tampangnya sungguh menggemaskan, kenapa tuan En menjadi semanja ini.

__ADS_1


“ tidak tuan,, sebentar lagi makannanya juga datang.” Menyingkirkan segala bentuk belaian atau usapan tangannya.


“ sebentarr saja,,,” masih tak menyerah. Bahkan sekarang giliran bibirnya yang terus mencium sepanjang yang bisa dia cium.


“ tuannn,,, tidak tetap tidak” tegasku. Aku melototkan mata, bahkan menyilangkan tangan di depan dada.


“ baiklah,, “ menyulut keanehan. Kali ini mudah sekali menyerah.


“tapi setalah makan, kamu akan habis” gerutu tuan En. meskipun pelan tapi masih terdengar jelas.


“apanya yang habis?” menantang perkataanya.


“ apalagi kalau buka,,”


“ yang mulia makanan sudah siap” panggil pelayan dari balik pintu.


 


Tersenyum lebar, segara menyambar tunik milik tuan En. Hanya itu yang bisa terjangkau. Tuan En sudah membuka pintu dan beberapa pelayan menyusun makanannya. Aku menyaksikan dengan penuh hasrat, bahkan beberapa kali menelan ludah.


 


“ mari makan..” tepat setelah pelayan keluar aku langsung turun dan duduk tenang. Mengambil semuanya dalam jumlah banyak, dan langsung memakannya. Tak sadar membiarkan tuan En melihat tingkahku yang sedikit bar-bar.


“ tuan, tidak makan?” sambil tetap mengunyah dan mengambil makanan.


“ aku tidak makan ini, tapi makan kamu” berbisiknya mesum. Aku mengembik dan tetap melanjutkan makan. Hingga di pertengahan, tuan En memutuskan ikut makan. Katanya melihatku yang begitu lahap, membuatnya jadi ikut tergugah.


 


Benar perkataan tuan En sebelumnya, setelah makan tenaganya semakin terisi. Mencoba merayunya agar bersiap tidur, tapi sama sekali tidak berhasil. Alhasil hanya bisa mendesah pasrah sepanjang malam. Tuan En memberiku hukuman karena sudah menolaknya tadi. Memang licik sekali. Seperti sebelumnya, tuan En tidak berhenti sampai terdengar ayam berkokok. Tenagaku sudah habis, lebih mudah masuk kedalam alam mimpi yang tenang.


 


“ yang mulia,,,” samar-samar aku mendengar suara kak Lu menjemputku dari tidur nyenyakku.


“ putri mahkota sudah siap menghadap” lanjut kak Lu. Meraba keberadaan selimut dan menarik menutup seluruh tubuhku. Urusannya dengan tuan En bukan denganku.


“ yang mulia apakah sudah bangun,,” geram. Menganggu tidur.


“ tuann,, ada kak Lu” berguman, sambil melepaskannya pelukannya.


“ heemmm” semakin erat melilit perut dan pinggulku.


“ tuan,,, ada kak Lu di depan”


“ yang mulia,,,”


“ suruh dia kembali,,” teriak tuan En. menghembuskan nafas kasar.

__ADS_1


“ putri mahkota membawa makanan khusus untuk sarapan, yang mulia”


__ADS_2