
Perbincangan malam itu begitu membuat terperangah. Seorang yang ku kenal baik bahkan begitu lama bersamaku ternyata memiliki hubungan erat dengan masa laluku. Alasana apa yang membuat Morgan memilih untuk menyembunyikan semuan ini.
“ hari ini aku akan meninggalkan kerajaan, pantau terus Parveen. Kau bisa mulai untuk melakukan penyiksaan.” Pesanku kepada Jarvis. Pagi ini aku pergi ke markas. Banyak hal yang mengharuskan aku untuk kesana, salah satunya adalah menjemput Zenia.
Cah.. cah,,
Selama perjalanan aku banyak sekali berfikir tentang keterkaitan Morgan sebagai tangan kanan Parveen. Jika benar banyak sekali keuntungan yang bisa dia dapatkan. Meski hatiku mencoba menyangkalnya tapi secara logika kemungkinan itu bisa saja terjadi.
Begitu sampai di depan pondok aku merasa ada kejanggalan. Aku segera masuk, disana suasana cukup sepi, hanya ada beberapa pengawal yang berjaga di bagian depan.
“ bagaimana kondisi kelompok selama ini?” kedua penjaga itu diam. Mereka saling melirik seakan menyembunyikan ketakutan.
“ jawab, apa terjadi sesuatu?” suaraku semakin meninggi.
“ tu,tuan. Ada masalah”
“ masalah apa?” perasaanku mulai tak enak.
“ nyonya Zenia menghilang” hampir saja aku bisa membawanya kembali. Sekarang kabar ini terdenger seperti sebuah pedang menyayat jantungku.
“ kenapa tidak ada yang melapor? Sekarang bagaimana perkembangannya?” kesal dengan sikap mereka yang terkesan lamban menjawab, aku memilih segera masuk mencari Lucien atau siapapun yang bisa memberiku sedikit kabar baik.
“ Lucien!” teriakku memasuki ruangan. Salah seorang pelayan tergopoh-gopoh mendekatiku.
“ tuan sudah kembali. Sekarang pengawal Lucien sedang di rawat di ruangannya” belum juga selesai keterkejutanku kini kabar Lucien terluka menambah kecemasan. Dengan langkah panjang aku segera menuju ke ruangan Lucien.
Baru saja seorang pelayan keluar darisana membawa beberapa kain bernoda darah. Firasatku mengatakan jika luka Lucien pastilah parah. Jika tidak kemungkinan dia akan segera melaporkan hal ini kepadaku.
Dan benar saja, aku bisa melihat luka sepanjang dadanya begitu parah. Tangannya juga diperban. Belum lagi wajahnya yang begitu pucat. Aku hanya bisa menghembuskan nafas kasar. Masalah datang bertubi-tubi. Kenapa sulit sekali merasakan ketenangan hidup.
Beberapa lama kemudian seorang pelayan masuk membawa obat. Dia terlihaat kaget mengetahui keberadaanku disini.
__ADS_1
“ bagaimana kondisinya?”
“ pengawal lucien mengalami luka sobek yang dalam. Selain itu sepertinya senjata yang mengenainya mengandung racun. Selama 3 hari ini pengawal Lucien belum sadar”
“ tentang Zenia dan Morgan?” pelayan itu mengambil jarak yang lama untuk menjawab pertanyaanku.
“ saya tidak tahu pastinya. Tiba-tiba markas di serang. Sepertinya tuan Morgan membawa nyonya untuk menghindari penyerbuan. Tapi sampai sekarang keberadaan mereka berdua masih belum di ketahui. Untung saja pengawal Lucien bisa menghadapi para penyerbu, jadi kerugian tidak terlalu banyak.”
“ sudah berapa hari sejak penyerbuan itu?”
“ tepat 3 hari yang lalu” saat itu aku sedang tidak sadar. Apa mungkin kejadian penyerbuan memang di sengaja. Pelayan mengatakan jika Morgan membawa Zenia untuk menghindari penyerbuan tapi kenapa tidak membawanya ke kerajaan. Hatiku masih tidak bisa tenang.
“ bawakan aku mangkuk “ pelayan itu sedikit heran tapi kemudian melakukan perintahku tanpa bertanya. setelah menyerahkan mangkuk pelayan itu pamit undur diri. Aku mendekati ranjang, mencoba memeriksa kondisi Lucien. untuk masalah pengobatan aku memang tak seberapa mahir tapi untuk mengetahui keadaan seseorang dapat dikatakan lihai.
Racun yang berada di tubuh Lucien sudar mengendap selama 3 hari, kemungkinan untuk sadar akan jauh lebih kecil. Segera ku menggores tanganku dengan pisau. Butuh beberapa tetes sebelum aku membalutnya. Perlahan aku tuangkan darah itu di mulut Lucien dan sisanya pada luka yang perbannya sudah aku buka. Semoga saja memang darahku semanjur itu untuk menangani racun. Sebenarnya aku juga tak begitu yakin, tapi apa salahnya mencoba.
Sudah satu haru terlewat Lucien masih belum sadar. Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa sebelum semua kejadian penyerbuan itu jelas. Aku memindahkan Lucien ke dalam kerajaan, tak ingin ambil resiko bila ada yang berniat mengeluarkan Parveen dari tahanan.
“ terus lakukan pemeriksaan, malam ini aku akan memeriksanya sendiri” jawabku, kemudian pergi ke ruang rawat Lucien. Jarvis pasti tau maksud dari pemeriksaan yang akan aku berikan. Dia terlihat tegang saat mendengar jawabanku.
Suasana tahanan begitu suram dan gelap. Aku sudah tidak sabar mendengar tangis dan jeritan dari wanita yang sudah ku panggil ibu selama hidupku. Semua kebohongannya harus terbayar.
“ kau masih kuat?” terlihat Parveen sedang diikat di sebuah tiang berbentuk +. Kedua tangannya terbuka lebar sedang kakinya di tali menjadi satu. Aku bisa melihat bekas cambuk di seluruh tubuhnya.
“ kau, sampai matipun aku tak akan membuka mulutku.” Ucap Parveen terbata-bata.
“ bahkan kau mati sekalipun aku tetap tidak rugi. Kau fikir nyawamu begitu berharga?” jarakku dengan Parveen begitu dekat. Dari sini aku bisa tau dalamnya luka cambuk yang dia derita, pakaiannya sudah tak berbentuk di beberapa bagian. Aku terdiam beberapa lama ketika menyadari sesuatu.
“ bawakan air panas” teriakku pada penjaga. Raut Parveen semakin menunjukkan ketakutan.
“ permainan segera di mulai” bisikku pelan di telingan Parveen.
__ADS_1
Tak lama seorang penjaga membawa seember air panas. Uap masih mengebul menujukkan betapa panas air itu. Mengambil gayung dan berjalan mendekati Parveen.
“ apa ku pernah terkena air panas? Pasti sakit bukan. Bagaimana dengan luka menganga di siram air panas. Uhhh, jauh lebih sakit pastinya”
“ a..apa yang ingin kau lakukan. Tidak, jangan lakukan. Ku mohon”
“ aku suka melihatmu memohon seperti ini” kemudian air itu aku kucurkan di salah satu tangannya.
“ akkh,, tidakkk, biadap!! “
“ hahaha. Bukankah seharusnya kau meminta belas kasihku. Karena kau masih saja memaki jadi aku tak punya pilihan” aku melangkah mengambil air panas lagi.
“ tidakk, sudah hentikan. Aku mohon. Aku akan bicara”
“ yang mulia, bukankah sebaiknya kita membiarkannya hidup?” Jarvis mencoba membujukku. Aku menatapnya serius. Sebelum akhirnya tetap berjalan mendekati Parveen.
“ katakan siapa tangan kananmu?!” teriakku keras. Aku sudah tak ingin berlama-lama disini.
“ hiks,,hiks. Dia,,, dia,,” Parveen diam. Tak melanjutkan kalimatnya. Dia terlihat kehabisan energi. Bahkan kesadarannya mulai menipis.
“ jangan menguji kesabaranku” desisku tajam. Melihatnya yang begitu lemah hanya karena air panas, rasa janggal itu semakin kuat.
“ Jarvis, berikan pedangmu” aku tak menoleh sedikitpun padanya lalu melemparkan gayung yang berisikan air panas ke sembarang tempat.
“u,,untuk apa yang mulia” Jarvis mulai was-was dengan tindakan Enrick yang tak terbaca.
“ kemarikan!” aku menatapnya garang. Mendengar kalimat itu Jarvis dengan sigap langsung memberikan pedangnya.
Membuka sarung pedang dengan satu kali terikan kuat. Aku mendekat ke arah Jarvis. Terlihat sekali wajah kebingungannya, dia pasti tidak meyangka dengan kesimpulan yang aku temukan.
“ tangkap penghianat ini!” beberapa penjaga saling pandang belum yakin dengan perintah yang baru saja aku berikan.
“ tangkap dia!” seketika 3 orang penjaga langsung mengunci pergerakan Jarvis.
“ apa ini yang mulia. Kenapa saya di tangkap?” Jarvis masih mengelak.
Srakk..
“ akkk” jerial Jarvis saat aku mengores salah satu kaki Javis menggunakan pedangnya.
“ kau penghianat. Selama ini kau adalah tangan kanan Parveen. Siaalann!” mata Jarvis membola mendengar rahasianya terbuka dengan mudah.
__ADS_1