The Empero'S Prisoner

The Empero'S Prisoner
40


__ADS_3

 


Tak berselang lama, aku melihat sesosok laki-laki yang bertopeng bunga. Oh tidak ada 3 orang laki-laki. Masing-masing mereka membawa pasangan. Tapi kenapa salah satunya memiliki tubuh yang sama seperti tuan En. Apa aku begitu memikirkannya. Tidak,, itu sepertinya memang tuan En.


“ Cila lihatlh ke arah jembatan, ada 3 pasangan yang memakai topeng bunga. Kenapa aku melihatnya seperti tuan En,”


“ yang mana kak?”


“ itu yang memakai baju gelap, berjalan berjajar dengan pasangannya”


“ oh itu,, yang paling belakang juga seperti pengawal Lu”


“ jangan-jangan,,,” kami saling pandang, seolah memiliki fikiran yang sama.


“ kita amati dulu,”


 


Sekilas tidak ada yang aneh dengan ke-3 pasangan itu, sama-sama menikmati pesta. Jika memang itu adalah benar tuan En, ternyata dia cukup handal dalam merayu wanita. Beberapa kali pasangannya tertawa lepas, bahkan perlakukannya cukup meyakinkan. Bergandengan tangan, saling memeluk dan tertawa bersama. Hatiku mulai terasa panas, jika nanti kembali ke istana harus ingat untuk mengacuhkannya atau memberinya hukuman. Bisa-bisanya menghadiri perayaan dengan wanita lain. Cila juga tak kalah sedihnya, tangannya terus mengepal menahan amarah. Bahkan seringkali menghembuskan nafas kasar. Kami wanita terbuang.


 


Tak ingin terbawa emosi, kini pandangan beralih pada laki-laki ke tiga, dari perawakannya cukup tinggi dan kurus. Tidak bisa memikirkan siapa orang di balik topeng itu. Sepertinya bukan orang kerajaan, tak pernah melihat sosok ini sebelumnya. Umurnya juga terlihat lebih tua.


 


Mereka terus menuju tengah jembatan, kami berpura-pura memilih topeng di pedangan keliling. Jarak kami sangat dekat, semoga bisa mendapakan informasi sebanyak mungkin.


 


Tak lama ada seorang wanita dengan topeng bunga menghampiri mereka. Seakan menunjukkan jalannya, mereka berjalan ke arah sisi lain dari jembatan. Cila dan aku mengikuti mereka, jangan sampai kehilangan jejak.


 


Mereka terus berjalan dan masuk ke dalam sebuah rumah makan, kami ikut masuk. Disana cukup ramai, rumah makan ini bertingkat. Karena terhalang oleh keramaian pengunjung jadi kesulitan mengikuti mereka.


“ kak,,” suara Cila yang tertinggal di belakang.


“ hey,, aku disini,” memberikan sinyal atas keberadaanku. Cila cukup kesulitan menemukan jalan. Tubuhnya yang kecil lebih sering terpental ketika bertubrukan dengan pengunjung lainnya. Akhirnya aku yang menghampiri Cila.


“ ayoo” membantu Cila membuka jalan.


 


Terlambat, tuan En serta rombongannya sudah menghilang. Entah pergi kemana. Semua nampak buntu.

__ADS_1


“ maaf, jadi kehilangan putra mahkota”


“ tak apa, kita keatas mungkin mereka kesana”


 


Menaiki tangga, dilantai atas suasana sedikit lebih teratur. Tidak sesesak lantai bawah. Mencari meja kosong, tapi semua sudah terisi.


“ kak,, bukankah itu Ares dan Gala ?” menunjuk sebuah meja yang berada di samping jendela besar. Hampir menjorok ke balkon. Kami memutuskan untuk menghampiri mereka. Mungkin saja bisa menemukan keberadaan tuan En. Lagi pula meja mereka nampak kosong hanya berisi 2 orang saja.


 


“ Ares,,” sapaku


“ ini aku Zuka “ melihat raut kebingungannya, seakan tersadar jika saat ini tengah menggunakan topeng.


“ oh kalian, kemarilah duduk bersama kami” beruntung sekali mereka yang menawari tempat duduk.


“ kalian tidak membawa pasangan?” tanyaku untuk memulai perbincangan.


“ kami tidak cukup menarik “ jawab Gala sambil mengambil minuman untuk kami.


“ kalian juga tak terlihat membawa pasangan?” kini giliran Ares yang bertanya.


“ sebenarnya kami sudah memiliki pasangan, tapi tidak membawannya kemari” jawabku santai. Kenyataanya memang begitu. Pasangan kami malah membawa orang lain ke perayaan.


“ laki-laki memang harus setia” Cila menjawab penuh keyakinan. Mungkin dia masih kesal dengan apa yang dilihatnya. Kak Lu bersama wanita lain.


“ iyaa, setuju” kami saling bersulang dan mulai memesan makanan.


 


Berbincang dengan mereka ternyata cukup mengasikkan. Bahkan sudah tidak memperdulikan keberadaan tuan En. Mungkin mereka sedang menyewa kamar atau entahlah. Keberadaan mereka menghilang begitu saja.


 


“ kalian ada keperluan apa datang ke kota Laqaka?” pertanyaan Ares membuatku seketika berfikir keras. Alasan apa yang cocok untuk ku berikan.


“ emm,, orang tua kami tak lama ini meninggal, jadi mencari kerabat yang tersisa disini. Tapi ternyata kami tidak menemukan siapa-siapa” tumben sekali Cila bisa memberikan alasan yang bagus ini.


“ oh, kami turut prihatin, lalu apa rencana kalian kedepan?” Gala terlihat begitu berempati pada cerita yang Cila buat.


“ kami tidak tahu, “ jawabku lemah. Ikut bersandiwara agar mereka percaya.


“ bagaimana jika kalian ikut saja dengan kami. Kami juga yatim piatu. Kami memiliki tempat yang cocok untuk kalian?”

__ADS_1


“ tempat apa itu?”


“ semacam organisasi rakyat. Disana kita mendapatkan perkerjaan. Sekalian bisa membantu anak yakim lainnya” Gala begitu semangat mengajak kami.


“ emm,, “ aku dan Cila saling pandang. Jika ikut mereka bagaimana caraku menemukan pemberontak. Namun saran mereka juga tidak buruk.


“ kami akan memikirkannya” hanya itu bisa ku katakan. Mereka cukup mengerti dengan hanya tersenyum menanggapi jawabanku.


Perbincangan terus berlanjut sampai mendekati tengah malam. Berbagai macam cerita dan lelucon terus mereka berikan. Mereka terlihat tidak memiliki niat jahat, jadi kami merasa nyaman dengan pertemuan ini.


“ wah, sudah larut. Lebih baik kita kembali” Gala mengatakan itu sambil beranjak dari duduknya. Untung saja tidak memesan anggur, jadi tidak mengalami kesulitan seperti pengunjung lainnya.


“ mari,,” kami berjalan bersama menuruni tangga.


 


Karena arah kami sama, jadi terus berjalan bersama sampai di ujung persimpangan. Malam ini cukup menyenangkan, menemukan hal lain saat melakukan misi tegang ternyata cukup membantu memulihkan suasana. Ketika sudah hampir berpisah, kami merasa ada seseorang yang mengikutidi belakang kami.


“ bagaimana perayaanya?” kami berempat langsung membalikkan badan.


“ siapa kalian?” Ares mulai memasang pertahanan. Sedangkan aku begitu kaget dengan apa yang terlihat. Sekelompok orang ini adalag rombongan tuan En. Mereka sudah siap dengan pedang di tangan. Apa maksud mereka dengan semua ini. Cila terlihat begitu ketakutan, dan bersembunyi di balik tubuhku.


“ kami hanya ingin bertanya saja” kelompok tuan En semakin maju, membuat kami semakin terpojok di persimpangan.


“ bertanya apa?” giliran Gala yang bertanya. Baik aku dan Cila masih mencoba mencerna situasinya. Ada urusan apa Ares dan Gala sampai dikepung oleh tuan En.


“ ikutlah dengan kami, bicara di jalan tidak baik” itu kak Lu. Aku mengenal suaranya.


“ jangan harap”


 


Ares dan Gala menariku dan Cila untuk berlari menuju belokan. Kelompok tuan En terus saja mengejar. Beberapa kali sempat tertangkap kak Lu dengan menarik bajuku tapi bisa aku hempaskan. Kami terus berlari. Ke arah manapun yang bisa di ambil.


“ kalian tidak bisa lolos”


Kami sudah di ujung jalan buntu. Tidak bisa lari lagi. Ingin sekali aku membuka topeng, tapi jika begitu maka Ares dan Gala akan mengira bahwa aku dan cila adalah satu kelompok tuan En. Dari perkiraanku kurasa Ares dan Gala ini memiliki hubungan dengan kelompok pemberontak. Makanya mereka diburu oleh tuan En dan kak Lu. Bagaimanapun situasinya harus bisa membuat Ares melarikan diri, dengan begitu markas pemberontak pasti bisa ditemukan.


 


Perkelahian tidak terelakkan, lawan kami 3 orang, Cila bisa bersembunyi tanpa perlu ikut bertarung, cukup beruntung. Tuan En melawan Ares, kak Lu melawan Gala dan aku melawan pri misterius. Beladirinya cukup handal, hanya bisa menghindar. Terus menghindar sampai aku sudah tersudut. Nyaris saja pedang itu merobek dadaku, ketika Gala berhasil menghalai dengan kayu. Kami tidak menggunakan senjata apapun, hanya mengandalkan barang sekitar.


“ kau tidak apa?” menggangguk yakin, langsung berdiri dengan membawa sebuah besi tak juah dari tempatku terjatuh sebagai senjata.


 

__ADS_1


Situasi cukup merugikan, aku yang tahu bagaimana kemampuan tuan En serta kak Lu sudah bisa menilai bahwa pasti akan menang melawan kami.


“ kakakk,,,” Cila berteriak berlari kearahku. Aku terkena pedang, sakit sekali.


__ADS_2