
Setelah itu cilla meminta undur diri untuk memeriksa makan malam, aku tau itu hanya alasan. Di sungguh malu dengan ucapnnya. Aku hanya bisa mengizinkannya. Setidaknya aku bisa membaca dengan santai.
Lama aku tenggelam dalam membaca kulihat langit sudah mulai gelap, mega merah yang menawan sudah sangat memikat. Aku beranjak mendekati jendela, dan menikmati sore yang mempesona ini. Matahari yang hanya menyisakan sinarnya, membuatku terhanyut dalam lamunan.
Mengingat waktu dulu, dimana aku masih bukan siapa-siapa. Untuk bisa berbicara dengan tuan En saja sudah membuatku sangat senang. Sekarang bukan hanya berbicara tapi sudah bersanding dengannya. Dalam hati kecilku aku begitu mensyukurinya dan begitu bahagia, meskipun hanya seorang selir.
Suatu saat nanti ketika datang wanita baru, aku sudah merencanakan untuk pergi. Aku ingin hidup bebas disana, saat semua dendamku sudah terbalas. Kedudukan sebagai putra mahkota tak perlu lagi aku mencemaskan tuan En. Akan banyak orang yang menjaganya, dan tentu saja siapaun nanti yang menjadi putri mahkota pasti akan melakukan tugasnya dengan baik.
Aku hanya perlu menunggu balas dendam ini dengan menjalani semuanya dengan hati bergembira, semuanya hanya sementara. Kedudukan selir ini akan aku manfaatkan sebaik mungkin. Kesempatan ini takkan datang dua kali bukan.
Angin malam sudah datang aku menutup jendela dan masuk kedalam. Sepertinya aku mendengar ada suara dari depan istana, aku bersegera kelur mungkin saja tuan En sudah kembali.
“Zen,, “ saat aku mendekati pintu perpustakaan, sudah ada tuan En di pintu masuk.
“ yang mulia putra mahkota” salamku, disana juga ada nyonya Yubi, sebagai kepala pelayan tuan En.
“ ah, ya... kau bisa kembali ke tempatmu” kepada nyonya Yubi.
“ penjaga mengatakan kau menungguku sedari sore?” kami berjalan menuju tempat duduk di bagian tengah istananya.
“ saya sengaja datang lebih awal, hanya ingin membaca beberapa buku koleksi tuan En”
“ oh, aku jadi ingat masa dulu saat kau masih sebagai pelayan kecilku”
“ kalau bukan karena kebaikan hati tuan En, saya juga masih menjadi pelayan”
“kemarilah, duduk disini” sambil menepuk pahanya.”
Aku menuruti saja keinginan tuan En, hal ini sudah biasa bagiku.
“karena aku sudah memberikan kebaikanku padamu, apa yang bisa kau berikan padaku sebagai balasannya” selalu saja mengambil keuntungan di setiap kesempatan.
“ emmm, saya akan memberikan apa ya, harta? Tuan En pasti punya lebih banyak dari saya. Jabatan juga tuan En jauh di atas saya.” Tak ada satu ide pun terlintas di otakku.
__ADS_1
“ bagaimana kalau saya buatkan tuan benda yang spesial?” ku lihat tuan En sama sekali tidak tertarik dengan pengajuanku. Memang aku tak pandai memikat hati orang.
“ bagaimana jika aku sendiri yang memilih apa yang harus kamu berikan sebagai balasannya” rangkulannya semakin kuat di pingganku. Bahkan jarah wajahnya denganku hanya sejauh saju jengkal. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya tepat mengenai hidungku. Melihat senyum anehnya membuatku menjadi khawatir, pasalnya tuan En sangat lihai dalam mencari keuntungan. Entah menolak atau menyutujuinya, keduanya sama-sama tak memberikan keuntungan untukku.
“ bagaimana Zen?”
“ jika saya menyutujuinya, hal apa yang tuan En inginkan?” nafasku mulai tidak beraturan, rasa khawatir ini berhasil membuat jantungku semakin berpacu.
“ aku tak akan mengatakannya, sampai kau menyutujuinya terlebih dahulu” memang pantas dia menjadi putra mahkota, sulit sekali mencari celah, bahkan tidak tertipu dengan jebakanku.
“ kalau begitu berikan saya waktu untuk memikirkannya,”
“ baiklah aku berikan waktu 10 hitungan dari sekarang” tidak, tidak.
“ satu,,”
“ saya kan memberikan kuda, bagaimana?”
“ emmm,, pedang?”
“ sudah banyak, tiga,,”
“ jangan terlalu cepat,,”
“ empat, lima”
“ mahkota emas”
“ aku tidak suka, enam,”
“ tuan, ,,”
“ tujuh,”
“ baju sutra, baju perang”
“ tidak, tidak mau, delapan”
“tidak adil, tuan tidak boleh menolak pemberian dari saya”
__ADS_1
“ terserah aku, sembilan, sepuluh. Waktu habis”
“ itu namanya pemaksaan.” Sebel. Dasar pemaksa.
“ bukan, inilah yang namanya negosiasi” alasan. Ini lah yang namanya ketidakadiln status.
“ jadi karena kau tidak mempunyai hal yang cocok untuk membalas kebaikanku, aku yang akan menentukannya, kau harus menyutujuinya”
“ baiklah tuan En” pasrah aku sudah memiliki firasat jika hal ini akn sedikit merugikanku.
“ laki-laki” bisiknya
“ maksud tuan En?”
“ berikan aku anak laki-laki” berbisik lagi di telingaku. Langsung saja membuatku sangat terkejut dan tak percaya. Tapi raut wajah tuan En sepertinya tidak beranda. Segera saja aku turun dari pangkuan tuan En. Merasa tak percaya dengan apa yang aku dengar barusan.
“ **,tuan En menginginkan apa tadi?”
“ anak laki-laki” kali ini pengucapannya jauh lebih jelas dan tegas. Tapi wajahnya terlihat santai. Apa dia sedang menggodaku.
“ tuan sedang mengajak saya bercanda? Hahaha lucu sekali”
“ tidak, bukankah ini termasuk tugas seorag selir.” Tertawaku berhenti. Tidak. Anak laki-laki, jadi jika anak pertamaku perempuan maka aku harus melahirkan lagi sampai lahir anak laki-laki. Tidak. Tidak. Masa depanku suram.
“karena kau sudah memahaminya, kita bisa mulai,,”
“ tuan En!” tanpa sadar tiba-tiba aku meneriakinya. Suaraku cukup tinggi dan mengagetkan.
“ tuan En sebiknya kita makan malam terlebih dahulu” menyadari akan kelancanganku aku harus memperbaikinya. suara lembut dan intonasi yang rendah.
“ ya kau benar, kita harus mengisi tenaga” kedengarannnya tidak ada yang salah dengan kalimatnya, tapi kenapa aku merasa aneh.
“ saya akan menyuruh nyonya Yubi untuk menyiapkan makanan.”
“Zen, sekarang kau adalah selir, jangan memanggil nyonya kepada pelayan”
“ emmm, saya akan menggantinya dengan bibi, bagaimanapun aku sudah lama mengenal bibi Yubi, ya tuan ?”
“ baiklah”
__ADS_1
beberapa saat kemudian makan malam sudah diantar ke istana putra mahkota, Cilla serta pelayan tuan En sedang menata meja makan. Aku tidak tau jika mereka memasak sebanyak ini, satu meja besar penuh. Jika di fikir-fikir semua makanan ini juga takkan akan habs meskipun ada lima orang di meja makan. Sedangkan sekarang hanya aku dan tuan En.