The Empero'S Prisoner

The Empero'S Prisoner
55


__ADS_3

“heh,, kau tahu zen. Dulu kau menganggapku pembunuh ibumu, kini kau lihat sendiri kan. Ibumu masih hidup. Lalu sekarang kau menuduhku sebagai pembunuh ayahmu. Siapa yang sedang mencoba berbohong disini?” tuan En terlihat sedih sekaligus marah, raut wajahnya tidak terbaca.


 


“ menggelikan bukan, jadi di matamu aku ini tidak lebih dari seorang pembunuh, begitu?” tatapan itu adalah tatapan kekecewaan. Hatiku terasa pedih mendengarnya. Aku begitu kejam padanya. Baru kusadari sekarang.


Tidak, kau begitu berarti untukku tuan.


 


“ b,,bukan seperti itu” berjalan menghampiri tuan En, kurasa memang aku yang sedikit jahat padanya.


 


“ lalu apa? Pernahkah kau bertanya padaku. Kau selalu langsung menuduh dan menyimpulkan sendiri. Bilang padaku palagi yang ibumu katakan?” aku menarik tangannya dan memegang erat salah satu tangannya.


“ kau,, tau ibuku masih hidup?” seolah tersadar tuan En terdiam sejenak menatapku dalam diam.


“ sebelum kau menghilang. Aku baru mengetahui kebenaran ini” terlepas. Pegangan tanganku terlepas. Entah bagaimana kau memutuskannya. Haruskan aku marah atau bersimpati pada tuan En.


“ selam 4 bulan mencarimu ke segala kota dan tempat. Sekarang begitu bertemu, hanya kemarahan yang aku dapatkan. Bisakah sekali saja kau mempercayaiku?”


Aku ingin mempercayaimu, tapi aku juga tak bisa mengacuhkan ibu.


 


“ ku mohon Zen, tetaplah disampingku.” Maniknya begitu tenang, kebenaran terpancar jelas dari sana. Nuraniku mengingikan hal yang sama, namun bukan berarti bisa melakukannya. Aku tidak sanggup memilih


Bisakah aku menetap di sisi mu tuan?


 


Saling menyelami tatapan masing-masing, kedua bahuku sudah ada tangan tuan En. Memegangnya erat, seolah mengisyaratkan kesungguhan hatinya. Ingin sekali aku mengatakan iya sambil memelukkannya erat. Tapi seluruh tubuhku kaku, tidak bisa bergerak. Seperti menolak keinginan hati.


 


“ apa yang lakukan pada putriku Enrick!?” suara lantang menggema dari arah pintu masuk.


“ i,,ibu?” ya, disana sudah ada ibu. Bagaimana bisa sampai disini. Tak lama kemudian ketua serta Ares berjalan dari belakangya. Keduanya seperti habis berkelahi, tangan keduanya memegang pedang, dengan bekas darah di ujungnya.


“ putri? Kau bahkan tidak pernah mencarinya selama ini” tuan En menggeser tubuhnya menjadi di depanku. Seperti melindungiku dari ibuku sendiri.


“ semua ini karena kau!. Kau membunuh suamiku bahkan seluruh desa. Apa kau belum puas, dan sekarang menyulik Zen untuk membalas dendam?” ibu semakin mendekati kami. Tak lama kak Lu dan Cila datang, keduannya di hadang oleh ketua dan Ares.


“ hehh, aku tidak menculik siapapun. Aku hanya menjemput istri dan anakku”

__ADS_1


Tunggu, aku harus menghentikan perbincangan ini. Ibu tak boleh mengetahui jika aku dan tuan En saling berhubungan sebelumnya.


 


“ apa maksud ucapanmu?” ibu menatapku mencoba mencari jawaban.


“ hentikan , biarkan aku pergi” ketika melihat tuan En berniat mengatakan semuanya. Aku keluar dari balik punggung tuan En, bejalan mendekati ibu. Tiba-tiba tuan En menarik lenganku, menahan langkah kaki ini.


“ kau belum tahu? Zen mengandung anakku. Dia istriku, selir kerajaan Mosgarath. “


Tidak, hentikan


Terlambat ibu melangkah mundur, begitu terkejut dengan kebenaran ini. Maniknya beberapa kali menatap aku dan tuan En bergantian. Membaca sitauasi apakah apa yang dia dengar adalah kenyataannya.


“ tidak mungkin” lirih ibu yang masih bisa aku dengar.


“ apa itu benar Zen?”


Diam. Hanya bisa diam. Lelehan ini menjawab segalanya, bahkan lelehan hangat ini menampilkan semua emosi dan kegundahan hatiku. Tak tahu apa yang bisa dilakukan.


 


“ dasar biadap, kau lelaki biadap” meraih pedang Ares dan mengangkatnya berusaha menebas kepala tuan En.


“ tidak ibu” aku menghadang pedang itu, inilah yang aku takutkan. Jika ibu tahu kebenaran ini entah bagaimana dia akan menyerang tuan En. Kelompok pemberontak ini begitu berbahaya untuk kerajaan.


 


 


“ d,dia ayah dari anakku. Ku mohon hentikan semua ini. Hiks hiks” tak berani menatap wajah ibu, hanya sanggup tertunduk dengan derai air mata.


“ aku tidak membunuhnya. Kau salah mengartikan situasi” tuan En menimpali dari belakang.


“ kau fikir aku bodoh, jelas-jelas pisau itu ada di tanganmu. Kau bahkan langsung pergi tanpa mengatakan satu katapun. Dari awal kau sudah merencanakan semuanya. Pemberontak, itu yang kau tuduhkan pada mendiang suamiku. Bukan begitu?”


 


Entah bagaimana di luar sana kak Lu sudah berdarah terduduk beserta Cila yang memelukknya. Beberapa orang kelompok ibu tiba-tiba datang dan mengepung mereka. Situasi ini semakin buruk.


 


“ percayai apapun yang ingin kau percayai, aku sudah mengatakan yang sebenarnya padamu. Jangan sampai kau menyesal” dengan tegas tuan En membalas perkataan ibu.


 

__ADS_1


“ serahkan Zen padaku” ibu mengomando beberapa anak buahnya untuk masuk ke kamar, dengan pedang yang semuanya mengarah pada tuan En.


“ tidak ibu, ku mohon jangan sakiti tuan En”


“ Zen sadarlah! Untuk apa kau melindungi dia” melemparkan pedangnya dan meraih tubuhku.


“ tidak, jangan menyetuhnya” tuan En berteriak, ibu terus menarikku menjauh.


“ tuan En, jangan sakiti dia ibu” anak buah ibu sudah mulai melakukan aksinya. Meski tuan En terus melawan tapi satu lawan 7 orang dengan tangan kosong tidak akan mudah.


“ Zen,,” sedikit menoleh ke arah tuan En, beberapa bagian tubuhnya sudah tergores pedang dan mengelurakan darah. Ke-7 orang kini tersisa 2 orang saja.


ibu sudah menarikku hingga keluar kamar, salah satu tangangku melindungi perut ini. Tak lama tuan En sudah menyusul, meski begitu sekarang 10 orang bersenjata sudah mengepungnya kembali.


“ ibu aku mohon hentikan” melihat tubuh tuan En yang berdarah sungguh tak tega.


“ baiklah silahkan kau pilih. Ikut dengan ibu atau lelaki ini harus merasakan tajamnya pedang mereka. “ melepaskan cengkarman tangannya.


“ Zen, jangan tinggalkan aku” tuan En masih mengiba tak memikirkan dirinya yang sudah terluka parah. Kak Lu tak bisa membantu sama sekali kondisinya tak jauh beda dengan tuan En, cila bahkan ikut terkena serangan meski tidak sampai terlukan parah.


 


“ Zen, kita tak memilikki banyak waktu” ibu semakin membuatku bingung, sudah aku katakan aku tidak bisa memilih. Semuanya penting bagiku.


 


“ nyonya,,” cila memanggil lemah darisana. Entah apa yang coba dia katakan. Jika aku memilih mereka tentu anak buah ibu takkan tinggal diam. Meski terlihat ibu memberikan pilihan, tapi sejatinya dia hanya ingin aku memilih hal yang sudah dia pilihkan. Hanya ada satu jalan keluar yang aman bagi kami masing-masing.


 


Aku sudah tahu, apa kemauan ibu. Hanya menunda waktu untuk mengingat wajah mereka. Mungkin ini adalah kesempatan terakhir bertemu dengan mereka. Meski sekejab sudah membuatku senang. Meski aku harus mengalami hilang ingatan, tapi hal itu malah membuatku bisa bertemu lagi dengan mereka. Aku bersyukur, kondisi ini semuanya adalah aku penyebabnya. Tak ingin terus menyakiti mereka aku mengambil keputusan.


 


“ ibu, ikut ibu” lemah. Suara begitu lirih saat mengatakannya.


“ bagus.” Timpal ibu.


 


Merangkul bahuku berjalan menjauh dari kediaman ini.


“ tidak,, Zen.. ku mohon berhenti” tuan En berteriak dari dalam. Tangisan ini semakin deras, tak bisa membendung kesedihan akan perpisahan ini.


“ Zen,,, “ terus, panggilan tuan En terus terdengar jelas mengiringi kepergianku.

__ADS_1


Maaf tuan, hanya ini yang bisa ku lakukan. Aku percaya pada tuan. Tapi aku tak bisa menyakiti ibu. Biarkan takdir yang mengatur cinta kita.


__ADS_2