
“apa maksud tuan En mengatakan mereka pantas?”
“meraka adalah abdi kerajaan maka mereka pantas melindungi anggota kerajaan, mereka berhak untuk berkorban demi kerajaan.” Aku tak bisa membaca kemana arah pembicaraan ini.
“kalian benar-benar kejam, kalian hanya mementingkan diri kalian sendiri!” aku tak bisa lagi untuk sekedar berbasis-basi di depan mereka.
“mereka semua sudah mengetahui konsekuensi ini sebelumnya, apa kamu fikir aku menipu mereka?”
“j..jadi mereka tau kalau mereka akan mati?” suaraku mulai melemah,
Tak ada yang menjawab. Tuan En maupun kak Lu sama-sama terdiam. Menatapku seolah mengisaratkan bahwa jawabannya adalah iya. Apakah itu artinya Suki juga tau bahwa dia akan mati. Tidak. Kepalaku mulai pening, pusing. Pijakan ini seperti menapak pada kubangan lumpur yang seolah menghisap kakiku.
“Zen, sepertinya kau perlu istirahat.” Suara itu terkesan mendengung di telingaku. Beberapa lama aku merasakan sentuhan di kedua lenganku.
“Jadi Suki.. Diaa..”
“Zen, jangan terlalu banyak berfikir, tenangkan dirimu”
Aku menatap tuan En, dia begitu dekat. Wajahnya telap di samping ku. Padanganku kini beralih pada kedua tangan ya yang seolah sedang menyanggah tubuhku. Aku merasa baik-baik saja kenapa tuan En terlihat cemas.
“kita kembali ke kamar” tanpa persetujuanku aku di gendong munuju kamar. Tenagaku seakan habis. Aku hanya mengikuti saja apa yang dilakukan tuan En. Membaringkanku, menarik selimut dan membelai wajahku. Hanya itu yang ku ingat sebelum mataku tertutup.
Hembusan angin pad teelingaku membuatku tersadar. Hari sudah begitu malam, hawa dingin merasuk pada kulitku. Aku mulai beranjak duduk namun aku baru tersadar jika ada sebuah tangan yang melingkari perutku. Ku tolehkan kepalaku dan mendapati bahwa tuan En sedang tertidur disebelahku. Dan dia terlihat bertelanjang dada menikmati tidurnya.
Takut membangunkan tuan En dengan hati-hati ku pindahkan tangannya.
“ em, kenapa kau bangun malam-malam begini?” tak kusangka dia terbangun secepat ini. Aku bisa melihat mata ngantuknya dengan tanpang yang memikat itu.
“saya tidak bisa ttidur”
“masih memikirkan Suki?”aku mengangguk pelan.
“apa tuan En tidak keberatan untuk mengatakan pada saya semua kejadiannya?” sepertinya tuan En enggan untuk membicarakan masalah ini. Itu terlihat dengan dia yang tak menjawab pertanyaanku dan mulai beranjak duduk sama sepertiku.
“ ada saatnya akan aku ceritakan semuanya, namun tidak sekarang, aku sdah menjijikannya bukan, jika kemapuanmu dan dirimu sudah siap semua rahasia ini akan ku ungkap” tanganya membelai pipiku lembut. Maniknya mengisaratkan bahwa ia berjanji kan ucapannya.
__ADS_1
“tapi itu akan lama tuan En” mencoba untuk bernegosiasi.
“tidak, jika kau bertekad untuk menyelesaikan semuanya. Percaya padaku” hening sesaat. Kami saling berpandangan. Mencoba menyelami kelekatan tatapan dari maniknya yang penuh misteri.
“zen, percayalah kau begitu berharga bagiku” dia memegang tanganku dan menariknya menuju bibirnya.
“jangan terlalu banyak befikir, sekarang kamu harus fokus untuk melatih dirimu.” Hanya angguan kecil yang bisa ku berikan. Meski dalam diriku masih banyak pertanyaan yang bellum terjawab, aku harus sabar menunggu.
Setelahnya tuan En menarik tubuhku, memelukku dan menyandarkan kepalaku di dadanya. Begitu aman dan nyaman, aku bisa mendengar detak jangtung tuan En yang pelan dan damai.
“sekarang kita lanjutkan tidur” membawaku berbaring dengan posisi yang sama. Dengan masih memelukku menjadikan lengannnya sebagai bantal. Aku merasa di istimewakan. Perlakuanya begitu lembut.
***
“ kau sudah bangun?” aku mengangguk kecil sedang malas hanya untuk mengatakan sesuatu.
“ bersiaplah setelah ini kita akan berpindah tempat” mengangguk lagi. Pasrah.
Setelah cukup segala persiapan aku keluar menuju halaman, disana sudah ada tuan En serta kak Lu yang sedang berbincang. Mereka dengan kompak menatap ke arahku.
“kita berangkat “ seru kak Lu.
Sama seperti saat aku datang, tuan En satu kuda denganku atau lebih tepatnya dia membawaku di kudanya. Lajunya tak secepat sebelumnya. Mungkin situasinya sedikit aman jadi tak perlu bergegas.
Sedikitnya aku sudah mengetahui rencana dari tuan En. Sebelum meninggalkan penginapan itu kak Lu menjelaskan padaku jika rencana pergi ke kota Swen sebenarnya adalah kamuflase. Mereka ingin menjebak serta mencari tahu markas baru para pemberontak.
“ bagaimana perkembangan saat ini?” tanya tuan En pada 2 orang berpakaian hitam. Sepertinya mereka adalah mata-mata kerajaan.
“kami sudah memantau pergerakan mereka dan sekarang markas mereka sudah ditemukan, yang mulia”
__ADS_1
“ malam ini kita susun rencana untuk memasuki markas mereka”
“ baik yang mulia”
Saat ini kami hanya bisa menginap di ruang terbuka. Perjalanan menuju markas pemberontak ternyata tidak menggunakan jalanan umum. Harus melewati tegah hutan seta menaiki beberapa bukit. Untung saja sebelaum berangkat aku sengaja membungkus beberapa makanam, sebenarnya makanan ini aku persiapkan untukku sendiri karena semenjak sore sampai pagi ini aku masih belum selera makan. Dan sekarang ternyata bermanfaat sekali.
“ untung saja nyonya membawa makanan ini, kalau tidak sudah pasti kita tak memiliki tenaga untuk berburu” ucap kak lu sambil mengunyah makanan dariku.
“ karena kak Lu makan paling banyak, jadi harus berburu banyak untukku”
“ tidak masalah, aku sangat mahir dalam berburu”
Sore mulai datang, kak Lu dan dua orang mata-mata telah pergi berburu, tinggal aku dan tuan En. Kami berdua tak teribat banyak perbincangan karena tuan En sedang serius melihat peta markas dari mata-mata. Sesekali bertanya bagaimana pendapatku dan lebih sering terdiam memikirkan sendiri.
“ tuan En, sebenarnya sejak kapan pemberontakan ini terjadi? ” kami sedang bersandar dbawah pohon besar. Sore yang damai, bahkan angin yang bertiup cukup tenang. Membuat hati lebih tenang.
“ awalmula ini terjadi ketika ayahand menaiki kursi kekaisaran, beberapa penjabat terlibat korupsi, sebagian di hukum sebagian lagi hanya di cabut jabatan dan statusnya. Apalagi sebagian besar penjabat itu adalah keluarga dari ibunda permaisuri.”
“sepertinya permaisuri orang yang cukup terbuka, meskipun telah terjadi insiden seperti itu tak mempengaruhi cintannya kepada kaisar”
“permaisuri yang sekarang, bukanlah ibunda” ucapnya lemah. Alhasil menimbulkan banyak pertanyaan dalam diriku. Sekalipun aku sudah beberapa tahun bersama tuan En namun aku benar-benar tak mengetahui kebenaran ini. Sesaat ku coba melihat bagaimana raut muka tuan En, aku khawatir hal ini membuatnya sedih. Namun setelah mendapati hal lain aku bisa menyimpulkan bahwa tuan En cukup kuat tak ada rasa marah ataupun sedih. Wajahnya begitu tenang tak ada ekspresi.
“jadi permaisuri adalah ibu tiri tuan En. Apa tuan En sudah mengetahui bagaimana sosok ibu kandung tuan En?”
Hanya gelengan, jika menurut sejarah kaisar saat ini menaiki singgasan saat berusia muda bahkan ada yang mengatakan jika kaisar belum memiliki selir atupun istri.
“ aku hanya bisa tau namanya. Itupun aku dapatkan dari seorang wanita yang mengatakan dia adalah pelayan ibunda, dikemudian hari ketika aku berniat menanyakan keseluruhan ceritanya, wanita itu sudah tak ada.”
“ kenapa tuan En tidak menanyakan hal ini kepada kaisar saja?”
“ sudah, dan yang aku dapatkan hanya kemarahan, kaisar sama sekali tidak mempercayai semua ucapanku bahkan menolak semua ceritaku.”
__ADS_1