
Sudah lebih dari satu bulan dari pemberian hukuman, semua narapidana itu tewas dalam kondisi yang mengenaskan. Aku bahkan menyuruh para pengawal untuk menguburkannya dua hari kemudian, tentu saja beberapa anggota tubuh dari mereka sudah hilang menjadi makanan burung. Bahkan kematian merekapun tak bisa menebus segala kejahatan di masa lalu.
Posisi kekaisaran sudah terisi, awalnya aku sengaja mengudurkan diri dari tahta kerjaan. Namun ternyata tidak bisa, semua rakyat dan menteri tidak bersedia menerima siapapun sebagai kaisar mereka kecuali aku.
Saat ini sudah satu minggu dari penobatanku sebagai kaisar kerajaan Mosgarath. Semua perombakan tatanan pemerintah sudah setengahnya berjalan. Penggunaan strategi dan teknik baru dalam mengangkatan menteri guna menghilangkan budaya nepotisme juga telah berjalan. Aku tidak meyangka jika ternyata hal ini di sambut baik oleh semua penatua serta menteri lama.
Selain itu Jalur perdagangan serta pengamanan laut tentu berjalan dengan lancar, semua tatanan ini berjalan dengan baik, hanya satu yang tidak. Hatiku. Kepergian Zenia yang sampai saat ini belum bisa aku temukan dimana keberadaananya membuat semua kemenangan ini terasa hambar. Padahal semua ini adalah persembahan terbaikku untuknya, sayangnya hanya sekedar memandang saja aku tak bisa. Entah dimana mereka, istri dan anakku yang aku yakin sudah lahir ke duania. Aku sudah mengerahkan para kelompok Ares untuk mencari di setiap sudut kerajaan, namun sampai saat ini tak ada perkembangan.
“ pergilah, aku bisa membersihkan diriku sendiri” ucapku pada pelayah istana. Setiap hari selalu saja emosi dengan tingkaha mereka. Sudah beberapakali aku memberhentikan pelayan di istanaku. Bagaimana tidak mereka secara halus bahkan terang-terangan selalu mencoba merayuku, tentu saja dengan kesadaran penuh aku mengusirnya. Aku tak mau jika malam-malam saat aku menikmati anggur dalam kesadaran yang menipis, mereka berniat menggunakan kesempatan itu. Tidak, aku tak mau menghianati Zen ku, meski hanya anggur yang bisa menemaniku untuk menghilangkan kerinduan, meskipun hanya sejenak aku benar-benar begitu mengandalkan mereka.
Para pelayan itupun pergi, waktu sudah sangat sore. Setelah mengisi waktu dengan melatih para parajurit kerajaan, kini waktuku bernikmati sore dengan sebotol angggur.
Terbiasa berlama-lama dalam pemandian hangat, menunggu malam untuk beranjak menempati ranjang. Bosan, terkadang aku ingin melarikan diri, melepaskan segala beban dan tanggung jawab ini. Namun sayangnya tidak bisa. Tampuk kekaisaran begitu berat dan melenakan untuk beberapa orang.
“ yang mulia, makanan sudah siap” begitu keluar dari pemandian hidangan lengkap sudah tersaji di depan mata. Mengambil tempat duduk dan mulai makan dengan tenang.
Tap tap
__ADS_1
“ tuan kami menemukan jejak Morgan” Ares datang, entah masuk darimana. Aku menghentikan aktivitas makan.
“ seberapa kuat?” tanyaku.
“ kami menemukan pola yang sama dalam beberapa hari” jawab Ares mantap.
“apa ada yang melihatnya dengan jelas?”
“ kami tidak bisa melihat wajahnya, namun dia selalu bersama wanita yang seperti Nyonya Zen” hatiku sedikit bergetar mendengar nama wanitaku di sebut, terasa begitu lama sekali.
Seminggu setelah pelaporan, Ares memberikan titik lokasinya. Malamnya aku segera mempersiapkan diri. Lucien bertugas mengamankan kehadiranku di kerajaan jadi tidak bisa mengajaknya ikut. Perjalanan kali ini begitu jauh, perlu beberapa hari untuk bisa sampai. Mereka pergi terlalu jauh. Kami menggunakan jalur rahasia milik Ares yang memang sudah tersebar di sepanjang kerajaan. Memudahkanku dalam menghindari kerumunan.
Begitu sampai di tempat, ternyata ini seperti sebuah desa kecil di pinggir hutan. Terlihat beberapa orang masih sangat tradisional bahkan dalam berpakaian. Kelompok yang ikut hanya berjumlah beberapa orang saja termasuk aku, menyamar menjadi kumpulan pendaki dan peramu obat.
“ kalian para pencari tanaman?” sapa seorang wanita begitu kami masuk kedalam pagar desa.
“ iya nek, mungkin kami bisa menukarnya dengan beberapa barang disini” jawabku ramah. Jika dihitung rumah disini tidak sampai 50, kebanyakan warganya adalah orang tua.
__ADS_1
“ kalian bisa pergi ke arah barat, disana ada pasar”
“ terimakasih nek” jawab kami serempak.
Setelahnya aku menyuruh yang lain untuk berpencar, melihat keadaan serta mungkin bisa menemukan persembunyian Morgan. Orang disini begitu ramah, aku sampai lelah tersenyum. Aku mengamati setiap rumah dan wanita. Tak ada yang menunjukkan tanda-tanda.
Oek oek
Samar-samar aku mendengar suara tangis bayi, entah kenapa aku begitu tertarik dengan suara ini. Berjalan perlahan mengikuti sumber suara. Suara itu tiba-tiba terhenti ketika aku sudah berhasil menemukan sebuah rumah yang terasa mencurigakan. Langsung saja mendekati jendela samping.
“ sssttt, jangan nangis anak ibu. Kemari ibu akan meminangmu agar tidur” ucap seorang wanita yang begitu halus dan merindukan. Aku yakin sekali suara lembut ini adalah milik Zenia. Aku beranikan diri untuk mengintip, meski wanita itu membelakangi jendela dari tubuhnya saja aku bisa mengenalinya. Langsung saja aku tersenyum senang, dan berniat segera masuk.
“ dia sudah terbangun?” baru satu langkah, aku mendengar suara lelaki asing. Bukan milik Morgan. Aku mengintip lagi, benar saja lelaki itu lebih mudah dan merangkul Zenia dengan begitu mesra.
‘ apa mungkin Zenia sudah menikah lagi? Ini bahkan belum tiga bulan’ ucapku dalam hati. Hatiku begitu panas melihat perhatian dan tingkah mereka.
“ dia sudah tertidur kembali” ucap lelaki itu. Aku segera bersembunyi saat Zen menaruh kembali bayinya, aku yakin jika itu adalah anakku. Suara langkah kaki menjauh, tak ada siapapun di kamar.
__ADS_1