The Empero'S Prisoner

The Empero'S Prisoner
XXVIII


__ADS_3

Sebentar lagi Aidyn akan berumur satu tahun, aku menghitungnya dari bulan terkahir aku bersama Zenia. Aku hanya mengikuti intuisi saja. Semenjak kembali aku hanya menyibukkan diri dengan urusan kerajaan dan sesekali bersama Hameera yang menjadi selir utamaku saat sedang bersama Aidyn. Jujur saja melihat anak itu selalu mengingatkanku akan sakitnya perbuatan Zenia.


“ kemarilah, tangkap,, yaa, anak pinta” ucapku ketika Aidyn melihat kehadiranku dan langsung meminta aku gendong.


“ putra mahkota semakin sehat, dia begitu aktif” ucap Hameera lembut. Kini Aidyn sibuk ingin menangkap wajahku. Suara tawanya selalu berhasil membuat lelahku sirna seketika.


“ yang mulia ada seseorang yang ingin bertemu” ucap Lucien yang seperti sedang menyembunyikan sesuatu.


“ siapa Luc?” aku betah melemparkan Aidyn ke atas. Dia selalu senang jika aku menangkapnya dari atas.


“ em,, sel..maksud saya nyonya Zenia” nama itu terdengar lagi. Aku menghentikan aktivitasku. Aku yakin Zenia pasti menginginkan anaknya kembali.


“ biarkan dia menunggu” jawabku membuat Lucien segera pergi. Pengawalku itu semakin mengerti. Dia juga sebentar lagi akan menjadi ayah, Cilla sudah resmi menjadi istrinya. Terkadang aku iri dengan kisah cinta pengawalku yang begitu mulus. Baik dia ataupun istirnya mereka saling mencintai.


“ kau tidak pergi?” Hameera menyadarkanku.


“ sebentar lagi” aku masih ingin menggoda Aidyn, dia begitu riang kedatangan ibu kandungnya. Padahal sejatinya aku tak tau harus bersikap seperti apa nanti ketika bertemu dengan Zenia.


 


Beberapa saat setelahnya aku berjalan menuju istana menteri, tempat para tamu akan disambut. Lucien berjalan di belakangku setelah menjemputku sekali lagi agar segera menemui tamu pentingnya.


Pintu dibuka, disana terlihat seorang wanita berdiri dengan seorang lelaki yang sama. Aku berjalan dengan tatapan dingin dan menusuk. Seakan tidak terpengaruh dengan kenyataan yang kulihat.


“ yang mulia kaisar” mereka berdua memberikan salam. Aku hanya diam menyaksikannya. Suasana begitu hening baik aku ataupun mereka tak ada yang memulai pembicaraan. Aku duduk di singgsana sedang mereka berada jauh dari kursi. Tak ada yang pelayanan khusus seperti para bangsawan lain dimana bisa berdiri lebih dekat dengan singgasana.


“ ya,,yang mulia bagaimana kabar anda” Zenia membuka perbicangan.


“ hentikan basa-basimu, jika tak ingin aku pergi” jawabku tegas, hatiku sudah beku melihatnya. Zenia dan lelaki itu tampak sedikit ketakutan.

__ADS_1


“ sa,,saya ingin melihat Hendrik” itu pasti nama lama Aidyn.


“ Aidyn, anakku bernama Aidyn. sekarang dia seorang putra mahkota, tidak sembarang orang bisa bertemu denganya. Jadi kau dan kekasihmu itu silahkan pergi darisini” jawabku tegas, setelahnya beranjak menuruni singsana berniat untuk segera pergi. Tak ada lagi yang ingin aku dengar darinya. Jangan sampai memberinya kesempatan untuk membawa Aidyn dariku.


“ tuan saya mohon,, sa”


“ jangan panggil aku seperti itu, aku seorang kaisar sekarang “ aku menyentak tangan Zen yang secara tiba-tiba memegang lenganku.


“ yang mulia saya mohon izinkan dia bertemu dengan anaknya” lelaki itu kini bersimpuh menghadang jalanku. Tak habis pikir hal ini malah semakin membuatku muak.


“ siapa namamu?”


“ saya Alba, yang mulia”


“ alba bawa wanitamu pergi darisini” aku melanjutkan langkahku.


“ yang mulia, jangan hukum saya seperti ini. Saya tau saya bersalah pada anda, tapi anakku, aku begitu merindukannya”


“ pergi darisini!” lanjutku.


“ tidak, tidak tuan. Bukankah tuan sudah berhasil membunuh ibuku. Setidaknya biarkan Aidyn menemaniku”


“ membunuh ibumu?, ya Zoya memang meninggal di tanganku. Namun nyatanya dia sendiri yang mengorbankan dirinya. Kutukan darinya hanya dengan menusuk jantungnya baru bisa menghilangkannya. Dia menarik tanganku dan menusukkan pisaunya sendiri tepat di jantungnya. Itulah alasannya aku bisa hidup sampai sekarang” aku menggebu-gebu menjelaskan perkara ini. Zenia menutup mulutnya kaget dengan kebenaran cerita kematian ibunya.


“ dia menyelamatkan ayah cucunya, membayar darahku dengan darahnya. aku memakamkannya di atas bukit, sesuai dengan keinginanya” aku semakin lemah. Tak bisa di elak Zoya memang telah menyelamatkan hidupku meski sebelumnya memberikan kutukannya. Zen mundur beberapa langkah, lagi-lagi dia mengambil kesimpulan dari pemikirannya sendiri tanpa mempertanyakan padaku. Kini tampak terkejut dengan kebenaran kematian ibunya.


“ pergilah Zen, aku membebaskanmu” lirihku kemudian pergi dari hadapan mereka.  


 

__ADS_1


Malam harinya setelah membereskan semua berkas kerajaan, aku kembali ke istana.


“ Luc bawa anggurnya” teriaku.


“ yang mulia jangan seperti ini, saya mohon jaga kesehatan yang mulai” Lucien mulai berceloteh. Memang meski belum menjadi seorang ayah, dia tampak seperti ibu baru untukku. Selalu saja mengomel dan sok menasehatiku.


“ bawa semua botol itu, setelahnya kau boleh pergi menemui istrimu. Bukankah aku baik” meski berat hati akhirnya Lucien melakukan semua perintahku. Aku mengambil satu botol dan lansung meminumnya dari botol. Lucien tidak dapat mencegahku hanya menghela nafas kasar kemudian pergi.


 


Tidak hanya Lucien semua pelayan istana juga aku suruh pergi. Duduk bersender pada ranjang, menikmati angin balkon yang masuk dari pintu yang terbuka. Semakin lama kesadaranku semakin menipis. Dan setelahnya selalu sosok Zen yang menemuiku. Memimpikan dirinya yanga sudah memiliki kekasih baru sungguh ironi yang menyedihkan.


“ Zen, kenapa kau datang kesini dengan lelaki itu ahah” berdialog dengan sosok Zen yang berada di hadapanku.


“ ini begitu meyakitkan, sakit sekali disini Zen” memukul dadaku keras. Pandanganku mulai berbayang. Kini hanya tersisa satu botol anggur. Tanpa ragu-ragu kembali meminumnya.


“ tuan, “ panggilan itu terasa nyata. Aku menoleh Zenia berada di kamarku, di depan pintu dan berjalan mendekatiku.


“ Zen, “ aku berdiri, berniat memeluknya.


“ kau tidak pergi hem, “ Zenia terdiam. Menatap sedih bagaimana kondisi Enrick.


“ kau jahat, kau sangat jahat paadaku Zen, “ tanah yang ku injak terasa begitu lunak, dan membuatku merasakan empuknya ranjang.


“ maafkan aku tuan, maaf” suara terdengar begitu nyata. aku memegang pipinya lembut.


“ aku tidak membunuh ibumu, aku tidak membunuh Zoya” gumanku berkali-kali. Zenia mencium tanganku sambil mengangguk berkali-kali.


“ yaa, aku tau sekaarang. Maafkan aku” zenia terlihat begitu cantik dengan gaun emasnya. Bayangannya kali ini terasa nyata dan begitu cantik.

__ADS_1


“ jangan pergi” lirihku, aku memeluk pingganag Zen. Kali ini sosok itu tidak pergi seperti sebelum-sebelumnya. Aku merasakan betul tubuhnya. Zenia memelukku, aku terbaring dan Zen berada di atasku. Langsung saja aroma tubuhnya menggoda diriku. Sudah sangat lama sekali aku medambakan dirinya di atas ranjangku. Entah kenapa aromanya juga tercium begitu kental. Kini meskipun hanya halusinasi malam ini aku tidak bisa lagi menahannya.


Segera aku balikkan tubuhku, berganti aku yang ada di atasnya. Mencium bibir serta tubuhnya yang membuatku terpana. Tak ada penolakan dari Zeniaku, malam ini dia begitu penurut dan sangat menggoda. Aku merasa begitu antusias malam ini, berniat akan “bersenang-senang” dengan sosok Zenia, tak ada lagi yang bisa menghalangiku. Sosok itu bahkan tak kunjung pergi setelah berkali-kali memuaskanku. Semalam aku memeluknya erat sampai terdengar suara ayam berkokok. Pagi akan segera datang dan sosok Zen akan segera pergi.


__ADS_2