
Setelah makan malam, aku langsung membaringkan tubuh. Ares tak mengganggu lagi, mungkin dia juga kelelahan atas apa yang terjadi. Dalam keheningan ini, fikiran masih saja mengembara. Semua kejadian ini sungguh sangat jauh dari perkiraanku. Terpisah dengan Cila dan bertemu Ares. Sejauh ini takut tak ada jalan kembali, hanya bisa mengenang kebahagiaan di masa lalu.
Menutup mata, menghilangkan semua kegelisahan hati. Jangan sampai goyah. Sedari awal memang inilah yang aku inginkan. Membalas dendam demi mencari rahasia masa laluku.
“ ah,,,” entah kenapa tiba-tiba perutku terasa kram. Seperti terlilit tali. Mengambil air minum, semoga bisa menghilangkan rasa sakitnya. Mengelusnya pelan. Mungkin karena terlalu lama menunggang kuda jadi otot perut menjadi kaku.
Rasa lelah ini perlahan mengalihkan rasa sakit di perut. Terus mengelusnya pelan, seakan mengatakan bahwa semua pasti baik-baik saja. Dalam keadaan sakit begini rasa sepi tak bisa terelakkan. Jika ada tuan En pasti bisa bermanja padanya. Atau paling tidak bisa meminta Cila untuk memanggil tabib. Kini semua telah sirna. Hanya ada diriku sendiri.
****
Pagi ini Ares membawaku di sebuah gudang. Letaknya tak jauh dari pondok tempat menginap. Dia mengatakan jika ingin menunjukkan seberapa besarnya kelompok ini. Entahlah tak ada perkiraan apapun dalam fikiranku.
“ masuklah Zen”
Ruangan ini penuh dengan peti-peti besar. Selain itu gudang ini terbagi menjadi 2 bagian, terbagi oleh sekat kayu.
Aku sempat terperangah dengan apa yang aku lihat ketika Ares membuka salah satu kotak peti itu.
“ ii,,ni senjata ? kenapa begitu banyak?”
“ kami memiliki rencana besar beberapa tahun yang akan datang. Balas dendammu pasti terbalaskan pada Enrick itu”
“ maksud kamu, kita akan menyerang kerajaan?” tanyaku kaget. Ares hanya tersenyum bangga ketika mendengar pertanyaanku. Hal ini mengingatkan pada markas pemberontak sebelumnya. Apakah senjata ini berasal dari sana.
“ wah, mereka pasti hancur jika hal ini terjadi”
“ kau benar, bahkan masih ada 2 markas lagi dengan persediaan yang sama”
__ADS_1
“ apa kau bercanda, dari mana semua senjata-senjata ini?”
“ tentu saja kerajaan, disana sudah ada beberapa mata-mata kami. “ gila, ini rahasia tergila yang pernah terdengar. Jadi selama ini mata-mata itu mengirimkan senjata pada pemberontak. Pasti bukan orang sembarangan. Pertahanan kerajaan di kendalikan penuh oleh menteri perang, tak main-main bukan. Tapi kenapa bisa ada mata-mata di kerajaan. Tak bisa meremehkan kelompok ini.
“ karena kulihat kau begitu ahli dalam strategi serta pertahanan diri jadi mulai sekarang kau yang bertanggung jawab atas pengiriman senjata sekaligus bahan pangan ke makas lainnya” Ares membawaku ke lantai 2 gudang, disana seperti ada ruangan khusus untuk pembukuan.
“ aku akan mengenalkanmu kepada yang lainnya” membawaku masuk ke salah satu ruangan. Begitu masuk ada sekitar 3 orang. 2 orang laki-laki dan 1 orang wanita. Mereka duduk pada mejanya masing-masing. Disana juga terdapat meja besar di tengah ruangan.
“ hey,, kalian, mulai hari ini Zuka akan membantu kalian dalam mengatur pengiriman. Dia ini pintar dalam strategi serta pertahanan diri. Cocok sekali dalam pemilihan jalur penyaluran.” Sepertinya Ares terlalu melebih-lebihkan diriku. Ahli strategi apanya, itu hanya bakat menyelinap yang sering ku gunakan ketika di istana.
Ketiga orang itu tersenyum padaku. Tidak ada raut ketidak sukaan ataupun meremehkan di wajah mereka. Semoga semua berjalan dengan lancar.
“ namaku kenzo, dia velo dan yang paling kekar itu alba. Tenang saja meski kekar dia orangnya sedikit penakut” lelaki yang bernama kenzo memulai pembicaraan.
“ sudahlah, jangan menujukkan ketidak akuran kalian” Velo tampak cuek tapi begitu perhatian. Tampak juga ketegasan dalam dirinya.
“ baiklah aku akan pergi, kalian sambutlah anggota baru kita” Ares menepuk bahuku sebelum akhirnya pergi meninggalkanku sendiri.
“ kemarilah aku akan menjelaskan bagaimana detail tugas kita” Kenzo menarikku kearah meja besar, kemudian membawa beberapa tumpukan buku. Menjelaskan sesaat kemudian menyuruhku memahami sendiri kelanjutannya.
Untung saja dulu ketika menjadi pelayan sempat mempelajari pembukuan. Jadi untuk memahami pola seperti ini masih mudah bagiku. Semua pembukuan ini memang memiliki pola khusus. Mencermati buku-buku ini sedikit banyak membuatku paham bagaimana kelompok ini bergerak. Tunggu jika nanti ada kesempatan untuk kembali, semuanya akan aku laporkan kepada tuan En. Agar kerajaan tidak kecolongan dengan mata-mata mereka.
__ADS_1
Seharian ini aku hanya duduk sambil membaca buku, sengaja memperlama. Tubuhku terasa begitu lemas jadi tak ingin membuatnya banyak beraktifitas. Sejak kram semalam, perutu juga terasa aneh, seperti mual masuk angin. Perjalanan melewati pengunungan mungkin menjadi penyebabnya.
Sepulang dari gudang, aku langsung berbaring. Raga rasanya begitu lemas tak sanggup bergerak meski hanya berjalan. Bahkan perutku juga terus merasakan kram sepanjang hari ini.
“ Zuka kau sudah tidur?” meski samar-samar mendengar panggilan Ares dari luar kamar, aku tidak ingin membalasnya. Ingin meneruskan tidur nyenyak ini.
“ Zuka, ,,” Ares malah masuk ke kamar. Jadi berpura-pura tertidur.
“ Zuka,, kau deman,,” setelah menyentuh dahiku. Mulai membuka mata, tak ingin dia semakin panik.
“ oh Ares, kau sudah kembali?” tanyaku lemah.
“ kau deman,, aku akan memanggil Mia “
“ jangan,,” aku menahan tangannya.
“ aku hanya butuh istirahat, semua kejadian ini membuatku banyak fikiran. Jadi tubuhku menjadi lemah dan sakit” alasanku agar bisa mengurungkan niatnya.
“ kau benar, kau pasti kaget dengan semua peristiwa ini, belum lagi kau juga kehilangan adikmu, satu-satunya keluarga yang kau punyai. Maafkan aku yang tidak memahaminya dari awal. Mungkin lebih baik kau beristrahat dulu 3-5 hari. Aku akan menyuruh Mia untuk membuat ramuan agar tubuhmu kembali bugar,” Ares tampak menyesal, dan untungnya percaya dengan alasanku. Bagus. Bahkan memberikan waktu istiarahat yang panjang padaku.
Setelah itu Ares pergi,namun tak lama kemudian kembali dengan membawa sebuah mangkuk. Tak ingin menunda tidur, aku segera meneguk habis ramuan itu dan langsung kembali berbaring. Ares hanya mengamatiku sedari tadi, setelah ramuan itu habi dia mengambil mangkuk itu dan pergi dari kamar. Tak lupa dia mematikan lampu serta menutup pintu kamar. Ares ternyata cukup perhatian padaku, sikapnya seperti kakak yang melindungi adiknya. Aku cukup beruntung ternyata.
Setelah meminum ramuan itu tubuhnya merasa sedikit relaks, rasa kram di perutku juga pelan-pelan menghilang, ramuan Mia cukup mujarab. Sepertinya kak Lu memiliki saingan sekarang. Kemampuan kedua orang ini terbilang sama, sejauh yang aku tahu. Tapi entahlah ini hanya satu ramuan, tentu tidak bisa menjadikan penilaian.
__ADS_1
Menutup mata dan rasa ngantuk kembali menerjangku. Sebelum benar-benar tertidur aku mendengar suara pintu terbuka. Mungkin Ares memastika apakah aku sudah tertidur atau belum. Setelah itu pintu tertutup. Ares berjalan menjauh, hanya itu yang aku tahu. Setelah itu aku tak mengngat apapun, sudah masuk ke dalam alam mimpi.