
“hari mulai malam, lebih baik kita masuk” tuan En membantuku berdiri.
“ baik tuan En, “ tak disangka setelah duduk cukup lama, ketika berdiri kepalaku sedikit pusing.
“ sudah aku bilang, tubuhmu masih membutuhkan banyak istrirahat” langsung mengangkat tubuhku, menggendongnya ala bride style.
“ tuan En, kenapa menggedong saya?” mengalunkan tangan di lehernya.
“ tubuhmu masih lemah” jawabnya singkat.
Tuan En dengan santainya langsung masuk ke kamar, pelayan yang tak sengaja kami lewati langsung menundukkan kepalanya. Tidak berani melihat kemesraan anggota kerajaan, itu merupakan peraturan etika kerajaan.
“ saya juga bisa berjalan sendiri, tidak perlu merepotkan tuan En”
“ kamu sudah kehilangan banyak darah, jadi tubuhmu masih kekurangan tenaga. Lagipula aku tidak merasa direpotkan.”
“ kenapa sekarang, tuan En begitu perhatian?”
“ kamu sekarang adalah istriku, Zen” membaringkan tubuhku lalu memilih duduk di pingggir ranjang. Tak lupa dengan ciumannya di keningku.
Mendapat perlakuan khusus ini aku semakin salah tingkah. Tuan En tidak pernah menggendongku seperti itu di depan umum, dulu hanya saat melayaninya saja bisa sedekat ini. Sekarang bahkan di hari-hari biasa tetap memberikan perhatiannya. Menyadari jika memang pandangan tuan En sekarang jauh berbeda memberikan sedikit harapan padaku. Mungkin saja aku bisa dicintai oleh tuan En, dan tentunya kami akan saling mencintai.
****
Tak terasa malam ini adalah hari ke-10 setelah peristiwa pendarahan, yang mengartikan waktu penundaan pernikahan sudah selesai. Tuan En mengundangku untuk makan malam bersama. Malam perayaan kecil untuk menyambut kesembuhanku. Sudah dua hari, agenda berdarah itu selesai. Ramuan tabib membuat tubuh menjadi lebih segar dan bertenaga. Tak ada yang boleh mengatakannya, karena seharusnya pendarahan keguguran setidaknya menghabiskan waktu yang lebih lama.
“ kalian ikutlah duduk dan makan bersama” Cila dan kak Lu terlihat saling memandang.
“ kami tidak berani selir” kak Lu melirik tuan En sejenak sebelum tersenyum singkat.
“ makanlah,” sela tuan En. Membuat Cila dan kak Lu tidak memiliki pilihan lain. Mereka duduk berjejer di depan tuan En dan aku.
__ADS_1
“ kalian terlihat serasi” sedikit menyindir akan aksi saling pandang mereka berdua. Kami sengaja tidak mengatakan jika sebenarnya tahu mereka yang saling tertarik.
“ yang mulia membuat kami malu” jawab Cila yang juga malah menundukkan kepalanya.
“ ini makanlah” tuan En memberiku sayuran diatas mangkuk.
“ emm,, ini juga untuk tuan En” aku menaruh daging di mangkuknya.
“ kalian makanlah sendiri jangan melihat kami terus” merasa canggung dengan mereka yang terus memperhatikan. Malam ini kami merasa seperti keluarga besar.
Semakin lama, kegiatan di istana putra mahkota semakin menarik. Beberapa kali saling melempar candaan serta memberikan cerita lucu. Sekat kedudukan sudah luntur, di gantikan dengan keakraban meskipun sangat jarang terjadi tapi makan malam ini sungguh mengesankan.
“ malam ini tinggallah di sini” pinta tuan En saat para pelayan sedang membereskan makanan di meja.
“ emm,, baik tuan ” ada nada permohonan yang terselip dalam perkataannya, tak tega menolak.
Pelayan sudah pergi, Cila dan kak Lu pamit undur diri. Akhirnya tuan En mengajak berpindah di balkon yang menghadap halaman belakang. Seperti ada sesuatu yang ingin tuan En sampaikan padaku.
“ saya akan mendengarkan semua yang tuan katakan nanti” tuan En menghembuskan nafas sejenak.
“ saat itu memang aku disibukkan dengan rumor adanya aliansi menolak kerajaan. Hingga sampai mengantarkanku pada sebuah kelompok yang menamakan dirinya ‘api biru’. Darisanalah aku mulai mengirim mata-mata untuk masuk kedalam kelompok. Dari beberapa orang yang aku masukkan, yang lolos hanya satu. Tak mungkin rasanya jika ia bekerja sendiri, jadi aku harus menunggu beberapa tahun untuk melakukan perkembangan.”
“hari itu semua bukti kejahatan mereka sangatlah banyak, mata-mata juga mengirimkan surat jika menemukan tempat markas utama mereka. Karena pihak kerajaan sudah mengetahui hal ini, jadi ikut mendesakku untuk bertindak. Tak ada jalan lagi, aku memerintahkan untuk menangkap semua kelompok pemberontak sebagai hukuman atas kejahatan mereka.
“ siapa sangka tempat yang dimaksud itu adalah desa yang kamu huni, ketika sampai situasinya jauh berbeda dari perintah yang aku berikan. Mata-mata yang mengirim surat juga tak pernah terlihat sejak itu. Bahkan aku menemukan beberapa mata-mata lainnya tewas terbunuh tak jauh dari desa.”
“ aku baru sadar jika aku telah di jebak, kerajaan hanya tahu jika kelompok itu telah hancur. aku tak bisa berbuat apa-apa untuk membuktikan berita palsu itu” tuan En menerawang langit malam yang gelap, segelap rahasia yang berada di balik surat mata-mata miliknya.
“ kenapa tuan En tidak langsung menjelaskan pada saya saat itu?”
__ADS_1
“ saat melihat kamu yang begitu marah, aku yakin semua yang akan aku katakan tidak akan kamu percayai.”
“ tapi ,, saat itu tuan En juga terlihat sangat marah, ketika aku mengatakan tentang ibu. Surat yang sebelumnya tertera nama Zoya. Jadi langsung menarik kesimpulan jika itu adalah ibuku. Apa itu benar?”
“a,,,aku tidak tahu jika ibumu bernama Zoya, Zoya yang aku maksud bukanlah ibumu. Dia adalah ahli sihir.” Tuan En merapikan rambutnya, kenapa terlihat sedang menyembunyikan sesuatu.
“ bukankah ibumu tidak bisa melakukan sihir?” lanjutnya.
“ iya, ibu bukanlah ahli sihir” benar adanya. Aku tidak pernah melihatnya melakukan sihir apapun. Desa kami di apit oleh beberapa hutan tidak mungkin juga melakukannya, tidak ada keuntungan sama sekali.
“ saat itu aku hanya terbawa emosi dengan permasalahan yang ada jadi melakukan sesuatu yang buruk sebagai pelampiasan” tanganya memegang tanganku.
“ maaf” kini mudah sekali membuat tuan En meminta maaf.
“ saya sudah salah paham pada tuan, saya juga minta maaf” mengelus rambutku pelan.
“ aku yakin jika kelompok itu masih diluar, markas yang kita temukan bukanlah marka utama. Tapi cukup membuktikan jika mereka memiliki hubungan dengan anggota kerajaan. Aku masih belum bisa menerka siapa yang terlibat”
“ bahkan musuh tuan En juga berasal dari kerajaan, pasti membuat tuan harus berhati-hati tiap waktu”
“ dengan adanya kamu disini, cukup membuatku tenang. Tetaplah disisiku” tuan En memelukku erat. Mendengar permintaanya hatiku merasa tersentil. Rencana keluar dari kerajaan bagaimana aku mengatakannya. Ini akan menjadi rahasia untuk tuan En. Aku semakin percaya jika kelompok pemberontah itu adalah pembunuh ibu. Jika gelang ibu ada di markas mereka, maka keberadaan ibu pasti pernah disana. Semoga ada keajaiban, bagaimanapun jasad ibu tak pernah ditemukan.
Setelah cukup lama berbincang tuan En memintaku beristirahat. Dia masih memiliki urusan dengan kak Lu. Pelayan membantuku berganti pakaian, dan langsung menaiki ranjang.
Pertengahan malam aku merasa ada pelukan hangat, tuan En sudah kembali. Aku membalas pelukannya dengan berbalik menghadapnya. Menjadikan dada tuan En sebagai sandaran kepalaku. Tunggu, tidak ada pelapis. Sedikit membuka mataku, tuan En ternyata tidak memakai baju atasan.
“ apa aku membangunkanmu?” menyadari tingkahku.
“ hemm,, saya akan tidur lagi” mencari posisi yang nyaman untuk meletakkan kepalaku.
“ bagaimana jika tak usah tidur lagi” bisik tuan En. Mengangkat padangan kearah manik tuan En. Disana terlihat begitu gelap, dan sedikit berkabut. Apa mungkin,,,
Tuan En langsung ******* bibirku bahkan sudah menindihku. Belum siap dengan tindakan tuan En, hanya bisa diam tak melakukan perlawanan. Nafasku sudah hampir habis, mendorong dadanya pelan. Seakan tahu maksudku, tuan En melepaskan bibirku berganti menyesap leherku. Tangannya meraba gaunku. Mencari celah untuk meloloskannya.
__ADS_1
“ malam ini, kau akan menjadi milikku seutuhnya” suaranya serakknya membisikku.