
Sedari pagi aku sudah mempersiapkan beberapa hal yang harus dibawa. Paling terpenting adalah gelang, benda yang menjadi kunci dari segala kejadian ini. Serta beberapa benda berharga untuk memulai kehidupan di luar kerajaan.
Keadaan istana harem sudah dirancang agar tidak banyak pelayan yang bekerja, apalagi saat malam hari. Rencana keluar adalah malam nanti. Cila sudah mengatakan niatnya, karena hanya aku satu-satu orang yang sudah seperti keluarga baginya jadi memilih untuk tetap ikut. Meski sudah aku jelaskan berbagai macam resikonya, dia tetap tidak berubah fikiran.
“nyonya, kak Lu beserta putra mahkota sejak sore sudah meninggalkan kerajaan,” ucapnya saat kami memulai berberes. Waktu sudah menjelang malam, jadi tinggal memastikan barang bawaan.
“ mereka pasti sudah memulai perjalanan ke Dendira,”
“ tepat sebelum tengah malam kita keluar. Aku sudah menyiapkan semuanya” lanjutku.
“ baik nyonya”
“ nanti setelah keluar dari sini panggil aku kakak, jangan nyonya, mengerti?”
“ mengerti nyonya” Cila tersenyum manis.
Malam sudah mulai larut, aku dan Cila sudah mengenakan baju pelayan istana harem, berniat keluar berganti shif. Melewati lorong tempat kuda-kuda istana berada. Menunggu penjaga berpatroli baru bisa membawa kuda keluar. Untungnya Cila bisa menunggangi kuda, meskipun tidak terlalu handal tapi dia mengatakan masih bisa mengendarai dengan kecepatan sedang.
Mengamati suasana, para penjaga sudah pergi. sekarang saatnya.
“ ayoo”
Kami masing-masing membawa satu kuda, menuju gerbang timur. Pakaian kami sudah berganti menyerupai penjaga kerajaan. Jadi kemungkinan mereka tidak akan curiga. Aku memimpin jalan, tinggal sedikit lagi sudah bisa keluar gerbang.
“ tunggu, kalian mau kemana?” satu penjaga gerbang berhasil menghentikan kami. Gawat, seharusnya mereka masih berpatroli.
“ kami,,, menerima perintah dari putra mahkota untuk menyusul pengawal Lu”
“ mana bukti perintahnya?” tidak, ini tidak semudah yang aku fikirkan. Harus cari jalan keluar agar rencana ini tetap berhasil. Aku merogoh tas bawaan seraya memberikan kode kepada Cila agar bersiap melayu kencang. Entah kertas apa yang ambil, langsung saja berikan.
“ ini,,” setelah dibuka ternyata itu kertas peta kota Zoska. Untung saja aku masih menyimpannya, jadi bisa berguna sekarang.
Penjaga itu tampak berfikir dan kemudian membuka gerbang.
Huh,,
Entah apa yang penjaga itu fikirkan untung saja dia berfikir kami tidak berbohong. Segera aku menarik tali kuda dan melaju sedikit kencang. Cila masih bisa menyusul dan mengikutiku. Harus segara menjauhi kerajaan sebelum bertemu penjaga lainnya.
__ADS_1
Perjalanan kami selanjutnya adalah di sebuah penginapan di ujung kota Zoska. Aku mengetahui tempat ini karena pernah menginap disana saat tuan En sedang melakukan misi. Perjalanan mungkin memakan waktu 2-3 jam. Baru besok pagi bisa meneruskan perjalanan ke luar kota.
“ nyonya, apa ini penginapannya?” kami sudah menghentikan laju kuda tepat di depan bangunan yang bertingkat.
“ kaka, Cila. Sudah kubilang jangan memanggilku nyonya” sambil mengikat tali kuda.
“ maaf,, kakak” masih saja tersenyum manis. Anak ini terlihat begitu senang.
“ kita pesan kamar dulu” masuk ke bangunan penginapan.
Setelah melakukan pemesanan aku dan Cila segera masuk ke kamar.
“ kakak langsung mandi saja, saya akan menata bekal “
“ tidak, aku langsung tidur saja. Kau bisa makan dulu jika lapar”
Kami memesan satu kamar dengan rajang besar, demi menghemat uang. Setidaknya tempatnya cukup nyaman dan luas. Meskipun begitu sederhana. Aku mengganti baju dan langsung menaiki ranjang. Kulihat Cila memakan beberapa bekal yang dibawa.
****
“ kakak, bangun sudah pagi” samar-samar badanku bergoyang dan mendengar panggilan seseorang. Mata terasa sangat berat, tapi mengingat kita tidak sedang berada di istana jadi harus bergegas.
“ kau tidak makan Cila?”
“ saya sudah makan tadi” jawabnya singkat.
Setelah berberes perjalanann selanjutnya menuju kota Laqaka. Tetapi jalurnya melewati hutan Mondor. Hutan ini berada tepat di samping pegunungan Linnel. Pegunungan yang di percaya banyak terjadi perampokan.
Cila sempat membeli beberapa bekal di sekitar penginapan. Kali ini perjalanan akan menghabiskan waktu satu hari penuh. Jadi harus menyiapkan energi yang lebih sebelum memulai. Tak lupa membeli baju pria, takutnya ketika memaki baju perempuan malah akan mengundang kejahatan. Jadi diputuskannya begini.
“ kakak, terlihat sangat tampan”
“ kau juga, tampan” kami saling meledek.
“ sejak keluar istana kau terlihat senang, apa aku salah lihat?” lanjutku.
__ADS_1
“ emm,, sebenarnya saya merindukan kehidupan di luar kerajaan. Rindu berjalan di pasar, mencuci pakaian di sungai, bermain di ladang”
“ jadi ini salah satu alasan kamu tetap ingin ikut”
“ hehehehe,,, iya ” Cila tersenyum cengengesan.
“ aku turut senang, ayo kita berangkat”
Perjalanan dimulai sejak pagi terus melaju sampai tengah hari. Terik matahari membuat kita berteduh di sekitar hutan mordor. Suasana yang rindang cukup menyejukkan. Membuka bekal dan memakannya bersama.
“ kakak, gelang yang kakak temukan itu yang ini?” Cila menujuk gelang yang terpasang di tanganku.
“ ya benar.”
“ kalau boleh tau apa hubungan gelang itu dengan keputusan meninggalkan kerajaan?”
“ emm,, ini adalah gelang milik ibuku. Aku menemukannya berada di tangan pemberontak jadi inilah satu-satunya kunci atas kematian ibu serta warga desa.”
“ sebenarnya aku juga tidak yakin atas kematian ibuku. Sampai sekarang tidak pernah melihat jasadnya” lanjutku. Malam itu tuan En langsung membawaku. Berdasarkan pengakuannya tidak ada siapapun yang selamat. Jadi selama ini meyakini jika ibu telah tewas. Sampai aku menemukan gelang ini. Rasa ragu sedikit menghantuiku.
“siang masih terik kita bisa beristirahat sejenak disini” menaiki kuda berjam-jam membuat kondisi tubuh sedikit pegal. Tidur sejenak juga tidak ada salahnya. Kami mencari tempat yang sedikit tersembunyi, kemudian berdampingan duduk.
“,, tuan,,,” tersentak kaget dan langsung membuka mata, dua orang pria ada di hadapanku.
“ emm,,, kalian siapa?” memasang pertahanan diri meskipun dalam kondisi terduduk.
“ kami pengembara yang baru keluar dari hutan, kalian kenapa disini?”
Cila bangun dan langsung mendekat padaku.
“ jangan takut, kami kira kalian korban perampokan jadi sengaja mendekat dan membangunkan” hati sedikit lega mendengar perkataannya.
“ kalian kenapa disini?” saut laki-laki satunya.
“ kami sedang menuju kota Laqaka jadi sedang beristirahat disini” jawabku sambil beranjak berdiri.
“ kebetulan kami juga mau kesana, menjual hasil buruan” mata laki-laki ini mengarah pada kuda mereka yang membawa bangkai rusa.
“ ikutlah bersama kami” saut temannya.
Aku dan cila saling pandang, antara mengiyakan atau menolak. Pandanganku kini mulai meneliti kedua laki-laki ini. Tak ada yang aneh, semuanya terlihat seperti pemburu biasa.
__ADS_1
“ baiklah..” jawabku lemah. semoga mereka adalah orang baik.