
Memang status adalah segalanya. Dulu semangkuk nasi saja harus bersusah payah melakukan berbagai pekerjaan. Kini hanya dengan satu kalimat satu meja besar penuh dengan berbagai makanan lezat sudah bisa didapatkan.
“ makan lah yang banyak Zen, jangan sampai kau kehabisan tenaga” ku anggap itu sebagai perhatian basa-basi, jarang sekali bisa berbincang santai dengan tuan En. Kesibukan serta sikapnya yang tegas membuatku selalu waspada setiap berbincang dengannya. Entah hal apa yang membuat tuan En akhir-akir ini begitu berubah. Tidak hanya lembut tapi semua perhatiannya begitu besar padaku.
“ baik tuan” jawabku. Sebenarnya tanpa di suruhpun aku daridulu memang mempunyai nafsu makan yang tinggi. Apalagi dengan semua hidangan lezat ini sayang sekali jika tak di cicipi.
“oia tuan, hasil dari penyerbuan markas pemberontak apakah mendapatkan petunjuk?” aku teringant dengan buku-buku yang berhasil dibawa. Aku penasaran apakah bisa memberikan informasi mengenai kasus desaku.
“ sudah aku periksa beberapa, untuk memastikannya masih perlu pendalaman kembali.” Jawabnya
“ a,,apakah tuan sudah menyimpulkan sesuatu?”
“ sepertinya masih belum bisa.”
Setelah makan malam itu, aku berniat untuk kembali ke istana harem, namun tuan En mencegahnya. Dia menyuruhku bermalam di istananya. Tak ada pilihan selain menurutinya.
“ malam ini tuan En tidak ada urusan ?” kami berada di balkon kamar. Menikmati angin malam yang berhembus.
“ kenapa,? kau ingin aku pergi?”
“ bb,,bukan seperti itu, tidak biasanya tuan En memiliki waktu”
“ Zen, aku yang dulu dan sekarang terhadapmu sedikit berbeda. Dulu mungkin aku adalah tuanmu, sekarang aku adalah suamimu. Aku terhadapmu sudah berbeda, jadi bisakah kau juga begitu terhadapku?” tuan menyentuh pipiku pelan. Tanganya mengusapnya dengan lembut.
“ bisakah kau memandangku sebagai suamimu?”
Suamiku, menjadi selir ataupun istrinya sama sekali tak pernah terlintas dalam pikiranku. Aku hanya berfikir bagaimana membuat tuan En senang sebagai balasan karena menyelamatkan aku. Aku hanya tau jika seorang pelayan lebih cocok bagiku untuk tuan En.
__ADS_1
Melihat pandangan matanya yang tulus itu, memang membuat hatiku nyaman. Apa aku harus benar-benar mempercayainya?. Bagaimanapun tuan En memiliki hubungan atas kejadian 5 tahun itu, entah baik atau buruk. Semuanya masih abu-abu.
Bagaimana aku bisa melihatnya sebagai suami. Kata itu terlalu dalam untuk mengartikan hubungan ini. Dia menginginkan tubuhku aku lebih tau jelas daripada menginginkan kehadiranku dalam hidupnya.
“ ss,,saya, saya....tidak tau” hening tak ada pembicaraan. Tuan En menarik tangannya dari wajahku. Pandangannya sulit untuk dimengerti. Apakah tuan En sedih. Kurasa aku salah mengartikannya.
“ tapi saya akan melakukan apapun yang tuan perintahkan, s..saya akan..” lanjutku.
“ kau benar-benar ingin aku menganggapmu sebagai pelayan?” dia tersenyum sesaat. Tapi senyum ini berbeda dengan senyuman sore tadi. Pandangannya kini beralih ke luar balkon. Menatap malam dengan tatapan anehnya.
“ t,,tidak. Bukan begitu. Maksud s,,saya..”
“ baiklah, karena kau masih menganggapku sebagai tuanmu, dan bersedia melakukan apapun yang aku perintahkan. Aku tak akan menahan diri lagi” ada kilat kemarahan dalam matanya. Wajah yang semula tenang kini sudah memiliki kerutan emosi. Sepertinya aku mengatakan hal yang salah. Tidak. Jangan sampai hal ini memancing kemarahan tuan En.
“ tuan?, panggilanmu tak pernah berubah. kau benar-benar pelayan yang setia. Aku harus memberi hadiah atas kesetiaanmu”
“ t,,tuan ,” dia meraih tanganku dan menariknya. Tubuh kami saling menempel. Pelukannya begitu erat di punggungku.
“ T,,tuan,” aku berusaha menahan tubuh tuan En dengan tanganku. Seolah terdorong kini tubuhku terjepit antara pagar dan tuan En.
“ bukankah kau akan menuruti semua perintahku, Zen?” wajahnya sudah berada disampingku. Bisikannya seakan sinyal kemarahannya. Bukan. Bisa jadi sinyal kematianku.
“ iyya tuan. Apa tuan ada perintah?” kini pandangan kami saling bertabrakan tidak tau apa makna dibalik seringainya. Tapi tangannya semakin keatas. Aku bisa merasakan jika telapak tangannya merambat ke kelapaku.
“ bagaimana jika dimulai dengan memberikan aku penerus?” wajahku semakin mendongak ulah tarikan halus tangannya pada rambutku. Aku sudah berhasil membangunkan macam yang tertidur. Seharusnya aku bisa lebih berhati-hati dengan perkataanku. Sudah begini tidak ada yang bisa dilakukan lagi.
“ apakah tuan En sudah memikirkannya? S..saya hanya seorang yatim piatu tak ada gelar kebangsawanan. Penerus dari saya bukankah malah merugikan tuan ?”
Dia tersenyum, tapi matanya tetap menyalang. Maniknya cermin kilatan emosi dalam dirinya. Apa aku salah mengartikan perhatian tuan En. Aku hanya tak tau harus percaya atau menyerah. Untuk memilih keluarga dan tuan En masih tak bisa aku pilih.
__ADS_1
Sekarang melihat tuan En begitu marah saat aku tak bisa memandangnya sebagai suami mengartikan jika selama ini perhatiannya adalah untuk istrinya, aku. Apakah benar tebakannku ini. Jika iya bukankah seharusnya aku bahagia.
Sudah. Aku sudah bahagia bahkan bersyukur bisa merasakan perhatian tuan En. Tapi semua itu tak bisa membuat rasa takut dan waspadaku terhadap tuan En berkurang. Bukankah suami istri adalah hubungan yang penuh kasih sayang dan kesediaan. Tapi hubunganku dengan tuan En adalah kepatuhan dan kewaspadaan.
“ jika tidak, untuk apa menjadikanmu selir utamaku? Aku masih bisa bersenang-senang denganmu sesukaku. Tapi menjadi selirku, tidak sembarang orang bisa meraihnya.”
“ s,saya mengert tuan. “
“ jadi bagaimana dengan penawaranku ?” aku merasakan sepanjang leherku terdapat tanda basah. Penawarannya, masih bisakah untuk di tawar. Sepertinya harga mutlak. Sebikanya aku mencari celah.
“ t,,tuan saya memiliki persyaratan” ciumannya terhenti. Sekarang wajahnya tepat di depan mataku, sangat dekat dengan mataku. Dia terdiam sepertinya menungguku berbicara. Tuan En sama sekali tidak memiliki minat jika tidak ada keuntungan yang didapat.
“ tuan sudah menjajikan saya untuk menceritakan semuanya jika saya sudah melatih kemampuan, berkuda memanah serta tehnik dasar pertahanan diri sudah bisa saya lakukan. “ tuan En kembali menciumi leherku dibagian lainnya. Tidak sabar dengan kalimatku yang terlalu panjang.
“ s,,setelah tuan menceritakan semuanya, sssaya akan mulai memandang tuan sebagai suami dan melayani sebagaimana mestinya” tuan En menghentikan aksinya. Melepas pelukannya. Menjadikan tangannya yang perpegangan pada pagar untuk mengurungku.
“sepertinya,,kau sudah pintar bernegosiasi” tuan En merendahkan tubuhnya agar wajah kami saling sejajar.
“ bukankah sebentar lagi saya akan memiliki kemampuan yang tuan En inginkan?”
“ satu bulan, entah kau berhasil atau tidak melatih diri, kau harus melayaniku sebagaimana suami istri.”
“ b,baik tuan” lega, setidaknya aku bisa mngulur waktu. Selama ini bersama dengan tuan En sedikit membuat kelicikan dalam diriku bertambah.
“ tapi malam ini, aku ingin kau melakukannya sebagaimana biasanya” tidak, kenapa lagi-lagi aku yang kalah. Sudah sebaik itu pemikiranku tetap saja masih tidak bisa menyaingi kecerdikan tuan En. Padahal aku ingin memberikan pelajaran kepada tan En.
__ADS_1
Tahu akan kekesalanku, tuan En terlihat begitu senang. Wajahnya meremehkanku dan penuh dengan seringai licik. Tapi kenapa cahaya bulan membuatnya terlihat tampan dalam pandanganku. Sungguh, aku tak bisa mengontrol pemikiranku jika berhadapan dengan ketampanan tuan En.