
“Nona,.. Kita sudah kehabisan waktu”
Yang mulia peemaisuri mamasuki ruangan’ begitulah suara lantang penjaga istana
Aku harus bersyukur bisa datang satu langkah lebih awal,kalau tidak aku akan di cap selir paling tidak tahu diri. Hari ini adalah hari pengangkatanku dan jika sampai aku terlambat bisa dipastikan akan menjadi bahan perbincangan seluruh penghuni istana. Aku harus memberi Suki hadiah nanti karena jika tidak mengusap wajahku dan menarikku bangun aku yakin aku pasti masih tidur lelap.
“salam permaisuri” ucap kami berbarengan. Dalam aula ini ada beberapa istri penjabab penting istana, selir raja lainnya serta beberapa pelayan berkedudukan tinggi yang biasa mengurusi kediaman harem.
“ hari ini kita kedatangan wanita baru dan pertama yang akan menjadi selir yang mulia putra mahkota. Kemari lah nak” tenang dan penuh kelembutan. Cocok sekali dengan kedudukannya sebagai permaisuri.
“Ku perkenalkan ini adalah Zenia, gadis cantik ini adalah selir yang mulia Enrick, kuharap kalian bisa menghormatinya seperti kalian menghormati putra mahkota”
Semua mata tertuju padaku. Dan itu membuatku tak nyaman. Aku tidak terbiasa dengan Sanjungan ataupun tatapan memuja itu. Aku bahkan belum menyetujui hal ini, sekarang untuk menolakpun aku akan di hukum.
“Zen, kita belum pernah minum teh berdua, kurasa sekarang bukanlah waktu yang buruk” setelah menyelesaikan penjamuan yang membosankan itu permaisuri mengajakku berbincang. Setelah beberapa tahun hanya bisa melihat dari jauh, situasi ini membuatku canggung. Bagaimana aku harus bersikap.
“baik, yang mulia permaisuri”
Kemudian kami berjalan kearah taman samping istana harem. Begitu tenang, terdapat kolam ikan yang lumayan besar dengan aneka bunga yang menghiasi satu sisinya. Kami duduk tepat menghadap ke kolam tersebut. Sebuah meja dan beberapa kursi dengan atap kayu sederhana. Beberapa pelayan melayani kami dengan aneka kudapan dan teh hangat.
“sejak malam itu, saat Enrick membawamu ke istana aku sudah tau jika kau begitu istimewa.” Menarik secangkir teh dan menghisapnya tenang.
“Saya tidak tau jika yang mulia adalah putra mahkota saat itu”
“ya, aku tau. Tapi kemudian aku begitu kasihan ketika aku tau kau dijadikan pelayan Enrick.”
“bagi saya yang mulia adalah penyelamat hidup saya, menjadi pelayan adalah balasan yang pantas saya berikan”
Aku beranikan diri untuk menatap wajah permaisuri, cantik sekali, diusianya yang sudah menua masih saja cantik. Namun aku baru menyadari jika permaisuri juga sedang menatap ke arahku. Pandangannya sulit diartikan.
“kenapa yang mulia permaisuri menatap saya seperti itu?” dengan nada yang sehalus mungkin. Aku masih tau diri jika pertanyaan ku terbilang lancang.
“Melihatmu seperti ini mengingatkanku dengan diriku sendiri. Begitu muda, polos dan naif. Apa kau tidak bertanya kenapa Enrick hanya menjadikanmu selirnya bukan putri mahkota?”
“ss, saya tidak berani berfikir seperti itu yang mulia?”
“dunia harem meski terlihat tenang didalamnya begitu penuh dengan masalah, melihatmu yang begitu tenang, awalnya membuatku bingung. Namun setelah berbincang denganmu aku kini tau. Enrick benar-benar ingin melindungi mu. Putraku begitu terpikat olehmu, ha ha ha” kurasa permaisuri salah paham denganku. Bagaimana mungkin pelayan sepertiku harus dilindungi. Kuharap hal ini tidak akan menyulitkan aku nantinya.
__ADS_1
“ yang mulia permaisuri terlalu melebihkan, saya hanya pelayan yang beruntung saja. Itu semua karena kebaikan hati yang mulia Enrick saja.” Balasku tenang.
“Aku tau jika Enrick sudah menidurimu” permaisuri berbisik dan tersenyum jail padaku. Bahkan tanganku digengamnya erat sesaat. Bagaimana dia bisa tau.
“Yyy yang mulia iitu,, ss saya ,, tidak..”
“sudahlah sekarang kau sudah menjadi selirnya. Dan itu membuatku lega.” Kenapa kalimatnya seakan mendukungku. Tapi ada benarnya juga, jadi aku tidak perlu memikirkan pandangan orang jika yang mulia En datang padaku.
“ baiklah Zen, kurasa kau butuh istiharat,” apakah wajah lelahku begitu terlihat. Permaisuri bersiap meninggalkan meja.
“terimakasih permaisuri” ucapaku dengan memberikan penghormatan.
Setelah permaisuri pergi, aku masih memilih untuk duduk dan menikmati suasana taman. Aku baru menyadari jika istana harem.ini begitu indah dan sejuk. Meskipun benar kata permaisuri, jika kelihatannya dunia harem begitu tenang dan memikat tapi sebagai orang dalam istana aku juga mengetahui bagaimana konflik serta beban menjadi salah satu anggota harem. Banyak sekali pertanyaan dalam benakku, sayangnya sampai hari ini tuan Enrick belum juga bisa kutemui. Sejak malam pengakuan itu, meski aku sudah mempercayai tuan Enrick namun tak bisa sepenuhnya aku memakan pengakuannya. Walaupun semua perkataan nya masuk akal dan terlihat tidak ada keraguan, sebelum aku tau pasti siapa penyebab kejadian itu maka tuan Enrick masih menjadi tersangkanya.
“yang mulia, hari semakin siang dan hampir memasuki makan siang. Yang mulia bisa istirahat dikamar harem”
“aku tidak nyaman dengan panggilanmu Suki, bisakah kau panggil aku seperti biasanya saja?”
“huft.. Terserah saja “ aku beranjak dengan mengangkat sedikit gaun kebesaran ini. Pakaian ini terasa berat dan sesak. Kenapa anggota kerajaan suka sekali dengan model pakaian yang berlapis-lapis aku jadi tidak leluasa bergerak. Pantas saja mereka bergerak dengan lamban, seakan lemah lembut.
Stelah memasuki kamar yang super mewah dan berada di bagian depan dari istana harem, aku metuskan untuk melanjutkan jam tidurku. Besok baru mulai latihan lagi, selagi tidak ada yang berani menggangguku ini waktu yang tepat. Hehe
“yang mulia.. Yang mulia.. Ini sudah hampir malam” samar-samar aku mendengar gangguan. Kuputuskan untuk membuka mataku sekilas.
“ya Suki ada masalah apa?” gumanku.
“Yang mulia belum makan sedari pagi, kini sudah hampir malam.”
“taruh saja aku masih ngantuk” sambil ganti posisi tidur yang lain. Kasur ini benar-benar nyaman. Aku beruntung bisa merasakan hal ini.
“Pergilah biar aku saja”
“baik yana mulia”
__ADS_1
Sepertinya aku salah dengar, kenapa ada suara laki-laki disini?. Mungkin itu suara pengawal. Tapi kenapa mereka memanggilnya yang mulia. Jangan-jangan
“Mau sampai kapan kau akan tidur, tidak makan atau minum. “ suara ini bukanmya mirip dengan suara putra mahkota, benar. Aku langsung duduk dan membuka mataku.
“ss..sejak kapan tuan ada disini? “ tidak, pertanyaan ini terkesan arogan. Aku harus menggantinya.
“em,, ada keperluan apa tuan Enrick datang ke kamarku?” ini lebih tepat.
“apakah ada yang salah aku menandatangi selirku?” aku melihatnya duduk di sofa panjang samping jendela besar.
“Tidak..” jawab ku cepat.
Sepertinya aku harus mulai berlatih untuk menjaga perkataanku. Sekarang aku tak boleh lagi mengatakan hal -hal sembarangan. Aku beranjak turun dari ranjang dan mendekati tuan Enrick.
“Makanlah, wajahmu terlihat pucat” sambil menujuk makanan dengan dagunya. Dia terlihat mencurigakan dengan hanya bermuka datar itu.
“ baik tuan” tak ada pilihan. Aku hanya bisa memakan dengan tenang tanpa penolakan. Lagipula perutku tiba-tiba terasa lapar oleh aroma lezat ini. Aku akui makan kelas pelyan dengan anggota kerajaan terlihat jauh berbeda. Ini surga dunia. Semua jenis makanan ini tak pernah aku cicipi sebelumnya. Selama ini tak ada kesempatan hanya bisa melihat saja. Sekarang semuanya bisa ku nikmati sepuasnya.
“Suki, kau bisa membawanya “ bukan aku, itu tuan Enrick. Apa dia memperhatikanku selama makan. Tepat sekali waktunya.
Beberapa pelayan langsung datang dan membersihkan semuanya. Betapa enaknya hidupku sekarang. Aku cukup puas.
“ kemarilah Zen” menyuruhku mendekat padanya. Aku memilih untuk duduk disampingnya. Sepertinya dia ingin mendiskusikan sesuatu denganku. Bahasa tubuhnya menyiratkan ada hal yang ingin dia sampaikan.
“ aku sudah memutuskan untuk membawamu ke kota Swen, kita akan berangkat besok pagi”
Manikmya menatapku penuh kelembutan. Tatapannya seolah membuatku tenggelam dalam dirinya. Entah kenapa hubunganku dengan Tuan Enrick semakin berubah. Dia Semakin membuatku larut dalam perasaanku sendiri. Rasa sukaku semakin hari semakin besar.
“Zen?” hampir saja aku berteriak. Kenapa denganku. Apa barusan aku terlalu terpesona dengan Tuan Enrick.
“ya yang mulia En. Saya akan menyiapkan keperluan untuk berkunjung besok”
“malam ini aku akan bermalam disini, aku sudah menyuruh Suki untuk menyiapkan keperluanmu”
“Aku harus mengurus sesuatu dulu, kau bisa menyiapkan diri untuk malam ini”
__ADS_1