The Empero'S Prisoner

The Empero'S Prisoner
XI


__ADS_3

“ tuan sebenarnya kita berada dimana?” Zen bertanya dengan tangan kami masih berpegangan erat. Aku masih bersyukur meski mereka ditempatkan di penjara hitam, tapi setidaknya kami berada di sel depan. Andai saja sel kami semakin ke dalam, maka yang terlihat hanya kegelapan dengan dinding sel semuanya beton. Di bagian depan yang kami tempati ini sisi yang terbuat dari beton hanya berada di sisi belakang. Sisi lainnya merupakan besi berongga. Jadi untuk melihat antar penghuni masih bisa dilakukan.


 


“ ini penjara hitam, kau tidak akan mengetahui keberadaannya. Hanya yang memiliki hak khusus yang mengetahuinya. Tenang saja disini ada beberapa orangku”


“ maafkan Zen. Gara-gara kami, tuan En menjadi terlibat”


“sutt, ini memang pilihanku” kami terus saling menguatkan. Mungkin saja ini hari terakhir untuk saling memandang.


 


“ yang mulia,,” terdengar sebuah bisikan. Aku mengerakkan kepala, mencari sumber suara. Dikarenakan penerangan hanya mengandalkan lampu lilin membuat kualitas pandangan menjadi buruk.


“ saya membawakan air serta beberapa makanan,” setelah cukup lama, aku bisa menemukan seorang penjaga penjara sedang meringkuk menyembunyikan diri di depan sel ku. Dia adalah orang kepercayaanku, tidak ada keraguan menerima kebaikannya.


“ aku akan menemuinya” pamitku kepada Zen. Dengan langkah tertatih-tatih aku berjalan ke bagian depan mendekati penjaga itu.


“ hanya ini yang bisa saya berikan yang mulia” aku langsung mengambil air dan bingkisan itu.


“ sudah berapa lama aku disini? Bagaimana kondisi kerajaan?” langsung saja memberondong pertanyaan.


“ anda di tahan sekitar 3 hari, saat ini tepat tengah malam. Dan juga kerajaan sedang mengalami masa yang sulit. Menurut kabar kaisar sedang sakit parah. Saya harap yang mulia bisa bebas dan menyelamatkan kerajaan” cukup mengkhawatirkan. Aku mengangguk pelan mempersilahkannya pergi.


“ ini makanlah” kembali ke tempat semula. Memberikan semuanya kepada Zen. Dia lebih membutuhkan daripada aku.


“ tuan tidak makan?” dia menatapku penuh perhatian. Wajah polosnya semakin membuatku merasa bersalah.


“ aku tidak lapar, kau makanlah anak ini pasti lapar” mengarah pada perut Zen. Meski berat hati akhirnya Zen mau memakan makanan yang terbilang terbatas itu. Meminum semua air, aku tidak bisa membayangkan dia mengandung besar dan selama 3 hari tidak makan dan minum. Pasti begitu menyiksa. Melihatnya lahab menghabiskan memakanan itu begitu membuatku lega dan tenang.  


“habiskan” Zen menatap kearahku. Dia pasti merasa aneh dengan tatapan kosongku. Tersenyum ringan sambil mengelus tangannya.


 


Saat ini berharap bantuan dari ayah juga percuma. Kondisinya pasti sedang buruk, memang saat ini waktu yang pas untuk menggulingkan tahta kerajaan. Status putra mahkota yang belum jelas dan isu tentang pemberontak pasti melancarkan rencana permaisuri.

__ADS_1


 


Situasi terburuknya adalah kabar kematian kaisar. Aku merasa hal ini sebentar lagi akan terjadi. Bukannya mendoakan hal buruk pada ayah, tapi ramuan opium itu sudah tidak bisa diberikan pemawarnya. Terlalu lama dan banyak racun opium yang masuk di tubuh ayah. Bahkan Lucien tidak bisa memprediksi bagaimana bisa kadar sebanyak itu bisa masuk di tubuh ayah. Bahkan darah ayah penuh racun opium.


 


Setelah menghabiskan makanan, aku menyuruh Zen untuk berbaring. Kami saling berdampingan hanya sekat ini pembatasnya. Tubuhku masih begitu lemah bahkan aku bisa merasakan terdapat tulang yang patah. Aku harus bisa menahan rasa sakit ini, tidak mau Zen semakin khawatir akan kondisiku.


 


Mungkin sudah berjalan satu hari setelah pemberian makan itu. Zen terlihat mulai lemas, tempat yang pengap serta asupan makanan yang kurang saat mengandung besar seperti ini pasti berdampak buruk pada kesehatannya.


 


“ dulu Zen berfikir setelah berhasil membalas dendam, akan pergi meninggalkan kerajaan. Hidup bebas diluar sana. Tidak menyangka jika angan seperti itu begitu  sulit tercapai”


“ apa kau menyesal bertemu denganku?” kami saling bersandar pada besi saling berpandangan.


“ sama sekali tidak, sebenarnya Zen sudah jatuh cinta pada tuan sejak awal” wajahnya sedikit bersemu merah. Manis sekali.


“ aku juga tahu, “ tersenyum jahil.


“ ini” gelang peninggalan ibuku, ku berikan pada Zen.


 


Zen tampak kaget dan menatap gelang itu tak percaya. Segera mengambilnya dari tanganku dan dengan seksama menatapnya.


“ kenapa?” aku menjadi bingung dengan tindakan Zen.


Zen kemudian menarik salah satu lengan bajunya, betapa kagetnya aku. Disana terdapat gelang yang sama melingkari tangan Zen.


“ bagaimana bisa?” gumanku.


“ darimana tuan mendapatkan gelang ini?” menatapku dengan pandangan serius.

__ADS_1


“ ayah memberikan padaku, dia mengatakan ini adalah gelang mendiang ibuku, Kahla” menunggu reaksi Zen, dia terdiam mendengarkan penjelasanku.


“ kau juga memilikinya?” lanjutku


“ seperti dugaan. Gelang ini berpasang, yang ini milik ibuku. Kurasa mereka mungkin saling kenal. Kalau tidak kenapa mereka masing-masing menyimpan gelang berpasang ini” aku kembali berfikir, ada kaitan apa gelang ini dengan Zoya. Apa mungkin ini berkaitan dengan pengasingan bangsawan keluarga ibunda serta kawannya. Ayah pernah mengatakan bahwa ikut serta menghukum semua orang-orang yang berkaitan dengan kasus ibu. Jika memang benar sebenarnya apa makna dengan adanya gelang berpasang ini.


“ sepertinya gelang ini akan membawa hal baik. Kau simpalah kedua gelang ini.” Zen mengangguk dan melakukan perintahku. Kini di tangannya ada sepasang gelang yang sama.


“ mereka terlihat begitu indah. Diantara ibu kita pasti memiliki hubungan yang khusus. Semoga ini bisa meredam kesalapahaman yang ada” ucapku sambil memegang lembut tangan Zen.


 


“kahla,,” lirih Zen.


“ sepertinya ibu pernah menyebutkan nama itu” lanjutnya. Mencoba mengingat-ingat kejadian sebelumnya.


“ kapan itu?” tanyaku.


“ entahlah Zen tidak yakin, saat itu mungkin setelah mengetahui bahwa saya mengandung anak tuan. Sesaat ketika kami kembali ke tempat persembunyian, ibu terlihat begitu marah dan menyebutkan nama itu dengan nada pilu” jelas Zenia. Itu terjadi beberapa bulan yang lalu. Mengartikan jika memang benar antara Zoya dan ibu pasti memiliki hubungan.


“ kau tahu tuan, bagi kelompok ibu. Mereka menganggap bahwa tuan bukanlah pewaris kerajaan yang sah. Mereka berfikir bahwa tuan adalah perebut tahta. Aneh bukan?” Cukup menarik. Isu ini beberapa kali aku mendengarnya tapi aku hanya menganggapnya angin lalu. Tak disangka bahwa ini bukanlah isu biasa. Sebaiknya aku harus mencari tahu alasan mereka memberontak separah ini. Hanya senyum ringan yang kuberikan untuk membalas perkataan Zen.


“ semoga kesalapaham ini bisa berakhir” gumanku.


 


Kami kemudian larut dalam pikiran masing-masing. Aku sendiri masih penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada masa lalu. Bagaimana bisa ayah menghukum berat ibu beserta kerabat dan kawannya. Kesalahan apa yang terjadi saat itu. Melihat bagaimana menyesalnya ayah mengetahui fakta bahwa aku adalah anak Kahla semakin menggiring analisaku bahwa mungkin terjadi cinta segitiga antara ayah, ibu dan orang lain. Keraguan itu berdampak besar di masa sekarang, agaknya ini bukan masalah biasa.


 


Tang,,


suara besi yang membangunkan tidurku.


Tidak ada siapapun di bagian luar sel, membuatku penasaran dengan bunyi besi yang sebelumnya. Tak lama kemudian sudut mataku menemukan gulungan kertas. Aku mengambilnya, membukanya pelan.

__ADS_1


‘ tunggu kami’ M


Surat ini dari Morgan, mereka pasti sudah sampai di ibukota. Berdasarkan analisaku setelah jam jaga malam berakhir mereka akan menyerbu penjara. Tepat sebelum fajar datang. Waktu-waktu seperti itu memang waktu yang pas dimana penjagaan longgar dan beberapa penjaga pasti lemas karena mengantuk. Aku tersenyum penuh arti setelah membaca surat itu. Merobeknya agar tidak ada yang mengetahui.


__ADS_2