
Sesampainya aku di istana harem, aku langsung masuk ke kamar. Melepaskan gaun serta berbagai macam perhiasan yang ku pakai. Semua sudah terlepas, hanya menyisakan lembaran terakhir di tubuhku. Menaiki ranjang dan mencoba melupakan segalanya. Melupakan rasa sakit yang seharusnya tidak aku boleh aku rasakan.
Tangisku semakin deras, aku hanya bisa menyembunyikan suaranya di balik selimut yang tebal. Bukankah sedari awal aku sudah tau hal ini pasti akan terjadi?. Tapi kenapa secepat ini. Apa sebenarnya aku tidak rela membagi hati dengan wanita lain. Kenapa aku tak rela. Tuan En bukanlah seseorang yang tinggal di hatiku. Seharusnya aku tidak sesedih ini. Kuat, kuat. Aku harus kuat.
Sayup-sayup aku mendengar langkah kaki memasuki kamarku. Beberapa langkah kaki, pasti tidak hanya Cila yang kesini.
“ selir hanya demam biasa, yang mulia jangan terlalu khawatir” sepertinya cila mencoba menghentikan tuan En.
“ pergilah” aku sudah menebak, tidak mungkin bisa mencegahnya. Tuan En bukanlah orang yang bisa menurut pada sembarang orang.
Aku berusaha mengatur nafasku. Jangan sampai ketahuan jika aku habis menangis. Tak lama ku rasakan ranjang sedikit bergoyang, menandakan tuan En berada di sisi lainnya. Aku sedang malas bertemu dengannya, jadi kuputuskan untuk berura-pura tertidur.
“ Zen, kau baik-baik saja?”
‘kau pikir aku bisa baik-baik saja setelah mengetahui semuanya?’
“ kenapa kau tiba-tiba sakit?”
‘ tiba-tiba saja aku mengetahui rahasiamu’
“ kau sudah tidur?”
‘ kau fikir saja sendiri’
Aku tetap tak bergeming, lelah hati membuatku malas untuk menanggapi pertanyaanya. Setelahnya ranjang kembali bergoyang. Dia beranjak berjalan tapi tidak meninggalkan kamar. Aku bisa mendengar suaranya sedang melakukan sesuatu, entah apa.
Ranjang kembali bergoyang, tak hanya itu aku bisa merasakan jika selimut yang ku pakai tertarik. Tidak, aku sedang berpakaian tak pantas. Bagaimana ini?. Sudahlah aku tetap malanjutkan aksi pura-pura tidur. Toh ini bukan pertama kalinya aku berpakain minim di depan tuan En.
Dia menggeser tubuhnya semakin mendekat padaku, kurasakan elusan lembut mengenai kepalaku. Tak lama dia mengangkat tubuh bagian atas. Meletakkan tangannya sebagai bantalan kepalaku, dan tangan lainnya sudah sampai perutku. Memelukku dengan posisi menyamping.
“ ku harap besok kau sudah tak sakit lagi”
Sama, aku juga mengharapkan hal yang sama tuan. Mengetahui perlakuannya yang begitu lembut, malah semakin membuat hatiku sakit. Apa mungkin semua perlakuannya selama ini palsu. Kelembutan ini hanya fatamorgana atas ketertarikannya pada tubuhku. Sampai sekarangpun aku belum bisa menebak isi hati tuan En yang sebenarnya.
Aku harus menutup hatiku, tuan En tak mungkin memiliki perasaan padaku. Aku harus berhenti bermimpi akan di cintai olehnya. Kedudukan putra mahkota jelas harus rela berbagi hati. Dan hal itu tidak ada dalam bayangan masa depanku. Memiliki keluarga kecil yang harmonis dan sederhana adalah yang aku inginkan. Lupakan Zen, aku harus menghapus agan-agan hidup bersama tuan En.
__ADS_1
Tuan En semakin mempererat pelukannya, bahkan tangannya masih saja mencari kesempatan dengan mengelus perut rataku. Aku sedikit membuka mataku, ada sebuah tangan tak berlapis baju, aku yakin bagian atas tubuh tuan En, sedang tidak menggunakan apapun. Dia melepas pakaiannya sebelum menaiki ranjang.
Aku kembali menutup mataku, demi menjemput alam mimpi. Tapi lagi-lagi aku terusik dengan pergerakan tangan tuan En yang semakin seenaknya itu. Setelah mengelus perutku kini semakin ke atas. Menyentuh dadaku, bahkan sempat meremasnya pelan.
‘dasar mesum’
Ingin sekali aku menendangnya keluar dari kamar ini, membanting serta mematahkan tangan nakalnya. Sayang semuanya hanya ada dalam fikiranku. Aku tidak mungkin bisa melakukannya. Memang lelaki suka semaunya sendiri. Aku tidak sedang ingin berdebat, terpaksa aku biarkan saja.
Setelah ini aku harus membuat perhitungan dan tak mau lagi di sentuh olenya. Aku masih punya harga diri, meskipun sedikit. Mulai saat ini tidak boleh lagi terlena dengan tindakan apapun yang tuan En berikan.
****
Angin dingin menerpa tubuhku, membuatku terbangun dengan tenang. Hari sudah pagi, tetapi aku masih malas untuk memulai aktifitas. Aku menarik selimut untuk membungkus tubuhku.
“ astaga!” saat ku menemukan alasan selimutku tak bisa di tarik. Tuan En masih disini, tertidur dengan nyenyak. Ternyata benar dia bertelanjang dada. Pintas sekali dalam memanfaatkan suasana.
Sakit itu datang lagi, dadaku merasakan sesak yang sama seperrti semalam. Melihat wajah tenang tuan En, semakin menyakitkan dadaku. Aku beranjak untuk membersihkan diri. Tak ingin berlama-lama di dekat tuan En. Aku harus membiasakan diri sedari sekarang. Tuan En bukan milikkku.
Cila membantuku membersihkan diri, serta berganti pakaian. Di kamar, tuan En masih tertidur. Jadi aku memutuskan untuk duduk di ruang tengah sambil membaca buku. Cuaca hari ini cukup cerah, mencuri waktu untuk berkuda sepertinya bagus. Aku perlu menghibur hatiku, menghilangkan sakit ini.
“ kau sudah baikkan?” tiba-tiba tuan En sudah menghampiriku dan duduk di sampingku. Penampilannya benar-benar menandakan dia baru saja bangun tidur. Memakai baju seenaknya. Tidak menutupi bagian depannya. Ingin memamerkan perutnya yang menggoda itu.
“ tuan En sudah bangun? Saya sudah lebih baik” aku mengupas anggur dan memakannya pelan. Mencoba tenang meskipun hati bergemuruh.
“ apakah tuan En tidak ada keperluan lain?”
“ ada apa dengan pertanyaanmu, kau tidak suka aku disini?”
‘ jelas sekali’
__ADS_1
“ apakah pertanyaan saya menyinggung hati tuan En? Saya minta maaf” bukan saatnya berdebat dengannya. Tak ingin merusak hariku.
“ maksud saya tumben sekali tuan En bangun sesiang ini” lanjutku. Kulihat tuan En menatapku dalam. Apa dia sedang mengamati perubahan sikapku.
“ tempatmu membuatku nyaman, jadi betah berlama-lama disini”
‘ oh ya, aku tidak boleh percaya, semua ucapannya hanya rayuan’
“ saya sangat tersanjung” jawabku.
“ hari ini kenapa aku merasa kau sedikit berbeda?” masih saja menatapku.
“ berbeda bagaimana tuan?”
“ sedikit mengacuhkanku”
‘ bagus jika kau merasa’
“ hanya perasaan tuan saja” jika dilihat dari sudut pandang tuan En, memang tidak merasa melakukan satu kesalahanpun. Tapi tidak dariku. Kesalahannya benar adanya.
“ ya, anggap saja benar” dia beranjak memasuki kamar.
Tak lama kak Lu masuk dengan membawa setelan baju putra mahkota. Sepertinya tuan En sedang ingin mempersulitku.
“ salam yang mulia selir, saya membawakan baju bersih untuk putra mahkota” aku menberikan intruksi agar Cila menerimanya. Aku mengangguk pelan, masih kecewa karena kebohongan yang dia sembunyikan. Cila memberikan baju tersebut kepada pelayan.
“ berikan itu kepada putra mahkota” perintahku, kemudian mereka masuk kamar. Aku kembali pada aktivitasku sebelumnya.
“ yang mulia putra mahkota meminta selir membantunya membersihkan diri” benar dugaanku. Kenapa tuan En semakin membuatku emosi.
“ katakan aku masih lemah jadi tidak bisa membantunya” kilahku.
“ tapi putra mahkota,,,”
“Zen, kemari!” teriaknya. Sangat menguji kesabaranku. Tak ada pilihan lain.
“ baik, putra mahkota” jawabku sambil beranjak menemuinya.
‘ tenang Zen, tenang’
__ADS_1