
... ...
Detik itu juga rasa ragu yang aku ciptakan tiba-tiba sirna. Penjaga langsung menangkapku. Kedua tanganku di tarik kebelakang. Aku tak bisa berbuat apapun.
“ siapa yang kalian sebut pemberontak?” seorang berteriak di belakangku. Saat itu juga mata semua orang langsung berpaling menuju orang itu. Bahkan wajah permaisuri langsung pucat pasi.
“ lepaskan putra mahkota, kalian begitu lancang!” lanjutnya. Aku masih belum melihat siapa orang itu. Dia terdengar semakin mendekat, langkah kakinya begitu tenang diiringi dengan langkah kaki lain yang terdengar berantakan.
“kau yang lancang, jelas sekali dia adalah seorang pemberontak” tunjuk permaisuri kearahku. Dia terlihat sangat geram.
“ permaisuri salah bukan dia pemberontaknya, saya membawa buktinya” seorang yang tertutup kepalanya tersengkur di sampingku. Aku melihat dengan jelas siapa orang yang dengan percayanya membelaku.
“ selama ini putra mahkota menyuruhku menangkap pemimpin pemberontak dan inilah hasilnya” aku masih membaca situasi. Dia berani sekali membawa namaku dalam urusannya. Apalagi dengan kata pemimpin pemberontak, dia tidak mungkin membawanya kemari. Jelas sekali kebohongannya. Mana mungkin Zoya tertangkap, dia bahkan aman berada dalam perlindunganku.
Dengan enteng aku melihat wajah lelaki itu, manikku membola sosok ini bagaimana bisa berada disini. Tidak mungkin, apa yang sedang dia rencanakan.
“ ini pasti kebohongan kalian” elak permaisuri.
“ apa maksud ucapan permaisuri, bahkan kaisar sendiri mengatakan perintahnya dengan jelas beberapa hari yang lalu. “
Tentu, dia adalah Jarvis. Pengawal pribadi ayah. Mungkin ini alasannya kenapa dia menghilang dan tak berada di samping ayah. Ada rasa marah menyelimuti hatiku, dia tidak bisa menjaga ayah selama ini.
“ tidak mungkin” permaisuri mengelak terus.
“ kau begitu permaisuri silahkan menanyakannya sendiri kepada kaisar” aku hanya diam menyaksikan bagimana rencana Jarvis selanjutnya.
“ apa yang kalian tunggu segera laporkan masalah ini kepada kaisar” lanjut Jarvis.
“ tidak. Berhenti. Ka,, kaisar sedang dalam kondisi lemah. Banyak membutuhkan istirahat. Aku yang mengambil alih”
“ kau berbicara bukti. Sekarang tunjukkan buktinya” lanjut permaisuri masih tak ingin kalah.
Jarvis membuka penutup kepala orang yang dia bawa. Aku tak bisa mengenalinya dengan jelas, sampai wajah itu dengan tenangnya menatap kearahku. Aku bahkan menghentikan nafasku begitu tahu siapa yang Jarvis bawa. Bukti yang dia siapkan sangat jauh dari perkiraanku. Tidak mungkin, bagaimana bisa dia mendapatkan wanita ini. Bagaimana kondisi kelompok sekarang, atau lebih tepatnya bagaimana kondisi Zenia.
“ wanita ini adalah pemimpin pemberontak yang kalian cari.” Teriak Jarvis lantang.
Seketika tatapanku dan Zoya terhenti. Bagaimana bisa dia tertangkap. Tidak, dia takkan bisa selamat saat ini.
Kini pandanganku berganti pada Jarvis, tidak mungkin juga aku langsung mengelak perkataanya. Dengan wajah penuh pertanyaan aku mencoba mengatakan bahwa ini adalah salah. Tapi hanya senyuman tipis yang Jarvis berikan.
__ADS_1
Dia malah membantu Zoya berdiri, kedua tangan Zoya terikat di depan. Dia tidak bisa membela dirinya sekarang.
“ lepaskan aku, kalian yang pantas dihukum” zoya mulai merancu. Membuat drama in semakin meyakinkan.
“ apa kau sadar dengan apa yang terjadi?” kalimatku berartikan ganda. Pasti Zoya mengerti kemana arah dari pertanyaanku.
“ aku sangat sadar, memang inilah yang aku inginkan” jawabnya tak kalah yakin.
“ bodoh,” teriakku.
Sungguh aku tidak tahu lagi harus bagaimana mengatakannya, hanya dia yang aku harapkan bisa menjaga Zenia saat aku tak ada nanti. Kini entah apa yang bisa aku jelaskan pada Zenia.
“ hahahaha, kalian yang bodoh. Terutama kau Parveen. Wanita kejam sepertimu tidak pantas berada di kerajaan ini, cuih” Zoya semakin memancing emosi.
“ wanita kejam?, apakah kau tidak salah. Bahkan kau menyuruh anakmu untuk menggoda putra mahkota. Dasar rendahan.”
“ lancang, !!” aku semakin muak. Seasana menjadi hening
“ baiklah, kau mengatakan bahwa putra mahkota yang menyuruhmu membawa pemberontak kemari, sekarang buktikan bahwa kalian tidak bersekongkol” permaisuri mulai beragumen.
“ apa yang kau maksudkan?” aku bertanya.
Tang,,
Sebuah pisau permaisuri lempar di depanku. Dia tersenyum penuh kemenangan. Dia pintar sekali memanfaatkan keadaan. Aku menatap Zoya, dia hanya diam bahkan menganggukan kepalanya tipis padaku. Seakan memberikan persetujuan untuk segera membunuhnya.
Meski aku tak tahu apa yang harus aku lakukan, tapi dengan pelan aku mengambil pisau itu. Memeriksa ketajamannya hanya untuk mengulus waktu. Sambil terus memikirkan bagimana keluar dari posisi terpojok ini. Permaisuri mengamatiku dengan seksama, menunggu aku bertindak.
“ apalagi yang kau tunggu?” zoya masih saja menantangku dalam kondisi ini.
“ apa kau tidak menyesal?”
“ tentu tidak, hanya satu penyesalanku.”
“ apa?”
“ kau,” Aku tidak mengerti apa maksud dari jawabannya.
“ darahmu, aku berhutang banyak” lanjutnya kemudian.
“ hem, “ aku mengangguk berulang, setelah mengetahui maksud dari jawabannya.
__ADS_1
“ ada kata terakhir?” sambil memainkan pisau yang aku bawa.
“ Zenia. “ tatapan kami terkunci, nama itu memang yang menghubungkan kami.
Aku mendekat kearah Zoya, sambil mengangkat pisau itu. Berniat ingin memberikan beberapa jalan keluar.
“ini tebusanku”
Entah bagaimana kejadiannya, sekejab mata pisau ini tertancam tepat dijantung Zoya. Tangannya menggegam tanganku erat. Mendorongnya menuju dadanya sendirinya. Tak hayal darah langsung keluar sana, bahkan mulutnya juga keluar darah.
Melihat hal itu aku langsung menarik tanganku. Melangkah mundur, dengan tatapan nanar terkunci pada darah yang keluar. Perlahan Zoya tumbang, dia memegang dadanya. Aku melihatnya dengan jelas bagaimana kondisinya saat ini. Begitu mengenaskan.
Tubuhnya tergeletak di depanku, Zoya menatapku dalam. Seakan ingin mengatakan sesuatu. Aku berjalan mendekat, dan duduk di sampingnya.
“ gunakan kematianku” aku mulai tersadar. Meski hal ini tidak ada dalam rencanaku. Bahkan begitu mengagetkanku. Tapi benar ucapan Zoya. Aku harus bisa memanfaatkan hal ini.
“ bagaimana? Kau sudah melihatnya. Aku tidak bekerjasama dengan pemberontak” permaisuri terbelalak, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“ sekarang kalian laporkan pada kaisar” salah satu dayang dan penjaga masuk ke istana kekaisaran. Permaisuri terlihat sangat syok dan kebingungan dengan apa yang terjadi. Dia mencoba untuk pergi.
“ tahan permasuri!” Jarvis segera berlari kearah permaisuri, dengan cepatnya langsung mengunci kedua tangan permaisuri.
“ akkkkhh..” teriak sayang dari dalam istana.
Semua orang segera masuk kedalam, termasuk aku.
“ apa yang terjadi?” dayang itu sudah terbaring di lantai. Dia syok sampai terhuyung.
“ ka,,kaisar ,, dingin,,” rancu dayang.
Aku segera mendekat, memeriksa denyut nadi ayah.
“ kaisar telah wafat.” Lirihku.
“ apa? Tidak mungkin” jarvis membeo. Tak sadar jika permaisuri mulai berlari karena kunciannya melemah.
“ tangkap permaisuri, masukan dia ke penjara” teriakku.
Ketika semua penjaga sibuk menangani permaisuri kepalaku tiba-tiba pening. Rasanya tubuhku terkuliti. Sakit sekali. Aku tidak bisa menahan rasa sakit ini. Entah apa yang terjadi. Kenapa rasa sakit ini tiba-tiba aku rasakan.
__ADS_1