
Sesuai dengan intruksi dari Kenzo, malam ini kami berempat menginap di markas utama. Saat senja pelayan disana mengatakan bahwa malam ini akan diadakan makan malam bersama, alasannya masih belum jelan. Pelayan hanya meminta untuk bersiap saja.
Kami terbagi menjadi 2, karena vero harus bermalam sendiri di pondoknya, dia msatu-satunya perempuan dalam rombongan kami. Jadi harus terpisahkan. Sedangkan kami bertiga menjadi satu. Meski begitu tetap saja kedua pondok berada dalam satu area. Setelah berbicang singkat di gazebo tadi sore, kami langsung masuk ke pondok dan mulai membersihkan diri atau beristirahat.
“ Zuka, sebelum masuk ke kelompok kamu sibuk apa?” Alba menemaiku duduk santai di ruang tengah dekat perapian.
“ dulu aku pernah menjadi pelaya. Setelah keluargaku meninggal, aku dan adiku mencari kerabat dekat di Laqaka. Tetapi malah terjadi peristiwa itu”
“aku juga dulu adalah pelayan juga, menurutku kehidupan sekarang jauh lebih baik. Kau akan merasakannya nanti”
“ maaf sebelumnya, apa kau juga yatim piatu?” menoleh ke arahnya. Takut bila pertanyaan ini bisa menyinggungnya.
“ semua yang bekerja di kelompok kebanyakan yatim piatu, mereka yang memiliki keluarga hanya akan datang pada waktu tertentu untuk menerima bantuan dari ketua atau saat pertemuan rutin kelompok”
Oh, aku baru tahu jika sistem kelompok ini cukup merakyat. Memberikan bantuan dan memperkerjakan para yatim piatu.
“mengenai rencana beberapa tahun kedepan, apakah ketua memberikan pelatihan khusus untuk membentuk kemampuan bela diri anggotanya?”
“ iya, tapi itu bersifat sukarela saja, tak ada paksaan untuk anggota ikut dalam misi itu. Tapi asal kau tahu, hampir semua anggota berencana ikut. Ketua sudah membantu mereka dengan banyak hal, jadi ya, mereka begitu patuh pada ketua”
“ oh ya,? “
“ iya, kau sudah melihatnya sendirikan, ketua orangnya begitu baik”
Memang benar kata Alba, sejak awal bertemu memang ketua orangnya tidak memaksakan kehendaknya, begitu wibawa serta cukup tegas. Bukan tipikal orang yang sombong ataupun keras hati. Pantas saja anggota kelompok ini begitu patuh dan terus bertambah. Sistem kekeluargaan yang mereka terapkan begitu terasa. Begitulah yang aku rasakan sejauh ini.
“ hei kalian tak ada yang mandi, malam ini ada makan malam. Perbaiki penampilan kalian” Kenzo yang baru selesai membersihkan diri cukup cerewet saat melihat kami bersantai.
“ baiklah,, Zuka, jangan lupa ganti pakaianmu” alba beranjak dan masuk ke kamarnya.
Pelayan sudah memberikan beberapa setel pakaian untuk kami. Cara mereka meyambut tamu begitu baik. Pantas saja baik kenzo ataupun Alba terlihat bersemangat ketika mulai melakukan penyaluran ke markas utama.
__ADS_1
Kini mulai membersihkan diri di kamar mandi, aku menatp gelang yang selama ini terpasang di tangan. Satu-satunya peninggalan ibu yang menjadi kunci atas misteri ini.
Selesai memakai pakaian yang sudah di persiapkan sebelumnya, langsung keluar menemui Alba serta Kenzo yang sedari tadi memanggil.
“ kau lama juga jika bersiap” Kenzo mulai cerewet lagi, akhir-akhir ini dia terlihat mudah emosi jika berbicang denganku. Mengkritik dan cerewet. Apa mungkin inilah sifat sebenarnya, kenzo si cerewet. Bagaimana tidak lama, aku harus memakai penutup dada serta harus mengatur rambutku agar menyerupai laki-laki.
“ aku ketiduran tadi” mencoba beralasan yang normal.
“ dasar kau ini, ayoo pelayan sudah memberitahukan tempatnya”
Kami bertiga keluar meninggalkan pondok, di tengah jalan berpaspasan dengan Vero. Sekalian saja kami berempat datang ke aula pertemuan.
“ mari masuk, sebentar lagi acara akan di mulai”
“ kau beruntung hari ini bertepatan dengan ulang tahun istri ketua, jadi kita bisa merasakan makanan yang enak-enak” Alba berbisik padaku. Pantas saja sambutan ini cukup berlebihan jika hanya untuk petugas penyalur bahan makanan. Ternyata memang sedang acara khusus.
“ emm,, aku memang membawa keberuntung “ jawabku sinis.
“ ih,, kau ini” Alba sedikit jengkel mendengar jawabanku.
“ saat melihat makanan kau begitu tidak tahu malu” benar dugaanku, Kenzo orang yang cerewet. Nada bicara selalu saja sinis
“ setidaknya aku bukan orang yang cerewet dan selalu mengritik temannya” sindirku. Kenzo langsung terdiam.
Acara makan malam sudah di mulai, jadi tak perlu menunggu lagi. Mengambil semua menu yang leza-lezat dalam porsi banyak. Mafsu makanku tak tertahankan, harus bisa memuaskannya.
“ vero makanlah” aku sengaja memberinya manu daging, padahal ini menjadi alasanku untuk mengambil daging kedua kalinya.
Entah apa yang mereka perbincangkan, aku hanya fokus makan dan mengenyangkan perut. Karena posisi kami yang berada di belakang, jadi tidak bisa melihat dengan jelas acara di depan seperti apa.
__ADS_1
“ aku ke toilet dulu” aku izin, sebenarnya ingin kembali ke pondok. Rasa kenyang ini tiba-tiba mengundang ngantuk pada diriku. Ingin segera tidur.
“ kau makan terlalu banyak sih, pergilah, cepat kembali.”
Langsung keluar dari aula, pura-pura bertanya pada pelayan letak toilet. Mata Vero masih saja mengawasi jadi harus waspada. Untung saja arahnya sama dengan arah pondok. Berjalan santai agar tidak mengundang kecurigaan.
Dalam perjalanan aku melihat seorang pria keluar dari sebuah ruangan, dari perawakannya sepertinya itu Ares. Berusaha mengejarnya untuk sekedar menyapa tapi tidak ketemu. Jalannya terlalu cepat. Akhirnya terpaksa kembali ke arah pondok “ sebentar lagi acara puncak akan dimulai, kau tak apa?” samar-samar terdengar suara dari ruangan di sebelah aula.
“ tak apa, setiap tanggal ini, membuatku sedih karena mengenang mereka” suara perempuan.
“ kau tenanglah sebentar lagi semuanya akan berakhir” suara itu terdengar seperti ketua.
Karena penasaran mencoba mendekati ruangan itu, mungkin aku bisa mengetahui siapa istri dari ketua api biru ini, dengan langkah pelan menuju jendela yang berada di samping.
“ apa kau yakin, kerajaan tidaklah semudah yang kita perkiraan, apalagi dengan adanya Enrick. Sudah berkali-kali melakukan misi tapi terus saja gagal” suara wanita itu terdengar begitu familiar, tenang namun tegas.
“ kali ini tidak akan gagal. “
Aku mengintip dari celah jendela. Posisi wanita itu membelakangi jendela. Dari perawakannya wanita ini tidak gemuk, sepertinya wajahnya juga cantik. Rambut panjangnya terlihat indah dengan beberapa pasang perhiasan yang melengkapinya.
ketua mengelus lembut punggung wanita itu, kemudian menariknya berdiri, membawanya dalam pelukan. Sungguh pemandangan yang romantis. Tak lama setelah itu wanita itu mengubah posisinya menghadap jendela. Aku sedikit menarik tubuh agar tidak terlihat.
Dari celah itu dengan jelas bisa melihat bagaimana wajah wanita itu. Lama ku amati sedari mengingat wajah itu, ketika menyadari siapa wanita itu tiba-tiba hatiku memanas, deru nafasku langsung menjadi kencang, sekencang detak jantung ini. Memalingkan pandangan, mencoba menenangkan diri. Sebelum akhirnya memastikannya sekali lagi apakah penglihatanku memang benar melihatnya.
“ t,,t,,tidak,, mungkin,,”
__ADS_1
Ketua memeluk wanita itu dari belakang, dan disambut dengan senyuman manis dari sang wanita. Lelehan hangat mulai turun dari mataku, seakan tak mempercayai apa yang aku lihat ini. Mereka tampak bahagia, membuatku semakin memanas. Mengepalkan tangan dan berjalan memasuki pintu.