
“ibu..” teriakku. Aku langsung terduduk. Masih mencermati keadaan serta mengingat kejadian. Ternyata aku masih hidup. Apakah rencana pembunuhan ku berhasil? Aku tidak yakin. Pasalnya aku masih berada dikamar lelaki pembunuh itu.
Klek..
Aku menoleh Suki serta Lucien masuk, lelaki yang dulu aku anggap seperti kakakku sendiri, kini tak ubahnya bagai penghianat bagiku.
“Nona, anda sudah sadar, lega sekali”
“ hem..” balasku sinis.
“kabar yang mulia Enrick baik-baik saja, jika ingin tau” seakan dia sedang mengejekku. Terlihat jelas di wajahnya.
“kuharap dia mati” lirihku dan langsung membuang muka.
“ jadi benar, kau berencana membunuhnya?” tanya Lucien seakan tak percaya.
“ tentu saja, dia sudah membunuh ibuku serta seluruh penghuni desa” kuharap aku bisa menampar muka tak percayanya. Kenapa masih menanyakan hal ini. Kenapa aku merasa disini aku yang jahat.
“hei.. Sebaiknya kau pikirkan kembali rencanamu, “ Lucien duduk di samping ku. Dia terlihat tidak main-main dengan ucapannya.
“tidak perlu,aku sudah yakin”
“ kau tidak tau apa – apa terkait dengan penyerangan itu” tegas dan dingin. Aku tak pernah melihatnya seserius ini. Tentu saja dia akan membela tuannya. Tak perlu diragukan lagi. Mereka semua satu komplotan pembunuh. Dia segera melangkah pergi.
“Memangnya apa yang harus aku ketahui” teriakku. Aku begitu frustasi begitu tau rencanaku gagal. Melihat reaksi Lucien membuatku merasa putus asa. Tidak adakah seseorang yang berdiri disamping ku. Sedih aku semakin menyedihkan bahkan di mataku sendiri.
“ nona, ramuan obat anda siap,” Suki berhasil mengalihkan perhatianku
“tinggalkan aku”
“ nona maaf jika saya ikut campur, jika perkataan anda benar, saya rasa yang mulia memiliki alasan yang kuat, namun kalau anda juga ingin membunuh untuk membalasnya lalu apa bedanya anda dengan yang mulia. Sama -sama menjadi pembunuh” perkataannya berhasil mengusikku. Lelahan panas mengalir dari sudut mataku. Sebenarnya apa yang sedang ku rasakan. Perasaanku semakin campur aduk.
‘tidak, pandanganku tidak boleh kabur. Aku harus tetap pada rencana awal.’
(Enrick POV)
Aku masih sibuk mengurus beberapa dokumen kerajaan ketika lucien datang tanpa permisi di ruangan kerjaku.
__ADS_1
“ dia benar- benar membenci anda”
“ aku tau” jawabku singkat.
“Apa yang mulia tidak berniat memberitahukan kebenarannya?”
“tergantung, “
“yang mulia, dia sudah mencoba membunuh anda. Dan paati terus mencoba membunuh anda, Kalau salah satu rencananya berhasil bagaimana?”
“kau meremehkan ku?” aku menatapnya tajam.
“bu..bukan begitu, anda adalah seorang putra mahkota, anda tiada tandinga nya” dia terlihat sedikit ketakutan. Aku cukup terhibur.
“bisa kau ulangi ucapanmu di depan kaisar”
“ti.ti.. Yang mulia jangan terlalu kejam, saya sudah menjadi peng..”
“sudah berhenti merengek, pergi dan temui Morgan mungkin dia ada informasi baru”
“ baik yang mulia”
Anak itu sudah lama bersamaku, bahkan aku sudah berkali-kali “memanfaatkan” nya. Dia begitu menarik bagiku. Setelah mengetahui kebenaran ini aku harus lebih berhati-hati dalam bertindak. Segala kemungkinan akan semakin buruk jika aku tidak memperhatikan kebenarannya.
Bahkan semalam dia sudah mencoba membunuh ku, dia sudah tidak memikirkan keselamatannya. Jika aku tidak berpura-pura lemas dia akan terus menahan nafasnya dan berakhir meninggal. Aku sudah merencanakan untuk memberitahukan yang sebenarnya, namun kini keraguanku semakin besar. Zen begitu aku percayai dulu, kini aku bimbang. Apakah dengan mengatakan nya semua akan berakhir atau malah akan semakin rumit. Mungkin sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk mengungkapkan semua kebenarannya.
Waktu sudah menujukkan sore hari, Setelah penat dengan segala berkas kerajaan aku berjalan ke tempat latihan para prajurit. Tidak ada salahnya melatih kebugaran dan kemahiranku dengan bertarung dengan para panglima.
“Yang mulia” kini aku sudah berada dilapangan latihan. Prajurit sudah berbaris rapi dengan beberapa panglima berada di barisan depan.
“ sore ini aku ingin berduel, dari kalian yang ingin mencoba akan aku persilahkan”.
Kulihat mereka nampak sedikit ketakutan, saling menoleh dan menunjuk kawannya.
__ADS_1
“ tidak ada hukuman jika kalian kalah, aku juga tidak akan membuat kalian mati” mencoba membujuk mereka. Biasanya sepuluh hari sekali aku akan membuat pertandingan kecil-kecilan untuk mereka. Yang kalah akan dihukum oleh yang menang. Pertandingan itu semacam pertarungan beladiri, senjata atau taktik perang. Namun hari ini aku sedang ingin melakukan pertarungan senjata.
“ baiklah aku yang akan memilih, pemenang peratungan senjata terakhir yang akan berduel denganku” beberapa nampak lega, hanya satu orang yang mendesah.
“ baik yang mulia.” Aku menangkap nada putus asa nya.
Setelah segala perlengkapan sudah siap, bahkan beberapa jenis senjata sudah di pajang di lapangan kami sudah berada di tengah-tengah lingkaran para prajurit lainnya.
“Silahkan kau pilih senjatamu” aku masih berbaik hati untuk mengizinkan nya dahulu.
“ saya memilih tombak” jawabnya penuh keyakinan.
“ baik, aku memilih pedang ini” jika dilihat dari jarak memang senjata tombak memiliki kelebihan,namun jika mengandalkan ketajaman pedang pilihan yang tepat.
“Baik, mari kita bersiap bertarung” lanjut ku.
Kami sudah saling berhadapan.
Ting.. Bunyi bel menandakan pertandingan dimulai.
Dia melakukan serangan dengan mengarahkan ujung tombaknya bertubi-tubi dari segala arah. Saat ini aku hanya bisa menghindarkan. Aku cukup kewalahan dengan serangannya. Saat dia mengarah kan tombaknya di bawah aku menaikkan diri dan menendang punggungnya. Dia terdorong ke depan namun tidak sampai jatuh. Dia membaik badan dan kembali mengarahkan tombaknya secara horizontal kearah perutku, melangkah mundur dan mengarah kan pedangku ke batang tombak dan menginjaknya kuat. Dia kesusahan dengan seranganku. Tak kusangka dia mengangkat tombaknya dan membuatku berbalik di udara.
“ kau boleh juga, “ pujiku
Aku memulai serangan kembali, mengarahkan Pedangku ke arah lehernya, dia menghindar. Beberapa kali dia membalas dan menghindar. Kurasa dia lawan yang berbobot. Sampai kami saling beradu tombak dan pedang. Beberapa kali tendanganku mengenainya dan membuatnya kewalahan. Setelah cukup lama ketika dia lenggah aku menendang kakinya dia terjatuh dan hendak melakukan serangan balik, namun dia kalah cepat dengan pedangku yang sudah bertengger di lehernya.
Sorak-sorak prajurit mengakhiri pertandingan ini. Ku ulurkan tanganku dan menariknya berdiri. Tak ada satu seranganpun yang mengenai tubuhku. Dia bukanlah tandinganku. Tapi dengan begini aku berharap kualitas para prajurit semakin bertambah.
“ baik pertandingan selesai, kuharap kalian bisa mempelajari teknik pertarungan dari sini. “
“ baik yang mulia” saut mereka bersamaan.
__ADS_1
Tak terasa malam hampir datang. Warna senja sudah hampir menghilang. Aku memilih untuk menyudahi aktifitas di kamp prajurit dan membersihkan tubuhku.