
setelah menghabiskan makan malam, aku beranjak keluar kamar. Meski tubuhku masih terasa begitu lemas, aku tetap ingin menemui Zenia. Hatiku benar-benar tidak bisa tenang sebelum masalah ini berakhir.
“ kau tahu dimana Zenia?” tanyaku pada seorang pelayan rumah.
“ nyonya Zenia berada di kamar samping, tuan” jawabannya membuatku senang. Kamar samping berada di bangunan yang tidak jauh dari ruanganku. Bahkan diantara bagunan kami ada jembatan khusus untuk menuju kesana. Sepertinya Zenia benar-benar mengkhawatirkan keadaanku. Dia tidak bisa berada jauh dariku.
Aku segera melangkah menuju kamar Zenia. Aku sudah tak sabar ingin bertemu dengannya. Tapi gelap, kamar Zen semua lilinnya mati. Apa mungkin sudah tidur. Tak ada masalah juga kalau dia sudah tidur. Aku tetap bisa masuk, hanya saja untuk berbincang harus menunggu besok pagi.
Aku mendorong pintu pelan, tak ingin membangunkan Zenia. Berjalan masuk dengan langkah ringan. Ranjangnya kosong, tak ada siapapun. Kemana keberadaanya. Tak berselang lama, aku merasakan angin sejuk menerpa wajahku. Pintu balkon sepertinya terbuka. Firasatku mengatakan Zen pasti sedang berada di sana.
“ Zen, angin malam tidak baik untuk tubuhmu” liriku ketika mendapatinya sedang melamun menatap langit malam.
“ t,,tuan, kenapa anda bisa ada disini?” jawabnya terbata-bata. Terlihat begitu tidak menyangka akan kehadiranku.
“ kenapa kau belum tidur?” aku berjalan mendekatinya ingin segera mendekap melepas rindu.
“ apa anak kit,,” Zenia berjalan mundur dan menepis tanganku. Aku tidak biasa dengan reaksi ini. Apa yang salah dengannya.
“maaf tuan, lebih baik anda kembali. Tubuh anda masih lemah” wajahnya menunduk menghindari tatapan heranku.
“ ada apa denganmu? Apa karena,,” dia menolak sentuhanku. Berbalik badan membelakangiku. Sepertinya dia mulai menangis, aku bisa menangkap getaran kecil di bahunya.
“ kenapa tuan masih ingin menemuiku?” serak. Suaranya terdengar begitu serak, benar Zen sedang menangis.
“ kenapa? Memangnya kenapa aku tidak ingin menemuimu? Kau istriku. Apa salah seorang suami menemui istrinya?” langkahku semakin dekat.
__ADS_1
“ berhenti tuan. Aku, aku tidak pantas menjadi istrimu” kalimatnya lugas. Sepertinya dia sudah memikirkan kalimat ini sudah lama. Aku bisa memahami, rasa kekecewaan akan kebenaran ini membuatnya menyalahkan dirinya sendiri. Dia merasa telah menyakitiku.
“ Zen, hanya kau yang pantas menjadi istriku.” Aku akhirnya bisa memeluknya. Meski dari belakang. Zenia melakukan perlawanan kecil tapi dengan mudah aku tetap bisa menahannya.
“ tuan,, hiks,, lepaskan”
“ ssuutt, dengarkan aku. Kamu tak perlu merasa bersalah denganku. Semua ini bukan salahmu” membalik tubuhnya. Kami saling berhadapan tapi tidak saling berpandangan. Zenia masih menunduk menangis.
“ saya jahat kepada tuan. Selama ini beranggapan bahwa tuan adalah pembunuh keluarga saya. Berniat jahat pada ibuku. Tapi pada kenyataannya malah, malah ibuku yang,,”
“ sudah, semua ini tidak ada hubungannya denganmu. Hanya ada kesalapahaman. Jangan sedih aku tidak apa-apa” memeluknya dan mengusap kepalanya pelan. Aku bisa merasakan tendangan kecil dari perut Zen. Membuatku begitu bahagia.
“ tapi tuan, karena ibu saya, anda merasakan kesakitan itu, bahkan,,”
“ tapi selama ini kau membantuku mengurangi rasa sakit itu. Bukankah impas. Jika kau masih merasa bersalah, maka tebuslah dengan tetap disampingku.” Menyentuh kedua pipinya. Membawa wajahnya meilhatku. Matanya basah karena air mata, hidungnya ikut memerah. Manis sekali.
“ aku merasakan kemarahann dari anak kita. Dia memarahaiku karena telah membuat ibunya cemas” sambil mengusap air matanya. Meski sebentar, Zenia sempat tersenyum.
“ lebih baik kita masuk. Aku sudah sangat mengantuk” merangkul Zenia masuk dan berbaring di ranjang. Hal yang paling aku rindukan adalah mengelus perut buncitnya. Tendangan dari anak kami terasa tiada hentinya.
“ sepertinya anak kita sedang melepas rindu kepada ayahnya,” Zenia mengatakan dengan terus tersenyum. Rasa bahagia tercetak jelas diwajahnya. Membuatku ikut senang.
“ sepertinya begitu.”
“ iya, anak ayah rindu?. Baik-baik ya. Jangan keras-keras menendang nanti ibu kesakitan. “ kepalaku berada di depan perut Zen, mencoba berbicara dengan anak kami.
“ sudah malam tidur ya, “ mengelusnya kemudian mencium perut Zen. Zenia ikut mengelus rambutku pelan. Membuatku menatap wajah cantiknya. Kini kepalaku sudah sejajar dengan Zenia. Aku mendekatkan wajahku, mencium bibir merahnya. Zenia sedikit kaget dengan tindakanku.
“ tidurlah” menarik selimut menutupi tubuhnya lalu ikut berbaring di sampingnya.
__ADS_1
****
Pagi harinya setelah sarapan, Zoya mendekatiku. Tatapan matanya mencoba menariku. Dia sepertinya ingin berbicara berdua denganku. Memang banyak hal yang ingin aku tanyakan padanya juga.
“ apa yang ingin kau katakan?” kami sudah berada di taman belakang. Zenia sedang di kamar. Akhir-akhir ini perutnya sering mengalami kontraksi, jadi aku menyuruhnya banyak beristirahat. Aku dan Zoya duduk saling berhadapan. Hanya meja taman yang menjadi pemisah antara kami.
“ kau anak Kahla?” aku menatapnya penuh tanya. Kemana arah pertanyaan ini. Aku tidak akan serta merta menjawab.
“ untuk apa aku menjawabnya” aku memalingkan muka. Sungguh aku muak menatap wajahnya. Jika bukan karena dia ibu Zen, aku pasti sudah pergi.
“ aku salah. Kau memang anak Kahla. Selama ini aku tidak bisa menyadarinya. “ dia menunduk. Seakan merasa bersalah dengan kalimatnya itu. Suaranya begitu lemah.
“ apa pengaruhnya jika aku anak Kahla?” aku semakin penasaran dengan reaksinya. Sebenarnya kenapa dia menanyakan hal ini.
“ dia,, dia sahabatku, kami bahkan sudah seperti saudara. Aku, aku tidak tahu jika selama ini aku sudah salah. Aku bersalah padanya. “ jadi ini. Kesalapahaman yang permaisuri buat. Inilah alasannya dia menutupi fakta kelahiranku, menyembunyikan bahwa Kahla melahirkan seorang anak laki-laki. Membuatku menangani pemberontak yang ternyata mengenal ibuku.
“ aku sudah melakukan hal kejam padamu, tapi,,,” dia berhenti berkata-kata. Seakan menemukan sesuatu yang aneh.
“ selama ini kerajaan menutupi fakta ini. Bahkan mengubah kebenarannya. Kenapa?”
“ aku sendiri tidak tahu. Sepertinya permaisuri dalang dari semua ini. “
“ apa? Tapi kenapa? Untuk apa?”
“ kau berbicara seolah selama ini tidak mengetahui apapun. Bagaimana dengan mata-mata pemberontakmu. Apa kalian tidak bisa membaca situasinya?” aku menyeringai, dia bersikap sok polos di hadapanku. Yang benar saja.
“ apa maksudmu? Kami hanya ingin melengserkan kerajaan. Membalas semua perbuatan kaisarmu yang keji itu. Bagiamana bisa menghukum istrinya sendiri dengan begitu kejam.” Emosinya tersulut, kenapa dengan ayahku. Dia memang bersalah tapi apa urusannya juga dengannya.
“ dia masih tetap ayahku” balasku sinis.
“ iya, dia juga yang membunuh ibumu!”
__ADS_1