
Ketika semua penjaga sibuk menangani permaisuri kepalaku tiba-tiba pening. Rasanya tubuhku terkuliti. Sakit sekali. Aku tidak bisa menahan rasa sakit ini. Entah apa yang terjadi. Kenapa rasa sakit ini tiba-tiba aku rasakan. Bahkan telinganku berdenging, tak bisa mendengar suara apapun.
“ akkhh” teriakku. Jarvis menariku. Mulutnya seperti mengatakan sesuatu, tapi tak ada suara yang terdengar. Sampai kegelapan merenggut penglihatanku.
Indah, aku berada di taman penuh bunga. Sejuk nan indah.
Berjalan menyusuri pohon yang rindang, angin sejuk menemai dalam setiap langkah.
“ kemarilah” terdengar suara seorang wanita.
“ mendekatlah” suara itu seakan menggiringku untuk berjalan mendekat ke arah pondok tak jauh dari sana.
Dengan langkah pelan aku menuruti hatiku untuk mendekat. Baru mendorong pintu pelan, aku sudah bisa melhat sosok perempuan yang berdiri membelakangiku. Orang itu menatap jendela yang di depannya.
“ kau memaanggilku?” tanyaku sembari masuk ke dalam.
Mendengar pertanyaanku wanita itu berbalik badan. Rambutnya yang hitam panjang bergerak memutar menambah kecantikan dari wajah putihnya.
“ kau terlihat begitu tampan” keningku mengerut. Wanita ini mengenalku.
“ kau siapa?” wanita itu tersenyum tipis lalu memalingkan wajahnya, kembali menatap jendela. Membuatku penasaran sebenarnya apa yang sedang dia lihat darisana. Aku mendekat berdiri di sampingnya.
Aku menoleh ke wanita itu, pasalnya aku heran tidak ada apapun di luar.
“ tak ada apapun”
Wanita itu menoleh, wajahnya begitu teduh. Rasanya aku ingin memeluknya. Entah perasaanku seakan rindu berat padanya.
“ kau sudah sebesar ini” sudut matanya ada kilatan cahaya, lelehan air sudah terlihat mengalir. aku semakin berfikir siapa sebenarnya wanita anggun ini.
“ kau?”
“ lihatlah disana” aku kembali menatap jendela. Ada seorang wanita duduk di taman menghadap ke arah kami. Tapi aku tidak bisa melihat wajahnya, dia sedang bergurau dengan bayi kecil yang berada dalam gendongannya. Hatiku meleleh melihat pemandangan ini. Sampai pada wajah itu naik dan langsung melihat kami. Disana ada seorang wanita yang begitu aku kenal.
“ zenia,,” lirihku.
__ADS_1
“ kenapa dia ada disini?” kini pandanganku beralih pada wanita di sebelahku.
“ cantik, apa itu cucuku?” aku terdiam mendengar pertanyaanya.
“ ibu,,?” hal ini yang sedari tadi mengganggu pikiranku.
Bukannya menjawab malah tersenyum manis padaku. Aku mengamati dengan seksama wajahnya.
“ terimakasih, kau sudah memaafkan ayahmu. Kau anak yang baik” mengelus rambutku pelan. Wanita ini benar ibuku. Saat itu juga air mata kerinduan langsung membanjiri mataku. Sosok ibu yang selama ini aku cari kini berdiri tepat di depanku.
“ ibu, aku begitu merindukanmu” ingin sekali aku memeluknya, tapi baru satu langkah wanita itu malah mundur, menolak keinginanku.
“ mereka masih membutuhkanmu” bola matanya mengarah pada Zenia di luar sana.
“ aku sungguh ingin memelukmu. Apa ibu tidak menyayangiku?”
“ sstt, kau adalah hadiah terindah bagi ibu. Tidak mungkin ibu tidak menyanyangimu.”
“ tapi kau meninggalkanku.”
“ ini adalah takdirmu. Kau adalah anak laki-laki ibu yang kuat, pemberani dan penyanyang. Ibu bangga padamu.” Sejak pertama aku hidup sampai sekarang baru kali ini aku tidak bisa mengatur air mataku. Mereka bergitu deras mengalir tanpa bisa aku hentikan.
“ pergilah nak, ibu sudah bahagia dengan ayahmu” sejak kapan ada sosok laki-laki dibelakang ibu. Seberkas cahaya menyibak wajahnya. Lelaki itu ayah, dia tersenyum sambil memeluk ibu dari belakang.
Melihat hal ini aku sudah tidak ragu lagi.
“ terimakasih ibu ayah. Aku pergi” melangkah dengan yakin menuju Zenia. Cahaya mentari semakin terang saat aku mendekati pintu. Mataku silau sampai akhirnya sebuah panggilan menghilangkan semuanya.
“ yang mulia,,” seakan diriku tertarik pada suara ini. Aku membuka mataku.
“ akhirnya kau sadar, pelayan. Panggilkan tabib kemari” aku mendengar suara kegaduhan disana.
Fikiranku masih melayang. Kini aku berada di kamarku. Di istana putra mahkota.
“ jangan terlalu banyak bergerak, tabib akan memeriksa tubuh anda dulu” disana sudah ada Jarvis. Dia terlihat begitu mencemaskanku.
__ADS_1
Tak lama kemudian beberapa tabib datang, salah seorang langsung memeriksaku.
“ kondisi yang mulia masih belum stabil, beberapa luka lamanya juga belum sembuh. Jadi masih sangat membutuhkan istirahat.” Jelas tabib.
“ baiklah terimakasih, kau boleh pergi” saut Jarvis.
Aku berusaha untuk duduk, untung saja pelayan mengerti dan membantuku. Jarvis mengantar tabib sampai depan pintu kamar. Lalu kembali ke ranjangku.
“ ada yang ingin yang mulia tanyakan?”
“ hem, sudah berapa lama aku tak sadar?”
“ sekitar hampir satu pekan. “ aku kaget dengan jawaban yang aku dengar.
“ bagaimana dengan pemakaman ayah dan Zoya?” aku masih belum bisa tenang mengingat kejadian sebelumnya.
“ zoya sudah kami makamkan dengan layak. Sedangkan kaisar masih besok akan dilakukan upacara kematian. Selain itu berita tentang kematian kaisar sudah di umumkan beberapa hari yang lalu. Sekarang rakyat sedang melakaukan puasa untuk menghormati kepergian kaisar” jelas Jarvis panjang lebar.
“ baiklah, kau boleh pergi.” Jarvis pergi serta pelayan kamar. Aku beralih berbaring, tubuhku terasa lemas sekali. Masih saja bingung kenapa aku mengalami rasa sakit yang sangat. Mengetahui hampir satu pekan aku tak sadar membuatku tersadar bahwa rasa sakit ini tidak bisa dianggap remeh. Apa mungkin ini ada kaitannya dengan kematian Zoya dan kutukannya. Aku menyadari jika tusukkan itu memang tepat di jantung Zoya, jika benar maka seharusnya kutukanku sudah sirna.
Sudah sejak semalam aku hanya terbaring lemas di ranjang, siang ini setelah menyelesaikan sarapan bahkan makan siang aku keluar. Upacara kematian ayah sebentar lagi akan di laksanakan.
“ yang mulia,” Jarvis menyapaku saat keluar dari istana. Aku memang menyuruhnya menemaniku selama upacara.
Semua menteri serta kaum bangsawan sudah mengisi ruang upacara. Mereka menatapku sedari memasuki aula. Rasa sedih atas kematian ayah masih saja terasa sangat dalam. Di kursi kekaisaran tak ada siapun. Keluarga kekaisaran kini hanya aku yang tersisa. Aku menghembuskan nafas kasar menyadari hal ini. Kenaikan tahta ayah memang sudah membuat kekacauan besar. Bahkan seluruh keluarga kekaisaran berdampak sangat besar.
“ terimakasih sudah hadir pada upacara kematian kaisar Aeron. Dia adalah ayah terbaik bagiku.,,,,,”
Setelah meyelesaikan pidato, kini saatnya melakukan penguburan. Dengan menaiki kuda rombongan pergi menuju ke tanah pemakaman. Hari itu mendung bahkan hujan rintik ikut serta menemani perjalanan ini. Sangat sunyi dan sepi.
Aku terdiam melihat semua rangkaian acaranya. Menatap peti yang semakin turun tak lama tanah berhasil menutupi pandangan hingga tak terihat lagi peti ayah. Menabur bunga diatas makamnya. Tak bosan-bosannya aku menatap nisan bertuliskan nama ayah. Tepat di samping makam ayah ada makam bertuliskan Kahla. Meski semasa hidup ayah tak pernah menyebut nama itu bahkan menyembunyikan semua kebenarannya, tapi dia sendiri yang merawat makam ibu. Sekarang tepat di samping makam ibu, ayah beristirahat. Aku begitu senang ternyata selama ini cinta ayah tak pernah pudar.
__ADS_1
“ selamat berkumpul kembali ayah” liriku.