The Empero'S Prisoner

The Empero'S Prisoner
VII


__ADS_3

“ akhir dari rute ini mengarah pada berapa tempat?” Morgan memanggil beberapa mata-mata untuk melaporkannya secara langsung padaku.


“ lapor tuan, sejauh ini kami masih menemukan 5 tempat, di antaranya berpa markas serta pondok kosong”  


“ dari beberapa tempat itu mana yang paling dekat dengan kota Ennewait?” kedua mata-mata itu saling pandang, seperti kesulitan menjawab pertanyaanku.


“ di pengunungan sallanor, tapi kami tidak menemukan apapun disana. Hanya ada pondok kosong. Itupun tidak terurus bahkan nyaris rubuh”


“ pegunungan bukan tempat yang cocok untuk wanita hamil,” fikirku. Kemungkinan Zen tidak berada disana. Hanya bisa berharap pada 4 tempat lainnya.


“ yang,, tuan kenapa anda menanyakan hal itu?” Lucien menatapku penuh tanya.


“ aku berfikir mungkin saja mereka membawa Zen tidak jauh dari kota dimana kita menemukannya. Tapi sepertinya pegunungan bukan tempat yang cocok. Zen saat ini sedang hamil, mereka seharusnya menempatkannya di tempat yang lebih tenang dan aman” mereka mengangguk pelan saat mendengarkan penjelasannku.


“ sepertinyaa ada 2 tempat yang cocok. Di hutan Dwenyen atau di kota Denpar. Karena yang lainnya berada di pegunungan dan termasuk pondok yang sudah tak terurus. Tapi kami masih mencoba menghubungkan beberapa jalur lagi”


“ hutan Dweyen tidak jauh dari sini. “  Morgan mengerutkan kenignya dan menujuk peta jalur rahasia. Kami saat ini berada di kota Gorbala. Hanya perlu melewati kota Swen sebelum akhirnya masuk ke wilayah hutan Dweyen.


“ besok pagi kita berangkat” tintahku. Tidak ingin menunda waktu lagi. Masih banyak kemungkinan tempat. Jangan sampai pihak permaisuri yang menemukan Zen lebih dulu. Nyawa Zen serta kandungannya pasti dalam bahaya.


 


Setelah diskusi singkat tadi, kami langung masuk ke ruangan masing-masing. Mengistirahat tubuh serta fikiran. Beberapa bulan terakhir sunguh menguras tenaga. Mulai dari mengetahui fakta dari ayah serta situasi kerajaan yang semakin memanas. Permasisuri bahkan sudah mengambil langkah lebih dulu. Seharusnya aku bisa lebih waspada, semenjak mengathui jika dia bukanlah ibuku yang ku fifkirkan hanyalah menghindari dari mereka berdua. Ayah dan permaisuri. Nyatanya hal ini malah membuat ayah jatuh dalam perangkap wanita iblis itu.


 


Awalnya aku merasa bersalah dengan apa yang menimpa ayah, tapi dengan sikapnya yang angkuh menyuruhku melepas Zen, kini malah semakin membuatku membencinya. Ayah tidak hanya seorang yang angkuh tetapi juga seorang pecundang. Menghukum istrinya yang sudah melahirkan anaknya bahkan tidak mau mengatakan kebenarannya, setidaknya untuk menebus kesalahannya. Tetapi tidak, ayah masih saja menyembunyikan semuanya. Bahkan situasi sudah sangat genting seperti ini.  bukankah itu adalah seorang pecundang. Ayah begitu mengecewakan.


 


Seperti malam-malam sebelumnya, malam inipun aku sulit untuk terlelap, semua fikiranku tertuju hanya pada Zen seorang. Semakin hari kekhawatiranku semakin besar padanya. Andai saja aku tidak mengajaknya menyerbu markas waktu itu, mungkin semua hal ini tidak akan terjadi. Penyesalan, hanya itu yang tersisa.


 


Pagi telah tiba, tidak perlu membawa peralatan khusus, hanya pedang serta pakaian yang menempel saja.  Morgan dan Lucien sudah siap. Setelah menyelesaikan sarapan kami bertiga dan 2 orang mata-mata keluar memulai perjalanan. Cila sengaja di tinggal, itupun aku harus memberikan perintah khusus kepada Lucien yang berisi melarang mengikutsertakan wanita dalam misi ini. Setidaknya Cila akan jauh lebih aman disini. Tempat ini dijaga ketat oleh orang-orang terlatih. Tempatnya tersembunyi dan tidak mencolok. Awalnya Lucien sedikit menolak, untung saja kedudukanku tidak bisa dia anggap remeh, dengan berat hati Lucien menyutujuinya. Memang susah sekali memisahkan 2 orang yang sedang kasmaran ini.


 


“ kalian pimpin jalan” teriak Morgan kepada mata-mata.


Cah,cah, kami langsung memacu kuda. Tidak mau membuang waktu lagi. Fajar menjadi saksi atas keberangkatan kami. Terselip harapan untuk bisa menemukan Zen, meski dalam badai kesalapahaman yang terjadi sebelumnya.

__ADS_1


 


“ tuan tempat ini sudah kosong” salah satu mata-mata langsung melapor ketika berhasil memeriksa semua ruangan.


Kami baru saja sampai, dari luar tempat ini terlihat sepi. Bangunan yang lumayan besar ini tidak ada siapapun. Laporan mata-mata itu memnag benar adanya.


“ apa kalian yakin bahwa ini markas mereka?”


“ kami yakin tuan, sebelumnya tempat ini bahkan dijaga dengan ketat” tidak bisa. Ini tidak benar.


“ apa mereka menyadari kehadiran kalian?”


“ tidak tuan. Kami bahkan tidak bisa mendekati tempat ini dalam radius 10 kaki “


 


Jika memang seperti itu, ada alasan apa mereka mengosongkan markas. Apa mungkin mereka sedang merencankan sesuatu yang besar, atau terjadi sesuatu yang besar dalam kelompok mereka. Aku harus bisa menemukan alasannya.


 


“ atur jalan, kita langsung menuju tempat kedua”


Morgan dan Lucien kembali menaiki kuda. Tidak ada yang kami bicarakan. Morgan pasti sedang memikirkan masalah ini. Tunggu lihat tempat kedua, apakah kondisinya sama atau tidak.


 


 


“ tuan tempat ini juga kosong.”


Berhari-hari melakukan perjalanan, hanya kalimat menyakitkan ini yang ku dapat.


“ tuan sebaiknya kita istirahat sebentar, sekalian memikirkan rencana selanjutnya” morgan memapah kudanya untuk masuk ke markas kosong itu. Sebaiknya aku mengikuti permintaanya. Rasa lelah tercetak jelas di wajah mereka.


 


Kondisi markas begitu rapi di bagian depan. Tapi ketika masuk sepertinya di tinggalkan secara mendadak. Rasa penasaranku semakin besar. Langkah kaki tetap menyusuri kondisi markas. Hampir semua ruangan ditinggalkan tidak dalam kondisi terkunci. Semakin memudahkanku untuk menggeledah.


 


Dari semua ruangan, hanya ruangan ini yang terlihat begitu besar.

__ADS_1


Clek.


Pintu sedikit susah dibuka. Tapi akhirnya bisa terbuka setelah aku sedikit mendorong kuat.


Ruangan ini sepertinya pusat dari markas. Begitu banyak pembukuan serta meja-meja  tempat memeriksa berkas. Aku mengambil salah satu berkas. Berisi laporan keuangan harian. Tidak puas dengan itu, terus saja memeriksa pembukuan serta berkas.


 


“ tuan,,” Morgan masuk.


“ tepat sekali kau datang. Bantu aku memeriksa berkas-berkas ini. Mungkin kita bisa menemukan petunjuk”


“ baik tuan”


 


Beberapa saat kemudian kami sibuk dengan tugas masing-masing. Aku dengan pembukuan Morgan dengan berkas-berkas. Hampir semua tidak bisa memberikan petunjuk. Hampir saja menyerah saat aku menemukan buku paling tebal. Pembukuan ini berisi hal penting.


“ ini pembukuan tetang penyaluran barang-barang ke markas lainnya. Jelas sekali apa yang yang tertera disini. “ aku mendekati Morgan. Saat ini sedang duduk di salah satu meja.


 


“ tuan, ini juga berkas pemindahan anggota. Bahkan ada juga laporan situasi beberapa markas”


“ kita bawa untuk dibahas bersama” kami pergi meninggalkan ruangan itu. Menuju ke bagian depan dimana rombongan berada.


 


Disana mereka sedang menata beberapa makanan. Kemungkinan itu sisa-sisa dari dapur markas.


“ tuan makanlah” kami sudah beberapa hari tidak makan dengan teratur. Melihat hidangan sederhana ini sudah terlihat mewah.


 


“ kalian coba lihat ini” kami sudah menghabiskan makanan, ini saatnya membahas rencana selanjutnya.


“ di bagian mana saja kalian menemukan tempat dari rute-rute itu?” Morgan sedang memimpin pembahasan.


“ dari sini, sampai perbatasan. Di lain tempat rute masih terpotong tidak bisa menemukan tujuannya” semuanya mata tertuju pada peta.


“ kita hubungkan dengan temuan di pembukuan ini.”  

__ADS_1


Aku membuka lembarn penting dari buku ini. Disana tertera beberapa letak markas utama serta samaran. Dengan ini jelas, bahwa beberapa jalur dengan sengaja dibuat hanya digunakan untuk mengecoh.


__ADS_2