The Empero'S Prisoner

The Empero'S Prisoner
XXX


__ADS_3

Sesampainya di kota, aku segera melaksanakan rencanaku.


Sebenarnya kepergianku bukan hanya sekedar melaksanakan janji pada Hameera.


Namun juga untuk menghindari bertemu dengan Zenia. Aku masih harus bersikap


dingin padanya. Jika aku melunak Zenia pasti akan melakukan hal yang sama.


Tidak, aku tidak mau kehilangannya. Aku harus memberikan rasa takut padanya


sehingga dia bisa menurut.


Jadi menurutku membuatnya berfikir bahwa aku sudah berubah


dingin padanya adalah pilihan yang bagus. Dengan kata lain, dia akan berfikir


bahwa dirinya tidak bisa mempengaruhiku lagi, meskiun nyatanya tidak. Dulu dan sekarang


perasaanku tidaklah berubah. Ini akan menjadi rahasiaku sendiri.


Kembli pada rencanaku. Awal dari rencanaku adalah menjadi


bangsawan yang mencari teman bisnis. Nantinya mereka akan kehilangan semua


harta dan kedudukan. Aku pastikan begitu. Ares beserta kawananya akan mengurus


di lapangan sedangkan aku akan mengurus birokrasi. Tentu saja semua ini mudah.


Dan akhirnya tidak sampai dua minggu semua sudah beres, aku


tinggal mempesiapkan diriku kembali ke kerajaan.


Saat ini aku tengah memandang penuh kepuasan pada sekolpmok


keluarga. Semua rencanaku berjalan dengan mulus. Melihat tangis mereka aku


berdoa semoga Hameera di disana bisa melihat rasa keadilan yang sudah aku


bayaran. Mantan suaminya memilih untuk bunuh diri sedang istri keduanya harus


menjadi rakyat jelata, beserta anaknya.


 Setelah puas menyaksikan


tangis hari biru, aku memutuskan untuksegera memasuki kereta kudaku. Setelah


beberapa saat berjalan,dari jendela aku bisa menangkap dua orang yang sedang


berbincang. Keduanya aku mengenalnya. Salah satu dari mereka melihat


kehadiranku, kusuruh kereta untuk berhenti sejenak.


“ ada urusan apa kau bertemu lelaki itu?” tanyaku kepada Ares


saat melihatnya  selesai berbincang


dengan lelaki yang ku yakini sebagai kekasih Zenia.


“ lelaki itu yang mulia, sebenarnya dia adalah kawan lama,


kelompok api biru. Sudah lama saya tidak mengetahui keberadaanya,”


“dia, lelaki yang selama ini menyembunyikan Zenia” jawabku


datar. Aku ingin tahu bagaimana reaksi Ares, apa mungkin dia jua berkomplotan


dengan Alba.


“ apa? Saya rasa itu tidak mungkin yang mulia. Dia mengatakan


jika selama ini dia bersembunyi di desa tengah hutan” jawab Ares begitu yakin.


Aku mulai memiliki pemikiran jika mungkin selama ini Zenia hanya


berdua dengan Morgan kemudian dia tidak sengaja menemukan tempat Alba


bersembunyi. Ada hal yang perlu aku dalami. Lebih baik aku menenanyakan hal ini


kepada Zenia. Apalagi dengan ketidak beradaan Morgan sekarang. Bisa jadi lelaki


itu memiliki rencana lain.


Perjalanan masih berlanjut, butuh satu hari untuk bisa memasuki


ibukota. Kereta kuda ini tak bsa menyaingi lahkag cepat kuda perangku. Lambat


sekali.


Sesampainya di kerajaan. Aku segera masuk ke kediaman, rasanya


kangen sekali memeluk Aidyn. Jagoan kecilku yang tampan.


“ kemari, ayoo” sayup-sayup suara lembut menyambut kedatanganku.


Aku berjalan lebih lamban agar tidak menimbulkan suara. Begitu ada dayang


melihat aku segera memberikan koe agar tidak mengatakan apapun.

__ADS_1


“ anak pintar, Aidyn.,, ayo..” begitu sampai di pintu, seorang


wanita sedang memunggungiku. Dia terduduk dengan ditemani beberapa dayang.


Sepertinya Zen sedang mengajari Aidyn berdiri.


“ yang mulia” ucap salah satu dayang. Karena terlalu


memperhatikan Zenia aku kalah cepat dengan perhatian dayang. Seketika Zenia


menoleh dan berdiri sambil menggendong Aidyn. Aku melangkah masuk.


“ kalian pergilah, dan bawa putra mahkota” perintahku. Eski Zen


terlihat bingung dan enggan memberikan Aidyn, namun akhirnya dia mengalah.


“ siapkan pemandian untukku” ucapku ketika para dayang sudah


pergi. Zenia terlihat ragu-ragu.


“ saya akan siapkan” ucapnya lembut kemudian menghilang di pintu


pemandian.


Aku berjalan menuju balkon, angin sore segera menerpa wajahku.


Biasanya hanya helaan nafas putus asa yang aku berikan saat berada di balkon.


kini berbeda, helaan nafas kali ini penuh kelegaan. Rasanya begitu berbeda,


hatiku entah kenapa bisa seringan ini. Aku akui kederadaan Zen disini sudah


sangat membantu, aku tidak memiliki harapan apapun selain bisa seperti ini


selamanya. Tetap dengan keadaan yang jauh lebih baik, mungkin lain kali bisa


berdiri bersama Zen. Saling berpelukan dan bercanda seperti dulu. Aku sangat


menginginkan hal itu terjadi.


“ pemandian sudah siap. Yang mulia” lamunanku pecah. Aku


mengangguk pelan sebelum akhirnya berjalan masuk.


“layani aku” ucapku pada Zen.


Dia berjalan mendekat dan mulai melepaskan pakaianku. Hal ini


mengingatkanku saat dia masih menjadi pelayan kecilku. Sangat patuh padaku.


Tangan lembutnya menyentuhku pelan. Aku dengan seksama terus menatapnya dalam.


Membuatku tersadar waktu terlah berjalan cukup cepat. Perjalanan kami begitu


panjang hingga sampai pada saat ini.


Setelah selesai, aku berjalan memasuki kolam. Hanya menyisakan


celana yang aku kenakan. Zenia mulai mengambil kain dan menggosok badanku dari


tepi kolam. Aku memunggunginya menempelkan punggungku pada tepi kolam.


“ kenapa kau kembali?” tanyaku. Ini waktu yang tepat untuk


memastikan semuanya.


“ saya ..”


“ jelaskan semuanya pdaku tentang lelaki itu” aku terus


menuntutnya.


“ setelah tuan datang dan mengambil Aidyn. Rasanya aku tidak


bisa hidup lagi. Meski paman Morgan menghalangku namun aku meminta Alba


membawaku kemari. Dan setelah mendengar semuanya aku jadi merasa bodoh. Selama


ini hanya mendengar dari orang lain, tidak langsung menanyakan pad tuan.


Kematian ibunda membuat saya tidak bisa kembali bersama tuan. Saya takut


mengecewakan ibunda, jadi saya memilih untuk pergi..” aku bisa menangkap nada


lemahnya dan rasa bersalahnya.


Aku membalikkan badan, zenia menangis.


“ kemarilah” aku menarik tubuhnya sehingga masuk ke kolam.


“ aku berfikir bahwa kau sudah melupakan aku dan memiliki


kekasih lain” aku memegang pipinya, mengusapnya bibirnya.


“ saya  tidak mungkin


melupakan tuan” bibir mungilnya terbuka dan membuatku ingin melahapnya.

__ADS_1


Kalimatnya seakan meprovokasiku untuk segera mencicipinya.


“ waktu itu begitu menyiksa, terkadang saya ingin sekali berlari


menemui tuan. Namun rasa bersalah selalu menahan kaki saya” air matanya


mengalir deras, Zen tidak pernah melupakan aku. Kami sama-sama tersiksa.


“ shuut, jangan menangis. Kini semuanya sudah selesai” aku


mengusap air matanya.


“ maafkan saya tuan, saya sudah ..” aku segera memutup bibirnya


dengan bibirku. Aku sudah tidak bisa menahannya. Bibir mungil itu terus saja


bergerak dan memancingku.


Kami terus berlanjut, aku memang menuntunya. Aku ingin


memastikannya secara sadar saat wanita ini memuaskanku, tidak seperti malam


itu. Kali ini aku akan melakukannya dengan penuh kesadaran.


Malam sudah sangat larut ketika aku turun dari ranjang. Zen


masih terlelap di sampingku. Sepertinya aku sedikit keterlaluan. Berjalan


menuju pintu keluar. Aku meminta pelayan untuk segera menyiapkan makan malam.


Kami belum makan semenjak sore tadi.


Beberapa saat kemudian ada ketukan pintu, setelah memastikan


tubuh Zen tertutupi selimut baru aku memperbolehkan pelayan masuk.


“ yang mulia makanan sudah siap,”


“ bawa masuk” aku bisa melihat pelayan itu mencuri-curi pandang


ranjangku. Mereka pasti belum mengetahui siapa wanita itu. Sepertinya aku harus


memberikan pengumuman resmi atas kembalinya Zen ke kerajaan, agar statusnya


jelas dan tidak diremehkan seperti awal kedatangannya.


Setelah makan malam siap dan pelayan keluar, aku mendekati


ranjang.


“ Zen bangunlah” sambil mengusap pipinya pelan. Dia hanya


menggeliat dan mengganti posisinya.


“ zen,,” aku kembali membangunkannya. Dia masih lelap dalam


tidur. Aku memutuskan untuk menutup hidungnya.


“ tuan..” akhirnya dia tersadar. Meski dengan tatapan


kebingungan.


“ bangunlah, sejak tadi sore aku belum makan” aku terus saja


mengusap pipinya. Zen melirik meja makan yang penuh dengan hidangan. Tiba-tiba


saja..


Kriukk,,, suara perut Zen.


Aku tersenyum dan segera membantu Zen bangkit. Dia terlihat


antusias dan kelaparan. Setelah memakaikan jubah satin kami berdua mendekati


meja makan.


“ tuan tau sekali jika saya lapar tadi saja mimpi makan” zen


tersenyum riang. Aku terdiam menatapnya seakan tak pecaya jika Zenku sudah


kembali.


“ tuan .” zen menyadari lamunanku.


“ ah ya”


“ tuan tidak makan?” dengan mulutnya yang masih mengunyah


makanan.


“ iyya,” dia segera memberikan beberapa hidangan padaku.


“ makanlah yang banyak nanti kita teruskan lagi “ lanjutku


sambil mengedipkan sebelah mata. Zen yang melihatnya seakan kaget dan salah


tingkah. Dia pasti tau kemana arah kalimatku. Terbukti dengan wajahnya yang

__ADS_1


tiba-tiba memerah.


__ADS_2