
“ s,,saya tidak, tidak tahu” cicit Cila. Dia masih kekeh tidak mengungkapkan. Ku rasa tidak mungkin dia tidak tahu, dia bersedia terluka seperti itu pasti ada hal penting yang sedang di sembunyikan. Hubungan diantara mereka cukup dekat untuk saling bertukar suka duka.
“ aku tidak pernah basa-basi “ mengangkat pedang. Benar-benar tidak sedang dalam suasana hati yang baik. Saat ini waktu yang salah jika ingin menguji kesabaranku. Dengan sekali tebas mungkin Lucien tidak akan selamat. Tangan baru mengayun mendekat leher Lucien.
“ tidak!” Cila berteriak kencang.
“ saya akan mengatakan semua yang saya tau” dia besimpuh. Mendekat ke arah Lucien.
“ saya mohon jangan sakiti pengawal Lucien. Dia tidak tahu apapun” bagus, kenapa harus dengan mengulur waktu. Cila ingin bersujud di bawah kakiku.
Trang...
Pedang itu aku lempar di depan Lucien. Aku berjalan ke meja kerja.
“ katakanlah” tintahku. Lucien meraup nafas sebanyak-banyaknya. Aku tahu dia menahan nafasnya sedari tadi. Meski sudah lama bersama denganku, dia tahu benar jika aku sudah marah tidak ada satupun yang bisa mencegahnya. Itulah alasannya dia tetap diam tidak melawan ataupun bersuara ketika aku meletakkan pedang di lehernya. Kulihat cila mengusap air matanya, mencoba menguat dirinya untuk menjawab pertanyaanku.
“ semenjak berita tentang pernikahan yang mulia, selir selalu merasa kalau sebentar lagi perhatian yang mulia akan berkurang. Selir tidak pernah tenang sampai akhirnya memilih untuk keluar kerajaan untuk mencari pembunuh ibunya. Selir memang sudah mengira jika recananya mungkin membuatnya tidak akan pernah bisa kembali ke kerajaan. Dengan adanya putri mahkota, selir berharap yang mulia tidak akan merasa kesepian. “ konyol sekali, mendengar apa yang Zen rasakan saat itu membuatku ingin tertawa. Ternyata dia memang cemburu dan sakit hati. Zen tidak pernah mengerti dan membaca perasaanku sesungguhnya. apa mungkin dia membiarkan aku menyentuhnya karena dia tahu bahwa mungkin itu kesempatan terakhir bersamaku.
“ awalnya selir ingin pergi saat pernikahan yang mulia, tapi harus menundanya karena insiden pendarahan itu. Awalnya saya fikir selir sudah mengurungkan niatnya. Tapi malam itu selir mengetahui surat rahasia dari ruang kerja yang mulia. Kami kemudian mencoba memahami isi surat itu. Selir meyakini jika isi surat itu adalah tentang keberadaan pemberontak. Jadi niat kepergiannya langsung timbul saai itu juga” ternyata Zenku semakin lihai dalam bersandiwara. Selain itu kecerdasannnya semakin meningkat, bagaimana bisa dia mampu memecahkan isi surat itu. Aku tidak boleh meremehkannya sekarang. Rencannya tersusun dengan rapi. Aku bahkan tidak menyadarinya.
“ apa yang membuatnya yakin bahwa pembunuh ibunya adalah kelompok pemberontak?” cila terlihat semakin panik.
“ s,,saya awalnya tidak tau, tapi selir mengatakan jika dia menemukan gelang ibunya di markas mereka. “ kapan dia menemukan benda itu. Markas pemberontak. Dia pasti menemukannya ketika aku mengajaknya menyerbu markas beberapa waktu lalu. Jadi sudah selama itu dia menyembukan semua ini. Jadi benar, Zen masih belum sepenuhnya percaya padaku. Dia pandai membuatku percaya bahwa dia sudah menjadi Zen ku yang dulu, nyatanya hatinya terus saja meragukan perkataanku.
__ADS_1
“ lalu bagaimana dia bisa bergabung dengan kelompok itu?”
“ saya tidak tahu yang mulia, saat itu kami hanya mengenal Ares karena membantu kami menuju ke kota Laqoka.”
“ malam itu kalian bahkan bersama mereka melawanku.”
“ saat itu kami sedang membuntuti yang mulia, kemudian kehilangan jejak. Ternyata Ares serta temannya berada di lokasi yang sama. Akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan mereka sembari mencari keberadaan anda. Kami tidak tahu jika ternyata Ares adalah bagian dari pemberontak”
“ saat itu kenapa tidak membuka topeng kalian dan membantu kami menangkap mereka? Kau bahkan harus menerima luka pedang dari kekasihmu itu” melirik ke arah Lucien yang diam ikut mendengarakan penjelasan Cilla.
“ karena Selir yakin mereka adalah anggota pemberontak, jika membuka penyamaran saat itu maka kesempatan untuk bergabung dengan mereka akan gagal.” Jadi wanita yang melawanku memang benar adalah Zen. Awalnya aku sempat meragukannya karena gerakanya begitu lincah, tapi kini penasaranku hilang. Bela diri Zen cukup bagus, fokus sampai bisa menjatuhkan pedang yang ku genggam. Pelatihannya cukup berhasil, padahal awalnya itu adalah alasanku untuk mengulur waktu. Tidak memiliki keyakinan jika Zen mampu menguasai kemampuan lapangan seperti itu.
“ wanitaku semakin pintar” gumanku.
“ mereka memiliki jalur khusus, saat itu juga kami melewati jalur itu saat masuk ke kota Laqoka. Jalur itu begitu rahasia. Penuh dengan juranng dan terjal”
“ jalur rahasia.” Pintar sekali. Selama ini aku tidak pernah memiliki kecurigaan ini. Mungkin inilah alasannya mereka begitu mudah datang dan pergi. Jejak mereka begitu bersih karena memang terhapus melalui jalur rahasia ini.
“ iya yang mulia” jawab Cila yakin.
“ kau berikan arahan mengenai keberadaan jalur itu kepada Lucien. Aku ingin besok mata-mataku sudah bisa mengawasi jalur itu”
“ baik yang mulia.”
“ pergilah”
__ADS_1
Baik Cila maupun Lucien terlihat tak ingin berlama-lama lagi. Mereka bergegas keluar. Mungkin masih ada rasa takut jika aku akan berubah fikiran dan melakukan hal menakutkan seperti barusan. Melihat mereka yang saling peduli terkadang membuatku iri. Kisah mereka tidak serumit kisah cintaku. Untuk kembali bersatu saja masih harus melalui banyak rintangan. Merasa khawatir apakah semuanya bisa kembali seperti dulu atau tidak.
“Zen entah bagaimana keadaanmu sekarang, apakah kau benar-benar mempercayai bahwa aku pembunuh ayahmu” lirihku. Rasa rindu ini semakin mejerat dadaku. Sesak. Terasa sesak setiap hari. Apa benar kita tidak di takdirkan bersama. Jika memang benar, apa yang harus aku lakukan untuk menentang takdir itu.
****
Sesuai dengan keinginnku, pagi ini keberadaan jalur rahasia sudah bisa di temukan. Mata-mataku sudah mendapatkan informasi mengenai pergerakan mereka. Sebentar lagi kuharap keberadaan Zen sudah bisa di dapatkan.
“ yang mulia. Kaisar meminta anda untuk memasuki istana kekaisaran.” Aku sedang memeriksa setumpuk laporan kerajaan. Semakin hari laporan yang di kirim semakin banyak. Terjadi kasus-kasus aneh yang mengharuskan perombakan jabatan. Untung saja pengikut setiaku beberapa masih bertahan. Posisi jabatan kerajaan saat ini begitu penting. Jika tidak di tangani dengan benar, maka kenaikan tahta permaisuri akan mudah untuk terjadi.
“ aku tidak memiliki hal untuk dibicarakan dengan ayah” dia masih kekeh menyuruhku melepaskan Zen, tidak ada pilihan selain menjaga jarak dengan ayah.
“ sepertinya ini mengenai hukuman untuk putri mahkota. “ ah ya, wanita itu hampir saja aku melupakan kejadian itu. Entah bagaimana kabarnya di penjara. Mungkin sudah mati ketakutan melihat tikus-tikus penjara yang begitu banyak. Apalagi aku menempatkannya di penjara bagian dalam.
“ aku tidak peduli lagi dengan wanita itu” meneruskan membaca laporan kerajaan.
“ tapi yang mulia, jika anda tidak pergi mungkin saja masalah ini akan di ambil alih permaisuri. Bagaimanapun permaisuri pemegang kekuasaan di istana harem”
“ mereka berdua kini terlihat sama. pengganggu saja”
__ADS_1
Membuatku tidak ada pilihan selain mengindahkan permintaan ayah. Persoalan putri mahkota, bahkan pelayan saja tahu seberapa beratnya hukuman yang seharusnya di berikan. Kenapa masih perlu mendiskusikan lagi.