
“ apa itu putra mahkota dan selir?”
“ kamu akan tau nanti, hari sudah malam. Lebih baik kita tidur” Tuan En membantuku menaiki ranjang,
“hati-hati perutmu.” Dia memerlakukanku dengan penuh perhatian. Berbeda dengan Ares, tuan En langsung berbaring di sampingku. Satu selimut denganku. Tak lupa tangannya terus mengelus pelan perut. Dan senyumnya tak pernah luntur dari wajah tampannya.
“ aku begitu bahagia bisa menemukanmu, dan melihat perutmu yang buncit ini semakin membuat senang. Terimaksih Zen” menyium kening. Ini pertama kalinya seseorang menyium keningku selain ibu. Begitu senang berdekatan dengannya.
“ tuan En apa benar kau adalah suamiku? Kenapa ibu tidak mengatakan apapun.”
“ emm, aku benar suamimu. Mungkin ibu lupa”
Tuan En terus saja menatapku, ada apa sebenarnya.
“ tuan kenapa tidak tidur?”
“ aku takut kau pergi lagi”
“ Zen tidak akan pergi. “
Tiba-tiba tuan En mencium bibirku. Sontak membuatku kaget. Sehingga mendorong tubuh tuan En menjauh. Tapi tidak bisa, tuan En begitu kuat.
“ tuan En, jangan menciumku lama-lama. Zen tidak bisa bernafas”
“ sejak kecil kau memang menggemaskan Zen. Membuatku mengingat masa kecilmu dulu. Begitu manis ”
“ maksud tuan En?”
“ kemarilah, karena kita suami istri. Malam ini aku tunjukkan bagaiman hubungan suami istri itu. “
“ hubungan apa?”
Tuan En tidak menjawab pertanyaanku, malah tangannya terus menyentuh tubuhku. Tidak tahu apa yang sebenarnya tuan En lakukan, aku menurut saja. Tuan En begitu lembut dan mempesonakan. Tidak sanggup menolaknya.
****
Pagi hari ini aku terbangun tanpa memakai baju, malu sekali. Tuan En juga sama, tanpa baju memelukku erat. Memang semalam aku melakukan hal yanga aneh, tapi sedikit menyenangkan. Hal yang tak pernah dilakukan Ares kepadaku. Mereka berdua begitu berbeda.
“ tuan En, bangun. Lepaskan tangan ini.”
“ emm,, masih pagi Zen”
“ perut Zen sakit”
“ apa? Mana yang sakit?” tuan En langsung membuka mata dan sekaligus menyingkap selimut untuk melihat perutku.
“ tuan !!!” dadaku terlihat jelas sekarang.
__ADS_1
“ kenapa? Mana yang sakit?”
“ Zen mau pipis, jadi perut Zen sakit karena menahan nya”
Berbegas memaki baju yang terlampir, dan meninggalkan tuan En. Benar-benar memalukan. Tidak pakai baju di depan orang. Aku jadi sebal karena tuan En. Seenaknya menyingkap selimut itu.
Rasa kesal ini terus berlanjut sampai sarapan berlangsung, apalagi hanya berdua dengan tuan En didalam kamar, ini benar-benar memalukan.
“ sejak tadi kau diam terus, kenapa?” tuan En mengajakku mengobrol, sejak tadi bertanya tidak aku hiraukan.
“ zen, kau masih marah?”
“ aku mau pulang, aku akan mengatakan pada ibu jika tuan En membuat Zen telanjang”
“ besttt,, kau yakin? “ tuan En tertawa mendengar perkataanku
“ iyaa,” tegasku.
“ kau tidak memiliki ibu Zen”
“ tidak, Zen punya ibu dan ayah tiri. “
“ oh ya? Siapa nama ibumu?”
“ Zoya, ayahku Alan. Suamiku Ares.”
Tuan En terlihat kaget. Bahkan dia menjatuhkan garpunya setelah mendengar perkataanku.
“ tidak, kau tidak boleh pulang” raut wajahnya berubah menakutkan
“ tidak Zen, kau harus ikut denganku.” Tuan En sedikit meninggikan suaranya. Jika sudah seperti ini, membuatku takut berdekatan dengannya.
“ aku tidak mau.” Aku beranjak dan mulai berjalan keluar.
“ Zen, sudah ku bilang kau tidak boleh pulang”
“ tapi zen mau pulang, tuan En jahat. Hiks hiks”
“ suutt,, maaf ya. Zen harus menurut ya. “
“ zen mau pulang”
“ tidak mereka itu kelompok pembunuh Zen”
“ bukan mereka bukan pembunuh”
“ zen dengarkan aku, kedua orang tuamu sudah meninggal. Kamu pergi kesana karena ingin menemukan pembunuh ibumu. Selama 5 tahun ini kau tinggal bersamaku. Ingatlah Zen. Kau adalah istriku, ibu dari anak-anakku. Apa kau tidak kasihan dengan bayi ini. Kau ingin memisahkannya dengan ayahnya. Ku mohon jangan pergi, mereka orang-orang jahat Zen”
“ tidak, mereka bukan pembunuh. Tuan En jangan bohong padaku”
“ zen ku mohon demi bayi ini jangan pergi ya..”
“ bayi,, “
“bayiku, ibu,, bayiku. Perut ku sakit bu. Putra mahkota itu membunuh ayahmu. Tidak. Pembunuh ayaku adalah ayah dari bayiku. Mau sampai kapan kau mau menyembunyikannya. Enrick membunuh ayahnya..”
__ADS_1
Suara itu, siapa yang mengatakannya. Tidak,, kepalaku semakin pusing.
“ zen,, kau kenapa, zen” padanganku sudah menjadi gelap saat terdengar teriakan itu.
Aku berada didalam rumah lamaku. Bersama ibu dan ayah memakan hasil buruan ayah. Sudah sejak kemarin kami tidak memakan apapun. Hari ini begitu ditunggu. Kepulangan ayah dengan membawa hewan buruan.
“ ayah, besok kita bisa makan lagi kan?”
“ tentu, ayah membawa buruan banyak. Zen lihat sendirikan tadi. Satu rusa dan kelinci yang gemuk”
“ iyaa, zen jadi bisa makan sampai kenyang.”
“ makanlah” ibu memberiku daging bakar lagi.
Tiba-tiba ada angin keras sekali menghempas, aku menutup mata agar tidak terkena debu. Tapi ketika aku membuka mata, ibu dan ayah sudah tidak ada. Aku makan sendiri.
“ ibu,, ayah..” terus memanggil mereka. Tapi merka tak kunjung datang.
“ibu... ayah...”
“ zen,, zen,” suara itu..
“ kau tak apa?” disana sudah ada tuan En. Aku mengingatnya. Semuanya kejadian sebelumnya. Tuan En menggengam tanganku erat. Seketika membuat hatiku memanas. Dia , lelaki ini telah membunuh ayahku. Seharusnya aku tidak sebodoh ini.
“ lepas,,” meyentak tangan tuan En.
Aku ingin segera menyingkirkan tubuhnya dan turun dari ranjang.
“ zen, kau mau kemana? “
“ tentu saja pergi dari sini. Tuan En jangan menghalangiku”
“ zen, apa kau masih belum paham. Kau tidak memiliki ibu. Kedua orang tuamu sudah meninggal”
“ kenapa tuan En begitu yakin. Apa tuan En melihatnya sendiri, jika mereka sudah meninggal?”
“ apa maksud dari ucapanmu?”
“ jangan berpura-pura tuan. Kau begitu yakin akan kematian kedua orang tuaku. Karena kau adalah pembunuh ayahku. Bukan begitu?”
“ siapa yang mengatakan hal ini padamu?” tuan En menatapku tajam. Kini kami berdua saling berhadapan, berdiri di samping ranjang.
“ kenapa? Kamu tidak mengira aku akan tahu kebenaran ini? “
“ mereka pasti membohongimu”
“ aku sudah mengingat semuanya yang mulia putra mahkota. Jadi ku tegaskan sekali lagi, aku sudah tau bahwa kau adalah pembunuh ayahku. Mulai sekarang hubungan kita selesai sampai disini.”
Berjalan meninggalkannya. Lelehan air mata ini terus mengalir mengiringi setiap langkahku. Ternyata hari ini datang juga, dimana aku benar-benar tidak bisa kembali ke sisi tuan En.
“aku bukan pembunuh ayahmu. Saat itu ayahmu sudah tewas ketika aku masuk”
__ADS_1
“ kau ingin membohongiku?” berhenti dan membalikkan badanku. Menatap sosok tuan En, mencari kebenaran dalam kalimatnya.