The Empero'S Prisoner

The Empero'S Prisoner
36


__ADS_3

“ nyonya, waktu sudah sore. Lebih baik kita kembali”


Setelah hampir satu bulan tidak berlatih, rasanya tubuhku benar-benar kehilangan kemampuan. Beberapa kali harus gagal memanah ataupun mengingat taktik pertahanan diri. Belum lagi kondisi tubuh yang sering lelah, staminaku menjadi menurun. Harus makan beberapa makanan tambahan untuk membalikkan staminaku.


 


Baru sampai dihalaman depan istanaku kak Lu sudah memberikan kode untuk segera masuk. Tuan En sudah berada di istana, padahal baru kemarin tidak berkunjung.


“ ada keperluan apa tuan En datang kemari?” tak mau basa-basi langsung saja menanyakan keperluannya. Ingin memberinya sedikit pelajaran.


“ aku sudah menunggu lama, apa kamu bisa sedikit lebih lembut padaku?” tuan En beranjak dan berjalan mendekat.


“ saya sudah mengatakan jika akan memulai latihan sampai menjelang sore, “berjalan menjauh, sedikit menjaga jarak bagaimanapun aromaku cukup menyengat.


“ kemarilah, aku merindukanmu” sambil menarik tanganku.


“ maaf tuan, saya baru selesai latihan. Jadi tidak pantas berada didekat tuan “


“ baiklah, aku akan menunggu. Bersiaplah”


 


Memberikan kode Cila untuk membantuku membersihkan diri dan bersiap. Tuan En mungkin berencana makan malam disini. Semenjak malam itu tuan En memang terlihat lebih santai dan terbuka. Tapi tidak membuatnya berbagi beban denganku. Dalam diri tuan En memanglah berniat melindungiku, sangat jelas aku rasakan.


 


Setelah penampilan lebih sopan, aku keluar menemui tuan En yang sedang bersantai di taman samping.


“ ku dengar putri mahkota melarangmu melayaniku. Apa karena itu kamu mulai dingin padaku” langsung merangkul pinggang dan menariknya menempel di tubuhnya.


“ tidak, saya tidak bisa dilarang orang lain selain tuan En” jawabku sambil melepaskan rangkulannya. Berjalan menuju kursi taman, dan mulai mengambil kudapan.


“ Zen ku semakin pintar” ikut duduk dan menyapiku kue.


“ hanya saja tuan En jangan terlalu mengucilkan putri mahkota. Dia tidak memiliki sandaran di kerajaan ini”


“ menurutmu begitu? Kamu harus tahu, dari semua putri bangsawan, hanya dia satu-satunya yang langsung terpilih menjadi putri mahkota. Mana mungkin tidak memiliki sandaran” baru mengetahui fakta ini.


“ kaisar sendiri yang memilih, kalau bukan orangnya permaisuri pasti orangnya sekertaris kerajaan. Aku tidak sebodoh itu sampai tidak melihat siasat mereka.” Lanjut tuan En yang melihat keterkejutanku atas berita ini. Setelah itu mengambil teh karena sadar tenggorokanku kering.


“ tunggu sampai kamu melahirkan penerus kerajaan, posisimu akan jauh di atas putri mahkota”


 


Uhuk,,uhuk


“ kenapa tidak langsung saja menjadikanku putri mahkota” tanpa pikir panjang langsung menanyakan hal yang sedikit menjanggal hatiku.

__ADS_1


Tuan En diam, membuat pandanganku beralih pada maniknya yang gelap.


“ aku hanya tak ingin menjadikanmu sasaran mereka”


“ mereka siapa?” semakin menarik keingintahuanku.


“ kamu tak perlu tahu, aku hanya ingin melindungimu” nada suaranya terdengar menyesal, apa tuan En sedih karena hal ini. Tidak bisa menjadikanku putri mahkota. Padahal tidak ada niat untuk menetap di istana, aku hanya iseng menanyakanya karena kesal saja.  


“ maaf sudah menanyakan hal ini” sambil menggegam tangan tuan En.


“ aku sudah menunggu pertanyaan ini, bahkan berfikir ini hanya kekhawatiranku semata. Ternyata kamu sudah ingin disampingku sekarang” menoleh dan tersenyum padaku.


“ emm,, mungkin begitu” malu tapi akhirnya harus mengakui hal itu.


 


Sesuai dugaan tuan En memang berniat makan malam disini, tak hanya itu bermalam juga. Tak keberatan jadi tak perlu menolak atau mengusirnya.


“ mulai besok aku akan memindahkan beberapa baju kemari, jadi bisa lebih lama jika berkunjung”


“ maksud tuan bisa menginap seenaknya disini?” tuan En berjalan menaiki ranjang setelah membersihkan diri, sedang aku sudah berbaring berselimut di tengah ranjang.


“ tentu, bermalam disini jauh lebih manarik” terdengar ada nada mesum dalam jawaban tuan En.


“ kalau begitu biar saya yang menepati istana putra mahkota. Jadi tuan bisa leluasa jika ingin menginap disini”


“ menarik yang tuan maksud adalah dengan memanfaatkan tubuh saya?” giliran aku yang menindih tuan En, duduk diatas perutnya yang kokoh.


“ aku memang suka Zen ku yang berani. Tapi tidak malam ini,,” langsung membalik keadaan. Malam menjadi panjang tanpa beristirahat. Tuan En tidak akan membuang kesempatannya. Malam bergairah penuh kenikmatan.


 


Setelah menghabiskan malam yang panas, tentu saja bangun lebih siang dengan perut kelaparan. Bahkan sebelum membersihkan diri sudah menyuruh pelayan untuk menyiapkan sarapan. Tuan En masih tertidur nyenyak saat mereka menata menu makanan. Aku sengaja mengadakan sarapan di dalam kamar. Untuk lebih leluasa dalam berbusana. Meski sedkit memalukan ketika pelayan harus melihat sedikit sisa-sisa malam kami. Setelah makanan siap, aku yang hanya memakai tunik sampai selutut langsung duduk tenang sambil memilih menu apa yang akan dimakan lebih dulu. Tak perlu membangunkan tuan En, kalau lapar dia pasti bangun sendiri.


 


Setelah kenyang, langsung menuju pemandian. Tubuh rasanya lengket dan memiliki aroma yang menyengat. Cila tak perlu membantu membersihkan diri ketika saat malamnya harus melayani tuan En. Tak ingin melihat semua hasil keganasan tuan En pada tubuhku. Dia masih sangat polos, membuatku malu jika nanti menanyakan sesuatunya.


“ yang mulia selir, putri mahkota datang berkunjung” baru saja aku mengeringkan rambut. Saat Cila memberikan pengumuman.


“ biarkan dia menunggu, setelah itu bantu aku mengatur rambut” setelah cukup lama aku keluar.


 


Putri mahkota sudah menunggu di bagian tengah istana.


“ salam , putri mahkota” dia tersenyum membalas salamku

__ADS_1


“ kau benar sendirian di istana megahku membuatku bosan, jadi memutuskan untuk mampir”


“ yang mulia bisa datang kesini jika ingin merasa bosa, selagi saya luang saya pasti menemani”


“ apa biasanya kamu memiliki kesibukan?” seakan meremehkanku.


“ kesibukan saya tidak bisa di bandingkan dengan kesibukan tugas putri mahkota”


“ jangan begitu, aku sudah terbiasa dengan tugas-tugas seperti itu” masih saja sombong.


 


“ Zennn,,!!” tiba-tiba tuan En memanggil di tengah perbincangan.


Membuat perbincangan langsung terhenti, ada raut kebingungan serta keterkejutan di wajah putri mahkota. Mungkin tidak mengenali suara khas tuan En ketika bangun tidur. Memang menjad sedikit maskulin dan nadanya sedikit serak.


“ ada laki-laki di istanamu?” beranjak dan berjalan ke arah kamar. Aku bahkan belum menjelaskan keadaan ini.


“ yang mulia,,” mencoba menghentikan. Takutnya tuan En tidak menyadari keberadaan putri mahkota disini dan berlaku seenaknya tanpa busana di tubuhnya.


“ aaaa,,” putri mahkota berteriak terkejut tepat di depan pintu, apa kekhawatiranku terjadi?. Wajahnya juga berubah menjadi merah. Segera mempercepat langkah.


 


“ tuan,,” begitu masuk ke kamar. Huh,, untung saja tuan En memakai celana. Meski bertelanjang dada. Tampak kaget juga melihat kehadiran putri mahkota di pintu masuk kamar.


“ putri mahkota datang berkunjung,,” mengambil kain seadanya dan melampirkannya di tubuh tuan En yang terbuka. Lalu menoleh ke arah putri mahkota. Seakan tahu situasinya puti mahkota langsung pergi dari sana.


“ kenapa tuan En memanggil saya sekencang itu?” sedikit merajuk, tidak terbiasa di panggil dengan nada tinggi.


“ kamu meninggalkanku” memeluk pinggangku dan menempelkan kepalanya di perut.


“ ada putri mahkota, jadi mana mungkin mengabaikan kedatanganya”


“ kamu katakan saja jika sedang melayaniku” membuatku jatuh di pangkuannya lalu menanamkan wajahnya di dadaku.


“ tuan,,!! “ menjambak rambut tuan En agar segera menjauhkan dari dadaku.


“ aku lapar “


“ saya kan menyuruh pelayan menyiapkan sarapan untuk tuan”


“ bukan itu, lapar ingin memakanmu” sudah dalam tindihannya.


“ putri mahkota pasti sudah menunggu “ terus mendorong serta menolak semua kecupan basah.


“ dia pasti sudah kembali,,,” entah benar atau tidak, yang jelas keinginan tuan En tak bisa di tolak. Meski beribu alasan diberikan tetap saja tidak mempan.

__ADS_1


__ADS_2