The Empero'S Prisoner

The Empero'S Prisoner
VI


__ADS_3

Setelah waktu makan siang aku dan Lucien pergi ke istana kekaisaran. Meski sebenarnya aku tidak ada keinginan untuk bertemu dengan ayah, tapi entah kenapa firasatku sedikit tidak tenang. Sebelum hukuman untuk Luna benar-benar di umumkan.


 


“ kaisar,,” sapaku. Saat ini aku berada di ruang resmi kekaisaran. Ruangan yang digunakan ayah untuk menyambut tamu ataupun memanggil penjabat secara pribadi. Kaisar saat ini sedang duduk di singgasananya, pandangannya mengekori pergerakanku.


“mendekatlah” disana terdapat Jarvis, pengawal pribadi ayah. Dia berdiri di samping kaisar.


“ kenapa kaisar memanggilku kemari?” memulai untuk berbasa-basi.


“ ini mengenai putri mahkota. Sepertinya kerajaan harus menunda pemberian hukuman padanya” keningku mengerut. Mencoba mencerna perkataan ayah.


“ kau pasti belum tau. Dia saat ini sedang mengandung” perkataan ini tidak begitu mengejutkanku. Wanita itu cukup menjijikkan juga. Sedikit disayangkan tidak bisa menghukumnya sekarang. Sepertinya rencananya malam itu bukan hanya ingin menyebakku untuk menidurinya. Tapi dia menginginkan pengakuan untuk kandungannya. Taktik kotor dan hina. Memikirkannya membuat sudut bibirku tertarik.


 


“ apa kau pernah menyentuhnya, ?” kaisar menatapku penuh tanya.


“ jadi kaisar berfikir jika bayi itu adalah anakku?” lelucon macam apa ini. Menyentuh ujung rambutnya saja tidak pernah, yang benar saja.


“ ayah hanya ingin memastikan” baiklah.


“ peraturan negara kita melarang untuk menghukum wanita hamil sampai dia melahirkan anaknya. Menurutmu bagaimana caranya kita memperlakukannya sekarang?. Tidak mungkin menyuruhnya tinggal di penjara bukan” tidak biasanya ayah meminta pendapatku ketika ingin memberi hukuman. Sejauh ini hubungan kita tidaklah sedekat itu. Hanya saat malam itu saja, aku bisa berperilaku sebagai anaknya. Kini tidak mungkin.


“ sebenarnya apa yang ingin kaisar katakan. Masalah ini tidaklah serumit masalah menteri-mentri kerajaan” aku sudah bersiap untuk pergi. Membahas wanita hina itu sungguh tidak sudi.


“ permaisuri menginginkan kau untuk mengakui bayi itu, jika tidak masalah Zen sebagai anak pemberontak akan segera di umumkan. Kau tau bukan apa resikonya  jika sampai hal ini terjadi?”


“ menurut kaisar apa yang seharusnya seorang ayah lakukan ketika melihat anak serta istrinya dalam bahaya?” aku tida percaya jika ayah masih saja menuruti kemauan permaisuri. Wanita yang jelas menjadi duri dalam kerajaan ini. Pasti karena ramuan opium, membuat ayah tidak bisa lepas dari belenggu permaisuri. Ku lihat ayah terdiam, tidak menjawab pertanyaanku.


“ apa ayah ingin aku melakukan kesalahan yang sama seperti yang ayah lakukan dulu?”


“ kalau kau tetap memilih Zen, secara otomatis kau akan menjadi musuh kerajaan. Statusmu akan di cabut. Apa kau tidak memikirkan hal ini sebelumnya?” dengan nafas memburu kaisar mengatakannya.


“ ayah tau jelas siapa pemberontak disini!” suaraku ikut meninggi.

__ADS_1


“ Enrick!” sorot mata ayah begitu tajam menusuk manikku. Tidak ada sedikitpun rasa bersalah disana. Ayah masih tetap sama, yang difikirkankannya hanya status. Kini ayah berdiri dan berjalan ke arahku.


 


“ jika aku mengakui bayi Luna, itu sama saja aku bersedia menjadi boneka permasuri” menarik langkah mundur. Sebagai tanda bahwa aku tidak menyetujui apapun yang ingin ayah katakan.


“ enrick dengarkan ayah. Kau adalah pewaris satu-satu kerajaan Mosgarath. Tanggung jawab itu mengharuskanmu untuk menyingkirkan segala persoalan peribadi”


“ tidak. Kau salah ayah. Jika aku tidak bisa melindungi orang yang ku sayangi maka aku tidak pantas menjadi pelindung kerajaan. “


 


Aku berlalu pergi meninggalkan ayah yang terus memanggilku. Pilihanku sekarang sudah bulat. Bagaimanpun Zen adalah hal utama untukku. Begitu berharga untuk hidupku. Ketika melewati pintu keluar istana kekaisaran aku bisa melihat permasiuri sedang duduk di taman depan sambil menikmati secangkir teh. Dia menatapku dan tersenyum tipis, senyuman meremehkan.


 


Aku membalas senyuman itu dengan tatapan datar. Sampai kapanpun tidak sudi menjadi bonekannya. Setelah beberapa lama, aku memutus kontak mata itu dan langsung melanjutkan langkah kaki. Tidak peduli meski akhirnya harus kehilangan statusku, yang terpenting jangan sampai kehilangan istri dan anakku.


 


 


“ kita pergi”


“ baik yang mulia”  


 


Malam menyambutku ketika sampai di pondok rahasia. Disana sudah ada Morgan dan beberapa mata-mata yang baru kembai dari misi pengawasan. Pondok itu dari luar terlihat bias saja, tapi sebenarnya pondok ini cukup besar memanjang kebelakang. Terbagi beberapa ruangan salah satunya ruang senjata.


 


“ tuan” disini aku memang melarang mereka memanggil gelar kerajaanku. Tidak mau orang lain mengetahui identitasku. Menyerahkan tali kuda dan berjalan masuk.


“ bagaimana kondisi kerajaan saat ini?” Morgan membuka percakapan ketika sudah berada di ruang depan pondok.

__ADS_1


“ cukup buruk, seperti isi surat yang kau kirim”


 


Lucien masuk dengan membawa beberapa perbekalan, disana juga ada Cila. Meski terbilang berbahaya, tapi Lucien kekeh ingin membawa Cila kemari. Pasangan ini memang tidak bisa dipisahkan. Setelah menyuruh Cila masuk, Lucien mengambil duduk di sebelah Morgan.


 


“ jadi itu calon istrimu?” Morgan mencoba menjahili Lucien. Hanya dengan tersenyum cengengesan Lucien membalas pertanyaan Morgan.


“ kau seperti predator anak, atau mungkin kau memiliki fantasi cinta yang berbeda?” mendengarkan percakapan mereka dengan meminum teh.


“ setidaknya lebih baik dari anda. Tidak ada pasangan” begitulah Lucien, mudah menyombongkan diri di depan orang lain. Hanya aku yang bisa meremehkan hidupnya. Pada yang lain dia terus saja berlagak sombong.


 


“ dasar kau!” menepuk jidat Lucie sedikit keras. Lucien hanya mengerutkan kening. Sebagi tanda ketidak sukaan. Mana berani dia beradu fisik dengan Morgan. Kemampuannya tidaklah sebanding. Morgan lebih tau titik kelemahan manusia.


 


“ kau tidak tau saja aku dulu cukup tampan, banyak yang merebutkan” Morgan masih saja menanggapi ocehan Lucien. Mereka berdua terkadang terlihat sama. Tidak ingin di pandang rendah orang lain.


 


“ sudahlah, sebaiknya kita membahas perkembangan pengawasan jalur rahasia itu” meraka mendadak merapikan duduknya, mulai pada tahap serius.


“ jalur itu memiliki banyak anak jalan, beberapa dari mereka begitu jelas menghubungkan antar markas, tapi beberapa masih perlu merangkainya untuk mengetahui akhir dari rute itu” Mogan mengeluarkan secarik kertas, disana terdapat gambar jalur yang di maksud. Sepanjang wilayah kerajaan semuannya tersusun dengan rapi.  


 


Kami bertiga mengamati dengan serius rute jalur yang seperti terputus saat memasuki jalur umum. Jika di lihat memaglah jalur ini hanya seperti jalan setapak yang sudah tidak di gunakan lagi. Tapi jika di susun semuanya memiliki rute yang jelas. Mungkin karena ini mereka mudah menghilang dan mendadak muncul. Mereka pasti memiliki ahli trategi yang cerdas.


 


Di semua ujung dari masing-masing rute inilah menjadi kemungkinan keberadaan Zen. Tapi ini begitu banyak, pasti dari kesekian tempat ini haruslah memiliki celah. Tempat mana yang cocok untuk seorang wanita hamil serta anak dari pimpinan kelompok tinggali. Harusnya tidak jauh dari kota Ennnewait, dimana aku menemukan Zen sebelumnya.   

__ADS_1


__ADS_2