The Empero'S Prisoner

The Empero'S Prisoner
IX


__ADS_3

Ayah diam membatu, tidak ada sedikitpun niatku menambah beban dihatinya. Tapi ayah masih tetap tidak mau memahami hatiku. Hanya dengan membuatnya merasa bersalah baru bisa menarik simpatinya.


“ ayah, ku mohon Zen sedang mengandung cucu ayah” aku menatap lekat tubuh ayah. Tidak ada pergerakan, ayah sedang menimbang semua perkataanku.


Helaan nafas panjang ayah terdengar, menandakan dia sudah mengambil keputusan.


“ ayah bersalah pada ibumu, semoga ini bisa membuat kahla memaafkan ayah”


 


Ayah berjalan masuk, aku hanya terdiam mengamati semua perilaku ayah. Dia mendekati meja dan mengeluarkan sebuah benda. Dibawanya mendekat padaku. Entah apa isi dari benda ini. Sebuah gulungan kertas emas, itu yang aku lihat.


 


“ simpan ini baik-baik, jangan sampai Parveen mendapatkannya.”


“ ini,,? “


“ ini adalah dekrit kerajaan, hanya ini yang bisa ayah berikan sebagai bantuan. Setelah ini bawa Zenia pergi dan jangan pernah kembali ke kekerajaan. Bersembunyilah beberapa bulan, biar ayah yang menangani disini” 


 


Aku menerima gulungan itu, disana terdapat peta dimana Zenia berada. Ternyata ayah masih memiliki nurani, aku tahu ayah tidak akan lepas tangung jawab. Akupun sedikit lega, keberadaan Zenia masih tetap aman.


Satu sisi aku sedih, perkataan ayah itu seperti memiliki pesan bahwa pertemuan ini mungkin menjadi pertemuan terakhir kami. Aku pandang lekat-lekat tubuh ayah. Menaruhnya dalam ingatanku.


 


“ pergilah” ayah langsung berbalik badan. Tidak ingin terlalu lama melepas rindu.


“ terimakasih ayah” ingin sekali aku memeluknya, tapi aku urungkan. Ayah pasti sedang menyembunyikan sedihnya.


“ jaga diri ayah “


Aku berbalik melangkah meninggalkan istana kekaisaran. Kuda masih ada di depan, dengan segera langsung ku naiki dan pergi ke arah barat kerajaaan. Dari peta ini aku mengetahui jika saat ini Zen berada di istana bulan. Istana peninggalan mendiang ibu  suri. Terletak di bagian belakang yang sepi, sudah beberapa tahun dibiarkan kosong.


 

__ADS_1


Cah,,cah..


Terus memacu kuda menuju istana bulan. Jantungku semakin tidak karuan, hal ini yang ku tungu-tunggu, sumber kegelisahan kini berada di depan mata.


Begitu sampai di halaman depan, langsung saja melompat turun dari kuda. Membuka pintu istana.


“ Zen,,” panggilan ini sudah lama ingin aku ucapkan. Tidak ada sautan.


“ zenia,, kau dimana?”


Langkah kaki terus menyusuri istana, semakin masuk. Tidak ada seorangpun di dalam. Ruangan depan sampai tengah tidak ada tanda-tanda kehadiran seseorang. Rasa takut kembali mendera hatiku, apa mungkin ayah berbohong padaku. Kembali aku lihat peta yang ayah berikan. Tidak ada kesalahan, tempat yang tertulis adalah benar istana bulan. Tapi kenapa tidak ada seorangpun disini, apa mungkin aku terlambat, jangan-jangan..


“ tuan En,,” suara itu. Mendadak tubuhku terdiam tidak bisa bergerak. Ku angkat pandanganku menjadi tegak. Rasa rindu yang ku punya sekarang sirna. Sesosok wanita dengan perut buncit telah ada di depan mata. Zen ku disana, manik mata polosnya menatap kehadiranku dengan tanda tanya. Tenggorokanku tercekat tak bisa berkata-kata. Aku bahkan tidak tahu jika sudah ada lelehan yang mengalir dari mataku. Apa benar dia Zenia?


“ tuan, kau baik-baik saja?” dia berjalan mendekatiku. Langkah kakinya terburu-buru. Seakan mengkhawatirkan kebisuanku.


Tidak ingin membuang waktu, aku berlari dan mendekap tubuhnya. Ini nyata, aku bisa merasakan dan memeluk tubuh Zen.


“ tuan lepaskan, perutku terdesak” hampir saja aku melupakan kehamilan Zen. Segera aku melepaskan pelukan dan menatap perut buncitnya. Ku elus perlahan seolah menenangkannya akibat gerakannku yang tiba-tiba.


“ aku merindukan kalian” dari semua kalimat yang ku bertebaran di kelapaku, hanya tiga kata itu yang keluar dari mulutku. Aku menatap Zen penuh cinta. Dia terlihat semakin berisi, dan yang pasti semakin cantik di mataku.


“ maafkan aku, membuatmu menunggu” tanganku menyentuh pipinya mengelus pelan.


“ hik,,,hiks” tangisnya pecah. Aku membawa kepalanya ke dalam dadaku. Mengelus rambut serta punggungnya pelan.


“ maafkan aku” kalimat itu terus aku ucapkan berulang-ulang. Berharap bisa menenangkan dirinya.


 


Kami sedang berada di ruang tengah istana bulan, disini terdapat beberapa sofa serta meja yang dekat dengan perapian. Udara cukup dingin dimalam hari, aku membawa Zenia mendekati ke perapian dan duduk di sofa.


“ tuan mereka membawa ibu, apa ibu akan dihukum?” wajah Zen mendongak menatapku, sedang tanganku masih mengelus kepalanya yang masih berada dalam dekapan dadaku.


“ aku tahu perbuatan ibu begitu jahat, tapi tuan. Ibu hanya tidak tahu bagaimana menghadapi kesedihan atas kematian ayah.” Rautnya penuh kegelisahan. Andai saja aku bisa menjelaskannya lebih awal, mungkin aku bisa menyelamatkan Zoya. Kini situasi tidak memberikan banyak pilihan. Semua bukti sudah tidak bisa dielak, sulit untuk lolos dari segala tuduhan.


“ hemm, aku tahu. aku akan mencoba menyelamatkannya” ucapku lembut. Padahal aku juga tidak yakin dengan keputusan ini. Wanita itu telah memberikan kutukan padaku, sulit untukku melakukan keinginan Zen. Namun aku sudah jatuh terlalu dalam mencintai Zenia, rasa untuk menolak sudah tak bisa ungkapkan.

__ADS_1


“ apa tuan masih membenci ibuku?, Zenia tak ingin memaksa jika ini memberat,,,”


“ hush, tidak apa-apa. Aku bisa memahami kerinduan seorang anak kepada ibunya. Aku akan melakukannya sebisaku. oia Bagaimana kau bisa berakhir disini?” Zen menarik tubuhnya. Kami saling berpandangan.


“ Zen juga tidak tahu, ketika markas di serbu tiba-tiba ada sekelompok orang yang membawaku pergi. Awalnya mengira mereka orang jahat, tetapi ketika sampai di kerajaan, kaisar mengatakan padaku untuk bersembunyi disini. “


“ setelah ini kita meninggalkan kerajaan, tempat ini terlalu berbahaya. “


“ tapi ibu bagaimana?”


“ aku akan menanginya setelah kita menemukan tempat yang aman.”


 


Zenia terdiam, sorot matanya tak bisa ku baca. Aneh.


“ apa yang kamu fikirkan?” merapikan anak rambutnya yang menjutai indah.


“ tuan , apa aku begitu berharga untukmu?” membaca tatapanya, baru sedetik kemudian menjawabnya.


“ kau masih mencurigaiku?” merubah posisi duduk kini menghadap ke perapian. Pertanyaan Zen sedikit meremas hatiku. Bagaimana caranya agar dia mengerti perasaanku. Suasana menjadi hening. Tidak ada perbincangan beberapa saat.


 


“ tuan, “ Zen menarik bahuku agar menghadap ke arahnya. Tapi aku masih tidak bergerak sedikirpun.


“ lepaskan Zen ya, kita sudahi hubungan ini “ begitu mendengar ucapannya aku langsung menoleh kearahnya. Pandangannya seakan kosong, menatapku tanpa ada penyesalan.


“ apa maksud mu?” aku berusaha menahan emosiku. Mengetatkan rahangku dan berdiri didepannya. Zen menundukkan kepalanya, bahunya bergetar. Dia menangis.


“ apa ayah mengatakan sesuatu padamu?” dia masih terdiam.


“ sekarang Zen adalah putri seorang pemberontak, status ini jelas akan mempengaruhi kedudukan tuan. Zen tak ingin menyeret tuan dalam masalah ini.” Ucapnya yang semakin lirih di akhir kalimat. Jelas sekali ayah pasti sudah mengatakan yang tidak-tidak pada Zen.


“ Zen dengarkan aku, entah apapun kedudukanku sekarang, aku adalah suamimu dan ayah dari anak dalam kandunganmu.” Aku bersimpuh di depan Zen. memegang kedua tangan diatas pangkuannya.


“ kalaupun dengan nyawa, aku pasti melindungi kalian.” Zen menatapku dalam. Matanya basah, terlihat jelas lelehan air mata yang masih deras mengalir.

__ADS_1


“ aku mencintaimu” lanjutku. Mencium keningnya, menarik kepalanya dalam dekapanku. Bahunya semakin bergetar, tangisnya semakin tersedu-sedu. Membuatku ikut larut dalam kesedihannya. Tak pernah sedikitpun terfikir keadaan hubungan ku dengan Zen menjadi seperti ini rumitnya. Takdir terus menguji kekuatan hati. Hanya bisa berharap semoga ini berubah menjadi lebih baik.


__ADS_2