
Darah terus saja keluar dari lenganku, Cila melindungi tubuhku dengan tubunya. Pria misterius itu terlihat menghentikan aksinya.
“ kaka,, kita lepaskan saja topengnya” bisik Cila. Suaranya terdengar lemah, mungkin dibalik topengnya Cila sudah menangis melihat lenganku terluka.
Aku bangkit duduk, membuat Cila kini berada di sampingku. Menggeleng pelan. Tidak, kepercayaan Ares lebih penting sekarang. Tidak boleh sampai tahu identitas kami sebenarnya. Apalagi di depan tuan En. Baik tuan En maupun kak Lu pasti akan membunuh Ares dan Gala ketika tahu kami bersama mereka.
Kini pedang sudah berada di leherku, tak ada pilihan selain mengikuti arahan pria misterius. Membuatku berdiri, sedikit lagi akan di jadikan sandra. Untung saja Ares memberikan tendangan dan mengenai tangan pria itu.
“ kau terluka, larilah” perintah Ares.
“ tidak, kalian berada dalam bahaya” sebenarnya alasanku adalah membuat Ares berhutang budi padaku, sehingga kepercayaanya semakin bertambah.
Kini Ares yang melawan tuan En beserta pria misterrius sendirian. Peluang kemenanngannya semakin menipis. Tidak, aku harus membantunya. Jika tidak kemungkinan tuan En berhasil menangkapnya. Setelah menyuruh Cila bersembunyi kini aku masuk kedalam perkelahian mereka.
Musuhku sekarang tuan En, kemampuannya tidak main-main. Tuan En benar-benar bukan tandinganku. Terus menerus menangkis. Sampai akhirnya bisa menjatuhkan pedangnya. Sedikit terkejut dengan kemampuanku sendiri.
“ buka topengmu.” Tuan En mencoba mengalihkan perhatian.
Kini tuan En berkelahi dengan tangan kosong. Sedang aku masih membawa besi panjang sebagai senjata. Meski begitu tuan En terus menyerang, tendangan serta pukulannya begitu cepat. Sampai tak sadar jika saat ini tuan En melakukan penguncian pada kedua tanganku.
“ tak disangka lawanku seorang wanita” bisik tuan En yang berada di punggungku, tangannya mengunci kedua tanganku di belakang sedang tangan satunya mengunci leherku. Begitu kencang bahkan seakan mencekikku. Secara tidak langsung tua En menyenggol dadaku.
“ ingin mengalah?” sambil menginjak kencang kaki tuan En dan menggigit lengannya. Langsung menarik diri dan terlepas. Tuan En menatapku dengan seksama. Kemungkinan tuan En menyadari suaraku. Padangannya meneliti seluruh tubuhku.
Mengambil pedang milik tuan En untuk memulai perkelahian. Sekarang tuan En sedikit mengendurkan serangannya. Sepertinya tuan En masih dalam kebingungan. Harus melawan atau tidak. Mendengarkan suaraku saja sudah membuyarkan fikirannya, payah.
“ kalian menyerahlah.” Teriak kak Lu yang saat ini sedang menyandra Cila. Tidak, pedang itu sudah siap menggores lehernya. Pedang yang awalnya aku pegang terlepas begitu saja. Ares dan Gala sekarang mendekatiku. Menyusun formasi pertahanan.
Lenganku masih terus berdarah ketika Ares mengambil alih pedang yang kujatuhkan.
“ apa kau masih bisa bertahan?” aku mengangguk yakin.
“ menyerahlah, kalau tidak teman kalian ini akan kehilangan kepalanya.” Lanjut kak Lu mencoba mengancam kami.
__ADS_1
“ sebenarnya apa mau kalian, ?” Gala mencoba melakukan negosiasi.
“ ikutlah bersama kami”
“ untuk apa?”
“ sekedar mengobrol”
“ tak usah basa-basi, apa yang kalian inginkan?”
Suasana tiba-tiba menjadi sedikit hening, kelompok tuan En terlihat saling padang. Seakan merencanakan sesuatu.
“ api biru, beritahu kami mengenai kelompok api biru yang kalian ikuti” tuan En dengan tegas mengatakan keinginanya.
“ kami tidak mengetahui apapun tentang kelompok itu” dari bahasa tubuhnya jelas sekali jika Gala sedang berbohong.
“ baiklah, ucapkan selamat tinggal pada teman kalian,”
“ tidakkk!!!” aku berteriak kencang. Jangan sampai Cila terluka, apalagi di tangan kekasihnya. Apa kak Lu tidak menyadari jika orang yang dia sandra adalah kekasihnya sendiri. Sungguh mengesalkan. Setelah mendengar teriakanku, baik kak Lu dan tuan En tersenyum, berfikir ancamannya berhasil.
“ Zuka,,” Ares mengingatkan akan tindakanku yang ceroboh.
“ dia adikku” balasku tak kalah tajam.
Aku mengamati situasi, disini hanya ada tembok serta sungai tepat di belakang kami. Tak ada jalan untuk melarikan diri. Kalaupun bisa harus melewati jalan setapak di belakang kelompok tuan En. Sepertinya jalan itu menuju hutan.
“ kalian pasti salah orang, kami sama sekali tidak mengenal kelompok yang kalian maksud” Ares maupaun Gala masih saja berkilah.
“ aku akan hitung sampai 5 jika tidak, teman kalian taruhannya” tunggu sepertinya aku mengenal pria misterius itu.
“ satu,,”
“ Ares katakanlah” bisikku.
“ kami tidak bisa” balasnya sedikit marah.
“ dua..”
Aku berfikir keras, bagaimana caranya mengubah situasi ini. Sepertinya aku punya cara terakhir. Bubuk bedak, mungkin ini bisa bermanfaat.
__ADS_1
“ empat,”
Aku memberikan kode pada Ares, menunjuk jalan setapak di depan. Tanganku sudah menggegam bubuk bedak.
“ lim,,,” aku berlari melemparkan bubuk itu kearah kelompok tuan En.
Meraka begitu kaget, langsung saja Ares menyelamatkan Cila. Meski hanya sekejab kelompok tuan En menghindar, cukup memberikan kami waktu untuk melarikan diri. Berlari menuju hutan.
Cila dalam gendongan Ares, dan terus berlari. Ketika dirasa cukup jauh dia melepaskan gendongannya.
“ kak,, punggungku,,” ucap Cila lemah. Aku melihat punggungnya terluka cukup dalam.
“ jangan takut sebentar lagi kita akan mengobatimu” Gala mencoba menghibur Cila.
Kami masih berlari dengan merangkul Cila.
“ aku sudah tidak kuat, tinggalkan saja aku” bisik Cila padaku. Tapi bagaimana bisa.
“ tidak kau harus bertahan” aku bisa mendengar jika kelompok tuan En semakin dekat. Kami cukup lambat karena harus memapah Cila.
“ kak, aku mohon. Aku pasti baik-baik saja” mencoba berfikir, kurasa ucapan Cila ada benarnya. Jika Cila ditinggalkan disini, kak Lu pasti menemukannya. Dan pasti langsung mengobatinya di kerajaan.
“ baiklah, tapi tutup rapat recana kita sebelumnya” Cila mengangguk lemah. Akhirnya aku menyuruh Ares melepaskan rangkulannya. Ku bilang jika adikku sudah meninggal jadi lebih di tinggalkan dulu, besok baru menguburkan jasadnya.
Tak ada kecurigaan sedikitpun, akhirnya Ares melepaskannya.
“ jaga diri nyonya” bisik Cila ketika membantunya berbaring di bawah pohon besar.
“ maafkan aku” balasku kemudian meninggalkannya.
Terus melakukan pelarian dalam tangisan. Lelehan hangat ini terus keluar dengan deras. Tak menyangka jika terjadi hal seperti ini. Semoga memang benar tuan En maupun kak Lu dengan cepat menemukan Cila dan membawanya berobat. Jika tidak entah bagaimana kondisinya.
“ kau tak apa?” Ares menghawatirkan kondisiku. Setelah terkena sayatan pedang, kini harus kehilangan seorang keluarga.
“ lebih baik kita terus berlari” tak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan itu. Satu sisi sedih dan satu sisi cukup lega, keinginanku terjadi. Kuharap setelah ini baik Ares maupun Gala bisa membawaku pada kelompok pemberontak.
Meski keberhasilan ini harus mengorbankan banyak hal, aku tak bisa kembali. Hanya harus melakukan rencana selanjutnya dengan hati-hati. Jangan sampai pengorbanan ini sia-sia. Sedikit lagi, sedikit lagi pasti bisa mengetahui semuanya. Dalang pembantaian serta pembunuh keluarga ku.
__ADS_1
Setelah semuanya jelas dan melakukan balas dendam, baru bisa menikamti hidup. Menjalani masa depan dengan tenang tanpa di hantui rasa curiga ataupun ketidakpercayaan pada orang lain.