The Empero'S Prisoner

The Empero'S Prisoner
IV


__ADS_3

Sebelum fajar menjelang, aku terbangun. Ranjang itu telah kosong. Ayah sudah tidak lagi tertidur disana. Aku bangkit yang sebelumnya tertidur dengan bersandar pada ranjang sedang tubuh berada di lantai. Mencoba melihat ke sekeliling, tidak ada siapapun kecuali Lucien yang tertidur di kursi.  


 


Mulai berdiri dan berjalan semakin dalam. Satu ruangan terlihat terang, ruang kerja itu. Ayah pasti berada disana.


“ ayah?” begitu masuk kulihat ayah sedang melamun di depan perapian. Dia tertoleh melihat kedatanganku.


“ kemarilah” ayah seperti hendak mengatakan sesuatu. Kini kami berdua tertuduk di sofa depan perapian.


“ ini,,” memberikan sebuah kotak kayu padaku.


“ apa ini?” masih bingung.


“ bukalah, itu benda kesayangan ibumu” mendengar jawaban ayah aku menjadi begitu antusias membukanya. Ibu masih sosok yang aku tidak bisa menilainya.


“ gelang?” entah apa alasan yang dimiliki ayah memberiku benda ini.


“ ini satu-satu hal yang membuat orang lain akan percaya jika kau anak dari kahla”


“ maksud ayah?”


“ ayah sudah mendapatkan karma dari semua kesalahan itu. Mengumumkan jika kau anak dari permaisuri parveen. Nyatanya ayah salah, ayah sudah tertipu.”


“ ayah sudah menyadari hal ini, tapi kenapa masih mempertahankan parveen menjadi permasuri?”


“ dia tidak tahu, jika ayah sudah mengetahui fakta ini.” ayah menggegam tanganku. Seakan membuatku mengerti situasinya.


“ayah, dia menginginkan posisimu” ayah tersenyum ringan, bibirnya tertarik tapi maniknya begitu sendu. Jangan-jangan ayah sudah mengetahui rencana permaisuri.


“ satu-satu penghalang itu adalah kau. Ayah mohon jangan sampai posisi ayah di gantikan olehnya. Lindungi kerajaan ” Sorot matanya begitu dalam menatapku. Ini permintaan yang aku sendiri tidak tahu apakah memiliki kesanggupan untuk melakukannya. Meski aku adalah putra mahkota, nyatanya kerajaan ini bukan aku yang memilikinya. Tidak banyak yang mendukungku selama wanita itu berkuasa.


 


“ berita tentang Zen pasti akan merugikanmu. Ayah ingin kau merelakannya” seketika tanganku tertarik. Ucapan ayah ini tidak bisa aku terima.


“ tidak ayah, Zen saat ini mengandung anakku. Pewaris kerajaan. Bagaimana bisa aku melepaskannya” tanpa sadar aku meninggikan suara.

__ADS_1


“ enrick dengarkan ayah, semua ramuan itu berasal dari permaisuri. Ayah tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Sebentar lagi dia akan memulai rencananya. Menyingkirkanmu lewat Zenia. Jika tidak ,,,dia pasti menyingkirkan ayah” rasanya detak ini terhenti di detik yang sama setelah ayah menyelesaikan ucapannya. Kondisi kerajaan sudah separah ini. Memang pewaris kerajaan hanya ada aku sebagai putra mahkota. Tidak ada pangeran lagi. Jika aku tersingkir dan ayah tidak bisa menjabat, maka kekuasaan akan jatuh pada permaisuri sampai generasi selanjutnya lahir. Tidak. Zen dalam bahaya. Kandungannya pasti banyak yang mencoba menyelakai. Fikiranku seakan di hantam batu besar. Terasa berat menghentikan laju darahku.


 


“ aku harus segera menemukan Zen ayah.” Bergegas beranjak.


“ Enrick apa aku tidak berfikir. Mereka menginginkan nyawamu. Kesalahan yang ayah perbuat, mereka akan membalaskannya padamu. Ayah mohon lepaskan Zen.” Menarik lenganku, tak mengizinkan aku pergi.


“ tidak ayah, bagaimana bisa aku membiarkannya dalam bahaya. Mereka membutuhkanku. “ melepas genggaman tangan ayah. Dan berjalan keluar.


“ enrick, coba fikirkan baik-baik. Siapa yang paling diuntungkan dengan tindakan gegabahmu ini. Antara kau dan Zen tidak ditakdirkan bersama. “


“ apa maksud ayah?,” langkahku terhenti. Menatap wajah ayah, mencari jawaban atas perkataanya.


“ kau dan Zoya, hanya satu yang bisa hidup.”


“ ayah mengetahuinya? Apa selama ini ayah mengetahui kutukan itu?” ayah memutus tatapanku. Memalingkan wajahnya, membuatku berjalan mendekatinya kembali.


“ satu tahun belakangan ini ayah mengawasimu, dan menemukan fakta tentang kutukan itu. Kutukan itu hanya bisa di hilangkan dengan kau membunuh pengirimnya. Menusuk jantungnya disaat yang sama ketika dia sedang mengirim sihirnya. Kau harus membunuh Zoya.” Aku tidak menyangka ayah mengetahui semuanya, bahkan memberi tahu cara menghilangkannya. Semuanya membuatku syok. Hanya bisa terduduk di sofa sambil terus mencerna semua perkataan ayah. Antara sedang atau sedih. Menghilangkan kutukan merupakan hal yang selama ini aku inginkan tapi jika dengan membunuh ibu Zen.


“ tidak,,” liriku. Meski dulu aku begitu membecinya tapi saat ini membunuh ibu dari istriku sendiri tidak pernah ada dalam fikiranku. Terasa lelehan hangat melewati pipiku. Kenapa semuanya menjadi semakin rumit.


“ ini salah ayah! “ cercaku. Emosiku semakin tidak stabil. Rasa marah ini tiba-tiba muncul dan tertuju ada ayah.


“ maafkan ayah, maafkan ayahmu”


 


****


 


Sudah 3 hari semenjak aku kembali dari istana kekaisaran. Aku tidak bisa melakukan apapun. Semua fikiranku buntu, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Jalan mana yang harus ku pilih semuanya masih abu-abu. Semua yang ku anggap benar tiba-tiba menjadi salah. Begitupun sebaliknya. Ternyata semua ini karena ulah ayah. Ayahlah yang menjadi sumber permasalahan ini. Agaknya memang benar, karma itu sedang menghampiri ayah sekarang.


  


“ yang mulia, anda tidak makan sedari kemarin. Mohon makanlah. Anda bisa sakit jika seperti ini terus” Lucien selalu datang untuk menyuruhku makan. Dia pasti sudah mengetahui semuanya. Malam itu dia juga ada disana. Mendengar semua kenyataan pahit ini.

__ADS_1


 


“ apa kau sudah menemukan ramuan apa yang di kirim wanita itu kepada ayah?” aku terus melanjutkan melihat buku diatas meja. Meski terlihat sedang membaca, tapi sebenarnya jiwaku tidak disini.


“ ramuan itu memiliki kandungan getah bunga opium, bisa membuat seseorang ketergantungan. Seseorang yang meminumnya akan menginginkan terus dengan takaran yang lebih banyak. Dapat merusak organ bahkan kesehatan seseorang akan menurun jika tidak meminumnya.”


“ ramuan seperti itu, kenapa bisa diminum oleh ayah?”


“ dari pengawal, beberapa tahun kebelakang kaisar sering mengeluhkan sulit tidur. Seperti mengalami halusinasi akibat masa lalu. Jadi permasaisuri menawari ramuan yang bisa membuat kaisar tenang. Tidak tahu jika ternyata ramuan itu memiliki efek yang buruk.” Benar-benar jahat. Wanita iblis itu memang sudah merencanakan sejak lama ini.


“ apa kau sudah mengetahui dimana keberadaan Zen?”


“ mata-mata kita masih mencarinya, belum ada kabar dari mereka”


“ suruh mereka segera menemukannya!. Jika tidak kepala mereka taruhannya.” Tanganku meremas erat buku, rasanya ingin sekali marah. Yang sebenarnya kemarahan ini tertuju pada takdir. Menggelikan bukan kehidupanku. Mencintai seseorang tapi hanya ada dendam diantara kita. Dendam masa lalu yang begitu rumit.


 


“ baik yang mulia” Lucien beranjak pergi.


“ tunggu,panggil Cila kemari” wanita ini seharusnya mengetahui sesuatu tentang keberadaan Zen. Dia mengkuti Zen meski harus mengalami luka yang membuatnya berpisah dengan Zen.


Lucien sedikit was-was dengan perintahku, aku tahu dia pasti takut aku melakukan sesuatu pada kekasihnya itu.


“ yang mulia” tak lama Cilla berjalan masuk dan menghadap padaku.


“ beritahu aku semuanya yang kamu ketahui tentang Ares dan apa saja yang terkait dengan alasan Zen pergi menemui pemberontak itu.” Dia terlihat sedikit kaget dengan pertanyaanku. Mengungkit hal ini lagi pasti membuatnya tidak nyaman.


“ seperti yang saya katakan sebelumnya. Saya tidak tahu yang mulia. Saya hanya mengikuti perintah selir saja” nyatanya mulutnya rapat juga. Tetap menutupi semuanya. Kita lihat sampai mana dia bisa menyembunyikan informasi tentang ini.


“ Lucien masuklah” dengan patuh dia langsung masuk. Aku menyuruhnya besimpuh.


“ baiklah. “ aku menarik pedang Lucien. Cila dengan manik takutnya mengikuti kemana arah pedang itu berhenti.


“ bagaimana dengan ini” Lucien mendongak, lehenya sudah terdapat pedangnya sendiri. Cila menatapku tak percaya, ya memang. Jika di fikir aku tidak akan mungkin menebas kepala pengawalku sendiri. Tapi saat ini ada yang lebih penting.


“ apa ini bisa membuatmu mengingat kembali apa yang sebenarnya terjadi saat kalian pergi dari kerajaan?” pedang ini semakin mendekat ke urat leher Lucien.

__ADS_1


“ y,,yang mulia,,” suaranya bergetar. Aku tidak peduli. Amarahku selama ini sudah cukup tertahan. Melihat Zen pergi dan kini berada di tengah peberontak itu sudah cukup membuatku begitu marah. Semuanya akan menjadi mudah jika Zen tetap meyakini jika ibunya sudah meninggal.


“ cepat katakan, kenapa Zen bisa keluar dari kerajaan dan bertemu dengan pemberontak!”


__ADS_2