The Empero'S Prisoner

The Empero'S Prisoner
X


__ADS_3

Setelah lama saling menyuarakan hati, aku dan Zen kini berbaring di ranjang. Dengan siku yang menjangga tubuh menyamping, aku mengelus perut buncit Zen. terlihat sekali rasa nyaman yang di rasakan, membuatnya tertidur begitu aku mulai menyentuh perutnya. Dapat kurasakan tendangan dari si kecil disana. Membuatku tak henti tersenyum sampil menatap wajah tenang Zen. Dia begitu menggemaskan dengan pipi gemulnya. 2 bulan lagi waktu kelahiran akan segera tiba. Mengingat hal itu sedikit membuatku khawatir. Masalah ini belum menemui ujungnya, keselamatan Zen serta anakku masih belum bisa ku pastikan.


“ sampai pada waktunya, kuharap kalian aman” lirihku. Tak terasa rasa ngatuk mulai menerjangku. Entah sudah berapa hari aku tidak mengistirahatkan tubuhku. Melakukan perjalanan tentu menguras energi, apalagi dalam waktu yang lama. Akhirnya aku memeluk Zen dan mulai menutup mata.


 


**** 


Samar-samar cahaya mulai menganggu tidurku. Meraba bagian samping, tidak menemukan Zen. ku putuskan untuk membuka mata. Suasana kamar sepi tidak ada Zen disana.


“ zen, kau dimana?” menuruni ranjang dan berjalan ke taman samping. Tidak kunjung menemukan Zen. kembali masuk dan berjalan ke ruang tengah.


“ sudah bangun? “ tubuhku mematung. Hal yang ku khawatirkan kini terjadi.


“ putra mahkota, kenapa tidak menyapa ibunda setelah kembali?” sudah ada permaisuri serta beberapa pengawal di ruang tengah. Mereka duduk berdua dengan Zen yang di kelilingi oleh pedang 2 pengawal. Dia terlihat begitu ketakutan.


“ apa yang kau lakukan?!” aku membentak sembari melangkah mendekati Zen.


“ jangan terlalu cepat,,” seorang pengawal mengacungkan pedang tepat di dadaku.


“ tuan,, hiks” Zenia menatapku sambil menggelengkan kepala, menyuruhku untuk tidak bertindak ceroboh. Permaisuri beranjak dari duduknya, disaat bersamaan seorang menendang bagian belakang kakiku. Membuatku bersimpuh di hadapan permaisuri.


“ tidak ku sangka, mencari dimana-mana ternyata berada di kerajaan. Kurasa kaisar tidak cukup pintar dariku. “


“ apa maumu?” tak ingin mendengar ocehannya yang tidak penting. Dia tersenyum meremehkan, menarik sudut bibirnya dan berjalan mendekati Zen.


“ lama tidak melihatmu selir Zen, tunggu perutmu ini. Apa kau sedang mengandung cucu kerajaan?” tangan permaisuri menelusuri perut buncit Zen. jantungku tak henti berdetak kencang, jangan sampai dia melukai kandungan Zen.


 


“ akh,,” Zenia menyingkirkan tangan permasuri yang tiba-tiba menekan kuat perutnya tapi dengan cepat pengawal di sampingnya menahan kedua tangannya.


“ berani kau sakiti mereka aku akan membunuhmu!” jika bukan karena 3 orang pengawal menahan pergerakanku mungkin aku sudah mematahkan tangan permasiuri.


“ suut, jangan mengangguku. Zen, aku ingin membagi cerita denganmu” mengelus kepala Zen, sebelum akhirnya duduk kembali.

__ADS_1


“ kau lihat suamimu itu, putra mahkota yang kau cintai sebenarnya tidak begitu mencintaimu. Apa kau masih ingat dengan putri mahkota?” aku bisa menebak jika saat ini permaisuri ingin mengadu domba kami. Atau ingin memberitahukan hal dusta mengenai kehamilan Luna.


 


“ tunggu kau sudah mendengar kabar terkait dengan kehamilan putri mahkota?” benar dugaanku.


“ dengan penuh penyesalan aku katakan. Saat ini putri mahkota sedang mengandung cucu kerajaan yang sah. Anak dari putra mahkota. Selama ini suamimu itu begitu bersenang-senang ketika kau tak ada”


“ hentikan ocehan sampahmu itu. Dia tidak mengandung anakku” aku segera memotong pembicaraannya.


“ hahaha, sayangnya putra mahkota tidak mengakuinya. Kasihan bukan. Jadi hari ini aku ingin mendiskusikannya padamu. Bujuk suamimu itu agar tidak melupakan perbuatannya.” Menatap tajam ke arahku. Kini aku mulai tahu maksud perkataan permaisuri.


“ sampai matipun aku tidak sudi mengakui hasil dari perbuatan hina mereka” salah satu dari mereka memukul kepalaku hingga terhuyung ke samping. Kedua tanganku kemudian diikat ke belakang.


“ tuan!” teriak Zen menyaksikan kejadian ini. Dengan kasar mereka menariku pada posisi semula. Lelahan hangat mengucur dari kepalaku.


“ sudah ku bilang jangan menggangguku. Cerita ini belum selesai”


“ jadi Zen, bagaimana pendapatmu. Apa kau tidak kasihan dengan putri mahkota?”


“ hahahha,,haha” aku tertawa melihat raut wajah kesal permaisuri. Ternyata Zen cukup berani juga.


“ kauu,,!” permaisuri berdiri dari duduknya. Melangkah mengambil sebuah pisau di atas meja.


“ berikan pilihanmu. Pisau ini merobek perut selir Zen atau kau mengakui anak putri mahkota?” tidak. Dia takkan berhenti sampai mendapatkan keinginannya. Kedua pilihan itu sejatinya sama saja. Mengakui atau tidak mengakui, keselamatan Zen masih saja di pertaruhkan. Anak putri mahkota satu-satu alibi terbesarnya untuk mencegah kudeta rakyat. Menaiki tahta kekaisaran tanpa penghalang. Aku bisa melihat rencananya dengan jelas. Aku harus bisa mengulur waktu, bagaimanapun semuanya begitu merugikan.


“ hahahaha. Kenapa tidak sekalian kau bunuh aku? Dengan begitu kursi kekaisaran dengan mudah kau dapatkan.” Seakan tidak meyangka ambisinya bisa ku baca, permaisuri terdiam menatapku tajam.


“ ternyata kau cukup pintar. Tidak heran menjadi putra mahkota” dia meletakkan pisau dan berdiri membelakangiku.


“ baiklah. Hari ini putra mahkota membantu pemberontak melarikan diri, dengan ini menunggu dijatuhi hukuman dan masukkan mereka berdua kedalam penjara”di detik yang sama, para megawal memukul tubuhku dengan ganggang pedang bertubi-tubi dari segala arah. Tubuhku sudah tak berdaya hanya bisa melihat Zen di seret keluar.


“ tidak! Jangan membawanya. Zen!”


“ tuan,,” masih kurasakan tendangan serta pukulan mereka menghatam keras tubuhku.

__ADS_1


 


Uhuk,,uhuk


Darah, mulutku penuh dengan darah. Aku tak bisa menahan rasa sakit ini sampai penglihatanku menjadi gelap.


 


“ tuan.. tuan” samar-samar panggilan itu menarik kesadaranku.


Bau pengap, itu yang pertama kali menyambut kesadaranku. Meski berat aku berusaha membuka mataku. Menatap kesekeliling tempat. Penjara, jelas sekali.


“ tuan, hiks” aku menoleh dengan tetap terbaring lemah.


“ Zen,,” tubuhku rasanya remuk redam tak bisa bergerak. Rasa sakit luar biasa ku rasakan ketika mencoba berdiri untuk mendekati Zen yang berada di sel sebelah.


“ tuan jangan banyak bergerak, Zen tidak apa-apa. Pulihkan tubuh tuan terlebih dahulu” ucapannya masuk akal.


“ kau tidak terluka?” dia menggeleng cepat. Lelahan air matanya terlihat jelas di wajahnya. Kurasa Zen cukup lama menagis matanya bengkak dan hidungnya merah.


“ berapa lama kita disini?” dengan tetap menahan rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhku bahkan ketika berbicara. Bahkan tenggorokan terasa begitu kering.


“ mungkin 2 hari, Zen tidak tahu tepatnya berapa lama” benar sekali, tak ada celah untuk melihat cahaya. Semua tembok penjara ini berasal dari beton tanpa ventilasi. Kemungkinan kami berada di penjara hitam. Penjara ini khusus untuk pelaku kejahatan berat.


“ bagaimana kondisimu, apa mereka memberimu makan?”


“ zen tidak apa-apa” ucapannya mengartikan bahwa kondisinya tidak sedang baik-baik saja.


“ bagaimana dengan anak kita?” zen memperlihatkan perutnya padaku. Dengan tersenyum ringan dia mengelus pelan.


“ dia tidak berhenti menendang” hatiku meremas. Sungguh aku ayah yang gagal. Tidak bisa melindunginya dengan baik. Bibir Zen begitu kering, mungkin sudah 2 hari dia tidak memakan apapun. Aku harus bisa bangkit. Mereka membutuhkan pertolonganku. Dengan langkah terseok-seok aku mendekati sekat sel. Mendekat pada Zen. memegang tanganya.


“ bertahanlah, sebentar lagi kita pasti akan keluar darisini” mengangguk. Aku terus mengelus kepalanya. Hanya Lucien harapanku.


 

__ADS_1


__ADS_2