
“ yang mulia anda mau pergi kemana?” saat ingin mengambil kuda Lucien tiba-tiba sudah ada di belakangku.
“ kerajaan” singkatku. Tak ingin berbasa-basi. Dia pasti akan mencegahku sama seperti Morgan.
“ saya akan ikut” sambungnya. Aku menatap Lucien sejenak, tumben sekali dia tidak berkomentar. Mengangguk kecil baru dia mengambil kuda sama sepertiku.
Kepergianku kali ini memang terbilang berbahaya, setelah bersusah payah melarikan diri aku malah kembali ke sarang masalah. Namun keadaan ayah tak bisa aku lupakan begitu saja. Sengaja tidak mengataka apapun kepada Zenia, dia tidak mungkin mengizinkan kepergianku. Biarkan dia aman disana.
“ yang mulia sebenarnya kenapa anda ingin ke kerajaan?” Lucien memulai percakapan dalam perjalanan.
“ mengenai kejadian kemarin malam, mungkin bisa dilakukan kepada ayah” sambil terus mengendarai kuda dengan laju tinggi. Meski hari semakin malam tak bisa menyurutkan niatku.
“ maksud yang mulia mengenai darah anda? Saya juga menyadari bahwa darah anda memang sedikit berbeda.”
“ apa yang kau temukan?”
“ darah anda bereaksi cepat pada racun, namun tidak beracun. Seakan penetral racun” aku mendengar dengan seksama semua perkataan Lucien. Aku bahkan baru mengetahui fakta ini. Semenjak kejadian malam itu aku seakan memiliki firasat bahwa antara Morgan dan Zoya pasti mempunyai hal yang di sembunyikan. Seakan mereka sudah saling mengenal sebelumnya. Apa mungkin ini alasannya kenapa Morgan tak pernah mau menginjak kerajaan. Karena sebenarnya antara mereka dengan kaisar memiliki cerita masa lalu yang sama.
Cah,,cah..
Agin berhembus kencang mengiringi perjalanan kami. Luka di bahuku sepertinya sudah sedikit lebih baik. Aku terpaksa melepaskannya karena begitu menggangguku dalam menunggang kuda.
Masih setengah perjalanan saat tepat tengah malam, tiba-tiba tubuhku terasa begitu panas. Apa mungkin kutukan itu bereaksi. Aku menatap bulan di atas sana. Tidak salah saat ini tepat bulan purnama.
“ akh,,” aku menghentikan laju kuda. Rasanya jantungku ikut berdebar kepanasan. Rasa sakit ini memang semakin meningkat, bahkan jangka waktunya bisa datang setiap bulan purnama.
“ yang mulia anda kenapa?”
“ jangan mendekat, kutukan ini kembali” Lucien yang memang mengetahui resiko jika bersentuhan langsung dengan kulitku berhenti mendekat. Dia diam sambil terus menatapku khawatir.
“ rasa sakit ini, akhh akkk,,”
__ADS_1
“ yang mulia, apa yang harus saya lakukan?” aku bisa melihat kulit tubuhku meradang, kemerahan dan sedikit berasap. Memang seperti ini sampai malam usai baru akan kembali normal. Namun kali ini rasa sakitnya menembus jantungku, tidak seperti biasanya yang hanya merasakannya di sekitar permukaan kulit saja.
“ emmss,,, kau kembalilah, akk, tanyakan pada Zoya apa dia masih menyimpan kebencian padaku” aku sudah jatuh terduduk memegang jantungku. Mengambil nafas semakin sulit.
“ baiklah, anda saja diri. Bertahanlah yang mulia”
Suara kuda Lucien sudah menghilang dalam sunyinya malam. Aku mengambil tempat di bawah sebuah pohon. Menyandarkan tubuhku yang rasanya remuk redam. Apa mungkin inilah maksud dari perkataan ayah. Semakin lama kutukan ini akan membunuhku. Baik aku maupun Zoya hanya ada satu yang bisa hidup.
“ akkkk,,” aku berteriak sekencang-kencangnya. Jika seperti ini lebih baik aku merasakan sayatan pedang ataupun biarkan semua tulangku bergeser bahkan patah, sakit ini tak ada bandingannya. Pening, kepalaku sudah tidak kuat merasakan sakit ini.
Uhuk,uhuk,,
Terbatuk, kini darah juga keluar dari mulutku. Ada apa sebenarnya.
“ akkk” jatungku terasa di tusuk berulang kali. Aku terus berteriak sampai kegelapan malam merenggut penglihatanku.
Lembut, rasanya punggungku merasakan benda yang lembut. Tak lama kemudian aku bisa merasakan sapuan hangat di sepanjang wajahku. Jemari membelah rambutku.
“ kami bersalah padamu, ku mohon bangunlah tuan” suara indah itu begitu menghangatkan hatiku. Perlahan aku membuka mata. Sesosok wanita hamil sedang memeras sebuah kain. Ia pasti sedang membersihkan tubuhku.
“ tuan,,?” begitu ingin membersihkan wajahku dia menyadari bahwa mataku sudah terbuka. Aku tersenyum ringan.
“ saya akan memanggil Lucien “ ingin sekali aku mehanan tangannya, tapi apalah tubuhku lemah tak berenergi. Sosoknya sudah menghilang di balik pintu. Aku menyebar pandangan. Kini sudah berada di atas ranjang kamar ruanganku. Sepertinya diluar sudah menunjukkan sore hari. Bagaimana mereka membawaku kembali.
“ yang mulia,,” memutuskan perhatianku pada jendela kamar. Lucien masuk dengan terburu-buu, diikuti dengan Morgan dan wanita itu, Zoya.
“ apa yang mulia masih merasa sakit?” Lucien bertanya ketika sudah duduk di samping ranjang.
“ untuk apa dia datang, ingin menyaksikan kesakitanku?”berhubung Zenia tidak ada aku dengan bebas bisa menunjukkan rasa tidak sukaku. Semua mata tertuju pada Zoya. Dia terlihat tidak terintimidasi dengan situasi ini malah tatapannya seperti merasa bersalah padaku. Tapi aku segera menepis pemikiran itu, mana mungkin dia mempunyai perasaan itu.
__ADS_1
Suasana menjadi hening, tak ada pembicaraan setelah mendengar kalimat pedas dariku.
“ keluarlah kalian, aku sudah tidak apa-apa” ketika ingin mengganti posisi menyamping tubuh begitu berat. Apa aku begitu lemah sampai tidak kuat hanya sekedar menggerakkan punggung.
“ kini kau butuh waktu untuk memulihkan tenagamu” ucap Zoya sebelum pergi meninggalkan ruangan. Dia memang yang lebih tahu apa efek dari kutukanya.
Awalnya aku ingin mengumpat mendengar perkataannya. Namun aku kalah cepat, dia sudah membalikkan punggung.
“ yang mulia, sepertinya wanita itu sudah bertobat” Morgan memukul kepala Lucien pelan tidak terima dengan ucapan Lucien.
“ sudahlah, kau beristirahatlah.” Ikut meninggalkanku.
“ bagaimana dengan Zen, apa dia sudah mengetahui masalah kutukan ini?” hampir saja aku melupakan hal ini.
“ sejak 2 hari yang lalu dia terus bersedih, mungkin masih belum percaya dengan kenyataan ini.” Jawab Lucien lemah. Zen pasti merasa bersalah, pantas saja saat mengetahui aku sadar dia langsung pergi tanpa mengatakan apapun.
“ tunggu, memang berapa lama aku tak sadar?” bagitu mencerna kalimatnya seperti ada yang janggal.
“ pagi itu kami menemukan tuan pingsan dan segera membawa kembali. Sudah hampir 3 hari yang mulia tak sadarkan diri. “ pantas saja zenia membersihkan tubuhku dengan kain, selama itukah aku terbaring disini.
“ katakan padanya bahwa aku mencarinya.”
“ yang mulia,, Zenia bahkan tidak mau menemui ibunya. Bagaimana saya harus membujuknya. Tidak akan bisa. “ separah itukah efek dari kebenaran ini. Ibunya bukanlah hal yang bisa dia sepelekan begitu saja. Terlihat sekali kekecewaan yang sedang Zen rasakan.
“ selama aku tak sadar bagaimana respon Zoya?”
“ entahlah, dia berkali-kali masuk melihat kondisi anda. Seperti sedang mencemaskan sesuatu” ini janggal. Apa yang sebenarnya dia rencanakan.
“ oia yang mulia, apa anda masih ingat bagaimana cara menghilangkan kutukan ini dari kaisar?” ucap Lucien berbisik. Tak ada yang tidak Lucien tau dariku selain kata hatiku. Percakapan waktu itu jelas sekali dia ikut mendengarkan.
“ tentu saja, tapi kurasa aku tidak sanggup melakukannya.” Menghembuskan nafas kasar. Pilihan ini masih begitu berat bagiku. Meski rasa benciku pada Zoya masih besar, tapi membunuh ibu dari istriku sama sekali tidak ingin aku lakukan.
Lucien meninggalkanku sendiri. Semua ini bukannya membaik malah menjadi rumit. Jika tau hal ini malah membuat jarak antara aku dan Zenia, aku takkan berusaha keras mengeluarkan Zoya dari tahanan. Aku mengambil nafas dalam-dalam menahan rasa kesalku. Tunggu tubuhku sehat kembali aku akan menjelaskan pada Zenia bahwa mau bagaimanapun dia tidak salah. Jangan sampai rasa bersalahanya itu malah akan memperngaruhi kesehatan janin dalam kandungannya.
__ADS_1