The Empero'S Prisoner

The Empero'S Prisoner
XXXI


__ADS_3

Beberapa hari sudah Zen tinggal dikediamaku. Keadaan menjadi


seperti semula, kami sudah saling terbuka dan semua kesalapaham yang terjadi


sudah hilang. Selayaknya suami istri aku dan Zen memiliki hubungan yang erat.


“ jadi selama ini tuan pergi itu terkait dengan Hameera?”Zen bertanya.


Mereka sedang berada di taman kerajaan. Sedangkan Aidyn bermain di rumput di


temani oleh 3 orang dayang.


“ dia wanita yang begitu kasihan” ucapku selanjutnya, Zen


mengerutkan dahi tidak mengerti maksud dari ucapanku.


“ kasihan bagaimana?” benar bukan dugaaku.


“ anaknya meninggal sebelum dia masuk ke istana” wajah Zen berubah


sendu sebagai sesama ibu Zen pasti mengerti apa yang di rasakan Hameera dulu.


“dia memintaku memberikan keadilan untuk anaknya, jadi beberapa


hari yang lalu aku memberikan hadiah yang sebanding dengan apa yang diinginkan


Hameera” aku mengelus lembut pipi Zen, wanita ini begitu serius menyimak


penjelasanku. Matanya tidak berkedip menatapku dalam.


“ kenapa?” aku jadi penasaran dengan apa yang Zen fikirkan.


“ apapun itu, saya rasa tak ada rasa sedih yang bisa dibandingka


kesedihan seorang ibu yang kehilangan anaknya” Zen menghembuskan nafas kasar,


perkataan Zen memang benar. Kini aku merasa hukumanku kemarin dirasa terlalu


ringan.

__ADS_1


“ apa aku salah?”


“ tidak tuan, Hameera pasti merasa berterimakasih karena sudah


mendapatkan keadilan” Giliran Zen mengusap pipiku lembut.


“ kau kini semakin bijak, kau pantas menjadi pendampingku. Jadi besok


lusa adalah hari penobatanmu” bisikku, Zen melebarkanmatanya tidak percaya


dengan perkataanku.


“ penobatan apa?” dia menjauhkan wajahnya, menatapku sama


seriusnya dengan yang tadi.


“ apa lagi, posisi ratu memang sudah menunggumu dari awal” entah


perasaan apa yang dia rasakan, bibirnya tersenyum namun air matanya mengalir


deras. Aku hanya bisa memeluknya untuk menenangkan dirinya.


“ssssttt, jangan berpikiran seperti ini. Dari awal memang kaulah


satu-satunya wanita yang aku cintai dan pantas mendapatkannya” Ze masih


mengusap air matanya yang tidak berhenti.


“masa lalu, orang tuaku, apakah mereka bisa menerimanya?” aku


mengerti dengan keraguan Zen, kami memiliki masa lalu yang berat.


“ mereka sudah mengerti, aku yakin mereka tidak akan


mempermasalahkannya” yakin dengan dugaanku, firasatku memang tidak meleset. Semua


sudah mengetahui jika Zoya adalah ibu kandung dari Zen. Dia sudah melakukan


kejahatan besar dengan percobaan pemberontakan, namun semua itu tidak sebanding

__ADS_1


dengan kesalahan permaisuri terdahulu. Kejahatan Zoya masih sempat wanita itu


tebus dengan menyelamatkan hidupku, sedangkan permasuri terus menutupinya


hingga akhir. Semua menteri jelas memahami semua perpecahan ini adalah ulah


permaisuri, mereka tidak memiliki alasan yang kuat untuk menolak Zen nanti.


“ kamu yakin?” suara Zen terdengar sedikit parau. Wanita ini


tidak henti menangis begitu mengetahui kabar ini.


“ yakin sekali” kami kembali berpelukan, tak lama Aidyn meminta


mendekat, pelukan pun bertambah. Rasanya aku ingin menghentikan waktu, melihat


Aidyn dan Zen didepanku dengan penuh rasa haru, adalah benar-benar yang aku


inginkan.


Hingga menjelang siang kami baru masuk kedalam istana, bermain-main


dengan Aidyn terasa tidak membosankan, hari itu terasa begitu cepat. Entah mengapa.


Beberapa hari kemudian hari penobatan Zen telah tiba, kami sudah


berada di aula. Zen terlihat begitu cantik dengan balutan gaun merah. Semua orang


menatap dia penuh takjub, tidak ada kendala dan semua prosesi berjalan dengan


lancar. Pesta dimulai dari sore sampai malam.


Kini tak ada lagi hal yang aku inginkan,rasanya hampir tidak


percaya hari seperti ini akan tiba. Aku bahkan sudah merelakan jika aku akan


tewas seperti yang diinginkan Zoya. Namun takdir berkata lain, entah aku atau


Zen yang memiliki keberuntungan, yang jelas kami bersyukur mendapatkan ini semua.

__ADS_1


__ADS_2