
Beberapa hari sudah Zen tinggal dikediamaku. Keadaan menjadi
seperti semula, kami sudah saling terbuka dan semua kesalapaham yang terjadi
sudah hilang. Selayaknya suami istri aku dan Zen memiliki hubungan yang erat.
“ jadi selama ini tuan pergi itu terkait dengan Hameera?”Zen bertanya.
Mereka sedang berada di taman kerajaan. Sedangkan Aidyn bermain di rumput di
temani oleh 3 orang dayang.
“ dia wanita yang begitu kasihan” ucapku selanjutnya, Zen
mengerutkan dahi tidak mengerti maksud dari ucapanku.
“ kasihan bagaimana?” benar bukan dugaaku.
“ anaknya meninggal sebelum dia masuk ke istana” wajah Zen berubah
sendu sebagai sesama ibu Zen pasti mengerti apa yang di rasakan Hameera dulu.
“dia memintaku memberikan keadilan untuk anaknya, jadi beberapa
hari yang lalu aku memberikan hadiah yang sebanding dengan apa yang diinginkan
Hameera” aku mengelus lembut pipi Zen, wanita ini begitu serius menyimak
penjelasanku. Matanya tidak berkedip menatapku dalam.
“ kenapa?” aku jadi penasaran dengan apa yang Zen fikirkan.
“ apapun itu, saya rasa tak ada rasa sedih yang bisa dibandingka
kesedihan seorang ibu yang kehilangan anaknya” Zen menghembuskan nafas kasar,
perkataan Zen memang benar. Kini aku merasa hukumanku kemarin dirasa terlalu
ringan.
__ADS_1
“ apa aku salah?”
“ tidak tuan, Hameera pasti merasa berterimakasih karena sudah
mendapatkan keadilan” Giliran Zen mengusap pipiku lembut.
“ kau kini semakin bijak, kau pantas menjadi pendampingku. Jadi besok
lusa adalah hari penobatanmu” bisikku, Zen melebarkanmatanya tidak percaya
dengan perkataanku.
“ penobatan apa?” dia menjauhkan wajahnya, menatapku sama
seriusnya dengan yang tadi.
“ apa lagi, posisi ratu memang sudah menunggumu dari awal” entah
perasaan apa yang dia rasakan, bibirnya tersenyum namun air matanya mengalir
deras. Aku hanya bisa memeluknya untuk menenangkan dirinya.
“ssssttt, jangan berpikiran seperti ini. Dari awal memang kaulah
satu-satunya wanita yang aku cintai dan pantas mendapatkannya” Ze masih
mengusap air matanya yang tidak berhenti.
“masa lalu, orang tuaku, apakah mereka bisa menerimanya?” aku
mengerti dengan keraguan Zen, kami memiliki masa lalu yang berat.
“ mereka sudah mengerti, aku yakin mereka tidak akan
mempermasalahkannya” yakin dengan dugaanku, firasatku memang tidak meleset. Semua
sudah mengetahui jika Zoya adalah ibu kandung dari Zen. Dia sudah melakukan
kejahatan besar dengan percobaan pemberontakan, namun semua itu tidak sebanding
__ADS_1
dengan kesalahan permaisuri terdahulu. Kejahatan Zoya masih sempat wanita itu
tebus dengan menyelamatkan hidupku, sedangkan permasuri terus menutupinya
hingga akhir. Semua menteri jelas memahami semua perpecahan ini adalah ulah
permaisuri, mereka tidak memiliki alasan yang kuat untuk menolak Zen nanti.
“ kamu yakin?” suara Zen terdengar sedikit parau. Wanita ini
tidak henti menangis begitu mengetahui kabar ini.
“ yakin sekali” kami kembali berpelukan, tak lama Aidyn meminta
mendekat, pelukan pun bertambah. Rasanya aku ingin menghentikan waktu, melihat
Aidyn dan Zen didepanku dengan penuh rasa haru, adalah benar-benar yang aku
inginkan.
Hingga menjelang siang kami baru masuk kedalam istana, bermain-main
dengan Aidyn terasa tidak membosankan, hari itu terasa begitu cepat. Entah mengapa.
Beberapa hari kemudian hari penobatan Zen telah tiba, kami sudah
berada di aula. Zen terlihat begitu cantik dengan balutan gaun merah. Semua orang
menatap dia penuh takjub, tidak ada kendala dan semua prosesi berjalan dengan
lancar. Pesta dimulai dari sore sampai malam.
Kini tak ada lagi hal yang aku inginkan,rasanya hampir tidak
percaya hari seperti ini akan tiba. Aku bahkan sudah merelakan jika aku akan
tewas seperti yang diinginkan Zoya. Namun takdir berkata lain, entah aku atau
Zen yang memiliki keberuntungan, yang jelas kami bersyukur mendapatkan ini semua.
__ADS_1