The Empero'S Prisoner

The Empero'S Prisoner
VIII


__ADS_3

... ...


Semua mata tertuju pada peta yang terletak di meja. Di sebelahnya sudah ada titik lokasi keberadaan beberapa markas mereka.


“ di sini tertulis bahwa mereka memiliki 3 markas, salah satunya adalah markas utama. Sedang lainnya hanya pangakalan berjaga” sambil menunjuk titik tempat keberadaan markas.


“ anda benar tuan” morgan ikut menimpali.


“ jika begitu, kini hanya tinggal 2 markas. Markas utama di pegunungan Sallanor dan satu lagi di Furmur. “ lanjut Morgan. Kami semua mengangguk kecil membenarkan semua pernyataan Morgan.


“ tapi tuan, markas ini terlihat sekali jika ditinggalkan secara mendadak. Apa mungkin ini jebakan? Kita bahkan bisa dengan mudah menemukan keberadaan markas utama. Semuanya terasa janggal” Lucien bersuara setelah cukup lama hanya diam mendengarkan. Perkataanya masuk akal juga. Bertahun-tahun mencari keberadaan mereka, sekarang dengan mudahnya mendapatkan informasi penting ini. Ada yang tidak beres.


“ kalaupun jebakan seharusnya mereka sudah bisa menangkap kita sedari tadi. Kurasa ada sesuatu yang terjadi pada mereka“ Morgan mengelus dagunya pelan.


“ tidak ada waktu untuk memikirkan, lebih baik kita bagi kelompok dan langsung mencari tahu sebenarnya apa yang terjadi. Firasatku mengatakan ada hal buruk yang terjadi.”


“ baik tuan.”


 


Sesusi dengan intruksi sebelumnya. Kami berpisah, terbagi menjadi 2. Aku dan Lucien menuju ke kota Furmur sedang sisanya menuju ke pegunungan Sallamor. Meski disana adalah basis markas utama, tapi peluang keberadaan Zen sangatlah kecil. Hanya kota Furmur harapanku. Tujuan utama misi ini adalah menemukan keberadaan Zen, untuk masalah pemberontak aku sudah memiliki keputusan tersendiri. Tepat tengah malam kami langsung meneruskan perjalanan. Tidak ada waktu untuk menunda rencana.


 


Cah..cah..


Dalam kegelapan malam, suara kaki-kaki kuda terus terdengar tegas. Mewakili ketegasanku untuk tetap memilik Zen apapun yang terjadi. Meski terdapat kekhawatiran tentang bagaimana kabar ayah di kerajaan. Semua pilihan hanya tentang hidup dan mati. Sudah sejauh ini tidak ada pilihan lainnya.


 


Entah sudah berapa hari perjalanan yang sudah kami lalui, kini sudah bisa melihat markas yang kami tuju. Perlu waktu untuk mendapatkan lokasi keberadaan. Mereka cukup handal dalam membuat taktik serta penempatan lokasi markas. Markas ini terletak di balik sebuah bukit, harus melewati beberapa perkebunan dan ladang.


 


“ sepertinya di depan itu adalah markas mereka” Lucien menunjuk sebuah gerbang kayu besar. Dimana tingginya mampu menutupi keadaan di dalam.


“ kurasa begitu, lebih baik kita mendekat”


Segera saja menarik tali kekang dan melaju mendekati gerbang kayu itu.


“ gerbangnya tertutup”


Aku turun dan berjalan ke gerbang. Suasana cukup sepi, gerbang terlihat tertutup. Tapi ketika aku dorong pelan, gerbang ini terbuka.

__ADS_1


“ tidak terkunci” bisikku kepada Lucien.


Dengan langkah pelan kami memasuki bangunan ini. Berharap jangan sampai kosong seperti tempat-tempat sebelumnya. Terlihat pos jaga yang sepi. Perasaanku semakin tidak tenang. Kondisi ini semakin memperjelas bahwa kondisi markas ini tidak jauh beda dengan markas sebelumnya.


“ tuan, disana!” Lucien menunjuk pada beberapa penjaga yang tewas tak jauh dari tempat kami berada.


Segera aku menghampiri mereka. Luka di tubuh mereka berasal dari pedang. Kemungkinan terjadi penyerbuan. Aku terus masuk, mencari sesuatu yang bisa menenangkan hatiku.


 


Namun beban hati semakin berat, bagaimana tidak. Semakin masuk kedalam semakin banyak mayat yang terlihat. Sepertinya penyerbuan kali ini berujung pada kekalahan. Sebenarnya siapa yang melakukan ini. Mereka dikenal sebagai pemberontak, tidak mungkin bisa dikalahkan dengan mudah. Selain jika yang melakukan penyerbuan ini adalah kerajaan.


 


“ beberapa mayat ini berpakaian kerajaan. “ lirihku. Kesimpulan yang sama dengan kenyataan. Kerajaan seakan mencoba menunjuk kambing hitam. Tidak, ini benar-benar tidak baik.


“ tuan saya menemukan mayat lelaki yang kita temui saat di Dendyra”


Segera saja aku mendekat pada Lucien. Benar saja, lelaki ini aku mengingatnya. Memeriksa kondisi tubuhnya. Nadinya masih lemah, begitupun harapanku.


“ tuan, apa mungkin permaisuri yang melakukan ini? Dilihat dari kondisi mayat disini, menunjukkan kejadian ini berlangsung tidak lama sebelum kita datang.” Benar ucapan Lucien. Wanita itu pasti yang melakukan hal ini. Kini jelas bagiku kenapa dariawal kasus pemberontak diberikan padaku. Niatnya adalah ingin membunuh semua orang yang menghalanginya meraih kursi kekaisaran. Mengadu domba diantara dedam masa lalu, begitu cara wanita itu bermain.


 


Uhuk,,uhuk


“ dimana Zenia? Apa yang terjadi disini?” tanyaku cepat, tidak ingin melewatkan kesempatan.


“ Zos,,ka” hanya kata itu sebelum dia benar-benar terlelap. Zenia kini berada di tangan Permaisuri. Keselamatannya terancam, aku tidak memiliki banyak waktu. Langsung saja beranjak keluar, segera memulai perjalanan.


“ tuan, anda mau kemana?” Lucien berteriak mengejar langkah ku.


“ kau pergilah menyusul Morgan, siapakan pasukan menuju kerajaan.”


“ tapi disana berbahaya”


“ tidak ada yang berbahaya untuk keselamatan Zen” sorot mataku tegas menusuk. Bagaimana bisa dia masih mengkhawatirkan keselamatanku.


“ tuan, bagimana jika ini hanya perangkap?” menarik lenganku. Menahan langkah, aku kembali menoleh kearahnya.


“ meski mereka menginginkan nyawaku, aku.pasti.datang.” tegasku. Menarik kuat lenganku dan menaiki kuda. Memacu kuda secepat yang bisa ku lakukan. Pikiranku hanya tertuju pada Zen. Cukup jelas niat permaisuri adalah ingin membunuh Zen serta bayinya.


“semoga saja ayah masih memiliki nurani,” lirihku dalam perjalanan.

__ADS_1


 Cah..cah..


 


Gerbang kerajaan sudah bisa terlihat, sebentar lagi akan bisa mengetahui bagaimana kondisi disana. Tidak perlu banyak waktu, setelah melewati gerbang langung saja memasuki istana kekaisaran dengan tetap menaiki kuda. Tepat di depan halaman depan, aku turun dan berlari memasuki istana.


Brak


Suara pintu yang aku dorong kuat. Suasana cukup sepi. Tidak ada seorangpun di bagian depan istana.


“ kaisar,,,” panggilku dengan terus berjalan masuk.


“ ayah,” kini suaraku semakin keras.


 


Aku berhenti ketika sampai di halaman samping. Disana seseorang yang kucari sedang menikmati teh duduk dikursi balkon. Tenang sekali. Berbeda dengan ku yang terengah-engah mengatur nafas.


 


“ kau sudah kembali?” menaruh cangkir dan menolah kearahku. Wajahnya begitu pias, jelas sekali akibat menerima rasa sakit akibat ramuan opium.


“ ayah, dimana Zen?” kaisar tersenyum lemah kearahku.


“ jadi kau tetap pada pilihanmu?” beranjak berdiri. Aku berjalan mendekatinya.


“ ayah, aku tidak bisa melepaskannya. Ku mohon beritahu aku dimana Zen. Ayah pasti mengetahui keberadaanya kan,” aku bersimpuh memohon pada ayah.


 


Kaisar diam terdengar helaan nafas kasarnya. Aku tahu dia pasti kesal denganku.


“ lihat dirimu, apa begini caramu melawan wanita itu?” menghempaskan sedikit jubahnya sebagai tanda kemarahannya.


“ aku tidak peduli ayah, ku mohon beritahu aku dimana Zen” ayah masih diam.


 


“ waktuku tidak banyak, ayah ingin kamu meneruskan tahta ini. Dengan adanya Zen kau akan tersingkirkan” kaisar berjalan masuk.


“ aku tidak peduli dengan tahta ini ayah! Semua ini terjadi berawal dari ambisi ayah, kenapa masih menyeret orang yang tidak bersalah untuk berkorban. “ cukup. Aku tidak bisa menahan amarah ini. Kegelisahanku tidak bisa di baca dengan jelas oleh ayah, aku tidak punya pilihan. Ayah terlihat kaget dengan ucapanku. Langkahnya berhenti. Berbalik menatapku yang masih bersimpuh.


“ hahaha,, kau benar. Ayah yang salah. Semua ini karmaku. “

__ADS_1


“ ayah kumohon, ini adalah satu-satunya cara untuk membayar hutang masa lalu. Zenia putri Marcus, lelaki yang sudah kau bunuh. Hentikan lingkaran dedam ini ayah.” Mata kaisar seakan ingin keluar mendengar perkataanku. Tidak menyangka jika aku mengetahui fakta ini. Rahasia yang dia simpan rapat bisa dengan mudahnya sampai pada mulut anaknya.


“ meski dengan nyawaku hutang ini masih tidak bisa terbayar,” lirihku lemah.


__ADS_2