
Nyali kak Lu perlu diacungi jempol, berani sekali membalas perintah putra mahkota. Tuan En melepaskan lilitanya. Aku tak mau tahu, yang penting melanjutkan tidur nyenyak ini. Tubuh terasa remuk redam, jadi harus banyak beristirahat.
Selimut tertarik, membuat setengah tubuhku terbuka. Sedikit setakan aku menariknya kembali. Tapi terbuka lagi. Ini pasti ulah tuan En.
“ tuan jangan menggangguku,,” menariknya kembali.
“ yang mulia,,,” kak Lu masih saja memanggil. Banyak sekali gangguan tidur hari ini.
“ tuan pergilah,,,” mendorong tubuhnya tanpa membuka mata. Tapi begitu menyentuh sesuatu yang kencal aku langsung membuka mata. Melotot kearah tuan En. dia tengah tersenyum jail.
“ kau membuatnya bangun, “ ucapnya dengan nada manja.
Tok,,tok,,
“ yang mulia,” pandangan mata kami langsung mengarah ke pintu masuk. Kak Lu bahkan mulai mengetok pintu, seakan memaksa tuan En untuk segera bangun. Aksinya benar-benar berani.
“ Lucien ini, aku akan memotong gajinya selama setahun,” gerutu tuan En. beranjak dan menyambar celana serta bajunya. Aku kembali berbaring setelah memakai sebuah kain untuk melapisi tubuhku. Tidak lupa menarik selimut untuk membukus tubuh. Hari masih pagi dan malas untuk memulai aktifitas. Salahkan saja tuan En yang membuatku selelah ini.
“ apa yang kau ributkan,,?” sentak tuan En setelah membuka pintu kamar. Samar-samar masih terdengar percakapan mereka. Tentang kehadiran putri mahkota serta makanan buatannya. Entahlah setelah itu tak mengingat apapun lagi.
Baru saja terpejam, kini rasanya nyawa tertarik keras ke alam kesadaran. Bagaimana tidak, yang awalnya terbaring empuk di ranjang penuh dengan kehangantan, tiba-tiba sudah berpindah dalam pemandian penuh air sabun yang dingin ini.
Pelakunya tak lain, lelaki tanpam yang tengah tersenyum jail. Kami sudah berada di pemadian. Tuan En memangku tubuhku, menandakan jika menggedong tubuhku dan langsung masuk ke kolam pemandian.
“ tuan En,, aku masih mengantuk” merengek, bahka air mata benar-benar keluar. Rasanya kesal sekali, ingin melanjutkan tidur saja susah sekali.
“ dia ingin sarapan bersama, jadi kamu juga harus bersiap” melepaskan kain yang tadi melapisi tubuh polosku.
“ dia hanya ingin sarapan dengan tuan,” semakin membuatku kesal. Tapi cengiran tuan En membuatku sedikit menahan diri.
“ kamu harus ikut” final. Tuan En membantuku membersihkan diri. Karena kesal aku benar-benar tak melakukan apapaun disana. Bersindekap menjadikan tuan En sebagai pelayan baruku, inilah balasan karena sudah mengganggu tidurku.
__ADS_1
Tak beberapa lama, kami sudah siap. Cila masih membantuku menata rambut saat tuan En sudah bersiap keluar.
“ tuan kelauarlah dulu, nanti saya menyusul” sagu berpangku di tangan.
“ jangan tidur lagi, dan kau dandani dia sebaik mungkin” mengarah pada Cila dengan ucapan tegasnya. Mode manjanya sudah usai. Kini tuan En kembali pada sifat aslinya. Berjalan keluar dengan di temani kak Lu.
“ kau bisa berlama-lama menatanya, “ sambil menguap ngantuk.
“ tapi nyonya, putri mahkota sudah menunggu lama”
“ yang dia tunggu hanyalah putra mahkota”
Beberapa lama kemudian kak Lu datang, meminta untuk segera menuju tempat makan. Untung saja semua riasan suda selesai jadi langsung mengikuti kak lu menuju arahnya.
“ salam putri mahkota”
“ duduklah disini Zen “ belum juga putri mahkota membalas salamku, tuan En sudah menarikku duduk.
“oh selir Zen,” maniknya terlihatt kebingungan dengan kehadiranku dalam acara makan berduanya dengan putra mahkota.
“ makanlah selagi hangat” suasana menjadi sedikit canggung. Tuan En sama-sekali tidak mencoba mencairkan kecanggungan ini. Malah membuatnya semakin jelas.
“ terimakasih selir, oia, bagaimaa dengan kondisi tubuh kamu, ?” dia pasti mengarah pada kejadian pendarahan yang menunda pernikahannya.
“ sekarang sudah sedikit membaik, terimakasih atas perhatian yang mulia”
Memulai sarapan, tuan En beberapa kali menaruh lauk serta sayuran di atas mangkukku. Hal ini berhasil menarik perhatian putri mahkota. Sesekali tertangkap basah melirik kearahku dengan pandangan tidak suka. Tindakan tuan En ini semakin memancing emosi putri mahkota padaku. Hubunganku dari awal memang tidak akan bisa baik. Jadi sepertinya percuma saja mencoba berbaik hati.
Tak mau kalah, putri mahkota juga mengambilkan lauk ataupun sayuran di mangkuk putra mahkota. Meskipun tidak ada balasan juga dari tuan En, tapi dia terus melakukannya. Biarlah kehadiranku di anggap transparan oleh putri mahkota, itu tidak mengangguku. Dan tetap menikmati menu sebanyak-banyaknya.
Selesai sarapan putri mahkota mengajakku berbincang ringan di istananya. Meski keberatan karena rasa ngantuk ini, aku tidak bisa langsung menolak.
“ aku masih butuh banyak saran dari selir, jadi mungkin akan sering mengundang selir kemari.” Putri mahkota mengajak duduk di luar, tepanya di halaman samping.
“ yang mulia jangan terlalu sungkan, saya pasti membantu”
“ lagipula ini kesempatan selir untuk menikmati suasana istana putri mahkota” sindiran ini, baru sehari menduduki status sebagai putri mahkota sudah begitu sombong.
__ADS_1
“ saya tidak begitu suka istana yang besar tapi dingin, lebih baik kecil namum hangat” selalu berduaan dengan tuan En, bukan sendirian dalam istana besar. Putri mahkota menatap dalam ke arahku. Sepertinya dia tahu maksud dari perkataanku barusan.
“ tapi di dunia ini memiliki aturan, mana mungkin membiarkan yang rendah menikmati kehidupan yang atas. Itu tidak memiliki kesadaran” oh, jadi mengatakan aku rendahan karena merebut tuan En, baiklah.
“ yang mulia, tidak semua hal memiliki aturan itu, karena ‘tidak ada aturan dalam cinta dan perang’.” Meletakkan cangkir teh dan beranjak berdiri.
“ sepertinya hari sudah mulai siang, saya pamit undur diri” lanjutku. Putri mahkota hanya tersenyum serta menggangguk pelan.
“ mulai sekarang tidak perlu merepotkan selir dalam melayani putra mahkota, bagaimanapun itu adalah tugas putri mahkota. Bukan begitu?” baru saja melangkah, putri mahkota sudah bersuara kembali.
“ kalau begitu saya akan mengatakan kepada putra mahkota untuk tidak mengganggu saya mulai sekarang” tanpa berbalik ke arah putri mahkota. Tidak mau di pandang remeh oleh orang baru sepertinya. Cukup tuan En saja yang bisa merendahkanku. Entah bagaimana raut wajah putri mahkota setelah mendengar acaman dariku, semoga bisa memberinya pelajaran.
Sesampainya di istana harem, seperti biasa langsung melepaskan gaun serta perhiasan dan langsung menaiki ranjang. Setidaknya siang ini tak ingin ada yang mengganggu. Berbicara sebentar dengan putri mahkota sudah sangat melelahkan hati, jadi butuh istirahat ganda.
****
Hari ini aku berencana untuk memulai sesi latihan yang tertunda beberapa lama. Setelah memiliki tujuan, sekarang bisa berlatih dengn sungguh-sunggu. Nanti yang aku hadapi adalah para pemberontak itu, meski sedikit gentar tapi harus bersiap. Ini jalan satu-satunya untuk mengetahui hal besar dibalik kematian ibuku.
“ nyonya apakah bekal ini sudah cukup?”
“ sepertinya sudah, ayoo “
Berniat menghabisakan waktu sampai siang nanti untuk berlatih, sesi awal memang lebih panjang, harus mengulang hasil latihan sebelumnya, baru menambah latihan baru. Kali ini mencoba melatih kemampuan panah serta pertahanan diri. Setelah itu akan berlanjut dengan memakai senjata.
Kak Lu tidak bisa ikut melatih, kemungkinan besok baru ada kesempatan melatih. Setidaknya butuh waktu sebulan sebelum akhirnya keluar dari kerajaan. Ya, memang itulah rencananya. Tidak ingin menunda waktu lagi, tapi jika keberadaan pemberontak bisa di ketahui sebelum itu, mungkin saja akan langsung pergi.
Harus sering mencari informasi tentang keberadaan pemberontak kepada kak Lu, dia bukan orang yang siaga. Berbeda dengan tuan En, jika dia menyadari bahwa aku mencari keberadaan pemberontak bisa jadi rencanku bisa terbongkar, dia cukup teliti dan siaga. Dalam hal ini Cila berperan penting, hubungan antara kak Lu dan Cila memberikan sedikit keuntungan dalam misi ini.
__ADS_1