
Pertengahan malam aku terbangun, angin malam yang masuk melalui jendela berhasil membuatku terjaga. Ku dudukkan tubuhku dan menyadari jika tuan En sudah tidak ada disampingku. Setelah puas “memanfaatkanku” dia sudah tak terlihat lagi. Ku raih jubah tidur satin warna hitam milik tuan En. Berjalan ke ruang tengah sepertinya aku tau dimana keberadaan tuan En.
Mendekati ruang tengah samar-samar aku mendengar perbincangan seseorang. Jika perkiraan tidak salah sepertinya itu suara kak Lu dan tuan En. Aku berjalan pelan dan mencari tempat bersembunyi.
“ ku mulai mengetahui rencana mereka. Apakah sudah mendapatkan informasi yang aku inginkan?” itu tuan En. Aku sangat tahu dengan jelas.
“ sudah, yang mulia. Berdasarkan informasi yang memasukkan Suki dalam daftar pelayan adalah permaisuri. Bahkan langsung menempatkannya dalam pelayan kamar anda.”
“ apa kau yakin Lucien?”
“ saya tidak berani berbohong, yang mulia. Suki juga sering memasuki istana permaisuri dalam beberapa purnama”
“ sepertinya dugaanku benar, bagaimana dengan tulisan di buku yang sudah di temukan?”
“ dari ahli grafologi tulisan itu memang memiliki kesamaan dengan tulisan tangan surat yang diterima Suki. Jadi mungkin yang menulis surat dan buku itu adalah orang yang sama”
“ apakah cilla tidak memberikan informasi apapun?” tunggu, mereka menyangkut pautkan Cilla dalam hal ini. Sebenarnya apa yang mereka sembunyikan dariku. Aku harus mempercepat latihan. Percuma jika aku menanyainya sekarang, perjanjian tetaplah perjanjian.
“ dia tak menyadar jika selama ini dia menjadi tawanan, yang dia tau bahwa kakaknya bekerja pada tuannya di luar desa. “
“ jadi dia tidak mengetahui jika kakaknya bekerja di istana apa jangan-jangan dia tak tau jika Suki telah tiada?” bagaimana bisa dia tak tau, tapi selama ini memang cila tak pernah terlihat sedih. Jadi kemungkinan memang benar dia tak mengetahui kematian kakaknya.
“ sepertinya tidak yang mulia”
“ lebih baik jangan terlalu sering bertemu dengan Cila, suruh seseorang mengawasinya, siapa tahu permaisuri mencoba memanfaatkannya”
“ baik yang mulia” terdengar langkah kaki semakin menjauh, perbincangan itu telah usai.
Aku berjalan cepat tanpa menimbulkan suara menuju ranjang, jangan sampai tuan En mengetahui jika aku mendengar perbincangan mereka. Setelah memastikan jika aku sudah terlihat seperti orang tertidur, aku mendengar langka kaki masuk. Untung saja posisiku berbaring menyamping, aku bisa menyembunyikan wajahku.
__ADS_1
Tak lama kemudian ranjang bergoyang, menandakan tuan En berada di sisi lain dari ranjang tepat di belakangku. Aku berusaha menenangkan nafasku, sebisa mungkin membuatnya normal. Sebuah tangan sudah mendarat di atas perutku. Aku tau milik siapa itu. Hembusan nafasnya mengenai leherku.
“ aku tak tau jika kau pandai menguping” bisiknya. Aku menegang sejenak, bagaimana dia bisa tau. Aku tetap diam tak mau terpancing dengan ucapan tuan En.
“ tak mau mengakuinya?” gerakannya semakin intes. Menciumi sepanjang leherku. Aku tak mau kalah, masih berpura-pura tertidur.
“ baiklah, “aku mulai was-was. Apa yang sedang dia rencanakan.
“ tidak,,” teriakku dan aku langsung menghentikan tangannya. Dia sudah menang. Aku membalikkan tubuhku menjadi terlentang, dengan wajah senangnya dia mengerjaiku.
“ kenapa tuan membangunkanku?” aku masih melanjutkan sandiwaraku.
“ Zen, aku tau kau sudah bangun sedari tadi, bahkan..”
“ apa maksud tuan En?”
“ jelaskan padaku bagaimana orang tidur memakai baju “ tamat sudah. Aku lupa melepaskan jubah satin ini. Dasar bodoh.
“ eeeem, s..s.saya memakai ini karena kedinginan tadi terus lanjut tidur lagi” hanya alasan ini yang terlintas dalam pikiranku, entah bisa percayaatau tidak.
“ jadi karena kedinginan? Baiklah, aku akan menghangatkanmu” bukan ini yang aku inginkan. Tapi aku juga tak bisa mengakui jika aku memang menguping pembicaraan mereka. Sudahlah aku pasrah.
Beberapa hari aku sibuk dengan melatih kemapuan pertahanan diri tanpa senjata. Sudah hampir satu minggu aku hampir menyelesaikannya. Aku berusaha keras, aku harus bisa mendapatkan semua yang sudah janjikan tuan En.
Karena aku tau jika informasi mengenai itu semakin hari semkain bertambah, aku tak mau ketinggalan rencana dengan tuan En. Tekatku sudah bulat, dendam ini harus terbalas.
“ Zen perhatikan gerakanmu, fokus. “
“ kak Lu jangan khawatir, setelah ini aku akan bisa mengalahkanmu”
“ jangan sombong kau hanya belajar pertahanan diri bukan jurus bela diri”
“ hehehe, sekali-kali sombongkan tidak mengapa” aku berada di lapangan di samping hutan. Tempat khusus tuan En untuk melatih tubuhnya dahulu.
“ kau jangan terburu-buru semua yang kau pelajari hanya pelajaran dasar”
__ADS_1
“ iya-iya kak Lu”
Bisa dibilang kak Lu terlalu keras melatihku, semua ini memang ini aku yang memintanya. Waktu yang diberikan tuan En hanya satu bulan. Awalnya kak Lu menolaknya karena tidak mungkin memaksakan diri. Setelah perdebatan yang panjang akhirnya menyetujui keinginanku.
Aku sudah sangat siap untuk mulai aksi balas dendam ini, belakangan ini tuan En ataupun kak Lu sedikit berbeda padaku. Lebih perhatian dan memanjakanku. Sikapnya yang keras hanya permukaan saja.
“ yang mulia makan malam sudah siap” setelah mendengar perbincangan tuan En aku juga lebih waspada dengan Clla. Aku berhati-hati dan mulai teliti melihat gerak-geriknya. Aku tak mau kejadian Suki terlurang lagi. Dimana aku tak tau apapun terkait dengan pelayangku sendiri.
“ aku akan segera kesana” saat ini aku sedang membaca buku. Beberapa hari yang lalu tuan En mengirimiku koleksi bukunya. Mungkin karena hari itu aku mengingatkannya jika aku begitu menyukai membaca buku jadi mengirimikan sebagian kecil koleksinya.
“ baik yang mulia” berjalan menuju meja makan. Seperti biasa, cilla akan makan bersamaku jika tau tak ada orang lain. Aku tidak bisa menghabiskan semua makanan ini. Aku juga tau bagaimana menu makanan pelayan, sungguh tak tega jika mengingatnya.
“ yang mulia, sudah lama tidak mengunjungi yang mulia putra mahkota?”
“ kenapa yang menanyakannya?”
“ saya melihat hubungan yang mulia tidaklah buruk, tapi kenapa jarang berkunjung?” aku dan Cilla memang terbiasa berbincang, jadi tak heran dia bertanya seperti ini.
“ wanita muda sepertimu kenapa memperhatikan hubungan orang dewasa ? Apa kau sudah ingin menikah Cilla?” sebenarnya tak ada yang salah dengan pertanyaannya tapi aku harus menutupi ini. Jika benar Cilla adalah pelaya permaisuri aku bisa mendapatkan masalah.
“ t.tidak yang mulia, saya telah lancang bertanya seperti itu” dia terlihat ketakutan. Aku jadi merasa bersalah.
“ Cilla, bukan maksudku memarahimu, kau sudah ku anggap seperti adikku. Tapi jangan sampai kau bertindak di luar tatakrama kerajaan. Sedikit informasi jauh lebih baik untukmu” bagaimanapun aku harus tetap melindunginya, pengorbanan Suki begitu aku ingat.
“ baik yang mulia, nasehat anda hari ini akan selalu saya ingat”
Setalah makan malam itu, Cilla membantuku berganti pakaian. Selama melayani dia tak banyak bicara. Sepertinya memang dia anak yang penurut. Mungkin saja seseorang memanfaatkannya. Dia begitu polos, kabar kematian kakanya saja dia tak tau. Bisa jadi hal ini akan merugikannya. Aku harus cari cara bagaimana memberitahunya.
__ADS_1