
“ buka,, buka pintu kurungan itu!” sentak wanita itu pada ketua.
Dengan segera ketua mengambil kunci yang berada di atas meja tak jauh dari pintu masuk. Lalu tergesa-gesa membuka kunci gebok. Setelah terbuka wanita itu langsung memelukku erat. Meneliti tubuhku apakah terdapat luka.
“ kau benar Zenia,?” tanya wanita ini dengan raut muka sedih sekaligus senang. Entah kenapa masih janggung memanggilnya ibu. Sekian lama meyakini bahwa kedua orang telah meninggal, ketika bertemu seperti ini aku malah sedikit enggan memanggilnya. Namun sebaiknya aku mulai membiasakannya.
“ kenapa kau diam saja?” lanjut ibu.
“ kenapa ibu melakukan semua ini, bergabung dengan pemberontak. Aku sama sekali tidak menyukainya” tanyaku balik, ibu terdiam tak bisa menjawab. Hanya diam dengan menatapku penuh arti.
“ kemarilah, ibu akan menceritakan nanti. Sekarang kau keluar lalu makan dulu ya”
Menuruti saja kemauannya lagipula aku juga tak igin terlalu lama dalam kurungan ini. Ibu memapahku menuju bangunan tak jauh ruangan itu. Menaiki lantai dua dan masuk ke kamar yang lumayan besar.
“ ibu akan mengambil makanan,” setelah membantuku berbaring di atas ranjang. Ibu membuka pintu kamar, aku bisa melihat disana ada ketua dan Ares. Mereka bertiga terlibat percakapan ringan sebelum pintu itu tertutup. Mungkin ibu melarang mereka masuk untuk menemuiku.
Beberapa saat kemudian makanan datang, ibu bermaksud menyuapi tapi ku tolak. Masih memiliki tenaga untuk makan sendiri. Aku juga masih belum bisa nyaman di dekat ibu.
“ biar aku makan sendiri” mengambil piring itu dan memakannya pelan. Baru setengah perutku terasa kenyang.
“ habiskan” tatapannya penuh kelembutan dan perhatian.
“ zen sudah kenyang” ibu tersenyum, dan mengangguk kecil.
“ banyak sekali hal yang perlu kita bicarakan. Masih ada waktu. Kamu istrirahat dengan baik disini ya” mengusap kepalaku kemudian pergi. Tak lupa mematikan lampu kamar sebelum menutup pintu.
*****
Pagi ini setelah membersihkan diri, aku memilih untuk tetap berbaring. Semenjak menyadari jika kini tenagah mengandung, semua tindakan harus hati-hati. Rasa kram yang selama ini terasa mungkin saja sebagai tanda bahwa bayi ini sedang tidak baik-baik saja. Tak ingin kehilangannya aku harus melindunginya semampuku. Tidak boleh ceroboh dengan menunggang kuda ataupun berkelahi. Hal itu cukup membahayakan.
Jika saja tuan En disini dan mengetahui kabar ini, entah bagaimana rasa senangnya. Tunggu masalah ini selesai, aku akan mengatakannya secara langsung pada tuan En. Melihatnya bahagia pasti membahagiakan juga. Tak sabar ingin segera bertemu.
__ADS_1
“ Zen, ibu bawakan sarapan untukmu” meletakkan makanan itu di meja yang berada di tengah kamar. Memang kamar ini terbilang luas, ada datu set meja makan untuk empat orang, selain itu sepasang sofa disamping jendela yang mengarah ke ranjang.
“ bagaimana kabarmu hari ini?” lanjutnya, mendekat ke ranjang dan tersenyum.
“ Zen sudah lebih baik, hanya perlu banyak istirahat saja.”
“ baiklah, segera makan sarapanmu selagi masih hangat”
“ he’em”
Beranjak mendekati meja makan, disana hanya ada bubur, lauk pendamping dantelur goreng. Ibu masih ingat, jika aku sakit hanya lauk telur yang aku inginkan, ditambah dengan bubur ini rasanya lengkap.
Suapan pertama sudah bisa membuatku mengingat masa kecil. Rasa ini masih sama, rasa masakan yang selama ini dirindukan, membuat diri seakan tak percaya hari ini bisa merasakannya lagi. Menolehkan kepala ke ibu, dia menangis sambil tersenyum. Kemudian duduk di sebelahku.
“ ibu benar-benar bahagia bisa melihatmu lagi. “
“Zen, juga awalnya sulit percaya bahwa ibu ternyata masih hidup”
Setelah sarapan kami berbincang ringan, mengenang masa lalu. Aku belum menceritakan bagaimana bisa disini dan bagaimana kehidupanku selama ini. Ibu juga seakan masih enggan menceritakan hidupnya. Butuh waktu, kami sama-sama membutuhkan waktu untuk bisa saling terbuka lagi, setelah peristiwa aku di kurung. Rasa bersalah setelah memperlakukanku dengan kasar serta tak langsung mengenaliku, kemungkinan ibu berfikir seperti itu. Dia sedikit kecewa dengan dirinya, aku bisa melihatnya dari manik sayunya yang selalu dia tampilkan.
Terasa berbeda sekali ketika baru datang kemari, kini semua pelayan yang tak sengaja berpas-pasan denganku semaunya memberikan salam dengan menundukkan kepala. Apa berita tentang aku adalah anak ibu sudah menyebar keseluruh kediaman, cepat sekali.
“ Zen kamu sudah lebih baik?” Ares menyapaku ketika berada di lantai bawah. Dia tampak meneliti tubuhku. Saat ini memang sangat berbeda dengan pertama kali bertemu dengannya. Aku sudah menggunakan pakaian wanita, penampilanku benar-benar mencerminkan wanita. Gaun serta beberapa perhiasan yang diberikan, beberapa aku pakai.
“ seperti yang kau lihat” jawabku cuek. Sebelumnya saja dia membentakku ketika didalam penjara, kini sok baik padaku.
“ kau terlihat begitu berbeda, aku sedikit tak bisa mengenalimu tadi,” seakan salah tingkat, Ares menggaruk kepalanya serta tersenyum cengengesan.
__ADS_1
“ kenapa? Kau tak suka?”
“b,bukan begitu. Kau terlihat cantik” apa juga yang dia bicarakan. Langsung saja pergi meninggalkannya. Meski panggilannya terus terdengar sampai keluar dari bangunan itu.
Cuaca cukup cerah, membuatku bersemangat menjelajahi tempat ini. Entah kemana langkah ini menuntun. Sebuah taman sudah tersaji di depan mata. Berjalan mendekat dan duduk di bangku yang tersedia.
Mendongak mempersilahkan cahaya matahari mengenai wajah. Tenang sekali disini, angin juga terasa sejuk. Aku baru ingat jika tempat ini berada di lembah pengunungan, jadi hawa sejuk langsung terasa saat pagi hari seperti ini.
“ ternyata kau disini, aku mencarimu “ merusak suasana hati saja Ares ini. Awalnya aku cukup tersanjung dengan perhatiannya dulu. Tapi kejadian beberapa waktu lalu mulai merubah pandanganku padanya. Bahkan ini terkesan mencari muka padaku.
“ memangnya kenapa mencariku?”
“ ingin mengajakmu berkeliling, kau pasti belum tahu seluk beluk tempat ini” dengan cengirannya itu membuatku sedikit enggan berada di dekatnya.
“ apa ketua yang menyuruhmu?”
“ tidak, aku sendiri yang ingin melakukannya” boleh juga tawarannya.
“ baiklah, tapi kau jangan terlalu akrab denganku”
“kenapa, kita kan sudah lama saling kenal”
“ baru seminggu lebih jika kau ingin tahu” memilih beranjak lalu berjalan mendahuluinya.
“ lewat sini,” ah ya, dia yang mengetahu jalannya.
Ares berjalan melewati arah yang membawaku tadi, meski kediaman in tidak begitu besar, tapi letak bangunan yang cukup padat membuatnya terlihat rumit. Dimanapun selalu menemui lorong dan balkon bangunan. Entah kenapa banyak sekali bangunan disini, hanya di bagian tengah dan sisi pagar saja yang sedikit kosong. Digunakan sebagai taman serta halaman utama.
“ taman tadi merupakan bagian terdalam dari area ini, karena berada paling belakang dan terpojok dekat tebing. Lain kali kau harus mengajakku jika ingin berlama-lama disana”
“ kenapa begitu?”
“ hanya ingin menjagamu saja, disana beberapakali terlihat ular besar “ hanya alasan saja. Sebenarnya ada apa dengan Ares, sebelumnya tak pernah se perhatian ini.
__ADS_1
Hari ini setelah berkeliling markas, sedikit banyak memang membuatku paham posisi beberapa bangunan penting. Dan ternyata bangunan dimana kamarku berada merupakan bangunan utama. Seperti titik central kediaman. Aula kemarin bisa dibilang kantor utama, tempat berkumpulnya anggota terpercaya di kelompok.