
Hampir saja aku berteriak, orang itu mengeluarkan pisau kecil lalu mengangkatnya tinggi, kemudian menarik lengan baju, tanpa ragu menggores telapak tangannya. Tak hayal darah deras mengalir dari sana. Di depannya sudah ada mangkuk kecil yang digunakan untuk menampung darah yang keluar dari tangannya. Meski tidak sampai penuh, tapi hal itu cukup mengerikan. Setengah mangkuk saja sudah membutuhkan darah yang lumayan banyak. Bertanya-tanya untuk apa dia menaruh darahnya di sana.
Beberapa saat kemudian dia mengambil beberapa kain untuk membalut tangan serta membersihkan pisau itu. Tingkah aneh belum juga selesai, dia membawa sebuah boneka serta kertas-kertas yang di balutkan menjadi pakaian boneka itu. Dupa dia nyalakan. Disana juga ada beberapa buti telur biru. Serta beberapa barang lainnya yang tidak ku mengerti.
Dia mencoba menyalakan api dengan kertas, membawa kertas itu mendekat ke api lilin yang berada di atas meja. Ajaib! api yang di hasilkan kertas itu berwarna biru. Benar-benar biru tak ada warna lainnya. Membawanya mendekat ke boneka. Menaruh kedua benda itu dalam satu mangkuk.
Membuat boneka itu pelan-pelan terbakar api biru, kemudian di tambahnya beberapa tetesan darah diaas boneka terbakar itu. Asap yang di timbulkan begitu banyak menggumpal tepat di atas. Kemudian entah bagaimana caranya bisa bergerak cepat menembus dinding. Asap itu menghilang seketika, dan api biru yang membakar boneka tadi lenyap.
Beberapa kali mengusap mata apakah benar yang aku lihat ini, benar-benar ajaib seperti sihir. Persembahan serta berbagai macam benda aneh ini menguatkan fikiranku bahwa ini mungkin praktek sihir terlarang.
Uhuk,,
Uhuk,,
Terdengar suara batuk dari sana, orang itu terbatuk keras. Bahkan punggungnya membungkuk rendah. Seakan tubuhnya menjadi lemah sehabis melakukan sihir.
“ kau tak apa?” seorang laki-laki masuk lalu mendekati orang itu membantunya berjalan.
Orang itu tak mengatakan apapun hanya menuruti orang laki-laki itu memapahnya keluar. Ku amati dengan seksama postur tubuh laki-laki itu sungguh tak asing, aku mengenalnya.
‘ bukankah itu,,’
Satu demi satu rahasia kelompok ini semakin tersingkap. Mulai dari keberadaan markas, rencana dekat mereka sampai dengan keberadaan ibu disini. Dan yang terakhir, baru saja ku saksikan sendiri. Praktek sihir terlarang entah apa tujuannya. Jangan sampai mereka tahu bahwa selama ini aku menjadi anggota kerajaan, mungkin saja kesempatan untuk membocorkan semua ini kepada tuan En bisa hilang.
“ kita kembali, kau butuh istirahat” samar-samar mereka berjalan menjauh.
Aku keluar dari lemari itu, merasa situasi sudah tak membahayakan lagi. Mendekati meja persembahan. Menatap satu persatu barang disana, sampai pada mangkuk darah. Darah itu benar-benar membuat merinding. Pengorbanannya tak main-main.
__ADS_1
Tak ingin terlalu lama disini, aku harus segera pergi. Jangan sampai ada seorangpun yang tahu bahwa tidak ada keberadaanku di kamar. Bahkan pelayanpun. Semua orang disini tak bisa di percaya, mereka sudah bekerjasama menyembunykkan semua ini, apalagi dengan orang baru sepertiku.
‘ hah,,’
Selamat, aku bisa keluar dengan selamat. Berjalan cepat tanpa menimbulkan suara.
“ nona, darimana?” nafas terhenti sesaat. Gawat. Aku membalik tubuhku, seorang pelayan berdiri di tangga. Sepertinya dia baru akan turun.
“a,aku tadi ingin memanggilmu, tapi karena kau berjalan turun, jadi ku urungkan. Ini mau kembali ke kamar”
“ kamu darimana tadi?” lanjutku.
“ s.saya dari kamar nyonya” untung saja alasan tadi tepat. Bagaimana jika ternyata dia baru dari kamarku, tamat riwayatku. Hari ini cukup beruntung.
“ ibu sudah pulang, dimana kamarnya?”
“ nyonya sedang beristirahat, mohon nona jangan mengganggu dulu”
“ aku ke kamar dulu” lanjutku.
Hari sudah mulai gelap. K etika aku terbangun dari tidur. Setelah menyaksikan hal aneh itu aku membaringkan tubuh dan berakhir dengan tertidur. Di meja sudah ada makanan. Pelayan membawakanya saat tertidur berarti. Karena rasa lapar tiba-tiba mengganggu, jadi beranjak mendekati meja makan. Masih terasa sedikit hangat, jadi langsung saja memakannya.
“ Zen,,” ibu memasuki kamar.
“ ibu sudah kembali?”
“ baru saja, kau mencari ibu ya.”
“ iya, kenapa ibu pergi mendadak sekali?” meletakkan peralatan makan. Fokus berbincang dengan ibu.
“ ada sedikit urusan di luar” menutupinya dariku. Mulai sekarang aku harus menampilkan sosok Zen yang polos. Mungkin saja ibu bisa sedikit terbuka denganku.
__ADS_1
“ oh, ibu sudah makan?” melanjutkan makan yang tadi tertunda.
“ sudah, kau makanlah. Ibu senang melihatmu makan selahap itu” tersenyum padaku dan mengusap kepalaku pelan.
“ disini makanannya lezat sekali, jadi Zen selalu menghabiskan semua” berbicara sambil mengunyah.
“ maafkan ibu, baru bisa menemukanmu sekarang. Mulai saat ini ibu akan mulai mengganti semua penderitaanmu. “ tersenyum lebar hanya itu yang bisa aku berikan sekarang. Meski hati sedih melihat ibu seperti ini. Ingin sekali membawanya pergi dan menjalani kehidupan yang normal seperti dulu. Menjauhi segala permasalahan pelik ini.
“ ibu, apa ibu bahagia menikah dengan ketua?” wajahnya mendadak sayu kemudian terbesit kemarahan darisana. Kini kami saling berhadapan, saling berpegangan tangan.
“ ibu bahagia, sangat bahagia”
“ ibu sudah melupakan ayah” ucapku sedih. Selama ini aku tak pernah membahas ayah. Kali ini ingin melihat bagaimana reaksi ibu akan pertanyaanku.
“ sedetikpun ibu tak bisa melupakan ayahmu” suaranya bergetar namun tegas. Seperti emosi marahnya berkaitan dengan mendiang ayah.
“ jika Zen ingin ibu meninggalkan semua ini. Memulai kehidupan normal seperti dulu, bersama Zenia. Apa ibu mau?” manik ibu menatapku dalam. Seditik kemudian lelehan air keluar darisana. Ibu terihat menahan sesuai yang begtu berat.
“ tidak, ibu tidak bisa kembali seperti dulu” kepalanya tertunduk sambil mengusap air matanya.
“ kenapa, ? Zen ingin bersama ibu saja” memeluk ibu erat. Melihat ibu yang begitu rapuh jika membahas ayah, membuatku ikut sedih. Bertahun-tahun kematian ayah masih saja meninggalkan luka yang dalam di hati ibu.
“ Zen, apapun yang terjadi. Ibu hanya ingin kau bahagia.” Membalas pelukanku tak kalah eratnya. Tangannya mengelus punggungku berkali-kali.
“ Zen juga ingin ibu bahagia” aku bisa merasakan bahu ibu semakin bergetar. Tangisnya semakin kencang. Membuat pelukan itu tertahan cukup lama.
Setelah perbincangan itu, ibu tinggal lebih lama dikamarku. Aku memintanya untuk menemai tidur malam ini. Mengulang kebiasaan masa lalu yang begitu dirindukan.
“ kau sudah cukup besar sekarang, sudah tidak waktunya lagi ditemani ibu saat tidur” kami sudah terbaring berselimutkan nyaman diatas ranjang.
“ tapi Zen rindu ditemani ibu saat tidur” memeluknya erat.
“ iya,,iya,, kemarilah..” tertawa puas. Momen ini begitu membuatku bahagia. Kalau bisa ingin menghentikan waktu agar hal ini tidak segera berlalu.
“ putri ibu yang manja,,” mencium keningku pelan.
__ADS_1
Malam ini sungguh bahagia, bisa menghabiskan waktu bersama ibu. Bercanda santai, pelukan hangat juga bisa ku rasakan kembali. Ibu memanglah orang yang hangat dan penuh kasih sanyang. Entah bagaiman bisa berubah sedrastis sekarang. Siapa yang mengubah ibu menjadi seperti ini. Hal apa yang membuat ibu begitu menurutinya. Tak bisa ku biarkan, lihat saja nanti. Aku akan menyelamatkan ibu dari pengaruh buruk.