The Empero'S Prisoner

The Empero'S Prisoner
24


__ADS_3

 


Tapi bagaimana jika ada rencana yang jauh lebih buruk dari pernikahan politik?, atau jika keselamtan tuan En malah di pertaruhkan di sini. Memang benar tuan En bisa bela diri ataupun keahlian pertahanan diri lainnya, tapi jika tentang siasat, permaisuri merupakan lawan yang cukup handal. Bahkan jebakan padaku saja hanya membutuhkan waktu satu hari.  Bagaimana ini?.


 


Semakin aku memikirkannya semakin aku tak bisa mengacuhkan tuan En. Mungkin ini adalah pembalasan untuk semua kenyamanan dan kehidupan yang telah aku dapatkan selama ini. Mengandung anaknya setidaknya cukup impas.


 


Aku akan memberi tahu kak Lu tentang keputusanku, mungkin saja bisa sedikit memberiku bantuan untuk membuat rasa keberanianku semakin besar mengalahkan kebimbanganku. Aku butuh ramuan seperti itu. Aku sudah menyuruh Cila untuk mengatur pertemuan kami malam ini. Waktu yang ku miliki semakin menipis.


 


“selir Zen, ada keperluan apa meminta bertemu dengan saya?”  


“ emm,, sebenarnya aku tidak berani mengatakannya, tapi setelah menimbangnya saya fikir saran dari kak Lu sepertinya memang lebih baik. Jadi aku,, menyetujuinya.” Lirihku. Aku tidak bisa mengangkat wajahku saat mengatakannya, sungguh memalukan.


“ saran kehamilan,?benarkah selir? Apakah putra mahkota sudah mengetahuinya?”  aku menggeleng pelan. Seperti anak kecil yang sedang mengakui kesalahannya, kepalaku masih tertunduk.


“ sebenarnya sebelum masalah ini terjadi tuan En sudah menginginkan penerus dariku, jadi,,”


“ jadi apa?” aku masih malu mengatakannya. Apa aku urungkan saja niatku. Aku mengangkat wajahku. Kak Lu terlihat menunggu jawaban dariku dengan serius.


“aa,,apakah ada, ramuan untuk, membangkitkan keberaniaku, agar tidak mudah bimbang?” bisikku, bahkan sangat pelan saat aku mengatakannya.


“ keberanian apa yang selir maksudkan?” kak Lu terlihat kebingungan dalam memahami kalimatku. Aku sendiri juga bingung bagaimana mengatakanya.


 


“ ramuan agar berani melakukannya” bisikku. Sudah habis rasa maluku. Mungkin saat ini wajahku berubah menjadi merah padam, untung saja ini malam hari jadi bisa sedikit tertutupi. aku berharap kak Lu bisa mengerti maksudku. Dia terlihat berfikir serius, aku hanya bisa menunggu. Setelah agak lama kak Lu melihatku, seperti ada rasa keterkejutan kemudian berubah rasa tidak percaya. Kak Lu tak kunjung menjawabnya. Aku semakin gundah.


“ apa putra mahkota yang menyuruh selir meminta hal ini kepada saya?”


“ tentu saja tidak, ini adalah keputusanku sendiri. Jadi bagaimana kak?”


“ saya tidak berani menjawabnya, jika ada hal buruk terjadi kepada selir saya tidak sanggup menanggungnya.” Kak Lu malah terlihat ketakutan. Bagaimana menjelaskan padanya tentang situasiku.


“ kakak, tolong aku. Aku janji tidak akan menyeret kakak jika terjadi sesuatu padaku. Hanya kakak yang bisa menolongku” aku memohon dengan sesedih mungkin. Berharap bisa mengubah keputusan kak Lu.

__ADS_1


“ jika selir menyetujui saran dari saya, lebih baik mengatakannya langsung pada putra mahkota. Semua masalah akan selesai”


“ tidak semudah itu, masalahnya ada padaku. Aku takut ketika aku sudah mengatakannya, ternyata kebimbanganku kembali. Seperti yang kak Lu katakan sebelumnya jika tuan En tidak akan memaksaku. Jadi, apa bisa buatkan aku ramuan agar aku tidak merasa bimbang.” Panjang lebar aku mengatakannya. Semoga bisa membuat kak Lu mengerti.  


 


“ sebenarnya ada ramuan untuk meningkatkan gejolak cinta, tapi,,”


“ apa itu bisa mengusir kebimbanganku?”


“ sepertinya bisa” jawab kak Lu sedikit ragu-ragu.


“ baiklah, berikan aku ramuan itu kak”


“ tapi,, ingat apapun yang terjadi selir harus menanggungnya sendiri, jangan ikutkan saya jika ada masalah” seolah menceramahiku, kak Lu terlihat serius sekali. Sekarang aku jadi sedikit lega. Satu masalah selesai, tinggal aku yakinkan diriku untuk tetap mengambil langkah ini.


 


Malam itu pertemuan selesai dengan memuaskan. Kak Lu mengatakan akan menyiapkannya nanti. Paling tidak lusa nanti akan ada hasilnya. Semoga pilihanku benar dan tidak membuatku menyesal nantinya. Meski masih terasa ragu tapi entah kenapa aku malah berat jika harus egois. Melepaskan rasa balas budi, mungkin ini cara yang paling tepat.


 


Pagi ini aku di kejutkan dengan kedatangan tuan En. Aku bahkan masih bergelut dengan selimut di atas ranjang. Mendengar Cila mengabarkan kedatangannya membuatku kalang kabut menyiapkan diri. Tuan En meminta sarapan di istanaku, jadi pelayan dapur ikut kaget dan terburu-buru menyiapkan menu tambahan.


 


“ sandiwaramu cukup meyakinkan” sindir tuan En saat aku sampai disampingnya. Duduk di meja makan yang masih kosong. Semua pelayan tengah sibuk menyiapkannya. Hanya ada teh dan kudapan ringan.


“ ini menyangkut nyawa saya, jadi harus dilakukan dengan benar. Bukan begitu tuan En?”


“ semakin pintar saja selirku” tuan En mengusap kepalaku pelan. Suasana hatinya sepertinya sedang baik. Dia juga tersenyum cukup manis padaku.


“ apa hari-hari ini ada sesuatu yang terjadi?” apa maksud pertanyaan tuan En, apa dia tahu rahasia antara aku dan kak Lu. Tidak terbiasa berbohong padanya membuatku menjadi ketakutan sendiri.


“tidak tuan, semuanya dalam kondisi baik” aku menyerumput tehku sambil mencari keberadaan kak Lu. Namun tak kunjung ke temukan.


“ lucien sedang mengerjakan tugas yang ku berikan” tiba-tiba saja tuan En menimpaliku. apa begitu jelas terlihat jika aku mencari kak Lu.


“ siapa yang mencarinya?” kilahku.

__ADS_1


“ sudut matamu dari tadi bergerak kesana kemari, kalau tidak mencarinya, memangnya kamu sedang apa?” dengan nada santainya mampu membuatku tak karuan. Tertangkap basah sedang mencoba berbohong.


 


“ s.saya sedang mencari pelayan, ingin menyuruhnya untuk cepat menyiapkan sarapan. Tuan En jangan suka mengambila kesimpulan sendiri” pintar sekali alasan ini, begitu masuk akal. Bagus Zen.


“ baiklah” hanya itu. Tuan En masih sibuk dengan minumannya. Dia juga membawa beberapa buku yang di taruh di meja. Hal ini menarik perhatianku.


“ tuan En sedang ada tugas besar?” menatapku dengan sedikit kebingungan. Mencari alasan kenapa pertanyaanku sedikit aneh.


“ maksud saya buku-buku itu, apakah tuan En sedang di buru tugas jadi membawanya saat berkunjung?” sambil mengarahkan pandanganku ke arah meja.


“ bukan, ini untukmu. Semua buku ini berisi tentang kehamilan. Bacalah pasti berguna nantinya”  aku semakin merasa tegang, apa kak Lu benar-benar bisa merahasiakan perjanjian kita.


“ maksud tuan En apa? bukankah saya tidak benar-benar,,”


“ kamu adalah wanita, suatu hari nanti pasti mengandung. Toidak ada salahnya belajar mulai sekarang” benar juga. Mungkin aku yang terlalu panik. Jadi mudah berfikir yang tida-tidak.


“ tuan En sungguh perhatian” aku menagmbil salah satu buku itu.


“bacalah”


 


Tak lama kemudian para pelayan datang sambil membawa sarapan yang sedari tadi di tunggu. Aku masih asyik membaca sampai tuan En menyuruhku memulai makan. Melihat semua menu ini rasa laparku terus meronta. Tanpa menunggu lama, aku mulai mengambil satu persatu lauk dari sana. Tak lupa juga mengambilkannya untuk tuan En. Kami makan dengan tenang dan lahap. Khusunya aku.


 


“ tuan apakah besok malam sibuk?” setelah menyelesaikan sarapan kami berbincang singkat di balkon depan.


“ ada apa kau menanyakannya?”


“ saya berencana mengadakan makan bersama, setidaknya menyambuat kedatangan Cila, selain menghiburnya juga membuatnya semakin nyaman di istana” alasanku sebenarnya adalah ingin mencari waktu untuk membahas saran dari kak Lu. Lusa adalah waktu yang pas saat ramuan-ramuan itu selesai.


“ tak usah berlebihan, dia sudah cukup beruntung tidak jadi di hukum” heh, dingin sekali sikapnya. Selalu seperti ini jika bukan hal yang dia inginkan.


“ tuan, bagaimanapun waktu itu adalah salah paham. Untuk mempererat hubungan makan malam bersama cukup efektif. Bagaimana, setuju?”


“ di mana tempatnya?”

__ADS_1


“ dimana ya? Kalau di tempat tuan En bagaimana? Jadi setelah selesai tuan En bisa langsung tidur, tidak membuat lelah dengan perjalanan” jawabku. Di istanaku pasti banyak yang mengawasi. Jika di istana putra mahkota pasti semua di bawah kendali tuan En.


__ADS_2