
“ baiklah ikuti kemauanmu saja” siap, semua berjalan dengan baik. Bagus Zen sekarang tinggal menyusun semua rencana dengan rapi. Tak lupa harus menyampaikanya kepada kak Lu. Agar jadwalnya tepat selain itu dengan adanya kak Lu bisa mengatur waktu dan situasinya dengan baik.
“ tuan En memang yang terbaik, saya akan menyiapkan acara ini dengan baik.” Ucapku antusias. Jangan sampai gagal.
“ baiklah aku akan kembali terlebih dahulu, kau jaga diri dengan baik” tuan En meninggalkan istanaku. Pelayan datang untuk membereskan meja, aku kembali masuk dan melanjutkan membaca buku yang di berikan oleh tuan En.
“nyonya terlihat bahagia sekali setelah putra mahkota berkunjung” anak kecil ini suka sekali menggodaku.
“ kamu iri karena belum punya kekasih?”
“ tentu saja tidak, bagi saya nyonya adalah segalanya”
“ manis sekali ucapanmu” dia ikut duduk di sebelahku. Kami berada di ruang tengah istana.
“buku apa yang nyonya baca?”
“ buku tentang kehamilan, kau juga bisa membacanya” aku memberinya salah satu buku itu.
“ ih nyonya, sayakan belum memiliki rencana hamil “
“ suatu hari kau akan hamil tidak ada salahnya mempersiapkanya sedari sekarang, lagipula kapan lagi kau mendapatkan buku sebagus ini”
“ tunggu, kau bisa membacakan?” lanjutku, bukannya merendahkannya. Tapi jarang wanita biasa bisa membaca seusianya. Jika bukan dari keluarga menengah ke atas susah sekali mendapatkan pendidikan. Aku saja mempelajarinya saat berada disini, itupun karena tuan En yang mengaturnya.
“ bisa nyonya, “
“ bagus, ini bacalah”
Akhirnya kami larut dalam dunia masing-masing. Sangat banyak sekali hal menarik dalam buku-buku ini. Banyak hal baru yang ku temui. Beberapa halaman terdapat gambar yang lumayan rumit untuk di pahami. Mungkin lain kali aku akan menanyakannya kepada tuan En. Dia pasti memiliki jawabannya, tidak ada yang tidak dia ketahui. Koleksi bukunya sangat lengkap dan berbobot. Sungguh cendekiawan.
“ Cila nanti malam datanglah ke tempat kak Lu, katakan bahwa rencanannya akan di lakukan besok malam. Jangan sampai ketahuan siapapun”
__ADS_1
“rencana apa nyonya?”
“ rahasia, kamu katakan saja sesuai perintahku” tidak ada yang boleh mengetahuinya selain aku dan kak Lu. ini cukup memalukan, jika di ketahui. Sungguh rendah sekali harga diriku di depan tuan En.
“ baiklah nyonya” yang aku suka dari Cila adalah dia tak banyak membantah ataupun berlaku tidak sopan. Sedikit berbeda dengan Suki, dia termasuk pelayan yang tak tahu diri. Jika dirasa buruk, dia pasti menyangkalnya meski aku tuannya. Hubungan yang terjalin sebelumnya membuat Suki menjadi seperti itu. Tapi aku cukup senang, semua perhatiannya adalah nyata. Tak perlu sandiwara ataupun memakai topeng. Apa adanya meski cukup menyebalkan.
Pagi harinya Cila mengatakan jika sudah mengatakannya kepada kak Lu, hari ini aku sedikit membuat Cila kewalahan. Aku sudah menyiapkan daftar menu untuk di makan malam nanti, tugas Cila adalah memastikannya siap. Bukan di dapur istanaku, tapi di istana putra mahkota. Sedari pagi sudah ku utus kesana, dengan di temani kak Lu dia menyiapkannya. Semoga saja mereka bisa menyiapkanya sesuai dengan perintahku, tidak terjadi kesalahan fatal yang terjadi.
Selepas makan siang aku mulai meyiapkan diri untuk kesana, waktu sudah mulai memasuki waktu senja. Aku sampai di istana putra mahkota. Suasana cukup ramai, di bagian halaman belakang. Disanalah makan malam nanti berlangsung. Jangan bertanya kenapa aku bisa tau dan memilih tempat itu. Aku sangat hafal sekali bagaimana istana putra mahkota, sampai posisi lukisanpun aku sangat tahu. Semua berkat posisi pelayan yang pernah aku jalani.
“ yang mulia selir” cila beserta kak Lu memberika salam, disana juga terdapat pelayan yang melakukan hal yang sama. Sejak kamarin sore tuan En tidak berada di istana, kak Lu yang mengatakannya. Ada urusan kerajaan yang mengharuskannya pergi ke istana kekaisaran. Bahkan harus menginap disana. Sepertinya ada hal serius yang dihadapi kerajaan. Aku hanya menebaknya.
“ tidak selir, semuanya sesuai dengan keinginan selir” jawabnya terlihat senang dan puas. Dia terlihat sedikit lelah, aku jadi kasihan padanya.
“ kesini temani aku kedalam, kau juga perlu menyiapkan diri” meski awalnya menolak, tapi tetap dia tak berani membantah permintaanku. Bukankah acara ini di rancang untuknya, jadi aku harus membuatnya sedikit ‘berbeda’. Agar tuan En tidak curiga.
Aku membawa Cila ke ruang perpustakaan, untuk mendandaninya agar sedikit berbeda. Aku juga menyuruh pelayan untuk mengambilkan beberapa setelan baju yang sudah ku siapkan di istanaku. Aku akan membuatnya mempesona, meski alasan itu hanya sandiwara, namun aku akan membuatnya nyata. Setidaknya Cila tidak merasa asing dengan lingkungan istana.
“ nyonya, kenapa saya harus mengenakan ini?”
“ bukankah ini terlalu berlebihan”
“ nyonya apakah tidak mahal semua perhiasan ini?”
“ nyonya, saya tidak cocok memakai ini semua”
__ADS_1
Semua penolakan demi penolakan selalu saya dia katakan. Entah benar-benar tidak menyukai barang-barang ini atau hanya merasa tidak enak, yang jelas aku masih kekeh membuatnya tampil berbeda. Aku yakin dia akan senang setelah melihat tubunya di depan cermin, semua orang tidak akan mudah mengenali Cila seperti ini.
Senja mulai menghilang, aku sudah akan keluar untuk menemui kak Lu. Tapi pelayan mengatakan jika kak Lu pergi menjemput putra mahkota. Itu berarti tuan En akan segera datang. Aku kembali ke ruang perpustakaan, sedikit merapikan penampilan Cila. selain itu juga, menunggu kedatangan tuan En di sini cukup nyaman. Mengambil buku bacaan untuk menghabiskan waktu.
“ tempatnya berada di halaman belakang, selir sendiri yang mengusulkannya” samar-samar aku mendengar suara kak Lu. Mungkin mereka sudah kembali.
“ baiklah, dimana Zen?” itu suara tuan En, tapi kenapa semakin mendekat.
“ mungkin di halaman belakang, menyiapkan keperluannya” mereka memasuki perpustakaan. Cila aku suruh untuk diam dan tak bersuara. Aku berencana mengagetkan mereka.
“ dia tak mengetahui kabar pertunanganku bukan?” aku sudah beranjak dan berniat keluar, tapi ucapan tuan En ini malah membuatku terhenti mendadak. Apa aku salah mendengar, tapi sangat jelas aku mendengar kata pertunangan.
“ tidak yang mulia, saya sudah menutup mulut semua pelayan istana harem, tapi apakah istana kekaisaran tidak curiga?”
“ bagus, awalnya ayahhanda sedikit curiga, tapi aku beralasan jika kondisi kehamilannya membuat tubuhnya sedikit lemah. Jadi membuat kecurigaannya bisa teratasi” rasanya kakiku begitu lemah untuk menapak, Cila mencoba memelukku. Aku menolaknya. Posisi kami berada di sudut baca, tertutupi dengan rak-rak buku yang tinggi dan besar. Dari posisi tuan En dan kak Lu memang tidak akan terlihat.
“ yang mulia apakah tidak sebaiknya mengatakannya kepada selir?”
“ tidak, hubungan ini belum terlalu kuat. Aku tak ingin ada kesalapahaman, ini adalah pernikahan politik, dia tak perlu terlibat” hatiku sakit, menyembunyikan kabar pertunangan serta rencana pernikahan kepada ku. Aku tak pernah di anggap oleh mereka.
‘sadarlah kau hanya seorang pelayan, selamanya akan begitu’ batinku. Aku harus sadar posisi. Aku terlalu percaya diri dengan kedudukan ini. Terlena dengan kenikmatan dan kenyamanan. Lelehan hangat mengalir deras dari sudut mataku. Merasakan sakit hati yang dalam. Sungguh sakit. Aku tak bisa mendengar apapun lagi.
Mereka sepertinya sudah meninggalkan ruangan, aku memegang dadaku, entah kenapa terasa sesak. Aku terduduk kembali, Cila juga ikut bersedih.
“ nyonya, jangan menangis” Cila bersipuh menggenggam tanganku yang berada di atas pahaku. Menguatkan diriku, aku yakin Cila pasti tau bagimana hancurnya hatiku.
“ aku lebih baik kembali, katakan kepada putra mahkota jika makan malamnya di tunda karena aku kurang sehat” aku berjalan tergesa meninggalkan istana putra mahkota. Aku sudah tak menghiraukan para pelayan yang melihatku heran dan bertanya-tanya. Aku hanya ingin menenangkan diri dan hatiku. Lebih baik menjauh dan meredakan emosi. Jika saja bisa keluar berkuda untuk menaiki bukit mungkin akan jauh lebih baik. Tapi tidak mungkin, keamanan istana saat malam sungguh ketat. Hanya bisa berharap semoga tuan En tidak menyusulku, aku malas bertemu dengannya.
__ADS_1