
“ jangan menangis, aku disini” kini pelukan hangat kurasakan. Wanginya membuatku semakin tenang. Aku menyukainya. Tunggu ada yang tidak beres dengan leher ku.
Aku mulai terusik dengan sentuhan basah di sepanjang leherku. Menggeser sedikit tubuhku dan membuka sedikit mataku. Samar -samar aku merasakan sesak di dada ku.
“ tuan En kenapa disini?” apa aku habis menangis kenapa nafasku tak beraturan dan mataku terasa basah.
“ kenapa kau selalu menanyakan hal yang sama ketika melihatku disini?”
“ emm.. Saya juga tidak tau tuan”
“emm.. Sudahlah. Apa kau bermimpi buruk. Ketika aku datang kau terlihat menangis dalam tidurmu?” berarti benar dugaaku. Rasa sesak ini karena aku habis menangis. Tapi kenapa??
“ saya tidak mengingat apapun”
“lupakan, sepertinya itu bukan sesuatu yang menyenangkan” ku dudukan tubuhku tak mau jika posisi intim ini terus berlanjut.
“sebentar lagi fajar, lebih baik kau lanjutkan tidur” usapan lembut mengenai rambutku. Kenapa situasi terasa hangat. Aku bisa merasakan ketulusan dari ucapannya.
“ tuan En baru selesai dari urusan yang penting itu?” tak ingin menuruti keinginannya lebih baik aku mengalihkan pembicaraan.
“apa kau sedang menyindirku. Tidak ada yang lebih penting daripada Zen ku” kenapa akhir-akhir ini mulutnya terasa begitu manis. Biasanya wajahnya begitu kaku, bahkan untuk melihatnya tersenyum saja begitu langka. Apa mungkin dia sedang menyusun rencana.
“Apa yang sedang kau fikirkan? “
“em.. Tidak tuan. Mungkin saya belum sepenuhnya terbangun”
“ baiklah, aku akan menemanimu sampai pagi datang. Sini berbaringlah “ sambil menepuk bagian ranjang disampingnya.
Kurasa tak ada salahnya juga menuruti keinginannya. Setelah aku berbaring Tuan En juga ikut berbaring di samping ku. Tanganya memelukku, dengan perbandingan tubuh kami kurasa kepalaku tepat di dadanya. Selama ini tak pernah diperlakukan begitu istimewa oleh tuan En, membuat jantungku begitu berdebar. Seingatkau aku tak pernah memiliki keluhan jantung sebelumnya, tapi kenapa akhir-akhir ini berdekatan denga tuan En membuat jantungku seperti ini.
Tak lama setelah itu aku mendengar nafas beraturan dari tuan En. Aku berusaha melepaskan pelukannya, ingin memastikan apakah tuan En benar-benar tertidur. Meski dengan sedikit kesulitan akhirnya terlepas.
Wajahnya begitu tenang dan tampan. Alisnya yang tebal, bibirnya yang alami, rahangnya begitu tegas serta dipadukan dengan kulit sehatnya. Tak heran jika banyak yang menggemarinya. Menikmati makhluk tuhan yang begitu mempesona lama-lama rasa ngantuk ku mulai datang. Perlahan aku menyentuh wajahnya. Mengusap kepalannya, berharap hal ini bisa lebih lama lagi. Sampai aku tak kuasa menahan kelopak mataku.
***
__ADS_1
Pagi ini aku terbangun dengan begitu damai, rasanya bahagia. Aku bahkan malas beranjak dari ranjang empuk ini. Kalau bukan karena waktu keberangkatan yang sudah ditetapkan hari ini, aku akan memilih untuk berbaring sepanjang hari.
Sesuai dengan yang dikatakan tuan En, pagi ini kami meninggalkan kota Zoska, entah ada urusan apa disana aku hanya bisa menemani. Berdasarkan pengetahuanku kota Swen lumayan jauh dengan ibu kota. Butuh satu hari perjalanan kereta kuda baru bisa sampai. Kuharap perjalanan kali ini akan berjalan lancar. Bukan tak mungkin jika rombongan putra mahkota kali ini juga akan di serang seperti beberapa bulan lalu. Semenjak resmi menjadi pelayan pribadi tuan En, semua kejadian mengerikan sudah sering aku alami dan saksikan. Begitu beruntung hingga saat ini masih hidup.
“Zen, sepertinya kereta mengalami masalah, kau bisa keluar dulu” saut tuan En saat tiba-tiba kereta terhenti. Aku keluar dan melihat keadaan. Memang benar roda kereta sudah hampir terlepas. ku lihat taun En sudah turun dari kudanya dan mengamati keretaku. Setelah beberapa lama.
“Kemari lah, naik kuda bersamaku. “
“ tapi tuan, gaun ini sepertinya akan..”
“ tidak usah khawatir”
Srekk..
Mataku hampir tak percaya beberapa ruas gaunku berhasil disobek tuan En. Bagaimana aku menghadapi mata para rombongan. Semua menatap aneh. Bukankah ini perilaku yang sembrono di muka umum. Meski kakiku tetao tertutuo dengan celana panjang hitam namun gambaran gaunku terlihat mengenaskan. Dasar tuan En. Sesuka hati melakukan sesuatu.
“ naiklah” singkatnya.
“ saya bisa berkuda sendiri tuan, lagipula bukankah sebaiknya menunggu perbaikan”
“ baik tuan” akhirnya dengan sedikit bantuan kami menaiki kuda yang sama.
Menurutku kita tidak sedang terburu-buru, tapi kenapa kuda ini terasa begitu kencang. Ku lihat sekeliling hutan ini semakin lama semakin membuatku khawatir.
“ tuan, saya tidak melihat kuda pengawal. Apa kita berjalan terlalu cepat?”
“ kita tidak butuh pengawal” suaranya berubah. Tidak ada kelembutan yang selama ini dia tampilkan. Belum lagi laju kuda semakin dipercepat. Perasaanku semakin tidak tenang.
“Tuan En kenapa kita terburu-buru?”dia tidak penyahut sama sakali.
“tuan En..” kali ini juga tak ada jawaban. Aku Memang sudah berlatih menaiki kuda, namun untuk secepat ini aku tidak pernah mencobanya. Apa jangan- jangan tuan memiliki rencana jahat padaku. Apa mungkin dia berniat membunuhku. Jika benar keberadaan kami di tengah hutan ini begitu menguntungkannya.
Setelah perjalanan yang begitu menegangkan ini, akhirnya aku bisa bernafas lega. Kuda yang aku naiki sudah berhenti tepat di sebuah rumah sederhana dengan halaman yang luas.
__ADS_1
“ tuan En, apa kita sudah sampai?” begitu turun dari kuda.
“cepat ikuti aku” aku harus berterimakasih dengan gaunku yang sobek bagian bawahnya. Aku bisa sedikit menyamai langkah panjang tuan En.
“Yang mulia... Kami sudah menyiapkan semuanya” begitu masuk sudah ada pelayan dan kak Lu. Pantas saja sejak keberangkatan aku tidak melihat kehadirannya. Ternyata dia sudan menyiapkan semuanya. Tapi.. Tunggu jika kak Lu saja sudah berada disini. Berarti kejadian rusaknya keretaku apa mungkin sudah direncanakan sebelumnya.
“ kau bisa segera membersihkan diri dan beristirahat. Hari sudah sore sebentar lagi malam, kalian bisa mengantarnya “ perintahnya.
Aku berjalan mengikuti pelayan. Biasanya Suki akan membantuku melepaskan gaun ini, tapi saat ini aku harus berusaha melepaskannya sendiri. Begitu banyak tali dan lembar pakaian. Menyusahkan.
Malam sudah datang, setelah menghabiskan makan malam aku tidak melihat tuan En ataupun kak Lu. Situasi ini begitu mencurigakan. Tak asda salahnya aku mencari sesuatu yang bisa menghilangkan kecurigaanku. Berjalan dengan langkah ringan, meyusuri lorong. Sudah sejauh ini tapi aku tak bisa menemukan dimana mereka berada. Akhirnya aku memilih mendekati sebuah jendela yang didalamnya terlihat terang. Menandakan ruangan itu sedang ditempati.
“.. Kita tidak boleh gegabah, bisa jadi mereka hanya memberikan peringatan.”
“ tapi tuan, ini benar-benar serius. Serangan beberapa bulan lalu mereka berhasil lolos. Dan kali ini mereka melakukan hal yang sama”
“apa kau sudah memeriksanya?”
“sudah tuan, kali ini mereka menggunakan panah beracun untuk menyerang rombongan kita. Semua pengawal dan pelayan kita tak ada yang selamat”
Apa yang barusan aku dengar. Penyerangan beberapa bulan lalu dan kali ini?. Apa maksud dari percakapan mereka. Apa mungkin..
“Bahkan kereta kuda hancur berantakan penuh dengan anak panah. Jika saja tuan tidak memikirkan rencana ini sudh dipastikan nyonya sudah tewas.”
Ternyata benar dugaan ku. Rusaknya kereta sudah direncanakan sebelumnya. Berarti penyerangan panah beracun ini mengenai rombongan kerajaan. Tidak. Bukankah Suki termasuk rombongan kali ini.
“ apa mungkin .. Pelayan ku, Suki juga termasuk yang tidak selamat tuan?” mereka berdua nampak kaget dengan keberadaan ku. Seperti tengah tertangkap basah melakukan kesalahan mereka saling berpandangan dan terlihat gugup.
“ aku tidak mengerti maksud ucapanmu” sembari mendekati ku tuan En sama sekali terlihat santai.
“ aku sudah mendengar semuanya. Kenapa kalian begitu tega mengumpankan mereka. Apa mereka melakukan kesalahan sehingga pantas mendapatkan semua ini?” dadaku terasa Sesa, lelehan hangat sudah mengalir di pipiku. Hampir saja aku tak mampu menopang tubuh ini. Bahkan aku sudah berteriak saat mengatakannya taun En tak terintimidasi sedikitpun malah mengeratkan cengramannya dilenganku.
__ADS_1
“mereka pantas” dengan tatapan tak terbaca, Penuh keyakinan.